
Pembawa berita dengan sangat lugas menyampaikan berita cuaca pada televisi tabung kuno yang dimiliki Richard saat sedang menontonnya dikala hujan petir saat ini, dari yang Richard tangkap pembawa berita tersebut memperingatkan kota 77 akan mengalami badai yang merupakan fenomena tahunan di sore hari ini, dan meskipun berita tersebut belum berakhir Richard engan cepat mematikan televisinya karena takut dengan sambaran petir yang mungkin bisa membuat televisinya rusak.
Richard beranjak dari sofa ruang kantornya itu dan meninggalkan televisinya untuk keluar ruang kantornya namun, sekelebat dari jendela luar dia melihat jika seseorang yang memegang sapu sihir berlari kearah halaman gedung panti asuhannya, Richard berjalan cepat mendekati jendela itu untuk melihat jelas orang itu.
Richard mendapati jika orang itu adalah gadis bernama Furi yang datang bersama Si Pahit Lidah tadi gadis itu datang dengan wajah ketakutan juga memerlukan bantuan dan dari sana dia bisa melihat meskipun hujan lebat Arina memaksa berlari kecil menerobos hujan demi mendekati Furi untuk memberikan bantuan.
Dengan cepat Richard bergegas keluar dan menemui Furi dihalaman yang ada dilantai bawah untuk menanyakan apa yang terjadi, dan setibanya dirinya disana kali ini dari kejauhan dia bisa melihat jelas ada seorang gadis yang mengejar Furi yang mengikutinya sampai ke panti asuhan ini, dengan aura membunuh yang sangat kuat yang bisa dirasakan Richard.
Gadis yang tak menghiraukan air hujan mengguyur badannya itu menggunakan setelan serba hitam bersama pedang yang begitu familiar dimata Richard sehingga membuatnya spontan berkata “Pedang Pelurus Realitas?”
“Arina cepat bawa kedalam gadis itu” Mengetahui betapa mengerikannya pedang itu dengan rasa cemas Richard memerintah Arina untuk menjauhkan Furi dari gadis pembawa pedang itu yang terlihat akan membunuh Furi.
Tetapi belum sempat Arina menggiring Furi untuk masuk kedalam gedung panti asuhan, dengan cepat gadis yang akan membunuh Furi itu berlari dan melompat sangat jauh hingga tiba di belakang Arina kemudian menghunuskan pedangnya kepunggung perempuan itu.
“Tolong jangan halangi aku untuk menyelesaikan pekerjaan…” Kaira mengancam dengan tatapan tajam yang menusuk dan dingin.
***
Di depan gerbang sebuah rumah yang tampak mewah di sebuah perumahan elit kota 77 dua pria yang bersetelan jas juga celana serba hitam sedang duduk bersandar di mobil putih lis hitam yang terlihat sederhana sembari menghisap rokok batangan mereka yang sudah mencapai setengah dengan santai.
“Kudengar Pak Andi meminjamkan Pedang Pelurus Realitas pada Kaira” laki-laki putih bermata sipit dengan rambut cepak berkata.
“Iya aku juga mendengarnya” laki-laki berkulit sawo matang dengan rambut sebahunya yang sedikit keriting dengan cepat menjawab perkataan temannya itu.
“Padahal sebagai pembunuh bayaran di perusahaan hanya kitalah yang bekerja dibalik layar sebagai Pemburu Keganjilan” laki-laki bermata sipit berkata saat terburu-buru menghisap batang rokoknya karena sadar gerimis telah datang.
Laki-laki sipit melihat sekitar khususnya pada kap mobil yang terdengar dentingan keras yang begitu banyak yang semakin menguat karena air yang semakin membanyak kemudian lanjut berkata. “Tapi gadis itu yang dipinjamkan.”
“Hanya meminjam” laki-laki rambut sebahu berkata kemudian juga ikut buru-buru menghisap rokoknya kemudian dengan cepat beranjak dari senderannya pada mobil.
“Kata pak Andi hari ini adalah uji kelayakan Kaira untuk resmi menggunakan pedang itu” setelah membuang puntung rokoknya dan mematikan apinya dengan injakan laki-laki rambut sebahu lanjut berkata.
“Kurasa nantinya pak Andi benar-benar akan memberikannya pada kaira dan menjadikannya sebagai pemburu keganjilan” laki-laki bermata sipit juga membuang dan menginjak puntung rokoknya.
Laki-laki bermata sipit itu akhirnya juga ikut beranjak dari sandarannya kemudian berkata lagi “Dan jika gadis itu menolak untuk menjadi pemburu keganjilan mungkin pak Andi akan mempertimbangkan untuk memberikan pedang itu kepada kita.”
Kedua orang itu pun dengan berjalan cepat menuju pintu mobil dan bergegas membukanya untuk masuk agar bisa berlindung dari hujan yang semakin lebat.
“Kemampuan berpedangnya dan bertarungnya sangat jauh diatas kita, jadi wajar saja pak Andi mempercayakan pedang itu padanya” saat didalam mobil laki-laki rambut sebahu berkata dan sedikit mengeraskan suaranya agar tidak kalah dengan rintikkan hujan.
Laki-laki sipit menghela nafasnya dengan begitu pelan kemudian berkata dengan semangat yang kurang “Ya, kita tidak bisa berbuat apa-apa jika pak Andi benar-benar memberikan pedang itu pada Kaira, karena seperti yang diketahui meskipun dia tidak menjabat sebagai ketua pemburu keganjilan di negeri ini, dia memiliki kewenangan untuk mewariskan pedang tersebut karena telah memiliki hak milik terhadap pedang itu.”
Laki-laki sipit tadi sedikit menunduk dan melihat kearah luar kaca mobil yang telah diguyur rintikan hujan untuk memerhatikan pak Andi yang dibicarakannya baru saja keluar dari pintu rumah mewah yang ada di depan mereka dan berjalan pelan menuju mobil mereka dengan mengenakan payung hitam yang cukup lebar.
“Seperti yang tertulis Undang-Undang pemburu Keganjilan” laki-laki sipit berkata sembari membuka pintu mobil itu lagi dan beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut pak Andi agar masuk ke mobil.
“Selanjutnya kemana pak?” laki-laki rambut sebahu yang mengemudi berkata sembari menoleh pada pak Andi yang telah masuk dan duduk di dalam mobil itu.
“Ke panti asuhan Clover kurasa sekarang Kaira disana karena Elias si detektif itu berkata target Kaira mungkin berlindung disana” pak Andi berkata saat pandangannya tertuju keluar jendela.
“Aku tidak perlu takut, jika seorang wakil dan ketua pemburu keganjilan negeri ini seperti kalian bersamaku” pak Andi berkata dan menoleh pada laki-laki sipit itu dengan senyum tipis.
Namun dengan sekejap pak Andi merubah air mukanya menjadi serius kembali dan berkata “Aku ingin mengawasi misinya agar bisa selesai dan tidak diganggu siapapun.”
Di saat mobil yang dinaiki pak Andi menuju panti asuhan Clover, Hakki yang berlari cepat dengan wujud serigalanya akhirnya tiba dalam beberapa menit dan sekarang berdiri tegap di depan gerbang clover setelah merubah dirinya menjadi manusia kembali dengan sekejap agar tidak dilihat siapapun jika dirinya telah menjadi manusia serigala.
Dari gerbang itu dengan langkah lebar dan cepat Hakki mendekati Kaira sembari berkata dengan volume suara yang begitu besar agar tidak kalah dengan suara hujan lebat.
“Tunggu dulu Kaira!”
Hakki mendekati Kaira yang masih menodongkan pedangnya pada punggung Arina kemudian lanjut berkata “Aku tahu yang membayarmu detektif Elias, semuanya sudah jelas”
“Aku tidak ingin bertarung denganmu” Hakki berhata saat masih memerhatikan Furi yang tidak menurunkan hunusan pedangnya pada punggung Arina yang akan menggiring Furi masuk kedalam gedung panti asuhan.
“Karena itulah aku memiliki tawaran untukmu” setelah berkata Hakkki dengan segenap keberaniannya menggengam pergelangan tangan kanan Furi yang menggengam gagang pedang dan menatap Furi dengan begitu dalam dan serius juga dipenuhi keberanian yang kuat dan membara agar Kaira mendengar perkataannya tanpa sedikitpun mengabaikannya.
Hakki menoleh dan menatap pada Arina dan Furi yang sedang ditawan kemudian memberikan gestur wajah yang mengisyaratkan kedua perempuan itu agar pergi meninggalkan Kaira, karena Hakki yakin jika gadis pembunuh itu tidak akan mengejar kedua perempuan tersebut saat sedang mendengar perkataan darinya.
Setelah mengetahui jika Arina dan Furi berjalan perlahan meninggalkan Kaira dan hampir tiba di pintu masuk panti asuhan dibelakangnya Hakki menghela nafas lega dan menarik nafasnya kembali dengan begitu kuat agar bisa tenang saat akan kembali melanjutkan pembicaraan pada Kaira.
“Aku akan menyerahkan diriku untuk dibunuh olehmu” ujar Hakki meyakinkan Kaira.
Hakki kembali memerhatikan Kaira agar bisa memastikan jika gadis pembunuh bayaran itu tidak mengejar Furi kembali dan untungnya seperti dugaannya Kaira benar-benar fokus dan memerhatikan dirinya yang sedang berkata untuk bernegosiasi dan perlahan menurunkan pedangnya dan membuat Hakki yakin untuk melepaskan genggamannya.
“Atau ditangkap olehmu dan kau menyerahkanku pada Elias agar aku bergabung dengan pemburu keganjilan karena kuyakin itulah yang Elias mau” lanjut Hakki saat menoleh sekali lagi untuk melihat Arina dan Furi yang belum masuk dan hanya berdiri di teras bersama Richard demi menyaksikan Hakki yang berhadapan langsung dangan Kaira karena khawatir.
Hakki tidak begitu khawatir jika Furi masih berdiri di teras karena baginya dengan berbicara pada Kaira dimanapun Furi berdiri gadis penyihir itu akan selamat karena itu dia begitu fokus pada pikirannya untuk mencari kata-kata yang tepat agar bisa membujuk Kaira.
“Elias akan terus memburuku karena tidak menurutinya, karena itu aku akan menurutinya”
Dari wajah dingin Kaira tersirat sebuah gestur pertanyaan apakah Hakki akan menyerahkan dirinya saat ini atau di kemudian hari karena dia bisa memastikan jika ekspresi Hakki bukanlah ekspresi seseorang yang siap mati saat itu juga.
Hakki yang menyadari perubahan wajah Kaira itu seketika otaknya memberikan jawabannya hingga membuatnya terburu-buru-buru mengeluarkan perkataan.
“Tapi bukan sekarang, aku akan berjanji akan menyerahkan diriku setelah aku mengetahui dan membalas perbuatan pembunuh orang tuaku.”
Kaira mengangkat kembali pedang realitas yang digenggamnya setelah mendengar perkataan Hakki yang meminta waktu lama karena baginya pekerjaannya harus diselesaikan hari ini juga.
Sesaat jantung Hakki serasa akan lepas serta merinding saat melihat Kaira yang sepertinya akan melukai dirinya dengan pedang realitas itu namun karena sadar perkataannya membuat Kaira kesal, Hakki kembali menyusun perkataan diotaknya kemudian berkata lagi “Du…dua minggu saja, aku berjanji akan membalas perbuatan si pembunuh itu.”
Kaira melirik kembali Kaira dari kejauhan dengan tatapan kosong dan dinginnya dengan agak lama kemudian berkata pelan dengan nada datar “Tapi, pekerjaanku hanya untuk membunuhnya.”
“Kumohon!” Hakki mengeraskan suaranya dan langsung bersujud hingga hampir menyentuh sepatu Kaira.
“Yang Elias mau hanya diriku, kuyakin dia akan membiarkan Furi jika aku berada dalam genggamannya”
Hakki berkata dengan suara kencang yang mencapai tingkat teriakan.[]