Bitter Life

Bitter Life
6.Tujuan dan Awal



Beberapa hari setelah pemakaman orang tuanya Hakki yang kemarin tidak tahu bagaimana kondisi mayat kedua orang tuanya saat ditemukan karena dilarang polisi untuk melihat, di usik oleh kabar dari sosial media yang membagikan video tentang 8 mayat yang ditemukan di kota 68.


Berkat video itu dengan sialnya dia bisa melihat dan mengetahui kondisi mayat orang tuanya.


Dalam video itu termasuk orang tuanya 8 mayat tampak diberikan cairan pengeras juga dikenakan gaun dan jas pengantin dan di pajang dalam etalase kaca dengan memegangi kepala mereka yang di potong.


Meski mengetahui jika ayah tiri dan ibunya terbunuh dengan kepala yang dipotong Hakki tidak pernah menyangka mayat orang tuanya dipermainkan begitu kejamnya oleh si pembunuh, tatapan Hakki kosong melihat video itu dia menjatuhkan smartphonenya kelantai, dia yang berada diruang tamu berjalan menuju kamarnya dengan terhuyung, tangannya pun mengepal dengan begitu kuat.


Dia menjerit, jeritan yang kesekian kalinya itu membuat suaranya habis.


Tangisannya pun tak terbendung.


Tangisannya menjadi-jadi saat mengingat sebelum orang tuanya menghilang mereka mengajak untuk makan bersama demi merayakan perayaan kecil-kecilan atas kesembuhan ibunya, dan seharusnya dia merasakan kebahagiaan saat itu.


Meski berita di televisi juga kepolisian menghimbau untuk tidak menyebarluaskan video mayat 8 orang itu namun tetap saja video itu menjadi pembahasan utama di sosial media, karena hal itu keluarga korban selain Hakki berulang kali meminta berhenti menyebarkan video itu, mereka sangat sedih dan tertekan karena kondisi mayat itu dan benar-benar tidak ingin mayat yang dipermainkan itu ditonton lebih banyak lagi.


Kesedihan dirinya, kesedihan keluarga korban lainnya membuat Hakki memiliki rasa kesal yang begitu dalam kepada sang pembunuh karena telah merenggut kebahagiaan orang-orang.


Hakki meyakini jika si pembunuh tertawa melihat video itu tersebar dia merasa keinginan dari pembunuh untuk menunjukkan tindakan serta membunuh dengan mempermainkan mayat untuk diketahui orang banyak telah berhasil.


Apalagi saat ini si pembunuh itu masih belum ditemukan dan ditangkap polisi, Hakki yakin si pembunuhnya benar-benar sangat bahagia.


Semua rasa kesal yang semakin lama berubah menjadi dendam itu membuat Hakki ingin menggunakan kekuatan mengutuknya pada si pembunuh.


Hakki menggeratakkan giginya dengan sangat kuat, kepalan tangannya berulang kali menghujam lantai, dia yang tertunduk menatap kosong lantai menghentikan tangisnya kemudian berkata dalam hati.


“Para pembunuh sialan yang belum tertangkap atau kebal hukum dan orang yang puas  karena membunuh memikirkan mereka tertawa di atas penderitaan orang-orang saja membuatku muak”


“4 orang yang membuat kak Alicia menderita, pembunuh orang tua ku, aku yakin mereka bisa tertawa karena tidak tertangkap”


“Tapi....”


“Tawa dari 4 orang itu terhenti saat kepala mereka meledak”


Dari air muka Hakki yang datar terselip senyuman kecil.


“Jika kekuatanku memang benar bisa mengutuk seperti itu, kalau begitu aku akan menggunakannya pada pembunuh orang tuaku agar dia berhenti tertawa”


Senyum Hakki diantara wajah datarnya semakin lebar dan saat ini wajahnya benar-benar terlihat mengerikan.


“Tidak, bukan hanya dia saja yang akan aku hentikan tawanya,”


Matanya yang kosong semakin lama semakin di isi dengan dendam, tatapan lurusnya yang tajam itu kali ini benar-benar dihinggapi senyum yang sangat lebar.


“Pembunuh yang belum tertangkap dan pembunuh kebal hukum, a…tidak pembunuh manapun mereka semua akan ku bunuh dengan kutukan yang akan kuberikan”


“Iya seperti itu saja...” Hakki mengangguk.


“Walaupun aku tetap menemukan dan mengutuk pembunuh orang tuaku aku akan tetap mengutuk para pembunuh sialan dimana pun mereka berada dan  jika para pembunuh itu mati maka orang-orang yang bersedih karena ditinggal orang yang dibunuh bisa tenang karena aku membunuh sang pembunuh yang menjadi awal derita mereka.”


“Itulah tujuanku”


“Tidak apa tubuh ini hancur dan akhirnya mati”


“Lagipula mati adalah tujuanku dari dulu”


Perkataan-perkataan Hakki dari dalam hatinya itu sungguh membulatkan tekadnya.


Kini dia tidak lagi bingung ingin digunakan sebagai apa kekuatannya.


Dia berjanji pada dirinya sendiri jika hanya akan menggunakan kekuatannya pada para pembunuh.


Dengan janji dan tekadnya itu Hakki di hari berikutnya berjalan menyusuri kota di saat hujan deras di tengah malam.


Jalanan kota yang Hakki lalui tampak sangat sepi meski begitu dia tetap berjalan perlahan hingga beberapa saat kemudian dirinya tiba di depan rumah mewah yang sangat besar.


Tetesan air di mantel hitamnya bercucuran di marmer lantai teras yang luas di rumah itu saat dia melangkah pelan, samar-samar terdengar olehnya suara bit musik pesta serta orang-orang yang berbincang juga tertawa di dalam sana. "Nomor 27...." Hakki membaca nomor rumah itu dengan pelan saat menyamakan dengan sebuah foto di smartphone miliknya.


Bel yang telah ditekan Hakki beberapa kali membuat seseorang membuka pintu rumah itu dari dalam hingga munculah seorang laki-laki 30 tahunan bergaya kasual yang dilihatnya.


"Benarkah ini rumah tuan Darren?" tanya Hakki saat melihat ternyata laki-laki itu ternyata bukanlah orang yang dia cari.


"Iya ini rumahnya, ada perlu apa?" jawab laki-laki itu dengan pelan.


Hakki sejenak terdiam saat memerhatikan kondisi laki-laki yang berbicara padanya itu terlihat mabuk dari wajahnya yang merah.


"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan..." Sesekali Hakki menunduk saat melihat smartphonenya.


"Apa aku boleh bertemu dengannya?" Hakki berkata lagi.


Hakki masih terperangah saat begitu mudahnya dia akan bertemu dengan orang penting seperti Darren yang merupakan anak dari pengusaha paling kaya di kota ini.


Hakki mengangguk saat menerka-nerka mungkin saja laki-laki itu mengizinkannya bertemu Darren karena dalam kondisi mabuk, seandainya laki-laki itu sadar mungkin saja dirinya akan di usir.


Darren laki-laki yang terlihat lebih tua dari Hakki itu menemuinya dalam keadaan mabuk juga, namun dia tampak sedikit lebih keren dan rapi dengan pakaiannya yang terlihat mahal.


"Seseorang wartawan yang pernah menginvestigasi kasus perusakan rumah dan pembunuhan 1 keluarga yang kau lakukan memberitahuku alamat rumah ini, apa benar kau tuan Darren?" Kata Hakki saat Darren mendekat.


"Iya benar"


"Dan ini rumahmu?" kata Hakki lagi.


Darren mengangguk dan berkata sambil menyeringai "Kau wartawan yang mau menginvestigasi kasus yang kulakukan juga?"


"Tidak, aku bukan wartawan" Hakki menjawab cepat.


"Aku kesini cuma mau mengatakan sesuatu"


Hakki meletakkan kembali smartphone nya kedalam saku.


"Rumah Besar Mu Ini Akan Runtuh Dan Kau Bersama Teman-Teman Mu Akan Mati Tertimpa Reruntuhan Rumah Ini"


Perkataan Hakki itu membuat Darren terperangah untuk beberapa saat kemudian wajah datar dari dirinya yang mabuk berubah menjadi wajah kesal.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan"


"Jika kau tak punya tujuan jelas untuk menemui ku lebih baik kau pulang saja" kata Darren saat mendorong pundak Hakki agar menjauh.


"Aku tidak mau membuang waktuku untuk orang aneh"


Darren meraih pintu rumahnya untuk ditutup.


"Pulanglah!" dia membentak.


"Aku memang mau pulang" Hakki berkata dengan suara yang kecil dan tersenyum tipis pada Darren yang telah menutup pintu rumahnya.


"Kenapa?" tanya teman Darren yang duluan bertemu Hakki tadi.


"Tidak apa-apa, hanya orang gila yang mau mengatakan hal aneh"


Darren menuang segelas minuman kerasnya lagi.


"Orang itu bisa masuk karena pagar rumah ku tak terkunci"


Tatapan amarah Darren muncul pada temannya itu "Kenapa kau tidak mengunci pagar saat memasukkan mobil ke rumah ku tadi?" tanya Darren.


"Aku lupa, kukira satpam mu telah mengunci pagarnya" jawab temannya, yang menyeringai sembari menggaruti kepala.


"Satpam ku hari ini sedang sakit"


Darren menenggak satu gelas minumannya, kemudian kembali berbincang dan tertawa bahagia bersama 2 teman wanita dan 3 teman laki-lakinya.


Beberapa saat kemudian telinga Darren berdenging, namun dia tidak menghiraukannya karena berfikir itu hanya efek dari mabuk minuman keras.


Muncul suara gemuruh yang begitu kuat dari sepenjuru rumah itu yang didengar 5 orang temannya juga termasuk Darren, gemuruh itu pun berhasil membuat mereka terdiam.


Ditengah keheningan yang tercipta seluruh lampu di rumah mewah itu padam dalam sekejap, kemudian dengan begitu saja reruntuhan bangunan menghantam tubuh Darren dan teman-temannya.


"Berhasil...." Hakki bergumam saat menyaksikan runtuhnya rumah Darren dari kejauhan.


"Aku berhasil..." Tangannya gemetaran, saat mengetahui kutukan dari dirinya membuat rumah itu runtuh dan akan ada orang-orang yang mati karenanya.


Namun dengan cepat dirinya menghilangkan rasa bersalah dan takutnya itu, hingga muncul rasa takjub dan tak percaya karena melihat kutukannya benar-benar sedahsyat itu dan Hakki berakhir dengan terperangah juga tersenyum menyaksikan kejadian yang dibuat karena kutukannya.


"Kutukannya benar-benar terjadi" dia berkata lagi sembari menatap sebuah berita online di smartphonenya tentang Darren yang merusak sebuah rumah gubuk keluarga tidak mampu dan menganiaya hingga sampai satu keluarga itu tewas ditangannya, yang dimulai karena ribut dengan kepala keluarga miskin itu, dan Darren tidak pernah dijatuhi hukuman karena ayahnya telah meminta bantuan kepada kepolisian dan badan hukum.


Di pagi hari Hakki melihat belasan polisi dan wartawan telah datang dan memenuhi sekitar rumah Darren yang telah rata.


Hakki mendekati lokasi reruntuhan itu dan berbaur dengan kerumunan orang-orang yang ingin melihat dari dekat.


Dan akhirnya mengetahui pasti jika semua orang di dalam rumah itu telah tewas dari beberapa wartawan yang melaporkan di sana, Hakki juga lega saat mendengar dari wartawan yang melaporkan itu menyebut jika polisi hanya menduga kejadian runtuhnya rumah mewah ini murni karena kesalahan arsitek yang membuatnya.


Hakki masih memerhatikan beberapa wartawan yang melaporkan kejadian disaat terbesit di pikirannya jika para wartawan ini mendapat keuntungan begitu saja dari kejadian yang di ciptakan oleh kutukan yang dia berikan.


Hakki akhirnya berpikiran untuk menjadi wartawan agar bisa bertahan hidup dengan gaji wartawan setelah orang tuanya meninggal dengan meliput kasus yang dia buat sendiri dari kekuatan kutukan yang ia miliki.sembari membunuh para kriminal pembunuh[]