Bitter Life

Bitter Life
34. Petinggi dan Pesan



Rumah besar mewah dengan cat abu-abu polos dengan taman hijau disekelilingnya menambah suasana sunyi nan dingin dengan sedikit rasa suram yang dirasakan Nala saat berdiri di gerbang rumah tersebut malam itu, meski merasakan aura yang aneh dan merasa gugup meski rumah itu adalah rumah teman baiknya tetapi Nala tetap memberanikan dirinya untuk masuk kerumah itu setelah memasuki gerbang.


Di rumah besar mewah yang dimasuki Nala saat berada diruang tamu berlantai marmer berkualitas tinggi terdapat banyak kendi keramik, lukisan mahal hingga hiasan dinding lainnya yang berjejer menemani kursi dan meja yang mahal nan mewah untuk menghiasi ruang tamu tersebut dan didekat jendela ruang tamu itu terdapat seorang laki-laki yang mengenakan piama putih bergaris-garis hitam sedang memandang bulan.


Setelah memandang bulan sabit dengan titik-titik sinar bintang disekitarnya dengan santai, saat menyadari jika Nala sudah berada diruang tamu dia langsung mengalihkan pandangannya dan langsung fokus dan tertuju pada Nala dengan tersenyum sembari berkata “Kau sudah datang rupanya, detektif Nala.”


Dengan tangan kanannya Nala memberi hormat dengan begitu tegap kemudian berkata santai “Selamat malam, kepala kepolisian pak Alda Rianda.”


“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu jadwal santai anda” kata Nala lagi saat menyodorkan tangannya untuk bersalaman pada Alda si kepala kepolisian.


Alda menyambut tangan Nala untuk salaman kemudian menanggapi perkataan Nala “Tidak apa-apa, jika kau yang ada keperluan aku tidak akan merasa terganggu.”


Dengan gestur tangannya Alda menyuruh Nala untuk duduk disalah satu kursi mewahnya kemudian berjalan kearah lemari rak buku besar yang juga berada diruang tamu itu sembari berkata “Kau meminta data kasus-kasus yang belum terungkap?”


“Ya, aku membutuhkannya untuk keperluan penyelidikanku” jawab Nala yang saat itu mengerti gestur Alda yang menyuruhnya duduk dan dengan cepat menduduki salah satu kursi mewah tersebut.


Alda berjalan pelan sambil melihat-lihat data yang ada digenggaman tangannya kemudian meletakkannya dihadapan Nala diatas meja.


“Ini datanya”


Alda duduk pada kursi yang tepat berhadapan dengan Nala, kemudian sembari mengerenyitkan matanya Alda bertanya “Penyelidikan? Aku tidak pernah mendengarnya?”


“Itu penyelidikan independen, aku ingin mengungkap kasusnya sendiri” Nala menjawab ketika mengambil berkas-berkas yang diberiikan Alda kemudian membacanya satu persatu.


“Kasus yang mana yang kau inginkan datanya?” Tanya Alda lagi kemudian benar-benar membenamkan tubuhnya pada kursi sofa seolah-olah rileks dan bersantai.


“Tragedi kota 68” kata Nala lagi saat bisa mengalihkan fokusnya dari membaca berkas yang diberikan Alda.


“Kau masih bersikeras untuk menyelidikinya” sembari menghela nafas dengan tubuh yang bersender Alda menatap Nala dengan tatapan dingin nan tajam. Tetapi Nala tidak menyadari tatapan itu dan masih fokus membaca berkas-berkas yang berisi data untuk penyelidikannya bersama Hakki.


“Bersikeras?” Nala bertanya saat menangkap perkataan Alda meskipun masih fokus pada berkas yang di baca namun untungnya dia tidak menyadari tatapan teman baiknya yang mengerikan barusan.


Alda menegapkan pundaknya saat bangun dari sandarannya dan benar-benar duduk tegap kemudian berkata. “Ah, Tidak, lupakan perkataanku.”


“Akhir-akhir ini entah mengapa aku teringat masa-masa kuliah disaat aku berteman baik denganmu” kata Alda dengan memberikan senyuman hangat pada Nala.


Alda bangkit dari tempat duduknya untuk berdiri kemudian melanjuutkan perkataannya “Dan setelah itu banyak hal yang membuat jarak diantara kita semakin membesar.”


Alda menyentuh pundak Nala kemudian berkata “Jadi seharusnya aku mohon hentikan penyelidikanmu itu”


“Apa hubungannya?” Nala mengerutkan keningya karena bingung dengan perkataan Alda.


Alda duduk pada kursi disebelah Nala itu kemudian sedikit tersenyum untuk berkata “Tidak ada, hanya saja aku merasa risih saat tau jika kau melakukan penyelidikan itu.”


“Kau tahu, akhir-akhir ini kesenanganku selalu diganggu” Alda menoleh pada Nala disebelahnya dengan tatapan dingin nan tajam dihiasi rengutan pada bibirnya yang muncul secara tiba-tiba dari senyuman yang dimunculkannya tadi.


“Dan aku sangat tertekan karena itu” beberapa kali Alda mengusak-usak rambutnya sendiri shingga berantakan.


Kemudian Alda menggarut-garuti wajah dan lehernya seraya berkata “Meski aku mencoba menghindar dengan menyamarkan namaku menjadi Gael agar lepas dari gangguan, tapi kesenanganku masih diganggu juga.”


Mendengar Alda menyebut nama Gael membuat bulu kuduk Nala berdiri karena merinding, dia yang pernah mendengar jika Hakki mendapat petunjuk tentang Gael yang menjabat sebagai petinggi dikepolisian sebagai pembunuh utama tragedi kota 68 dan jika dihubungkan dengan identitas pembunuh sebagai petinggi kepolisian dan memiliki nama Gael maka perkataan Alda barusan adalah kesimpulannya.


Nala yang mendapat kesimpulan itu hanya bisa membeku dan membalas tatapan mata Alda yang mengerikan dengan tatapan kewasapadaan yang bercampur dengan ketakutan, karena mengetahui jika pembunuh utama tragedi kota 68 yang menyuruh kegajilan lain melakukan pembunuhan agar tidak mengotori tangan adalah teman baiknya sendiri, meskipun sempat menduga-duga beberapa hari yang lalu dia tidak pernah menyangka jika dugaan spontannya itu nyata dan tenggelam dalam situasi mencekam berkat dugannnya.


“Hey Nala, bagaimana caranya agar bisa lepas dari pikiran tertekan ini” kata Alda saat mendekatkan wajahnya pada telinga Nala dengan tatapan kosong yang dingin namun begitu tajam.


Dirumahnya beberapa kali Elias berjalan wara-wiri mengitari seisi rumahnya karena tenggelam dalam pikiran saat menangkap gestur yang diberikan Nala cara berbicara Nala serta tindakannya hari ini dan merasa ada yang janggal sehingga membuatnya beberapakali menganalisis Nala hari ini untuk menerka-nerka apa hal aneh dan penyebab dari munculnya tindakan aneh Nala tersebut.


“Ada yg aneh dengan Nala hari ini” Gumam Elias dalam hati kemudian menggarut-garuti rambut belakangnya beberapa kali sembari menghela nafas dan lanjut bergumam “Apa seharusnya aku melihat saja masa depan yang akan dialami Nala hari ini?”


Elias memilih untuk duduk dikursi sofa ruang tamunya kemudian bersender untuk merilekskan pikirannya sampai-sampai membuat otaknya memunculkan kesimpulan dan membuatnya berkata lantang “Baiklah, aku harus melihatnya.”


Elias menegapkan badannya saat melepaskan dirinya yang tenggelam dari bersender di kursi sofa miliknya kemudian mengatur nafas dengan perlahan, mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian membukanya lebar-lebar dan saat itulah cahaya biru muncul menngantikan warna hitam pada pupil dibola matanya.


“Tidak” Elias bergumam pelan, dengan wajah yang kaget dan cemas serta ketakutan saat menyaksikan pandangan pada kekuatan mata empatnya.


Di kantor media berita rakyat Andi yang merupakan seorang editor penulisan sedang mengetik pada komputer saat mengedit berita yang didapatkan para wartawan di kantor berita rakyat hari ini yang begitu banyak dan sesaat mengistirahatkan badannya dengan bersandar pada kursi kerjanya juga meregangkan otot-otot karena kelelahan bekerja dan saat mengerang kelelahan dia melihat kalender pada dinding didekat meja kerjanya sembari berkata “Pekerjaanku makin menumpuk saja dan gajian masih sangat lama.”


“Sialan” dia mendecakkan lidahnya dan karena kesal saat kembali mengetik dia menekan tombol ketikannya begitu kuat sampai-sampai menimbulkan suara berisik untungnya dikantor itu hampir semua orang sudah pulang hingga membuat suara ketukan ketikannya menggema keseluruh ruangan kantor berita rakyat itu.


Setelah itu sebuah pesan elektronik dari Elias si detektif masuk ke handphonenya hingga membuatnya harus menunda ketikkannya lagi dengan wajah yang kesal dia membuka pesan karena tahu pasti pesan dari Elias yang seorang detektif itu pasti penting itu dan meskipun membukanya dengan setengah hati. Sekejap wajah kesalnya berubah menjadi wajah yang terkejut dan cemas.


“Tidak Mungkin” Andi bergumam pelan ketika selesai membaca pesan Elias.[]