
Setiap orang yang berada didalam tenda markas pejuang keganjilan itu terdiam mendengar perkataan dari pemburu mereka yang mereka ketahui sangat kuat dan cerdik di medan perang ini, Welf Fellas laki-laki 30 tahunan yang merupakan salah satu petinggi pemburu keganjilan saat itu mampu menyudutkan banyak tentara pejuang, terbukti dari keterampilannya menembus tenda markas dengan menyelinap rombongan tentara pejuang yang kembali dan membunuh salah satu dari mereka. “Si Mata Empat leluhur anak itu selalu merepotkan generasi terdahulu kami” kata Welf.
“Rival abadinya juga Si Pahit Lidah, namun sekarang aku tidak tahu dimana keturunannya bersembunyi” Welf mengakhir perkataannya dan mencoba melangkah pelan menuju Elias kecil.
Namun Welf dihadang dengan cepat oleh beberapa pejuang disana sehingga bibir lobang senjata itu hampir menyentuh kulit wajahnya, melihat tindakan itu membuat Willas ayahnya Elias mengambil kesempatan untuk mengatakan sesuatu. “Mana mungkin kami mau memberikan sesuatu hal yang menguntungkan untuk musuh.”
Welf terdiam dan mengganti air muka nya yang riang dan ramah tadi menjadi datar dan dingin serta menatap balik setiap orang yang menodongkan senjata padanya itu kemudian berkata dengan diawali helaan nafas yang panjang “…Oh begitu kah?”
Welf berbalik kemudian melangkah perlahan kembali kearah pintu tenda dan sekejap pintu tenda itu memunculkan cahaya putih yang menggantikan pemandangan diluar tenda itu dan saat berada diambang cahaya itu Welf melanjutkan perkataannya “Kalau begitu bersiaplah dan tingkatkan pertahanan kalian karena kami akan menyerang dengan skala penuh minggu depan”
“Kecuali jika kalian ingin menyerahkan anak itu” Welf berkata lagi.
Tubuh Welf perlahan-lahan menghilang saat memasuki cahaya putih pada pintu tenda tadi dan tangannya melambai untuk orang-orang yang berada di dalam tenda sana bersamaan dengan perkataannya yang samar-samar mengiringi hilangnya dirinya.
“Aku tunggu keputusan kalian 3 hari lagi”
Masih kehampaan dan sunyi yang mengisi ruang di tenda markas semenjak Welf musuh mereka yang merupakan salah satu pemburu abadi mereka yang terkuat meninggalkan tempat itu setelah menghilang dari cahaya putih pada pintu tenda markas, kehampaan dan kesunyian itu belum ada yang bisa mematahkannya karena kebingungan hingga orang-orang di sana hanya bisa menghiasinya dengan lirik-lirikan dan tatapan yang kebanyakan terarah pada Ellias kecil beserta ibu dan ayahnya.
Diantara semua orang di sana hanya laki-laki tua yang sempat berseteru dengan Wellas ayahnya Elias yang sepertinya tak tahan lagi dengan perkataan yang tertahan dimulutnya dan langsung melontarkanpendapat yang membuat Willas terkejut dan berkata “Serahkan saja anak itu.”
Wellas menatap dalam dan penuh amarah melihat laki-laki tua itu saat mendengarkan pernyataannya dan tanpa mengatakan apa-apa.
Seakan tidak merasakan apa-apa tatapan ayah Elias itu laki-laki tua tersebut dengan santainya menepuk-nepuk pundak ayah Elias itu dengan pelan kemudian berkata lagi “Lagi pula sampai sekarang dia tidak bisa menggunakan kekuatannya.”
“Heh” Wellas menepis tepukan-tepukan laki-laki tua itu dengan begitu kuat karena merasa terganggu kemudian mulai berkata “Padahal sebelumnya kau ingin menggunakan kekuatan anakku.”
“Ya itu benar” celetuk pejuang muda yang beberapa saat yang lalu dimarahi Wellas dan berjalan perlahan mendekati ayah Elias itu kemudian dengan volume suara yang tinggi pejuang muda itu berkata “tapi tanpa melihat masa depan pun kau bilang kita akan menang jika memiliki tekad untuk menjatuhkan tentara pemerintahan.”
“Kau bilang seperti itu kan?” tegas pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Wellas.
“Atau kau berubah pikiran hanya karena Elias anakmu satu-satunya dan menganggap kekuatannya berguna untuk sekarang?” Pejuang muda itu bertanya sembari terkekeh.
“Aku tau kau tidak mau menyerahkannya” pria tua yang tadi juga ikut menambahkan perkataan dari pejuang muda itu kemudian menarik nafas dalam-dalam dengan begitu kuat saat menghentikan sesaat perkataannya kemudian melepasnya dengan perlahan kemudian melanjutkan perkataannya lagi dengan berkata “Tetapi Wellas, aku yakin penglihatan masa depan tidak akan membantu kita jika nyatanya kita bisa menang dengan terus berjuang dan memanfaatkan sebaik mungkin peluang yang telah pemburu keganjilan berikan, jadi serahkan saja anakmu.”
“Hei lihat_” pejuang muda itu makin mendekatkan mukanya pada Wellas dengan begitu dekat sembari menatap mata coklat ayah Elias itu dengan tatapan membara penuh keyakinan sembari berkata “Kita hanya terus berjuang dan menang, sekarang peluang kemenangan muncul didepan mata dengan menyerahkan anakmu, bukan kah itu sangat mudah”
“Kalian gila” Wellas menggeratakan giginya dan pandangan matanya pun dengan berani tidak beralih dari tatapan pejuang muda itu.
“Mungkin akan ada akibat buruk jika kalian sangat bernafsu dan terburu-buru seperti itu” Wellas melanjutkan perkataannya sembari memutar kepalnya untuk melihat dan memandangi satu persatu mayoritas orang-orang di sana yang memiliki gagasan pikiran yang bertentangan dengannya.
“KEMENANGAN PERANG INI HARUS DI UTAMAKAN!” teriak salah satu orang di sana ikut menyeletuk dengan mengepalkan tangan.
“MANA ADA ORANG TUA YANG INGIN MENYERAHKAN ANAKNYA BEGITU SAJA KEPADA MUSUH YANG SUDAH JELAS SANGAT BERBAHAYA!” suara teriakan Wellas menggema diantara tenda markas itu saat menjawab desakan orang-orang yang tertuju kepadanya.
“...dan kita tidak tau apa yang akan mereka perbuat kepada Ellias” lanjut Wellas lagi dengan mengecilkan suaranya yang bercampur dengan rasa takut dan kesal.
“Mereka akan menyuruh anakmu bergabung dan sudah jelas untuk membantu mereka, tidak mungkin dia akan dibunuh” kata pria tua yang menjadi otak untuk situasi yang membuat Wellas tersudut itu dengan suara kecil dan tangan yang sembari menepuk-nepuk pundak Wellas kembali sembari tersenyum tipis.
“APA KAU LEBIH MEMBIARKAN MEREKA BENAR-BENAR MENGHABISI KITA DENGAN SERANGAN SKALA PENUH!!?”
Satu persatu orang-orang ikut menyeletuk pembicaraan dan berteriak mendesak Wellas.
“PELUANG KEMENANGAN AKAN HILANG SEKETIKA DAN KITA AKAN KALAH JIKA KAU KERAS KEPALA”
Wellas hanya bisa melihat dengan air muka yang cemas dan takut riuh kacau yang melontarkan kalimat-kalimat desakan yang membuat dirinya seketika itu juga tertekan sampai-sampai melemahkan kedua sendi lututnya.
“APA KAU MEMBIARKAN SELURUH KELUARGA TEMAN BAHKAN TANAH AIRMU MUSNAH BEGITU SAJA!?”
Dan teriakan akhir dari salah satu orang yang ada disana itu benar-benar membuat lutut Willas lemas hingga tidak sanggup berpijak dengan tanah hingga membuatnya terduduk dengan ekspresi datar dan tatapan mata yang kosong.
Melihat kondisi Wellas itu setiap orang di sana terdiam dan sedikit khawatir begitu pula istrinya yang merupakan ibu Ellias yang hanya bisa terdiam dan ikut tertekan sembari menenangkan Ellias yang hanya bisa menangis begitu kuat saat ayahnya dibentak orang-orang disekitar sana laki-laki tua tadi tersenyum tipis melihat kondisi keluarga itu dan menenangkan orang-orang dan setelah beberapa saat peristiwa itu berakhir dengan sendirinya dengan kesimpulan yang menggantung tentang menyerahkan Ellias sang anak yang mewarisi kekuatan Si Mata Empat.
3 hari kemudian saat dini hari sekelompok orang mendatangi rumah Ellias kecil yang begitu bernoda dan dipenuhi lubang-lubang peluru di dindingnya, sekelompok orang itu memaksa masuk rumah kecil keluarga Ellias itu dan langsung mencari Ellias kecil dengan membuat gaduh suasana hening malam hari pada rumah kecil itu.
Willas pun yang berdiri untuk mencoba menghalangi tindakan paksa sekelompok orang itu pun didorong hingga tersungkur dan tak berdaya seketika itu juga beberapa orang dari mereka menodongkan pistol dan senjata laras panjang lainnya pada Wellas dan istrinya yang saat itu berada di dekat Willas.
Setelah membantu suaminya yang tersungkur itu untuk berdiri ibu Elias itu bersama dengan Wellas sang ayah hanya bisa menangis dan berteriak saat melihat Elias kecil diangkat, ditarik paksa dari dalam kamarnya, kemudian kedua tangan dan kakinya diikat agar tidak memberontak dibawa keluar rumah dengan begitu cepat dan dimasukan kedalam mobil bak terbuka agar segera dikirimkan sekarang juga pada Welf yang telah menunggu sampai hari ini dan dengan 3 orang utusan, pria tua kemarin itu pun memerintahkan untuk segera pergi ke perbatasan depan medan perang membawa mobil itu dan menyerahkan Elias ditempat Welf sedang menunggu.
Dengan air mata yang tak terbendung dan wajah dengan kerutan-kerutan amarah dan kesal kedua orang tua Elias hanya bisa melihat lancarnya laju mobil yang membawa anak mereka itu dengan tangisan yang tiada hentinya serta jeritan permohonan pada pria tua kemarin bahkan sampai sujud dibawa kaki pria tua itu dan tentunya tidak ada tanggapan yang berarti dari air muka dingin nan datar dari pria tua itu.
“Earggh” Elias kecil mengerang kesakitan saat merasakan hentakan tubuhnya menghujam tanah dengan begitu keras pada malam itu saat dilempar oleh kedua orang yang memegang senjata laras panjang dari bak mobil itu kemudian salah satu dari mereka memberi kode pada pengemudi yang membawa mereka pergi dari perbatasan depan medan perang ini sebelum mereka dihujani tembakan pada malam yang sunyi ini, seketika Elias yang terbaring sambil terikat pun mendengar deruman mobil tersebut yang perlahan meninggalkannya.
Mengetahui jika dirinya terikat dan ditinggal begitu saja oleh orang-orang kaumnya di sebuah lapangan luas ditengah medan perang pada malam hari yang sunyi membuat Elias kecil merinding, takut dan cemas hingga membuatnya menangis tersedu-sedu hingga sesak nafas namun beberapa saat kemudian seseorang datang menghampirinya hingga membuat Elias yang sadar akan suara langkah kaki manusia itu mengecilkan suara tangis nya.
Pria yang memiliki tinggi yang sama dengan ayahnya pun muncul dan menyapa “Hai, selamat malam_”
“Oh salah, selamat pagi nak” pria yang melanjutkan perkataannya itu adalah Welf Fellas yang sejak tadi telah menunggu para ras keganjilan menyerahkan Elias.
“Demi tinggal di negeri ini untuk menjaga kelangsungan hidup mereka….”
Welf menghela nafas saat berkata dan sembari melepaskan tali-tali yang mengikat Elias serta membantu anak kecil itu berdiri.
“……Tidak kusangka teman-teman ayahmu sejahat ini” Welf memberikan senyuman tipis pada Elias.
“Aku ingin kau lihat masa depan untuk perang ini”
Dia memberikan senyum baiknya pada Elias meskipun tangannya menggenggam kuat lengan Elias hingga memerah, sampai-sampai anak kecil itu meringis kesakitan.
“Ti..tidak, ayah dan ibu tidak mengizinkanku menggunakan kekuatan ini” jawab Elias yang berusaha melepaskan cengkraman kuat Welf.
“Kenapa…” Tanya Welf yang sekarang memasang wajah datar.
“Ka..kata ayah dan ibu...karena akan mengerikan dan berbahaya” Elias menjawab lagi dan kali ini matanya berkaca-kaca.
“Begitukah”
Welf melepas cengkeramannya dan langsung menuju pintu keluar kamar.
“Wajar saja, lagi pula kau Cuma anak-anak”
Kata Welf lagi saat menoleh dengan tatapan tajam dan sinis pada Elias kecil yang sedang meringis kesakitan.
“Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau berani menggunakan kekuatanmu” Welf menutup kembali pintu kamar kurungan Elias dengan pelan, kemudian meninggalkan kamar itu, Elias yang mendengar langkah kaki yang pergi dari Welf merasa lega meskipun sedang merasakan sakit pada lengan kanannya, air matanya pun tak terbendung karena perlakuan itu.
Beberapa hari talah dilewati Elias kecil lagi yang saat ini masih merenung karena merindukan kedua orang tuanya dan ditengah renungannya dia tersentak saat tiba-tiba Welf masuk kamarnya dan menariknya dari tempat tidur untuk membawa Elias keluar gedung markas pemburu keganjilan ini.
“Hey nak, aku ingin memberitahumu sesuatu” kata Welf.
“Lihatlah nak wujud dari nafsu dan keserakahan kaum mu di negeri ini”
Welf menunjuk api-api yang membara serta ledakan berulang kali di gedung pemerintahan negeri itu.
“Kami sudah mengizinkan mereka tinggal di negeri ini, bermacam negosiasi dilakukan, namun saat pemerintahan negeri ini lengah rekan-rakan ayahmu menyerang”
Wajah amarah yang mengerikan dari Welf saat berkata mampu di lihat Elias dari samping saat Welf masih menunjuk tempat penyerangan tersebut.
“Menyerang untuk mengambil alih negeri ini agar dipimpin dan dikuasai oleh ras keganjilan”
Welf yang masih memasang wajah amarah itu saat berkata akhirnya menoleh juga pada Elias kecil hingga membuat anak kecil itu tersentak takut dan mundur.
“Kau mau kemana” tanya Elias saat melihat Welf yang dengan cepat berlari menuju medan pertempuran yang ia tunjuk tadi.
“Tentu saja membantu rekan-rekanku menghabisi orang-orang ras mu yang serakah itu”
Welf menjawab saat berlari tanpa menoleh pada Elias.
***
Sebulan setelah penyerangan pejuang ras keganjilan.
“Seandainya kau melihat masa depan perang ini, mungkin saja kau bisa membantu kami agar mencegah tindakan keterlaluan ras keganjilan itu”
Kata Welf saat berbicara pada Elias kecil yang diajaknya untuk melihat wilayah tempat dia tinggal bersama orang tuanya rata dengan tanah.
“...Agar kami tidak kewalahan dan terdesak seperti sekarang sehingga kami tidak perlu repot-repot menyerang ras kalian secara skala penuh seperti yang kau lihat didepan matamu itu nak”.
Perkataan-perkataan Welf tersebut tak dijawab Elias kecil yang sedang melihat pemandangan mengerikan tempat dia bermain bersama teman-temannya dahulu.
Welf meninggalkan Elias kecil yang masih terpaku memandangi bekas medan perang itu.
“Seandainya saja_”
Perkataan Elias kecil terputus saat melihat didepan matanya mayat kedua orang tuanya yang dipenuhi luka bakar yang banyak dan tertimbun begitu saja di salah satu reruntuhan bangunan sehingga membuat anak kecil itu terduduk lemas dan mengeluarkan air mata sebanyak-banyak nya menjerit dan beberapa kali memanggil ayah dan ibunya.
“Seandainya saja,aku berani menggunakan kekuatanku saat itu”
Elias menggeratakan giginya karena kesal.
“Keluargaku mungkin bisa selamat dari peperangan ini”
Elias menjerit kearah langit.
“Seandainya saja ras keganjilan tidak ada di dunia ini”
Elias mengepalkan kedua tangannya.
“Keluargaku mungkin tidak akan mati seperti ini” kata Elias di masa sekarang yang selesai mengingat kejadian yang pernah dialaminya saat kecil.
“Dan bukan hanya keganjilan, ku sadari sekarang ternyata Pemburu keganjilan lagi yang membuat keputusasaan seperti ini”
Elias melihat Alda yang pergi keluar rumah dengan mobilnya dari kejauhan dan menatap tajam penuh amarah serta kekesalan akibat beberapa kali merasa jika para pemburu keganjilan telah membuatnya merasakan kehancuran hingga membuatnya membenci keganjilan.
“Naif nya aku, sekarang malah meminta bantuan pada keganjilan yang akan ku musnahkan” Elias yang tersadar pun berkata saat mengingat wajah Hakki yang dibencinya karena memiliki kekuatan yang akan menimbulkan perang dahsyat suatu saat di masa depan.
Hakki yang pernah ingin dibunuh olehnya itu sekarang dengan menumpang mobil Andi bawahan Nala akan membantu untuk melindungi keluarga Nala demi Elias orang yang akan memusnahkan keganjilan terutama Hakki Si Pahit Lidah.[]