Bitter Life

Bitter Life
13. Perintah dan Kebenaran



Sambil berjalan perlahan melangkah keluar gerbang gedung pesta pernikahan anak walikota remaja berambut pirang sedang menggigiti jari tanpa henti karena merasakan ketakutan melebihi kapasitas normal otaknya yang seakan-akan meledakkan kepalanya dan dengan tangan bergetar remaja itu mengambil handphone kuno kecil yang sangat berat dan dipenuhi dengan tombol-tombol keras dari tasnya kemudian menekan salah satu tombol untuk menghubungi seseorang dengan nomor kontak tak bernama.


“Bagaimana pekerjaanmu Eric?” suara seorang laki-laki dewasa terdengar saat sambungan handphone remaja berambut pirang tersebut disambut cepat oleh laki-laki dewasa itu.


“Aku berhasil membunuh mereka” Remaja misterius yang dipanggil Eric itu menjawab sembari berjalan perlahan diatas trotoar.


“Ketiga orang itu?” laki-laki pada telepon itu bertanya lagi dengan nada bicara yang begitu tenang.


Eric mengambil nafas dan berkata dengan pelan karena berhati-hati “Ti..tidak, hanya dua orang, Adam Maher belum sempat kubunuh_”


“DASAR BODOH!”


Laki-laki itu tiba-tiba membentak dari balik telepon karena kesal mendengar tanggapan dari Eric sehingga membuat perkataan remaja itu terpotong.


“BUKANKAH AKU MENYURUHMU UNTUK MEMBUNUH KETIGANYA!”


Bentakan dari laki-laki itu membuat Eric sedikit bergidik sampai-sampai membuat remaja itu tidak berani menjawab lagi perkataan laki-laki pada telepon itu demi menghindari masalah.


“Maafkan aku” Dengan anehnya laki-laki dari telepon itu setelah membentak meminta maaf pada Eric, karena menyadari dirinya berlebihan.


“Kenapa kau menyisakan Adam Maher?” Laki-laki dari telepon itu mengeluarkan suara rendah dengan nada yang sangat dingin pada Eric.


“A..a..aku melihatnya diserang seseorang dengan kekuatan yang mengerikan” Eric menjelaskan dengan sedikit tergagap karena takut.


“Mengerikan?” Tanya laki-laki itu yang masih menggunakan suara yang rendah.


“Orang itu membuat Adam Maher tidak bisa bergerak karena ucapannya!”  Eric berkata dengan tempo yag cepat dan terburu-buru seakan ingin sepenuhnya memberitahu jika yang berhadapan dengan Adam Maher adalah orang yang berbahaya agar laki-laki dari balik telepon itu mengerti.


“Kau harus membunuh Adam Maher sekarang juga!” namun laki-laki itu saat memerintah juga berbicara menggunakan tempo cepat dan terburu-buru setelah terlintas diotaknya jika ternyata dia mengetahui siapa orang berbahaya itu.


“Aku akan berada dalam bahaya jika kau tidak membunuhnya sekarang!” suara laki-laki itu bergetar juga nada suaranya terdengar begitu ketakutan, namun saat itu juga laki-laki itu mengambil nafas dengan kuat beberapa sesaat untuk menenangkan dirinya kemudian berkata dengan nada yang dingin kembali.


“Bila perlu kau bunuh juga orang itu.”


Eric terdiam karena sadar dirinya tidak bisa membantah perintah laki-laki dari balik telepon meski dia tidak ingin pergi kembali ke pesta pernikahan anak walikota demi melawan orang berbahaya, namun meski begitu dia masih mencoba untuk menolak perintah itu kemudian mulai berkata “Ta..tapi_”


“Jika kau tidak mau, ketika aku pulang dari luar kota aku akan membantai mereka semua…..” laki-laki itu memotong perkataan Eric dengan cepat dan menjelaskan ancaman yang akhirnya membuat Eric ketakutan hingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Eric menundukkan kepalanya serta menggaruk-garuki rambut pirangnya dengan kasar, setelah berpikir lama remaja itu memutuskan mau tidak mau dirinya harus menuruti perintah jika tidak ingin hal buruk menimpa dirinya dan orang sekitarnya lagi.


“Baik! Baiklah tuan” Eric berkata dengan air muka yang begitu cemas.


“Jika kau berhasil melakukan tugasmu kau akan kuberikan stok darah selama setahun” Tiba-tiba pada telepon itu Eric mendengar nada bicara yang ceria dengan suara tinggi dari laki-laki itu.


Seketika dengan kekuatan fisik luar biasa yang dimilikinya Eric meremukkan handphone yang berat dan keras tersebut seperti meremukkan sebuah jelly, kemudian dengan cepat dia membanting remukkan handphone itu kedalam kotak sampah yang berada didekatnya.


Setelah membuang handphone agar dia tidak dilacak polisi, Eric berbalik demi menuju ke tempat pesta pernikahan anak walikota lagi dan mulai berbicara pada dirinya sendiri “Kau sama sekali belum meminum darah selama 3 bulan in….” Eric memerhatikan lengannya yang kurus kering sampai-sampai menonjolkan tulang-tulang lengannya yang terlihat diantara kulit pucatnya yang kusam dan kotor juga dinodai darah.


Eric memegang megangi tonjolan tulang pipinya yang juga tak kalah kurus kering kusam dan kotor “Aku sungguh kelaparan.....”


“Seharusnya aku minum saja darah dua orang pejabat itu tadi”


Saat terbayang akan penyiksaan yang dialaminya, bola mata Eric memutar tak terkendali karena bingung dan cemas diantara wajahnya yang masih ketakutan itu, kemudian dia berkata “Ta..tapi, jika aku ketahuan meminum darah dari target pembunuhan, laki-laki sialan itu akan menyiksa ku lagi bahkan menyiksa mereka.”


Untuk saat ini dia bisa menenangkan dirinya yang kelaparan berkat janji dari laki-laki di telepon tadi, wajahnya yang ketakutan bisa dikendalikannya dengan sekejap dan sekarang hanya ada raut muka yang serius diwajahnya.


“Sabarlah Eric kau akan diberi stok darah jika menuntaskan misi ini” Eric yang berbicara pada dirinya sendiri itu menyentuh tas ransel pada punggungnya kemudian meraba-raba untuk mencari sebuah gagang besi yang mencuat di antatara resleting tasnya yang tertutup, saat menarik gagang besi itu ada lempengan besi tajam yang menyambung sampai keujung, besi yang diambilnya itu merupakan sebuah pedang yang dibuatnya sendiri dari batangan besi untuk digunakan sebagai alat membunuh orang.


Setelah mengeluarkan senjatanya Eric mulai berlari dengan kecepatan super dari kekuatan fisiknya yang diluar nalar dan dengan sekejap dirinya tiba di dalam gedung pesta itu lagi, saat itu juga dia menemukan para polisi yang telah berkumpul disekitar Adam maher serta orang berbahaya yang dilihatnya tadi.


Eric berjalan perlahan mendekati para polisi itu kemudian mencoba menyelip agar bisa menembus mereka untuk tiba didekat Adam maher juga orang berbahaya itu namun seorang polisi memegangi bahunya dengan begitu keras untuk menghalanginya.


“Jangan mendekat kesana!” Polisi itu memperingatkan Eric dengan pandangan yang beringas.


“Sebentar….” dia memerhatikan pedang Eric yang tergenggam ditangan Eric yang terndodai darah diantara penampilan lusuh nan kusam anak itu.


“Mau apa kau sialan!” Polisi itu membentak karena Eric terlihat mencurigakan apalagi ketika dia melihat gestur remaja itu yang terlihat sangat gelisah saat menatap tajam nan lurus pada Adam Maher, melihat remaja yang mencurigakan itu tampak seperti akan membunuh seorang pejabat, polisi itu menarik bahu Eric dengan begitu kuat agar Eric menghadapnya.


Saat itu juga Eric mendengar jika Adam Maher sedang mengatakan hal tentang kejadian pembunuhan yang diketahuinya kepada orang berbahaya itu, karena mendengar nama laki-laki pada telepon tadi yang juga merupakan tuannya disebut oleh Adam Maher pada orang berbahaya itu, kepanikan pun melanda Eric dan di yang terdesak benar-benah marah kepada para polisi yang menghadngnya untuk menuju adam maher dan sekarang telah menodongkan pistol kearahnya bersamaan .


Setelah menebas tangan seorang polisi, dia menebaskna lagi pedangnya pada polisi lainnya tangan, bahkan kaki hingga leher parapolisi itu dengan cepat bermuncratan banyak darah saat dia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi yang tidak normal, polisi lain yang menyadari jika rekan-rekannya diserang menembak-nembakkan pistol mereka pada Eric dan seketika menciptakan keributan yang luar biasa didalam gedung pesta pernikahan anak walikota itu.


Meski peluru-peluru pistol banyak yang menembus kulitnya Eric tidak merasakan sakit, dengan kemampuan alami ras vampir kulitnya pun seketika beregenerasi dan dengan cepat menghilangkan luka tembak pada tubuhnya, dia mennghiraukan begitu saja sisa polisi yang menembakinya itu, karena panik jika Adam Maher akan membocorkan semua hal tentang perbuatan tuannya, dengan kekuatan fisik ras vampire yang dimilikinya, seperti belalang Eric melompat begitu tinggi dan melesat kearah Adam Maher kemudian langsung menghancurkan kepala orang tua itu dengan tendangan memutar di udara.


“Dia berbohong, jangan dengarkan dia!” Eric menunjuk-nunjuk mayat Adam Maher dan menatap dalam kepada orang berbahaya itu untuk beberapa saat.


Karena shock orang berbahaya itu juga hanya bisa menatap dalam Eric dan terdiam, mengetahui orang berbahaya itu tidak mengatakan apapun setelah melihat nama bertuliskan Hakki di dada seragam wartawan orang itu, Eric berkata lagi “Kau mengertikan Hakki? jika Adam Maher berbohong padamu?”


Hakki memerhatikan dengan seksama mayat tanpa kepala Adam Maher didepannya sambil berkata “A…apa yang kau lakukan?” Hakki kembali menoleh pada Eric dan berkata lagi “Kenapa kau membunuhnya?”


“Te..tentu saja agar mulutnya tidak mengacaukan misiku” Eric menjawab dengan bibir yang bergetar.


“Aku sangat butuh informasi darinya dan sekarang karena perbuatanmu aku sama sekali tidak mendapatkannya” Mata Hakki memerah urat leher Hakki mengencang saat kesal dengan apa yang dilakukan oleh remaja yang mengamuk beberapa saat lalu didepannya itu.


“Kau telah menambah masalah lagi untukku SIALAN!!!” Hakki membentak saat amarah yang terkumpul diotaknya dia keluarkan dan saat itu juga dia berpikiran untuk membunuh Eric yang telah mengacaukan segalanya dengan ucapan kutukannya, tetapi sebuah tubuh dari polisi yang mati karena Eric, melesat didepan mata Hakki dan menimpa Eric yang berada didepannya, saat berbalik melihat siapa yang melempar tubuh itu Hakki menemukan jika salah satu dari orang yang mengawasinya tadilah yang melakukannya.


Elias yang sedari tadi berada didekat Hakki untuk melihat pertarungan sedikit terkejut saat mengetahui Remi dengan begitu mudah dan ringanya melempar mayat untuk digunakan sebagai senjata.


“Tunggu apa lagi, cepat tangkap Si Pahit Lidah itu dan bawa dia keatas!” Remi memerintah Elias dengan tatapan serius.


“Baikl” Elias mengangguk begitu saja dan berjalan cepat kearah Hakki dan mencoba menangkap laki-laki Si Pahit Lidah itu selagi Eric si remaja yang mengamuk teralihkan dan tidak mengusik urusannya kepada Hakki.


Hakki terdiam kebingungan dengan si Elias yang mendekatinya dan saat itu juga dengan cepat tangan kanan  Elias terarah keleher Hakki untuk mencekiknya. Hakki tidak bisa bernafas apalagi berbicara saat dengan begitu kuatnya cengkraman Elias mengikat tenggorokannya.


“Kau tidak boleh mengutuk siapapun dulu untuk sekarang” menggunakan ekspresi yang dingin Elias berkata dengan nada datar karena telah berhasil membungkam Hakki untuk tidak membalas ataupun mengamuk dengan memberikan kutukan.


Dengan leher yang dicekik Hakki diseret Elias untuk berjalan menuju salah satu tangga menuju lantai atas gedung pesta itu, namun langkah Elias terhenti saat Eric berlari kearahnya dan menarik bahunya hingga membuatnya terpental jauh kebelakang berkat kekuatan ras Vampir dan melepaskan cengkraman pada leher Hakki begitu saja.


“Kau tidak boleh membawanya pak, aku diperintahkan untuk membunuhnya jika tidak membunuhnya aku akan mendapatkan hukuman….” Eric menatap tajam Elias yang tersungkur dibelakang sana, kemudian kembali menatap dalam Hakki didepannya yang sedang terduduk dan terbatuk-batuk untuk mengatur nafasnya yang baru saja lepas dari cekikan.


Pedang Eric yang terayun menuju leher Hakki hanya bisa dilihat olehnya yang sedang kalut saat mengatur nafas.


Untungnya Kaira yang baru saja terlepas dari kutukan sementara Hakki berhasil menghadang ayunan pedang panjang itu dengan pisaunya yang lebih pendek, gadis itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan tekanan pedang Eric yang menuju leher Hakki.


“Orang yang menyerang untuk menutup mulut Adam Maher karena sebuah kasus, kau adalah target sesunguhnya dari tugas yang diberikan Adam Maher untukku” Kaira berkata dengan membuat dalih menyelamatkan Hakki dengan sebuah alasan dan sambil mengerang kaira menoleh kearah Hakki seakan menyuruh temannya itu lari dari Eric.


“Pembunuh bayaran?” Eric mengangkat pedangkatnya dan menyerang Kaira dari sisi lainnya, tetapi dengan cekatannya masih bisa ditangkis dengan kaira meski menggunakan pisau, mengetahui Kaira yang sangat profesional memainkan pisau saat bertarung dengannya dia memundurkan langkahnya untuk memikirkan cara menyerang gadis pembunuh bayaran profesional didepannya itu.


“Kau tidak lihat yang membayarmu sudah kubunuh?” Eric berkata saat memerhatikan gerak-gerik Kaira.


Kaira menoleh sesaat kearah mayat Adam Maher yang mengenaskan kemudian berkata sambil tersenyum tipis dengan tatapan dalam pada Eric “Aku selalu minta 75% uang perjanjian awal kepada klienku, jadi itu sudah cukup.”


Setelah nafasnya normal Hakki memanfatkan kesempatan yang diberikan Kaira dan mencoba untuk lari namun disaat akan melangkah, Hakki terhenti oleh Kaira yang menoleh kepadanya untuk berkata “Aku tidak ingin orang yang mengenalku mengetahui pekerjaanku karena akan menyusahkanku jika orang yang kukenal menyebarkannya”


Kaira menatap tajam kembali Eric yang menjadi lawannya juga memasang kuda-kuda untuk memulai pertarungan dan berkata “Jadi… jika kita bertemu lagi aku mungkin akan membunuhmu.”


Meski mendengarkan sepenuhnya perkataan Kaira tersebut Hakki memilih tidak menanggapi apa-apa perkataan gadis itu karena memiliki sedikit rasa berterimakasih pada Kaira yang secara tidak langsung menyelamatkannya.


Dengan wajah panik Hakki yang tadinya  memilih berlari keluar menuju pintu gedung pesta membatakan niatnya karena disana 2 orang yang mengawasinya tadi menghadangnya dan bersiap menyerang dirinya lagi dan karena tubuhnya telah mengeluarkan darah yang cukup banyak dari tangan serta tenggorokkannya yang masih terasa sakit Hakki yakin jika dia menggunakan kekuatan kutukan yang bisa mempercepat kematiannya karena akan merusak bagian dalam tubuhnya sekarang dia benar-benar akan roboh dan tidak bisa bergerak karena sekarat, akhirnya dia hanya bisa memilih lari kearah tangga dibelakangnya dan meninggalkan Kaira ynag bertarung dengan remaja mengamuk yang akan membunuhnya tadi.


Hakki berlari tak henti hingga dirinya berada di tingkatan paling atas gedung yang merupakan atap gedung tempat landasan helikopter dengan hurup H besar yang memenuhi atap gedung itu


“Baiklah aku tinggal terjun saja kebawah agar bisa lari dari mereka” Hakki mendekati tepi gedung itu dan melihat gedung 3 lantai ini sangat tinggi, kakinya gemtaran saat melihat ketinggian yang meperlihatkan permukaan lantai semen tempat parkir mobil yang bisa meremukkan tubunya jauh dibawah sana dan karena hal itu keraguan muncul dari dalam dirinya karena tahu melompat hanya akan membuang nyawanya.


“Sialan, karena panik aku tanpa berpikir panjang lari keatas sini untuk kabur” Hakki bergumam mata dan lehernya berputar mencari jalan untuk kabur dari dua orang yang mengejarnya itu dengan kepanikan.


“Apakah terpojoknya Si Pahit Lidah ini juga sesuai dengan penglihatanmu Elias?” Suara seorang laki-laki dari balik pintu menuju luar atap gedung sayup-sayup oleh terdengar Hakki.


“Elias? ternyata benar orang yang mengawasiku dari tadi adalah detektif Elias bersama rekan-rekannya” Hakki berkata dalam hati dan secara tidak sadar tubuhnya berhenti bergerak seakan ingin meyerahkan diri karena yakin sudah terdesak kemudian Hakki berkata pelan “Ternyata dia tidak berniat melepaskanku.”


“Disini!” Remi melambaikan tangan kearah belakang Hakki, dan karena ingin mengetahui apa yang dilihat Remi Hakki juga ikut menoleh dan melihat sebuah Helikopter yang dipenuhi orang-orang bersenjata telah muncul dibelakngnya seakan ingin mengepung dirinya.


Remi laki-laki berkacamata yang berdiri disebelah Elias itu menatapHakki dengan tajam kemudian menyeringai. “Mari kita mulai operasi besar Pemburu Keganjilan untuk menangkap Si Pahit Lidah!”[]