Bitter Life

Bitter Life
24. Bertemu dan Kembali



Meskipun kemarin badai telah usai namun pada hari ini badai seakan-akan masih menyelimuti para keluarga dan kerabat dari Furi yang hadir dirumah sederhananya, setelah mengirimnya ke peristirahatan terakhir sore tadi dan Hakki meskipun disarankan dokter untuk beristirahat dia tetap memaksa dirinya menghadiri upacara pemakaman malam itu dan tentunya dengan sangat lelah dan lesuh  karena efek penggunaan kekuatannya dia terpaksa duduk di salah satu kursi dihalaman rumah Furi dengan wajah yang datar dan mata yang telah mati diantara kelopak matanya yang membengkak.


Seakan telah kehabisan stok air mata Hakki yang sedang termenung tak bisa menangis lagi, dengan wajah suramnya dia merenungkan betapa tak bergunanya tubuh dan kekuatannya karena tak bisa apa-apa untuk menyelamatkan Furi dengan merubah sejarah seperti yang pernah dilakukannya.


“Hakki Haranza” suara berat nan besar seorang laki-laki yang datang bersama tepukan pelan dipundaknya membuat  Hakki akhirnya terlepas dari lamunannya.


Hakki langsung menoleh pada orang yang memanggil Namanya dan melihat seorang laki-laki putih berambut pirang gelombang yang diketahui Hakki bernama Alean sebagai seorang keganjilan Iblis Ifrit dan juga memiliki darah campuran orang barat, laki-laki itu datang bersama keganjilan lainnya yang berjumlah sekitar 10 orang yang diantaranya hanya untuk mendekati Hakki.


“Kau selalu menjadi orang yang dibicarakannya jika Furi bersama kami” ujar laki-laki itu berkata lagi namun kali ini dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Alean menundukkan kepalanya serendah-rendahnya dan tersenguk beberapa kali karena tangisan sembari berkata “Terimakasih telah menemani gadis kesepian yang telah kehilangan orang tua itu selagi kami tak ada.”


“Terimakasih karena dengan sepenuh hati telah melindunginya sampai akhir hayatnya…” setelah mengakhiri perkataannya, seketika Alean mengusap air matanya dan dengan pelan menegakkan kembali kepalanya untuk tersenyum lembut pada Hakki yang saat ini dilihat Alean masih menggunakan ekspresi yang datar, suram dan mata yang mati walaupun membalas senyum Alean itu dengan sedikit senyuman tipis.


Hakki menatap Alean sesaat kemudian memerhatikan seksama sepuluh orang disekitarnya dengan mata yang sedih hingga seakan memiliki rasa bersalah pada Alean dan 10 orang itu kemudian kali ini Hakki yang menundukkan kepalanya dan dengan volume suara yang kecil Hakki berkata dengan nada lirih “Tapi karena aku, detektif Elias jadi mengincarnya…”


Alean menggaruti rambut pirangnya dengan pelan dan berkata “Kurasa…tidak ada salahnya Furi berteman dekat denganmu meskipun pada akhirnya dia dibunuh karena itu.”


“Karena mau seperti apapun kondisinya sudah sewajarnya jika sesama keganjilan berteman dan memiliki ikatan itulah hal yang tertulis di aturan organisasi kami” setelah mengatakan hal itu telapak tangan Alean yang tadi berada dikepalanya sekarang turun, untuk menepuk-nepuk pundak Hakki beberapa kali demi menenangkan Si Pahit Lidah itu yang kali ini kembali menangis pilu.


Hakki mengamati orang-orang yang menghadiri upacara pemakaman yang setengahnya adalah keganjilan seperti yang diketahui Hakki, Furi termasuk Alean bersama 10 orang tadi yang diketahuinya mati digaris waktu lain dan membuatnya berpikiran setidaknya dia bersyukur kejadian yang membantai teman-teman Furi itu tidak terjadi digaris waktu ini.


Dengan sedikit rasa syukur yang masih diselimuti kesedihan Hakki beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pulang pada malam hari ini dengan langkah kaki yang pelan dan kepala yang menunduk saat berjalan dan cara berjalan Hakki yang menunjukkan gestur kesedihan mendalam saat meninggalkan upacara pemakaman itu diperhatikan oleh Elias yang sedang berdiri didekat lampu jalan yang berada diseberang jalan tepat depan rumah Furi dengan tatapan tajam menyeramkan.


Elias mengetuk-ngetukkan jari-jemari kirinya pada tiang besi lampu jalan saat tangannya tersingkap kemudian berkata “Sudah kubilang Hakki, jika kau mau menurutiku kau tidak akan merasakan kepahitanmu sebagai keganjilan.”


“Bahkan aku akan membantumu, mencari dalang dari pembunuhan orang tuamu” kata Elias saat matanya tak henti memerhatikan Hakki yang telah melangkah cukup jauh sampai ujung jalan.


Hakki yang telah menghilang saat berbelok akhirnya mampu membuat mata Elias yang terpaku pada musuhnya itu lepas dan diapun juga bergegas meninggalkan tempat itu untuk pulang kerumah setelah bekerja dengan arah yang berlawan dari Hakki dan saat berjalan pun Alias masih berbicara sendiri.


“Jika kau bergabung dengan pemburu keganjilan sepertiku, kematian karena konflik keganjilan seperti ini tidak akan terjadi”


Beberapa kali dering telepon muncul dari saku celananya namun masih kalah dengan perkataan-perkataan yang dilontarkannya.


Saat telepon itu baru saja tersambung seketika suara lantang dari Nala si Detektif Kepolisian muncul tanpa basa-basi.


“Bagaimana perkembangan kasus Si Pahit Lidah?”


Elias tak menanggapi perkataan itu karena seharusnya Nala tidak masuk lagi dalam rencananya dan tak seharusnya Nala mengetahui lagi hal-hal terkait Si Pahit lidah karena itu urusan pemburu keganjilan


Muncul jeda hening cukup lama saat Elias diam dan Nala yang menunggu jawaban namun Nala yang menyadari jika keheningan itu tak akan berakhir jika tidak ada yang berkata lagi akhirnya memilih melanjutkan pembicaraan dengan berkata “Setelah kau memastikannya tidak datang ke pesta pernikahan anak walikota kemaren, kau tidak pernah memberikan kemajuan terbaru tentang Si Pahit Lidah.”


“Belum ada kelanjutannya” Elias menjawab dan kembali berperan sebagai detektif meskipun dari awal tujuannya hanya ingin membuat Si Pahit Lidah bergabung atau dihabisi oleh pemburu keganjilan dan telah mengetahui semua hal tentang Si Pahit Lidah, namun saat berbicara dengan Nala dia membuat dirinya seakan-akan mencari tentang kebenaran kasus itu dan ingin memecahkannya.


Karena tidak terlalu ingin berurusan dengan Nala lagi, Elias terdiam saat memikirkan sebuah cara agar Nala tidak mengganggunya dalam misinya untuk mengusik hidup Hakki sebagai pemburu keganjilan, kemudian berkata “Namun aku mengetahui pasti, jika identitasnya memang benar seorang wartawan dari berita rakyat Bernama Hakki Haranza.”


“Dan mendapatkan alamat rumahnya” lanjut Elias seakan baru mendapatkan alamat rumah Hakki padahal telah mengetahuinya lebih dulu saat awal penyelidikan pemburu keganjilan pada Si Pahit Lidah.


“Dia bisa ditangkap?” tanya Nala.


“Tentunya dia akan melawan, dengan kekuatan kutukannya, namun jika kau mau membantunya menyelesaikan kasus orangtuanya dia mungkin tak akan melawan dan mungkin mau ditangkap” Elias menjawab pertanyaan Nala itu dengan nada bicara yang kurang semangat.


“Benarkah dia mau di ajak bicara dan kemudian mau ditangkap…” Nala berkata memastikan hal yang membuatnya tidak yakin, karena yang dibicarakan itu adalah Si Pahit Lidah dengan kekuatan yang mengerikan tentunya manusia biasa sepertinya tidak mampu melawan Si Pahit Lidah jika akhirnya tidak bisa di ajak bicara.


Elias menghela nafas dan merasa ingin cepat meninggalkan obrolan dengan orang yang berpotensi menggangu urusannya dengan Hakki ini dan juga karena ingin cepat pulang setelah bekerja sebagai detektif juga memburu keganjilan seharian, kemudian dengan pelan berkata “Coba saja dulu dengan tata krama, ramah dan bersikap sangat baik saat berbicara padanya, mungkin dia akan mendengarkanmu dan menerima bantuanmu.”


“Baiklah kalau begitu berikan aku alamatnya” Nala langsung menyetujui perintah Elias itu dan dengan seksama mendengarkan alamat rumah yang diberikan Elias.


Elias dengan segera menutup telepon Nala setelah memberitahu alamat rumah Hakki dan melanjutkan langkah kakinya menuju rumah sembari berkata dalam hati “Ya, benar, mau bagaimanapun dia akan menyelesaikan kasus itu agar kematian temannya tidak sia-sia walau harus ditangkap, karena kuyakin dia tidak memiliki semangat hidup lagi karena kematian temannya dia tidak akan punya tujuan, dipenjarakan, bergabung denganku, atau dibunuh… semuanya bisa terjadi.”


***


Disaat matahari pagi baru muncul satu jam yang lalu seorang perawat perempuan rumah sakit umum kota 33 memasuki ruangan ICU seorang gadis dengan rambut panjang hitamnya yang terlihat halus dan pada ujung dipannya terdapat papan identitas pasien dengan nama Alicia untuk merapikan ruangan gadis itu sebagai rutinitas pagi, melihat gadis yang masih koma sampai hari ini itu membuat perawat tersebut bergumam dalam hati “2 tahun mengalami koma, kalau dipikir-pikir lama juga.”


Belum selesai merapi-rapikan ruangan itu perawat muda tersebut melihat jika jari jemari gadis itu sedikit bergerak, perawat itu sangat terkejut melihat hal aneh dari tubuh gadis itu yang belum pernah muncul selama dua tahun ini sehingga membuatnya terdiam beberapa saat dan sadar jika dia harus melakukan suatu hal perawat muda itu pun berkata pada dirinya sendiri “Aku harus memanggil dokter.”[]