Bitter Life

Bitter Life
4. Dukungan dan Penyihir



Kaki kurus Hakki yang putih pucat yang tampak dari celana setengah tiang yang ia kenakan melangkah pelan karena lelah saat keluar dari kantor kepolisian kota 33 setelah dicecar banyak  pertanyaan oleh polisi setelah 5 jam lamanya.


Dari peristiwa  aneh dan mengerikan yang dialaminya kemarin sampai saat ini dia masih ditetapkan sebagai saksi.


Kebingungan saja yang didapatkannya dari kemarin sejak kejadian itu, dengan lunglai Hakki perlahan duduk di salah satu kursi yang berada di beranda kantor kepolisian dan sesekali melihat jalan raya untuk memastikan ayahnya yang akan datang menjemputnya.


Sebuah sedan hitam menghampiri beranda kantor kepolisian dan Hakki bisa melihat jika ayah tirinya memanggil dari kaca mobil sedan hitam itu yang baru saja diturunkan,  Hakki pun bergegas masuk ke dalam mobil.


"Jadi...kau masih ditetapkan sebagai saksi?" ayah tirinya berbicara dengan nada pelan dan begitu formal karena masih canggung kepada Hakki.


Kecanggungan itu pun diterima oleh Hakki,   yang dari awal juga selalu canggung saat ingin berbicara pada ayah tirinya akhirnya menciptakan suasana yang benar-benar aneh di dalam mobil itu, "Ya, begitulah" jawabnya singkat dengan nada pelan.


"Aku yakin kau tidak akan menjadi tersangka" Ayah tirinya berkata lagi dan setelah itu muncul jeda begitu lama yang menciptakan keheningan diiringi deru mobil yang melaju santai.


Karena tau Hakki hanya menanggapi dengan diam, Ayah tiri Hakki melanjutkan perkataannya lagi. “Sudah jelas kau tak menyentuhnya mereka"


"Kasus yang kau alami itu sungguh aneh"


"Aku memiliki teman di kepolisian,  dia pernah bercerita padaku jika ada kasus aneh yang tidak bisa dipecahkan dan tidak pernah ditemukan tersangkanya, kasusnya akan berakhir begitu saja atas rekomendasi petinggi mereka,  jadi aku yakin kau akan tetap menjadi saksi sampai kasusnya ditutup nanti"


"Jadi tidak usah terlalu kau pikirkan"


Perkataan Ayah tirinya tadi itu membuat Hakki sedikit tenang meskipun dia masih canggung untuk menanggapinya meski hanya dengan senyuman, karena Hakki masih diam untuk menanggapi lagi-lagi suasana hening tercipta diantara mereka.


"Terima kasih"


Ucapan Hakki yang keluar dengan suara yang kecil itu,  membuat ayah tirinya tersenyum kecil meski suasana diantara mereka masih dilingkari dengan kecanggungan.


"Sama-sama" balas ayah tirinya dengan begitu kaku.


Hakki yang meminta diantar ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya dan Kak Alicia setelah beberapa menit melintasi jalanan beraspal bersama ayahnya akhirnya telah tiba.


Sesaat menutup pintu mobil untuk turun dan bergegas, ayah tiri Hakki menatap begitu lama padanya seakan ingin mengatakan sesuatu.


Hakki yang merasa tertahan menghentikan langkahnya dan akan mendengar apa yang ayahnya katakan.


"A..Aku dan ibumu akan selalu menerima apapun yang kau alami dan tentunya kami siap membantu dan mendukung mu"


"Banyaklah bercerita dan mengadu kepada kami, kau juga bagian dari keluarga, jadi tak usah ragu atau merasa bersalah" Ayah tirinya berkata dan tersenyum pada Hakki.


"Tersenyumlah" kata Ayah tirinya lagi saat melihat Hakki tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


Telapak tangan ayah tirinya seakan ingin mengusak-usak rambut Hakki, namun karena jarak  masih menggerayangi dia membatalkannya.


Hakki mengangguk dan sedikit tersenyum kemudian berpaling dan melanjutkan langkahnya.


“Berkata seperti itu di saat aku tidak ingin merepotkan mereka lagi, sekarang aku makin bingung dengan apa yang harus ku balas dari kebaikan dia, ibuku bahkan kak Alicia. Aku mencoba bunuh diri padahal orang-orang disekitar ku sangat baik” Kata Hakki dalam Hati sembari mengusap matanya yang basah dengan bagian kerah kaus hitam oblongnya.


"Akhir-akhir ini entah kenapa dia sangat baik padaku" gumam Hakki yang membicarakan perubahan sikap ayah tirinya.


Hakki tersenyum lega saat melihat ibunya dengan tenang tertidur nyenyak di ruangannya hingga membuatnya tak ingin mengganggu tidur siang ibunya meski ada yang ingin dia bicarakan dan Hakki pun memilih untuk melihat kak alicia yang masih terbujur koma di ruangan yang tak jauh dari sana.


Meski aku tidak tahu penyebab ke 4 orang itu mati entah kenapa aku sedikit merasa senang disaat tuhan seolah mentakdirkan mereka hilang dari muka bumi. Kata Hakki dalam hati, tangannya mengetuk-ngetuk kaca yang berada di luar ruangan perawatan kak Alicia sambil melihat kondisi kakak tirinya yang tergeletak dengan bantuan oksigen itu.


"Setidaknya orang-orang yang mungkin akan mencelakai kak Alicia lagi telah menghilang" Hakki bergumam.


"Hakki?"


Suara seorang gadis muncul dari belakang Hakki, saat menoleh kearah suara itu dia menemukan seorang gadis yang dikenalinya.


"Fu...furi" Hakki menyebut nama gadis itu yang merupakan teman sekelasnya di sekolah.


"Menjenguk kakak mu?" Gadis bernama Furi itu berkata.


Anggukan dari Hakki menjawab pertanyaan Furi dan gadis itu bertanya lagi dengan wajah yang menunjukan simpati.


"Kakak mu kenapa?"


"Dia terkena cedera berat karena benturan di tengkorak belakang nya" Jawab Hakki.


"Oh, benar juga” Furi tersentak karena mengingat suatu hal dan berkata" aku ingat kejadian yang menimpa kakakmu yang jadi korban penganiyaan itu dulu, kalau tidak salah Halsa dan teman-temannya yang menyebabkan kakak mu mengalami ini kan?" tanya Furi lagi.


"Ya..." Hakki menghela nafas.


Penjelasan Hakki membuat Furi terdiam beberapa saat sembari memangku dagu, dan kemudian gadis itu tersenyum tipis.


"Syukurlah Halsa dan teman-temannya telah kau bunuh kemarin" Furi berkata.


"Apa maksudmu!?" Mata Hakki terbelalak karena begitu terkejut dengan perkataan Furi.


"Aku tidak melakukan apa-apa" Tegas Hakki lagi.


Melihat Hakki yang panik dan mengeluarkan suara besar dihadapannya, Furi kewalahan dan melihat sekitar karena takut akan ditegur perawat yang berkeliaran disana dan berkata "Tenang, tenang kecilkan suaramu" Furi Berkata dengan suara yang begitu kecil sehingga hampir mirip dengan berbisik.


"Kemarin kau mengucapkan kalimat, seperti Kuharap kepala kalian saja yang pecah kan?"  Kata Furi lagi dengan suara kecil.


"Itu adalah kalimat kutukan yang kau berikan kepada mereka, mereka mati karena kutukan mu jadi kaulah yang membunuh mereka"


Kening Hakki mengerut karena bingung mendengar perkataan yang begitu aneh dari Furi, dan Furi yang sadar akan reaksi yang diberikan Hakki itu, mencoba menjelaskan suatu hal yang mungkin dipahami dari sesuatu yang dialami Hakki.


"Aku sangat yakin beberapa minggu lalu kau bertemu dengan seseorang yang mengatakan dirinya mewarisi kekuatannya padamu kan?"


Hakki yang sadar jika dia bertemu dengan paman bersimbah darah di jembatan tempat dia akan bunuh diri yang persis mengatakan kalimat seperti yang dikatakan Furi itu merubah air mukanya yang bingung menjadi serius dan penasaran.


"Ya, aku pernah menemui seseorang seperti itu memangnya siapa dia?" Tanya Hakki.


"Dia adalah keturunan terakhir Si Pahit Lidah" Furi menjawabnya.


Hakki yang masih tak mengerti dengan yang dibicarakan Furi terdiam dan menciptakan suasana hening sesaat.


Furi yang teringat akan sesuatu hal menundukkan wajahnya dan dengan wajah yang sedikit sedih berkata "Dia pernah mengatakan kepada kami jika nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi karena bertarung dengan Pemburu Keganjilan, dia akan mewarisi kekuatannya kepada seseorang"


"Dan tak ku sangka jika dia mewarisinya padamu" lanjut Furi saat menoleh dan menatap Hakki.


Mengalihkan tatapan dari Furi,  tertunduk bahkan kening Hakki pun makin mengerut, sekali lagi dia tidak bisa menanggapi apapun dan terdiam karena tidak mengerti apa lagi percaya dengan apa yang Furi katakan.


"Kenapa?" Furi yang menyadari ketidak percayaan Hakki bertanya.


"Kau tidak mempercayai yang kukatakan?"


Hakki tertawa kecil.


"Kutukan, Si Pahit Lidah, Pemburu keganjilan... Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai hal-hal seperti itu"


Furi yang memikirkan suatu hal agar Hakki percaya dengan apa yang dikatakannya mencoba menunjukkan suatu hal.


"Hei Hakki,  lihat ini"


Furi menjentikkan jarinya dengan kuat hingga memunculkan suara,  dan ketika suara jentikan jari itu berakhir muncul kilatan listrik yang menari-nari hingga melingkari telapak tangannya.


"Apa sekarang kau percaya?" Furi berkata saat menunjukkan hal yang terjadi ditangannya.


Karena terlalu kagum melihat hal yang dilakukan Furi, Hakki tidak menjawab pertanyaan gadis itu malah bertanya disaat matanya masih terbelalak.


"Apa itu!?"


"Ini sihir,  kekuatan supranatural lain yang sejenis dengan kutukan yang kau miliki" Furi tersenyum.


Hakki tak berhenti terperangah saat melihat pertunjukan kecil dari tangan putih mulus Furi yang dihiasi sihir dan semakin membuatnya penasaran.


"Bagaimana kau bisa melakukannya?"


"Karena aku seorang penyihir" dengan mudahnya Furi menjawab temannya yang sangat penasaran.


Furi memberhentikan tarian listrik ditangannya itu dan memastikan jika tidak ada yang melihat sihirnya barusan kemudian gadis itu berbisik kepada Hakki "Hei Hakki...."


"Penyihir adalah bagian dari hal supranatural di kota ini...."


Hakki yang tidak terbiasa didekati gadis cantik agak memiringkan kepala untuk sedikit menjauhkan telinganya dari bibir Furi untuk menghindari kegugupan.


Furi yang sadar dengan kegugupan Hakki akhirnya mengeraskan sedikit suaranya kemudian berkata "Sekarang kau juga bagian dari hal supranatural di kota ini, karena telah mewarisi kekuatan Si Pahit Lidah"


"Kau adalah Si Pahit Lidah yang baru" Furi mengakhiri perkataannya dengan menepuk pundak Hakki dengan pelan.[]