
Setelah kemarin mendapat telepon dari Elias Noor si detektif terkenal, Nala yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kantor kepolisian malam itu bergegas pergi ke rumah Elias dengan mengunakan mobil kesayangannya yang terlihat tua.
Saat sedang termenung di depan beberapa file video amatir yang menunjukkan rumor tentang Si Pahit Lidah di kota 33 di monitor komputernya, Elias tersentak saat dari luar Nala beberapa kali dengan begitu kuat mengetuk pintu apartemennya.
Tanpa ragu Elias membuka pintu rumahnya dengan begitu lebar. "Silahkan masuk pak Nala" kata Elias sambil tersenyum.
“Jadi seperti ini tempat tinggalnya….” perkataan Nala dari dalam hatinya itu muncul saat dia melihat susunan yang begitu rapi dan apa adanya dari buku-buku, lemari, tempat sepatu di dalam tempat tinggal Si Detektif terkenal yang sedikit lain dari yang dia bayangkan.
“Sungguh rapi dan sederhana_”
"Ada apa?" tanya Elias yang membuat perkataan Nala dalam hati terpotong saat menyadari tingkah Nala yang begitu memerhatikan rumahnya.
"Tidak ada..." Nala menjawab namun perhatiannya terhadap rumah itu masih belum teralihkan, kemudian matanya melirik sofa seakan menunggu untuk dipersilahkan duduk.
“Silahkan duduk” Elias yang mengerti pun berkata.
Nala duduk dengan perlahan di sofa hitam yang tampak sangat bersih meski modelnya sudah cukup lama bagi Nala.
"Hanya saja, kupikir rumahmu penuh dengan barang-barang aneh dan berantakan" Nala lanjut berkata dengan sedikit menyeringai.
"Seperti di film detektif london dan komik detektif yang melawan pemegang buku kematian itu... " Ada nada ragu di saat Nala mengatakan perkataan itu dan suaranya pun mengecil saat menyadari perkataan nya sedikit aneh karena pengaruh film yang pernah dia tonton.
"Tapi ternyata rumahmu dan dirimu sangat rapi..." Lanjutnya lagi saat kedua tangannya menunjuk kearah Elias yang berpenampilan rapi dengan rambut klimisnya serta setelan kemeja putih panjang yang terselip di celana hitam yang begitu rapi lengkap dengan dikelilingi ikat pinggang, serta dia pun tampak begitu sehat dengan kulit putihnya yang cerah dan sedikit berisi.
Sesekali Nala memerhatikan dirinya yang begitu apa adanya dengan celana dasar yang sedikit kusut serta kaos polos kepolisian kesukaannya bersama rambut setelinganya yang belum di sisir tak lupa tubuhnya yang begitu kurus dengan kulit sawo matangnya untuk membandingkan.
"Terima kasih..." Elias membalas dengan sedikit menyeringai.
"Baiklah apa yang akan kita mulai?" Nala mengeluarkan smartphone dan beberapa buku serta dokumen terkait kasus tentang 13 kecelakaan belakangan dari tas ransel yang dibawanya.
Namun Elias tidak memerhatikan tindakan Nala itu disaat dirinya dengan cepat pergi ke dapur. "Tunggu sebentar, ada baiknya kita minum sesuatu" dia berkata.
"Tidak usah repot-repot Elias " Nala mengencangkan suaranya untuk basa basi saat menyadari Elias akan menyeduh minuman untuknya.
"Tak apa" Elias tersenyum saat berkata dengan volume yang sama dengan Nala.
ala sedikit menyeruput kopi yang disediakan Elias itu dengan lancar saat hawa panas di kopi itu masih mengepul, begitu pula Elias yang kemudian meminum kopi itu juga setelah melihat Nala, sehingga suasana yang sedikit hening dengan beriringan dengan nada jam dinding pun tercipta.
Setelah meneguk kopi itu Elias mencoba memecah keheningan di sekitarnya dengan memulai pembicaraan. "Sebelum aku membahas kerja sama tentang 13 kasus kecelakaan ini aku ingin memberi tahu dulu tentang Si Pahit Lidah yang aku curigai"
Elias meraih mouse di meja komputernya yang tak jauh dari sofa tempat mereka berdua duduk, kemudian menutup laman dari komentar di dunia maya terkait video Si Pahit Lidah itu yang sebagian besar mendukung tindakan Si Pahit Lidah itu dengan cepat agar Nala tidak mengetahui jika dirinya merasa terganggu dengan dukungan orang terhadap tindakan kriminal dari Si Pahit Lidah disana.
Namun Nala yang terlanjur melihat sedikit, memiliki rasa penasaran sebentar dengan tindakan Elias itu meski sekejap dia mengikuti dan mendengar apa yang dilakukan Elias setelah melihat pria itu mencoba menunjukkan beberapa video kepadanya dan juga berkata padanya.
"Dia adalah manusia supranatural sepertiku, yang memiliki kekuatan mengutuk" Elias menunjukkan beberapa video dari seseorang pria berjaket tudung hitam yang mendekati dan berbicara pada beberapa kriminal yang mati di 13 kecelakaan dalam dua bulan ini.
Sambil melihat video itu Nala sedikit mengangguk dan berkata "Ya, mengenai kemampuannya aku pernah membaca kisahnya di buku."
Elias mengetuk-ngetuk monitor komputernya saat menunjuk sosok pria berjaket hitam bertudung di video itu. "Dan dari beberapa video amatir yang kudapatkan dari orang-orang dan informan ku laki-laki yang selalu berbaju hitam ini yang kuduga sebagai Si Pahit Lidah cenderung menemui para kriminal terlebih dahulu, setelah itu barulah kejadian berupa kecelakaan yang mengakibatkan para kriminalnya tewas"
"Kau yakin jika dia adalah Si Pahit Lidah?" tanya Nala sambil ikut menunjuk video itu.
"Mungkin terdengar bodoh tapi..." jawab Elias kemudian menoleh kearah rak buku miliknya.
"Aku telah mencocokkan tindakannya dengan bermacam kisah Si Pahit Lidah di buku dan satu hal yang pasti di kisahnya Si Pahit Lidah memberikan kutukan jika dia benar-benar di depan targetnya dan tentu harus didengarkan.” Elias kembali menunjuk video itu “Seperti itulah yang dilakukan pria ini"
"Saksi yang merekam video banyak mengakui jika laki-laki itu mengatakan kejadian yang dialami sesuai dengan kejadian yang dialami korban kecelakaan"
Elias menjeda video itu kemudian kembali duduk ke sofa.
"Dan jika perkataan saksi yang merekam benar, jika dicocokkan dengan keanehan di dalam kecelakaan itu maka aku menduga dia adalah Si Pahit Lidah"
Nala menggaruk dagunya saat memerhatikan Elias berbicara.
"Keanehan?" tanya Nala.
"Dari kasus kecelakaan kemarin aku tahu kau juga pasti merasakan adanya keanehan" jelas Elias lagi.
"Ya.... Tapi orang banyak berpikir di dunia ini hal yang lumrah saja jika ada kecelakaan yang aneh seperti itu dan pada akhirnya kasus seperti itu akan berakhir dengan kata 'kecelakaan biasa' " Nala menghela nafas perlahan seakan buntu dengan keadaan di kasus ini.
Elias mengeluarkan beberapa foto dari kejadian perkara dari kecelakaan kemarin dan beberapa kertas yang menunjukkan informasi berat motor itu dan teori fisika yang telah dihitungnya kemudian berkata "Tidak salah mengatakannya kecelakaan biasa dengan keanehan, tapi yang kutahu sangat mustahil jika motor itu bisa terbang begitu jauh dan tepat menimpa kepalanya."
"Motor berat itu melayang seperti bola yang ditendang dan benar-benar menimpa kepala setidaknya jarak terlemparnya motor itu yang cukup jauh hanya bisa mencederai lengan, kaki atau tubuhnya saja tapi saat itu yang diciderai kepala"
Elias menunjuk nunjuk foto kejadian itu dan coretan beserta gambar yang dia buat untuk menjelaskan dimana harusnya motor sport itu terbang dan jatuh secara wajar.
"Keanehan seperti itu dari kisah Si Pahit Lidah sering terjadi misalnya seperti di kisah dia mengatakan akan ada banjir bandang besar di tempat yang bahkan tak ada airnya namun setelah itu benar-benar itu terjadi"
Ditengah Elias yang masih berbicara Nala masih memerhatikan foto dan gambar coretan dari elias itu untuk mencoba meyakini jika benar benar ada ketidak wajaran disana.
“Kecocokan seperti itulah yang membuatku yakin jika dia adalah Si Pahit Lidah” Elias memberhentikan perkataannya yang begitu semangat untuk mengambil nafas.
Elias meminum lagi kopinya yang mulai mendingin dengan perlahan kemudian berkata lagi, “Tidak hanya itu, pengamatan yang kulakukan melalui kekuatanku selama ini hingga bukti jika aku juga bagian dari keanehan sepertinya juga lah yang membuat keyakinanku menguat jika dia adalah Si Pahit Lidah.”
Nala menunjuk video amatir Si Pahit Lidah yang terjeda di monitor tadi, “Jika kau bisa mengamatinya dengan kekuatanmu berarti kau sudah mengetahui wajah pria itu kan? dengan begitu penyelidikan ini akan semakin mudah”
"Dia selalu sadar jika aku mengawasinya, saat sedikit lagi aku bisa mengetahui wajahnya dia berhasil menghancurkan sumber penglihatan ku" Elias berkata.
"Sumber penglihatan?" kening Nala mengerut.
"Sumber penglihatan ke empat ku agar bisa mengawasi orang dari kejauhan adalah mahluk hidup lain, aku bisa melihat dari penglihatan mahluk hidup yang lain" Elias berkata saat menunjuk matanya.
"Mahluk hidup?" tanya Nala lagi.
"Begitu... "
Setelah mengerti, Nala yang melihat Elias yang diam seakan akan mendengar pertanyaan dari dirinya lagi akhirnya menggerakkan tangannya untuk memberi isyarat agar melanjutkan penjelasan.
"Silahkan lanjutkan..."
Air muka Elias berubah menjadi serius.
"Selama ini dengan mataku yang mengawasi Si Pahit Lidah aku menyaksikan sendiri kejadian menyeramkan yang dibuatnya”
“Telah mencoba begitu lama untuk menyelesaikan kasus aneh ini sendirian di saat hampir tidak ada orang yang memepercayai hal supranatural..." Elias berkata dengan nada pelan.
"Jika aku sendiri yang bertindak dan mengatakan kecelakaan ini disebabkan oleh Si Pahit Lidah maka aku akan dianggap gila, kebetulan sekali baru-baru ini ada polisi yang baru dipindah tugaskan di kota ini mencurigai hal-hal supranatural bahkan menyukainya dan mengenal orang hebat" Elias tersenyum kecil.
“Dan itu adalah dirimu pak”
Elias menunjuk Nala yang masih terdiam.
"Kau orang penting yang mengenal dekat seorang kepala kepolisian, karena itulah aku mengajakmu bekerjasama" kata Elias lagi.
Nala hanya menanggapi perkataan itu dengan menggaruk dagu, seakan belum mengerti.
“Aku akan menjelaskan rencana kerjasama yang akan kulakukan bersamamu” kata Elias dan nada bicaranya kembali bersemangat seperti semula.
“Baru-baru ini meski tidak bisa mengetahui wajah dari orang yang kuduga sebagai Si Pahit Lidah itu setidaknya aku bisa mengetahui identitas dari pekerjaannya”
“Dengan kekuatan mata empatku, aku berhasil melihat isi tas yang selalu dia tinggalkan di dekat kejadian saat dia mengutuk para kriminal, meski setelah itu dia membunuh sumber penglihatan mata empatku” volume suara Elias mengecil.
“Aku melihat jika dia selalu membawa pakaian ganti berupa seragam wartawan dari perusahaan media Berita Rakyat”
“Aku yakin karena pekerjaanya lah yang membuatnya mudah untuk mengetahui informasi terkait para kriminal pembunuh”
Penjelasan itu membuat Nala yang membuka beberapa dokumen dengan berisi identitas korban 13 kecelakaan yang dibawanya, mengganguk pelan karena setuju.
“Benar juga, korban 13 kecelakaan ini semuanya adalah para pembunuh…”
Melihat Nala yang paham Elias sedikit tersenyum kemudian lanjut berkata, “Karena itu aku ingin meminta bantuan mu untuk berbicara kepada kepala kepolisian Alda Rianda untuk benar benar menyembunyikan dan menghentikan penyaluran informasi terkait kriminal terkhusus kasus pembunuhan yang menjadi incaran Si Pahit Lidah.”
“Hanya dalam 2 minggu saja” jari tengah dan telunjuk Elias terangkat.
“Setelah itu, kita akan menyergapnya di pesta pernikahan anak perempuan walikota Kota 33 yang akan diadakan 2 minggu lagi”
Perkataan dari Elias itu membuat Nala sedikit terlonjak .
“Kenapa menyergapnya disana?”
Elias mengambil sebuah koran 4 tahun lalu yang menjadi arsip miliknya dari bawah meja sofanya dan memperlihatkan berita tentang kasus pembunuhan yang melibatkan wali kota kota 33.
“Rudolph Alfred yang merupakan Wali Kota 33 pernah memiliki dakwaan di pengadilan terkait dirinya yang mengurung beberapa orang yang mengetahuinya melakukan korupsi keuangan kota kemudian membunuh mereka, namun kasus itu ditutup begitu saja dengan kekuasaannya”
Elias memperlihatkan beberapa koran tentang kasus pembunuhan lainnya pada Nala.
“Tak hanya itu 3 pejabat yang akan di undang walikota juga terlibat dalam kasus pembunuhan, pemerkosaan, korupsi dan bebas begitu saja”
Tangan Elias mengetuk-ngetuk koran yang diperlihatkannya pada Nala.
“4 orang yang memiliki jejak kasus pembunuhan dan tidak di hukum ini memiliki alasan yang cukup kuat untuk membuat Si Pahit Lidah mengincar dan mengutuk mereka”
Ada sedikit keraguan dari dalam diri Nala saat mendengar Elias yang ingin melakukan penyergapan di pesta pernikahan anak dari orang nomor satu di kota 33 dan dirinya takut akan membuat kekacauan dan mendapat sanksi karena hal itu, namun Nala lebih memilih untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Elias sambil melihat berita dari koran yang di tunjukkan Elias.
“Jika kita menutup dan menghentikan penyaluran informasi maka Si Pahit Lidah yang tidak menemukan kriminal incarannya selama 2 minggu akan terfokus ke mereka dan bisa di pastikan dia akan hadir disana”
Sambil berbicara Elias mulai menyusun kembali koran koran yang berantakan karena baru saja diletakkan Nala setelah membaca di atas meja sofanya.
“Lagipula pesta pernikahan itu akan disiarkan langsung di seluruh televisi negeri, sudah pasti dirinya yang merupakan wartawan akan meliput disana”
Elias kembali menaruh koran lama miliknya itu kebawah meja dan menaruh kembali dengan sangat rapi.
“Kita akan mengawasi semua wartawan dari berita rakyat yang datang jika muncul tindakan yang mencurigakan, kita langsung saja menyergap kemudian menginvestigasi wartawan Berita Rakyat di pesta pernikahan itu” Elias lanjut berkata.
Keraguan Nala terkait penyergapan yang direnacanakan Elias itu akhirnya membuatnya berkata, “Tapi ada kemungkinan kita akan salah tangkap dan mencurigai orang yang salah, bisa saja kita hanya menangkap wartawan biasa dan juga kenapa kau bisa sangat yakin Si Pahit Lidah akan datang?”
“Jika terjadi hal seperti itu, kita hanya perlu melepaskan orang itu pak” jawab Elias cepat.
“Aku sudah berbulan-bulan melihat apa yang telah dilakukannya pada korban dan telah hafal dengan pola tindakannya saat membunuh orang dengan kutukan, karena terbiasa memerhatikan kedua hal itu aku bisa menganalisa pola berpikirnya, karena itu aku yakin dia akan datang” Elias menjawab lagi dengan penuh keyakinan.
“Mempersempit tindakan Si Pahit Lidah dan kemudian menyergapnya dengan dibantu sedikit oleh kekuatannya, menganalisis cara berpikir targetnya, di tempat yang di prediksi, ternyata julukan detektif terkenal itu sedikit terbukti dari cara berfikirnya”, Nala berkata dalam hati saat berfikiran jika rencana Elias itu ternyata cukup bagus dan membuat dia merubah pendapatnya .
“Sedikit kekacauan di acara mewah pak walikota yang juga seorang kriminal kurasa tidak buruk juga.....” kata Nala dalam hati lagi.
“Baiklah, aku akan membicarakan hal ini kepada Pak Alda Rianda” Nala mengeluarkan smartphonenya dan mencari nomor dari Kepala Kepolisian itu.
“Kukira kau akan menolaknya” Elias berbicara dengan wajah yang terlihat begitu lega saat mengetahui tak ada lagi keraguan dari Nala si Detektif Kepolisian.
Setelah menemukan nomor telepon dengan nama kontak ‘Kepala Kepolisian’ Nala berkata “Aku tidak akan menolak permintaanmu.”
“Selanjutnya kau akan memberitahuku hal mengenai keganjilan supranatural lain di kota ini kan?” lanjut Nala saat tersenyum.
“Ya, siap pak Nala” jawab Elias.[]