
Kedinginan, seperti itulah yang Hakki rasakan malam itu ketika baru pulang dari sekolah setelah selesai melaksanakan Ujian, seragam SMA nya basah kuyup, pipinya babak belur dan malam itu juga dia ingin melompat dari atas jembatan yang tinggi untuk mengakhiri hidupnya.
"Hanya karena aku tidak menoleh saat 4 orang perundung sialan itu meminta jawaban Ujian, aku dipukuli dan disiram air di depan banyak orang seperti ini, padahal aku tidak pernah ada salah pada mereka, mereka selalu saja mengganggu, sialan! hanya karena aku kurus dan lemah mereka selalu seenaknya" Gumaman kesal Hakki dalam hati barusan tidak membuat perasaannya membaik, dia pun mencoba meloncat namun rasa takut masih menggerayanginya.
Sesaat terbesit di pikiran nya ingin pulang ke rumah melupakan semua yang terjadi padanya hari ini dan mengadu kepada ibunya namun dia sadar jika ibunya masih terbaring di rumah sakit untuk saat ini, Ayah tirinya yang sama sekali belum dekat dengannya masih banyak pekerjaan, tidak ada siapapun yang bisa menolongnya.
Aku tidak ingin merepotkan mereka lagi kata Hakki dalam hati kemudian remaja itu menarik nafasnya kuat-kuat untuk berteriak.
"Aku tidak ingin gara-gara aku mereka mengalami penderitaan juga seperti kak Alicia!"
Teriakan darinya yang bergema di sekitar jembatan hampir mengalahkan riak sungai deras di bawah jembatan itu, Hakki berteriak karena yakin tak ada yang akan menyautinya di jembatan ujung kota 33 yang terkenal sepi ini. Tapi teriakannya itu tak mampu menambah keberaniannya untuk melompat.
"Tenanglah, jika aku mati penderitaan selama aku hidup akan menghilang" dia bergumam dan akan mencoba melompat lagi namun rasa takutnya belum menghilang.
Hakki menghilangkan rasa takut dengan berkali-kali mengatur nafasnya, ketika dia sampai pada helaan terakhir dari ujung jembatan beton yang sepi ini langkah pelan seseorang terdengar olehnya.
Langkah kaki misterius yang perlahan mendekatinya itu sukses membuat merinding dan juga menambah perasaan takut lainnya dari pikiran anak yang ingin bunuh diri itu.
“Ada orang yang berjalan di jembatan ini?”
“Hantu?”
“Mahluk aneh lainnya?”
Hakki berkata dalam hati, dia memberanikan diri memutari kepalanya demi menoleh ke asal suara langkah kaki itu.
Di ujung jembatan itu ada seorang pria seumuran ayah tirinya, berjalan dengan sangat lamban dan sedang memegangi perut dengan tangannya seakan menahan sakit. Namun Hakki tak peduli sedikitpun dengan apa yang sedang dilakukan pria itu.
"Aku yakin paman itu datang untuk menghentikan perbuatanku" gumam Hakki dalam hati.
"Aku tak peduli, aku akan tetap lompat" kata-kata itu kali ini membuat dirinya yakin akan bunuh diri dan disaat keberaniannya muncul untuk membuatnya berani melompat bunyi keras tubuh pria yang dilihatnya tadi terdengar karena terjatuh dan menghantam permukaan jalan aspal jembatan, hingga berhasil membuat Hakki batal melompat.
Hakki melihat jika pria itu tergeletak tak berdaya dan parahnya lagi badan pria itu juga mengeluarkan darah yang sangat banyak dari perutnya.
Ada rasa iba muncul dari dalam hati Hakki, hingga anak itu benar-benar membatalkan tindakan bunuh dirinya dan berlari menghampiri pria yang tergeletak tak berdaya itu.
"Paman, kau terluka!tenang aku akanmembantumu" Kata Hakki cemas, saat memegangi tubuh pria yang bersimbah darah itu, Hakki mengambil botol air minum yang selalu dibawanya di dalam tas ransel miliknya. Namun menyodorkan bibir botol secara paksa pada pria itu untuk minum demi keselamatan hanya membuat air minum meluber dan bertumpah ruah di bibir pria sekarat itu.
"Terima kasih... " Ucap pelan pria itu, meski merasa hanya sedikit air masuk ditenggorokannya.
Hakki hanya menggangguk untuk menanggapi ucapan itu saat terfokus mencari luka sumber keluarnya darah dari perut pria itu, ketika menemukannya Hakki hanya menutupinya dengan kedua tangan kosongnya.
Hakki melihat jika pria yang dipanggilnya paman itu juga mengalami beberapa luka sayat di tangan yang tampak dari robekan jas hitamnya dan di tambah lagi wajah pria itu terdapat beberapa luka memar.
"Aku mewarisi kekuatanku kepadamu nak..... " Secara mendadak pria itu mengatakan hal aneh pada Hakki yang membuat anak itu kebingungan namun ditengah kebingungannya hal yang lebih aneh datang, telinga Hakki berdengung dengan sangat kuat hingga telinganya merasakan sakit seakan gendang telinganya akan robek.
Setelah beberapa saat secara perlahan dengung di telinga Hakki melemah dan disaat hampir menghilang keanehan lainnya muncu, lidah Hakki terasa sangat pahit.
Karena seakan-akan baru saja menjilati empedu ikan dengan jumlah yang sangat banyak yang Hakki juga ikut minum air yang dia bawa dan berulang kali berkumur dari air itu, perhatiannya kepada orang yang sekarat di depannya hampir menghilang.
"Dia...datang..lagi..." Pria yang terserak-serak lemah itu memaksakan diri untuk bicara.
Dari ujung jembatan, pria itu dan Hakki melihat bayangan sesosok manusia yang mengenakan mantel sambil menggenggam sebilah pisau.
Meski merasa ketakutan dengan penampakan manusia bermantel, Hakki bersikeras mencoba untuk memapah pria sekarat itu sekuat tenaga agar bisa kabur bersamanya.
Pria yang tak bisa lagi berdiri dengan kondisi tubuhnya itu dipaksa bangun oleh Hakki, namun pria itu menolak untuk dipapah, hingga perkataan lemas nan terbatah dengan nada marah muncul darinya "larilah, tidak usah... hiraukan aku..., kalau kau...membawaku, kau juga...akan..dibunuhnya.."
"Larilah... Nak.." pria itu menegaskan lagi.
Hakki semakin cemas dengan situasi yang di dapati nya hingga membuatnya kebingungan menanggapi perkataan pria itu "Tapi paman kau harus mendapatkan pertolongan!"
"Percuma...saja..aku....tidak...bisa...bertahan la...gi..." Nafas pria itu terputus-putus saat berkata, keringat dingin di kening pria itu yang bercucuran dengan wajahnya yang memucat sudah cukup untuk meyakinkan Hakki jika dia tidak bisa bertahan lagi.
"Aku sudah tidak terselamatkan lagi.. jadi.... Larilah!" Dengan usaha akhir dari sisa hidupnya pria itu berkata.
Peringatan dari pria sekarat itu membuat Hakki terdiam membeku karena bingung, Hakki yang sudah berdiri masih menatap pria itu dengan wajah cemas yang ditambah dengan rasa takut yang semakin membesar karena adanya hawa membunuh dari manusia bermantel di ujung jembatan.
Hakki mencoba menoleh kembali kearah manusia bermantel itu, yang saat itu tepat dilihatnya sedang memasang kuda-kuda untuk berlari mendekatinya dan pria sekarat itu.
Antara ingin melangkah atau tidak seperti itulah kondisi kaki Hakki yang saat ini makin kebingungan.
Degup jantung remaja itu semakin menguat saat dia tahu jika manusia bermantel itu sedang berlari dengan sangat kencang.
"Larilah!" laki-laki itu memaksa berteriak hingga membuatnya tersedak dengan darah yang berceceran di mulutnya.
Mendengar serak lemas pria yang mencoba berteriak padanya, akhirnya membuat Hakki memilih berlari menghindari manusia bermantel itu.
Hakki yang telah berlari meninggalkan pria sekarat itu, memberanikan diri menoleh lagi kebelakang dan melihat secara jelas jika pria sekarat itu sudah dihampiri manusia bermantel.
Karena tak sanggup melihat pemandangan lanjutan di belakangnya yang mungkin akan tidak mengenakan, Hakki berlari dengan menambah kecepatan dengan sekuat tenaga.
Remaja itu juga berlari sekuat tenaga berharap agar dia tidak jadi target pembunuhan selanjutnya, nafas nya tersengal, detak jantungnya menguat, ketakutannya yang meningkat dengan diiringi rasa cemas yang membuatnya beberapa kali menoleh ke belakang demi memastikan jika manusia bermantel itu tidak pernah berada di belakangnya.
Setelah lama berlari dan saat telah berada di jalan yang berjarak dekat dengan rumah tak ada satu tanda pun jika manusia bermantel itu mengejar Hakki. Remaja itu pun memelankan langkah kakinya untuk mengatur nafas dan berjalan perlahan sembari memegangi lidahnya yang tadi terasa pahit.
Dia merasa aneh karena rasa pahit di lidahnya itu, tiba-tiba saja menghilang dengan sendirinya.
***
Sembari menyaksikan peristiwa perang antara manusia dengan mahluk-mahluk aneh didepan matanya entah mengapa tbia-tiba saja telinga Hakki berdenging dengan sangat kuat dan mengeluarkan darah, lidahnya pun terasa sangat pahit hingga membuatnya mual, Hakki tidak bisa menahannya lagi dan saat itu juga dia tersentak dari tempat tidurnya.
"Mimpi...?" Hakki berkata.
Setelah muncul mimpi buruk aneh yang cukup banyak membuatnya mengeluarkan keringat dingin, Hakki melihat jam di smartphone nya yang telah menunjukkan jam 7 pagi, biasanya dia terkejut melihat angka 7 namun untuk sekarang karena merasa tak ada lagi yang harus dikerjakan di sekolah dan jika ke sekolah pasti dia hanya akan di ganggu oleh para perundung di kelasnya, ditambah hal aneh yang menimpanya malam kemarin membuatnya memutuskan untuk tetap dirumah saja sampai pengumuman kelulusan.
Sambil mengunyah roti panggang yang berada ditangan kanannya Hakki mengambil remot dan menghidupkan televisi dengan tangan kirinya untuk melihat channel berita, demi menemukan bahasan tentang kejadian mengerikan yang menimpanya kemarin malam.
"Tidak ada?" gumam Hakki yang masih mengunyah rotinya.
Berulang kali dia memindahkan channel di televisinya namun tak ada satu berita pun yang membahas kejadian pembunuhan atau kekerasan serupa, yang terjadi kemarin malam.
Bahkan berhari-hari Hakki memantau baik media cetak ataupun televisi tidak ada satupun yang membahas.
"Padahal aku yakin kejadian itu bukan mimpi" gumam Hakki lagi saat menelan habis rotinya.
***
Setelah hampir satu jam terjemur matahari pagi karena mendengar kata sambutan serta santunan dan nasehat panjang para guru Hakki yang menghadiri hari pengumuman kelulusannya mendapat kertas surat kelulusan yang akan di bukanya di rumah sakit nanti bersama sang ibu.
Dia bergegas menuju gerbang keluar sekolah untuk pulang dan tidak merayakan kelulusan bersama teman, karena memang tidak memilikinya.
Disaat suasana tenang yang di alaminya ketika sedikit lagi mencapai gerbang sekolah, ketegangan muncul tiba-tiba saat suara laki-laki memanggilnya dari kejauhan.
"Hakki!" pria itu melambaikan tangan.
Hakki yang menoleh karena panggilan itu mendapat senyum jahil dari seorang laki-laki seumurannya.
"Sial! Kenapa aku menoleh!" gumam Hakki dalam hati yang menyesal karena menanggapi panggilan dari 4 anak sekelasnya yang selama ini menggunakan dirinya sebagai target perundungan.
4 remaja itu berlari kecil menghampiri Hakki dan salah satu dari mereka merangkul pundak remaja yang tersudutkan karena keberadaan mereka itu.
"Kemana saja kau tidak muncul beberapa minggu ini?" Kata si perundung yang memiliki wajah paling tampan dari 3 temannya yang lain.
"Hei Halsa!" Si perundung lain berbadan gempal dan besar berkata pada si tampan yang sedang merangkul pundak Hakki.
"Apa mungkin Hakki berpikir kita tidak akan mengganggunya lagi jika dia meliburkan diri?" si badan gempal menepuk-nepuk pipi Hakki, yang tak berani menatapnya.
"Jangan Rean" Halsa si tampan menepis tangan si gempal Rean.
"Kita tidak usah mengganggunya lagi" tambah Halsa.
"Ini hari kelulusan, dia harus memiliki kenangan terakhir yang baik dengan kita, kita hari ini mengobrol dengannya saja, Oke" lanjut Halsa yang tersenyum pada Rean dan kemudian Hakki.
"Kemarin kau libur karena demam ya?" tanya Halsa lagi, melihat Hakki yang tidak menanggapinya Halsa berbicara lagi "Maafkan Rean yang berlebihan menyiramimu waktu itu ya!"
Hakki hanya mengangguk menanggapi perkataan Halsa dan menunjukan gestur yang tidak nyaman dan sesekali melihat ke gerbang karena gelisah ingin pulang.
"Terburu-buru sekali kau mau kemana?" kata Rean yang memerhatikan gestur Hakki.
"A....Aku mau ke rumah sakit" Hakki masih ketakutan menatap Rean saat menjawab pertanyaan.
"Kau mau lihat ibumu atau kakak tiri yang kepalanya kami pukul itu" Rean berkata lagi sembari terkekeh.
Darah di dalam kepala Hakki mendidih mendengar perkataan Rean itu wajah nya memerah karena geram, tangannya mengepal dengan sangat kuat karena teringat kembali jika mereka berempatlah yang membuat kakak tirinya harus dirawat di rumah sakit.
"Dari wajahmu itu tampaknya kau masih kesal pada kami ya, Hakki"
Halsa berkata saat menyadari perubahan air muka Hakki itu, namun remaja itu memilih untuk menambah amarah Hakki.
"Kau tau... Kami tak jadi ditangkap saat itu berkat ayahku yang menyogok polisinya"
Rean tertawa mendengar perkataan provokasi Halsa itu dan dia juga ikut memprovokasi Hakki.
"Berkat ayah Halsa kami tidak jadi masuk penjara"
"Kalau tau aku akan di bantu ayah Halsa seharusnya aku pecahkan sekalian kepala perempuan itu" Rean mengakhiri perkataan dengan tertawa namun ke dua teman lain dibelakangnya tidak mengikutinya sehingga Rean memaksa mereka dengan tatapan ancaman sehingga dua orang temannya itu terpaksa tertawa.
Halsa yang hanya senyam-senyum melihat tingkah tiga temannya itu, melepas rangkulannya terhadap Hakki karena merasa cukup mengintimidasi remaja laki-laki yang lebih lemah darinya itu.
"Pecah?" Saat terlepas Hakki yang kesal dengan perkataan Rean berkata dengan suara kecil. Dan kali ini dia berani menatap ke 4 orang itu.
"Kalian tertawa setelah melukai kepala kak Alicia dan sekarang berharap kepalanya pecah?"
"Dia mengomel sendiri" Rean berkata dan tertawa saat tidak terpengaruh tatapan amarah dari Hakki itu. Halsa dan dua temannya yang lain juga ikut menertawai Hakki.
Gigi Hakki menggeratak karena kesal.
"Kak Alicia kesakitan sampai sekarang karena perbuatan kalian"
Air mata perlahan mengalir di pipi Hakki.
"Dan kalian seenaknya tertawa" Nada bicara Hakki meninggi.
"Berharap memecahkan kepalanya!" dia mengeraskan suaranya.
"Kepala Kalian Saja Yang Pecah!"
Kata-kata terakhir Hakki iyang seperti kutukan itu membuat ke 4 orang perundungnya terdiam sehingga menciptakan keheningan di sekitar mereka.
Seketika 4 orang remaja itu merinding dengan suasana mencekam misterius yang muncul diantara mereka, saat itu juga telinga mereka berdenging dengan sangat kuat.
Rean yang menyadari ada yang aneh di telinganya mencoba bertanya. "Hei, apa telinga kalian berdengu_"
Pertanyaan Rean terputus karena dengan anehnya kepala remaja berbadan gempal itu meletup dan pecah hingga berhamburan darah. Tidak hanya Rean, Halsa serta dua temannya juga mengalami hal aneh nan mengerikan yang serupa.
Terperangah, hanya itulah yang muncul dari Hakki saat melihat kejadian mengerikan yang sekaligus aneh didepannya itu.
Remaja-remaja lain yang masih berada di sekolah histeris melihat kejadian aneh itu, ada juga yang dengan heboh berlarian mencoba melihat mayat 4 remaja yang kepalanya pecah itu, beberapa dari mereka memanggil guru dan orang dewasa lainnya. Namun diantara kegaduhan itu seorang siswi sangat tenang dan tersenyum saat melihat Hakki dari kejauhan.[]