Bitter Life

Bitter Life
1. Kasus dan Supranatural



Kelap-Kelip cahaya kamera wartawan hingga kamera kepolisian menghiasi suasana ramai dari orang-orang yang berdesak-desakan memenuhi satu-satunya jalur untuk memasuki gang sempit buntu di depan sana demi melihat dengan pasti mayat laki-laki yang kepalanya tertimpa sebuah motor sport di ujung gang itu. Beberapa polisi mengatur sampai memaki orang-orang di keramaian sesak nan padat di malam hari itu agar mereka tidak begitu mendekat ke lokasi kejadian.


"Permisi.. "-


Seorang laki-laki berjas perlahan-lahan menyusuri kerumunan orang di lokasi kejadian dan dengan sabar ia akhirnya tiba di baris depan kerumunan, laki-laki 30 tahunan itu tersenyum saat bertemu dengan para polisi yang mengatur keramaian didepannya.


Seorang polisi menunjuk-nunjuk orang-orang yang menghalangi laki-laki berjas itu.


"Hei kalian, beri jalan!  Bapak polisi itu mau lewat!"


"Detektif Nala, silahkan langsung saja ke TKP pak"


Mendengar perkataan dari polisi yang sedang mengatur itu Nala si detektif, dengan cepat mendekati mayat mengenaskan didepannya dan langsung membungkuk dihadapan mayat itu untuk melihatnya.


"Ini adalah mayat seorang pelaku pembunuhan dan pemerkosaan 6 orang gadis SMP yang menjadi buronan sejak 2 bulan lalu"


Nala menoleh saat mendengar suara polisi yang lebih tua darinya berbicara padanya.


"Inspektur Galih" tangan Nala memberi hormat pada polisi yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya itu.


Setelah memberi hormat balasan Inspektur galih sedikit menggaruk-garukan rambut putih yang telah banyak tumbuh di atas telinganya.


"Kecelakaan dengan korban seorang kriminal lagi, ini yang ke 13 di minggu ini.. Bukankah sangat aneh?"


Setelah mendengar perkataan itu Nala kembali memeriksa mayat didepannya mengambil sarung tangan karet di tasnya untuk menyentuh mayat itu.


Nala mengangguk setelah tidak menemukan tanda kekerasan lain di mayat itu dia juga sudah sangat yakin jika mayat itu belum lama mati saat mengetahui dari suhunya. Nala berakhir dengan keputusan jika mayat itu benar-benar mati karena kecelakaan.


"Jika ini pembunuhan berencana,  tidak ada yang aneh dengan mayat ini, sudah jelas ini kecelakaan murni...tapi"


Nala berdiri kemudian mengitari lokasi kejadian itu.


"Kecelakaan yang terjadi begitu sering dan korbannya pun sama yaitu,  pelaku kriminal besar... "


"12 kasus sebelumnya kita hanya mengatakan jika itu hanya kecelakaan biasa, kali ini apa kita akan mengatakan jika ini kecelakaan biasa juga?"


Inspektur Galih yang masih memerhatikan Nala mengitari lokasi Kejadian terlihat kebingungan dengan keningnya yang mengerut saat menanggapi pertanyaan junior nya itu.


"Aku juga tidak yakin kita bisa mengatakannya seperti itu disaat penyebab kecelakaannya begitu aneh"


"Aneh? "


"Kau pikir saja, kenapa bisa sebuah motor melayang dan menimpa kepala seseorang"


"Coba kau perhatikan dengan seksama motor itu"


Nala dengan cepat melihat lagi motor itu dan benar saja dia menemukan plastik yang masih menempel di motor sport itu.


"Motor sport yang masih baru itu awalnya akan dikirimkan oleh mobil bak terbuka ke rumah yang tak jauh dari gang ini"


"Tapi dengan ajaibnya tali pengikat motor sport baru itu agar tak jatuh, lepas dan kebetulan pengendara mobilnya ugal-ugalan, hingga kemudian ban mobil itu masuk lobang jalan di depan gang ini, entah seperti apa beberapa orang berkata motor sport besar yang dibawa mobil itu terhempas dan mengenai seorang laki-laki di sana"


Inspektur Galih setelah panjang berbicara serius terkekeh.


"Tidak kah ini mirip seperti di film-film sinetron religi sialan yang banyak itu? "


Candaan inspektur Galih di tanggapi dingin oleh Nala karena pria itu sedang memikirkan sebuah rumor yang selama ini selalu menggangu pikirannya.


"Kau pernah dengar tentang Si Pahit Lidah pak?"


"Oh,  kisah pendekar dari Sumatera itu"


"Itu benar pak inspektur, tapi bukan itu"


“Mungkin saja semua kasus yang terjadi belakangan ini bukanlah kecelakaan biasa, bisa saja hal diluar nalar manusia yang menyebabkan kasus-kasus ini terjadi, seperti waktu itu.” Nala berkata dalam hati sembari mengeluarkan smartphone nya yang disimpannya juga di dalam tas,  kemudian menunjukkan beberapa artikel dan percakapan orang-orang mengenai Si Pahit Lidah yang berkeliaran di kota pada inspektur Galih.


"Banyak yang berkata jika mereka pernah melihat sesosok anak laki-laki  yang diyakini sang Si Pahit Lidah, berbicara kepada para kriminal dan tak lama kemudian para kriminal itu mengalami kematian dengan kejadian tragis seakan-akan dikutuk olehnya"


Inspektur Galih memangku dagu karena tidak bisa mempercayai hal supranatural yang dikatakan Nala apalagi dia mengetahui jika juniornya itu adalah maniak dari hal-hal supranatural itu.


"Aku tau kau sangat menyukai hal-hal supranatural, tapi tidak sepatutnya kau mengkaitkan pekerjaan mu dengan hal yang sukai"


"Tapi pak_"


"Rumor-rumor seperti itu biasanya dibicarakan dan ditulis anak-anak remaja dan tidak seharusnya kita memercayainya"


"Aku kira kau juga berpikir jika kasus-kasus seperti ini di ciptakan oleh sebuah konspirasi orang-orang yang berkuasa untuk menghilangkan kasus kriminal, dan membuat kejadian ini murni terjadi karena kecelakaan, bukannya dibuat oleh rumor supranatural seperti yang kau pikirkan,  kau kebanyakan nonton film, detektif Nala"


“Bukannya dari perkataan tadi anda juga terlihat kebanyakan nonton film, dasar.” Nala berkata dalam hati lagi saat melihat Inspektur Galih meninggalkan lokasi kejadian.


"Aku mau istirahat sebentar kau lanjutkan saja penyelidikannya"


“Sebelum aku dipindah tugaskan ke kota ini, kasus di tempat lamaku telah membuktikan jika pembunuhan 17 wanita dewasa saat itu benar-benar dilakukan manusia yang bisa menghisap darah atau lebih dikenal vampir, tapi karena sulit dipercaya kepolisian di daerah asal ku memutuskan jika itu kasus pembunuhan berantai biasa, aku ingin memberitahukan hal itu pada inspektur tapi sepertinya dia tak akan percaya.”


Nala mendengar senandung musik cadas beberapa kali dari smartphonenya yang menerima panggilan,  tapi dia mengabaikannya karena mengira jika yang menelpon itu istrinya karena khawatir melaksanakan tugas di malam hari,  namun beberapa saat kemudian dia merasa aneh saat lebih dari dua puluh kali smartphonenya berbunyi.


Nala dengan cepat mengambil smartphonenya di tas dan terkejut karena rupanya yang menelponnya sang informan pribadinya.  Dengan wajah sumringah yang tergambar jelas Nala dengan cepat mengangkat telepon itu.


"Halo Andi ada apa?"


"Halo pak,  aku berhasil menemukan orang yang mengetahui  pasti tentang Si Pahit Lidah yang kau curigai itu"


"Syukurlah" Nala bernapas lega berkat kemampuan informannya itu, dia pun meyakini melihat secercah harapan yang mampu menyelesaikan misteri kasus ini.


"Laki-laki ini adalah seorang detektif swasta yang terkenal itu"


"Elias Noor!?" Mata Nala terbelalak saat menyebut nama itu.


"Iya,  benar pak, dia Elias Noor dan dia bilang jika pak Nala mau menyelesaikan kasus-kasus kecelakaan yang terjadi belakangan ini bersamanya, dia akan memberitahukan semua informasi tentang Si Pahit Lidah itu"


"Aku telah memberikan nomormu padanya pak, dia akan menelpon mu sebentar lagi"


"Andi, aku sungguh berterimaka_"


Andi si informannya memotong ucapan Nala dan membuat detektif itu hanya bisa tersenyum kecil untuk menanggapi.


“Jika Elias Noor itu menelpon ku, demi kepastian dan kecepatan kasus ini aku akan langsung menerima tawaran kerjasamanya.” beberapa saat Nala masih menatap layar smartphone nya demi menunggu telepon dari Elias Noor itu,  ketika hampir menyerah karena begitu lama belum mendapat panggilan dan berniat memasukkan smartphone nya lagi ke dalam tas,  musik cadas nya muncul lagi dengan keras dan hampir membuat jantung Nala lepas karena terkejut. Nala melihat nomor yang tak dikenali menghubunginya.


"Halo?" Nala berkata.


"Halo, pak Nala" Jawab laki-laki yang tersambung pada telepon itu.


"Elias Noor?"


"Iya, saya Elias Noor"


"Tanpa basa basi aku sudah memutuskan untuk bekerja sama denganmu"


"Benarkah?"


"Iya,  benar"


Senyum tipis Nala yang bersamaan muncul dengan air muka bingung dari wajahnya karena tidak menyangka jika Elias detektif swasta yang terkenal itu berbicara dengan sangat ramah dan seceria ini.


"Tapi sebelumnya aku ingin bertanya satu hal padamu" kata Nala.


Nala hanya mendengar diam dari balik telepon yang membuat jeda beberapa saat diantara kedua detektif itu.  Dari diamnya Elias yang menandakan kewaspadaan tentang pertanyaan, membuat Nala yakin jika Elias bermaksud menerima pertanyaannya jika itu bukan pertanyaan yang merugikan.


"Kenapa detektif seperti mu, mengetahui dan mencurigai rumor aneh tentang Si Pahit Lidah sepertiku?"


"Karena aku juga bagian dari rumor aneh itu" Elias menjawab pertanyaan Nala itu dengan cepat.


"Apa maksudmu?"


"Apa kau tahu jika dalam kisahnya pendekar Si Pahit Lidah memiliki musuh bebuyutan pendekar Mata Empat?"


"Aku mengetahuinya" Nala menjawab pertanyaan Elias.


"Aku adalah keturunan langsung Pendekar Mata Empat itu dan tentunya memiliki kemampuan sang pendekar,  saat ini dengan sepasang mata ku yang lain aku bisa melihatmu berdiri sedang meneleponku dari kejauhan"


Meski sedikit tak percaya Nala tetap memutar kepalanya untuk melihat sekeliling demi mencari dan memastikan keberadaan sepasang mata lain yang di sebutkan Elias itu.


"Dan sekarang kau sedang melihat sekeliling untuk memastikan keberadaan sepasang mataku yang lain..."


Pernyataan dari Elias yang menegaskan kemampuannya itu membuat kepercayaan Nala sedikit meningkat.


"Sebentar.. " kata Nala lagi.


Elias terdiam lagi menunggu pertanyaan dari Nala.


"Dari kemampuan mata mu sepertinya kau banyak mengetahui hal-hal aneh lain di kota ini, tidak, mungkin saja hal-hal aneh di dunia ini... "


Elias masih terdiam.


"Selain kau dan Si Pahit Lidah itu apakah masih ada orang lain yang sejenis dengan kalian berdua?"


"Iya masih ada pak Nala"


Mendengar perkataan Elias itu Nala yang sangat maniak mengenai hal-hal supranatural tersenyum lebar.


"Masih begitu banyak di dunia ini mahluk seperti kami sedang bersembunyi,  aku dan Si Pahit Lidah hanya bagian kecil dari kisah-kisah legenda yang begitu banyak tersembunyi dan berbaur di era modern ini" []