Bitter Life

Bitter Life
28. Target dan Rencana



Sebuah ruangan misterius dengan dinding dan lantai yang serba putih selebar lapangan tenis, tanpa meja dan kursi terdapat sekitar 8 orang pemburu keganjilan dengan pakaian berbeda sesuai profesi samara mereka berdiri melingkar disana dan Remi sang pria berkacamata yang merupakan atasan Elias memulai pembicaraan dengan informasi yang baru dia dapatkan dengan berkata “Drako Kholkikos berhasil kabur dari Operasi Besar pemburu keganjilan kemarin.”


Adrian lelaki berambut panjang sebahu bebrapa kali memelintir rambutnya itu seakan pusing memikirkan banyak hal dan berkata dengan tempo pelan dan terlihat malas “Kekuatan peningkatan materi alam, naga putih itu akan merepotkan jika bergabung dengan keganjilan lainnya.”


“Apalagi jika dia bertemu Si Pahit Lidah bisa-bisa anak itu bisa berkali-kali menggunakan kutukannya untuk mengalahkan kita karena tubuhnya tidak akan rusak jika disembuhkan naga itu” ujar Si mata sipit Lei yang ikut bergabung dalam obrolan itu.


Adrian melepas jarinya dari rambutnya yang ia pelintir, masih dengan malas dan tempo pelan dia berkata lagi “Dewi Penyembuh, julukan itu bukan omong kosong.”


“Karena itu jangan anggap ringan masalah ini” Lei berkata lantang seakan menutupi tingkah ketuanya dan menatap satu-satu bawahannya yaitu pemburu keganjilan yang hadir disana termasuk Remi sang pimpinan operasi lapangan pemburu keganjilan yang gagal menangkap Naga Putih itu kemarin dengan nada memerintah dia berkata “Cari dia sebelum semuanya merepotkan.”


Remi juga setiap bawahan Adrian dan Lei yang mengangguk, bawahan sang ketua dan wakil pemburu keganjilan kota 33 itu bergegas keluar ruangan itu dari pintu bercahaya putih yang secara ajaib muncul secara acak diruangan tersebut kecuali Remi yang masih berdiri disana selagi menunduk karena masih ditatap dingin oleh Adrian yang kesal karena membiarkan Naga Putih itu kabur.


“Si Pahit Lidah bagaimana, apakah akan segera ditangkap?” kata Lei saat mengalihkan kecanggungan yang tercipta dari Adrian dan Remi.


Meski bukan ketua Remi pun memberanikan diri menoleh pada wakilnya Lei yang merupakan atasannya yang hampir setara dengan Adrian si ketuanya dan berkata “Jangan dulu, kata Elias dia sedang menyusun rencana yang tepat untuk menjinakkan anak itu.”


Dengan jari telunjuk dan jari tengah yang terangkat dengan wajah yang serius Remi melanjutkan perkataannya “Elias akan menuntun Si Pahit Lidah hanya memiliki dua pilihan Mati atau Bergabung dengan kita”


“Jadi Elias meminta jangan mengganggunya dulu supaya dia bisa fokus pada rencananya”


Mendengar perkataan Remi itu Lei dan Adrian sedikit mengangguk karena memahami situasi Elias dan mempercayai detektif swasta itu karena memiliki kekuatan penglihatan masa depan dari Si Mata Empat.


“Hingga Elias Si Mata Empat itu bisa melihat penglihatan dimana pada akhirnya Si Pahit Lidah dimusnahkan atau bergabung dengan kita” Remi mengakhir perkataannya masih dengan tatapan yang serius dan membara demi meyakinkan Ketua dan Wakil pemburu keganjilan kota 33 ini.


***


Alicia masih beristirahat di rumah sakit sampai tubuhnya benar-benar pulih dan bisa berjalan kembali, itulah yang Hakki dengar dari dokter kemarin, dia pun berjanji pada Alicia akan selalu mengunjungi kakak tirinya itu sampai saat itu tiba, saat duduk dan masih berbincang dari Alicia seorang perawat mengatakan ada seorang polisi yang ingin menemuinya


Dari depan ruangan rawat Alicia di kejauhan Hakki melihat jika Nala si Detektif kepolisian menuju ketempatnya karena sebelumnya sudah dihubungi jika dia akan menunggu Nala dirumah sakit ini tepat di depan ruangan 305, dan dari sana juga dia melihat jika Nala tersenyum dan melambai padanya Hakki yang sedikit tidak mengerti dengan sifat detektif itu Hanya bisa membalas dengan senyum kecut.


“Kau sudah siap?” kata Nala saat sudah tiba di depan Hakki.


Hakkki mengangguk dan bergegas memangkul tasnya yang berisi makanan dan obat untuk mengatasi luka untukjaga-jaga adanya kejadian yang tak terduga, karena kota 68 berjarak 2 jam dari kota 33 ini.


Nala melihat seorang gadis muda yang tampaknya memliki umur yang tak jauh berbeda dengan Hakki didalam ruangan dibelakang Hakki yang sedang termenung melihat langit birupagi ini diluar jendela.


“Itu kakak tirimu?” tanya Nala yang mengetahui jika Hakki punya kaka tiri yang koma lewat informasi yang pernah didapatkannya.


Hakki mengangguk pelan menjawab pertanyaan Nala tersebut.


“Aku harus menyapanya” kata Nala lagi dan saat itu juga tanpa basa-basi Nala mencoba memasuki ruangan Alicia itu namun saat baru mulai melangkah ujung jaket hitamnya dicengkram oleh Hakki, hingga membuat Nala tidak jadi melangkah, Nala menoleh pada Hakki yang menundukkan kepalanya begitu lama seakan menunjukkan rasa bersalah yang begitu dalam.


Dari gestur yang diberikan Hakki bisa dimengerti Nala jika anak muda itu mengatakan sesuatu dan mau tidak mau Nala meoncoba untuk mendengrakannya secara seksama.


“Kaka tiriku mengetahui jika aku memiliki kekuatan Si Pahit Lidah” kata Hakki dengan volume suara yang begitu kecil.


Dengan tempo bicara yang pelan Hakki pun melanjutkan perkataannya “Tetapi tidak tahu jika aku menggunakannya untuk membunuh kriminal pembunuh”


“Aku mohon jangan beritahu dia tentang hal itu” setelah mengakhiri perkataannya Hakki menatap Nala dengan begiitu serius.


Namun Nala mengalihkan tatapan itu kemudian berkata “Aku harus memberitahunya, jika tidak dia akan shock saat aku menangkapmu setelah kita berhasil menemukan pembunuh orang tuamu karena ketidaktahuannya.”


Hakki melepas cengkaramanny apada Jaket Nala hingga membuat Detektif itu melangkah kembali, sambil Merapi rapikan jaketnya Nala lanjut berkata “Lagipula suatu saat pasti dia akan mengetahuinya, dan semakin tersakiti jika kau tidak jujur” Kemudian melangkah pelan mendekati Alicia didalam ruangannya dan meninggalkan Hakki yang dianggap sudah menyetujui perkatannya.


“Baiklah” kata Hakki dengan suara yang mirip seperti berbisik saat Nala meninggalkannya.


Setelah memperkenalkan diri dan menyapa pada Alicia, Nala menceritakan semua apa yang Hakki lakukan selama gadis itu tertidur begitu lama dan dengan perlahan menjelaskan hal tentang keganjilan yang mengitari kehidupan Hakki dalam dua tahun ini, tatapan mata Alicia menjadi kosong sesaat dan akhirnya benar-benar menangis saat mendengar semua hal itu, sedih, kasihan, cemas, khawatir, kecewa, marah dan merasa tak berguna semua perasaan itu bercampur aduk di pikiran Alicia hingga akhirnya membuatnya menangis.


Karena tangisan Alicia tidak begitu tersedu-sedu, Hakki dan Nala pun tidak berat saat melangkan meninggalkan Alicia untuk segera pergi menuju kota 68 dan Alicia yang menangis pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalangi Hakki meski tau jika adik tirinya itu mencari pembunuh kedua orang tuanya untuk dibunuh.


Setelah 2 jam lamanya dengan mobil sedan hitam Nala yang terlihat kuno mereka berdua tiba di kota 68 dan langsung memasuki perumahan Curch dan memakirkan mobil didepansebuah rumah kosong yang telah berlumut dengan dihiasi garis polisi yang belum disingkirkan, setelah Hakki, Nala pun juga turun dari sedan hitam itu dan mencocokan rumah tersebut dengan foto dokumentasi kepolisian yang menjadi pedoman untuk memastikan rumah tempat tragedi kota 68 yang menimpa banyak keluarga termasuk keluarga Hakki.


“Kau mengetahui tentang keganjilan?” Hakki menyempatkan dirinya bertanya tentang hal yang telah dipikirkannya sejak beberapa hari yang lalu tentang keanehan Nala si manusia biasa yang mengetahui banyak tentang keganjilan.


Nala memasukkan foto dokumentasi rumah didepannya itu kedalam sakunya dan menjawab pertanyaan Hakki sambil melangkah pelan menuju rumah yang menjadi tempat penyelidikanpertama didepannya itu “Ya tentu saja Elias mengungkapkan semuanya padaku, khususnya dikota ini dia memberitahukan jika sangat banyak mahluk dan ras keganjilan.”


“Tentang peran Elias diantara para keganjilan apa kau mengetahuinya?” tanya Hakki lagi dan kali ini mengikuti langkah Nala.


“Tidak, apa itu?” Nala memberhentikan langkah kakinnya saat sudah tiba diteras rumah kosong itu sembari menoleh pada Hakki.


“Aku akan memberitahumu setelah mendapatkan petunjuk dan bukti di rumah ini” Hakki berkata lagi dan sama seperti Nala dirinya juga memandang rumah itu dengan sekasama.


Hakki dan Nala tidak menyadari jika dari jendela lantai dua rumah itu terdapat seorang gadis remaja berkulit pucat dan kurus dengan rambut hitamnya yang panjang tergerai diantara daster putih polos dengan kaki dan tangan yang terborgol beserta rantai-rantai yang telah terputus dari borgol itu sedang memerhatikan kedua laki-laki itu dengan tatapan amarah yang tajam nan mengerikan.[]