Bitter Life

Bitter Life
20. Suruhan dan Hujan



Beberapa hari sebelumnya, meskipun sudah memberikan misi untuk membunuh teman Hakki yaitu Furi pada Kaira pria tua yang menjabat sebagai direktur pembunuh bayaran itu masih menyuruh Kaira untuk tetap di ruangan nya, karena ada sesuatu yang ingin diberikannya pada Kaira dan dengan sabar Kaira menunggu pria tua itu mengambil sebuah benda di dalam lemari kayu mengkilap yang berada tak jauh dari meja kerja pria tua itu.


Dari dalam lemari kayu itu si Pria Tua mengambil sebuah kotak putih mengkilap persegi panjang yang cukup besar dan memberikannya pada kaira, saat menyambut pemberian itu Kaira merasakan jika kotak itu cukup berat dan membutuhkan sedikit tenaga untuk menopangnya.


“Gadis yang akan kau bunuh itu seorang penyihir yang merupakan keganjilan, maka aku memberikanmu pedang efektif yang digunakan para pemburu keganjilan untuk kau gunakan” pria tua itu berkata sambil menunjuk kotak putih itu dengan jempolnya.


“Terimakasih pak” kata Kaira sembari membuka kotak putih itu, dan menemukan sebilah pedang yang keseluruhan bagiannya berwarna hitam yang terletak rapi diantara gabus merah seolah berada didalam kotak cincin berlian.


“Pedang Pelurus Realitas, aku mendapatkanya karena dahulu aku pernah menjabat sebagai ketua Pemburu Keganjilan di kota ini” pria tua itu berkata dengan santai sambil tersenyum.


Kaira hanya bisa mengangguk ditengah tercengangnya dirinya ketika mendengar pengakuan direkturnya yang dulu juga menjabat sebagai ketua pemburu keganjilan kota 33, dia tidak bisa berkata apa-apa berkat terpesona oleh pedang yang begitu indah itu juga karena pernyataan mengejutkan dari direkturnya.


Setelah mencipatakan jeda beberapa saat karena dengan begitu seksama memerhatikan pedang yang dipinjamkan pria tua itu sampai lupa berkata-kata, Kaira akhirnya mendapatkan pertanyaan besar di otaknya dan berkata dengan sopan “Maaf pak, mengapa anda meminjamkan senjata yang begitu istemewa ini kepada saya?”


Sesaat melihat mata atasannya kemudian menunduk kembali utnuk melihat-lihat pedang itu kemudian berkata “Lagipula aku bukanlah pemburu keganjilan, bukankah sebaiknya kau mempercayakannya pada bawahan atau temanmu sesama pemburu keganjilan?”


“Selama berpuluh-puluh tahun aku bertarung menggunakan pedang, bagiku hanya dirimu yang memiliki kemampuan sangat hebat dengan berpedang, juga sangat kuat sebagai pembunuh” pak Direktur itu berjalan kearah meja kerjanya dengan langkah yang pelan.


“Pedang ini membutuhkan pengguna seperti itu, karena itulah aku memilihmu” pak Direktur itu mengakhiri perkatannya saat duduk kembali di meja kerjanya.


“Terimakasih, pak direktur” saat mengucapkannya Kaira beberapa kali menundukkan kepala.


***


Semakin lama langit yang tadinya mendung semakin menurunkan rintikkan air yang begitu banyak, karena saat itu matahari juga ikut bergeser untuk menenggelamkan dirinya menuju malam, hujan yang sudah membuat kota 33 kehilangan cahaya semakin gelap saat hari semakin petang, namun Hakki, Furi dan Kaira nampaknya tidak terganggu dengan suasana alam itu, mereka hanya bisa terfokus dengan pertarungan mereka, khususnya Furi yang harus ekstra melindungi dirinya agar terbebas dari serangan pedang Kaira yang terus menerus mencoba menghujam tubuhnya.


Hakki yang tidak diserang Kaira tidak bisa berbuat apa-apa karena kutukannya dihalau terus karena itu beberapa kali mencoba membantu Furi dengan menghalau gerakan Kaira dengan gerakan pertarungan amatirnya yang dia pelajari dari internet, tetapi karena yang dilawannya adalah pembunuh bayaran profesional, Hakki dibanting dan dibuat terpental hingga terguling-guling beberapa meter, dan saat mencoba membangkitkan diri Hakki sedikit meringis karena merasakan sakit yang hebat berkat Kaira dan ditengah erangan Hakki berkata “…Kau ingin membunuh kami?”


“Tidak, klienku hanya memintaku membunuh gadis itu” Kaira menunjuk Furi yang menghindar jauh kebelakang dengan sihir teleportasi singkat.


“Siapa_” Hakki membatalkan perkataannya ketika ingin bertanya perihal siapa yang menyuruh mereka karena mengganggap tidak mungkin seorang pembunuh bayaran akan memberitahu nama klien mereka.


Dan tak jauh dari pertarungan ketiga orang itu, Eric sedang berjalan dengan terburu-buru namun dengan kepala yang tertunduk sepanjang jalan bersama setelannya yang lusuh seperti biasa, dengan pipi cekung beserta rengut mulutnya yang pucat dan kelopak matanya yantg menghitam, dia menunduk sepanjang jalan tanpa sekalipun melihat orang-orang yang melewatinya dan memandang kedepan.


Namun seakan hafal dengan jalan yang ditelusurinya Eric menghentikan langkahnya karena tahu dia sudah berada dihalaman lebar rumahnya yang dulunya mewah dan besar, yang kini telah diubah menjadi taman oleh pemerintah kota, dengan sigap dia menegakkan kepalanya yang tertunduk untuk memandangi bekas rumahnya dengan senyum semringah, tetapi sekejap senyumya menghilang saat mendapati ada 3 orang yang sedang melakukan pertarungan didepan rumahnya.


“Kenapa ada orang-orang yang sedang bertarung di depan rumahku?” kata Eric kesal saat bekas rumah mewahnya diusik oleh ketiga orang itu dan dengan mata amarah Eric mengamati ketiga orang itu begitu lama, untuk memastikan siapa orang-orang itu.


“Gadis itu…” Eric berkata pelan, dan kali ini senyuman lebar muncul kembali diwajahnya.


Lompatan Eric membuar dirinya melesat terbang dan mendarat menuju Kaira, Eric langsung memberikan tendangan sambutan kearah wajah Kaira, tetapi gadis itu mampu menangkis dengan lengannya meskipun tubuhnya berhasil dibuat sempoyongan berkat tendangan itu, Eric terdiam untuk beberapa saat ketika kepalanya menoleh saat memerhatikan Furi dan Hakki, setelah itu dengan seksama dia terpaku memerhatikan Kaira yang menatap kesal pada dirinya.


“Kau mau membalas kekalahanmu yang waktu itu?” Eric meninggikan nada bicaranya.


Kaira menyeimbangkan tubuhnya dan langsung menegapkan tubuhnya untuk memasang kuda-kuda saat berhadapan dengan Eric, gadis itu sesaat menoleh pada Furi yang menjadi targetnya kemudian membalas perkataan Eric “Aku tidak punya urusan denganmu hari ini_”


Belum selesai berbicara Eric kembali menyerang Kaira dengan pukulan bertubi-tubi yang kuat dengan ekpresi riang, Kaira hanya bisa menangkis dengan lengan kanannya yang tidak menggenggam pedang, tetapi pukulan-pukulan yang membebaninya tidak membuat gadis itu kehilangan akal, saat melihat celah di perut Eric, dia dengan apik menggerakkan pedangnya untuk menghujam Eric tepat di perutnya dan tentunya Eric yang memiliki insting Vampire menyadari serangan Kaira dan langsung melompat mundur beberapa meter.


Jantung Eric berdegup karena takut dan terkejut jika perutnya akan ditikam dengan begitu cepat, dia memerhatikan Kaira dengan wajah serius karena tak percaya pada kecepatan tangan Kaira yang hampir membunuhnya.


“Eric, aku ingin menanyaimu tentang suatu informasi” Hakki yang dari tadi memerhatikan pertarungan dadakan Kaira dan Eric merasa memiliki kesempatan berbicara ditengah suasana yang intens tersebut saat mendapati jeda yang diciptakan Kaira dan Eric yang sama-sama tak menyerang siapapun.


Eric menoleh pada Hakki seakan ingin mendengarkan pertanyaan orang yang tak dikenalinya namun mengetahui namanya itu.


“Pak Richard yang menyuruh kami menemuimu disini dan memberitahukan tempat ini” Hakki lanjut berkata.


“Richard?” Eric mengerutkan keningnya.


“Kau ingin menanyakan apa?” lanjut Eric dan rupanya benar jika dia ingin mendengarkan saat tahu yang menyuruh orang itu adalah Richard.


Hakki mengambil nafas dalam-dalam kemudian berkata “Tentang insiden kota 68_”


Perkataan Hakki terpotong karena melihat Eric mengangkat tangannya yang mengisyaratkan Hakki berhenti berbicara.


“Tunggu sebentar” Eric berkata dan kembali menoleh pada Kaira dengan seringai lebar.


Eric melangkah pelan mendekati Hakki sembari melanjutkan perkataannya pada Kaira “Aku akan menghabisimu nanti.”


“Setelah aku membunuh laki-laki sialan ini…”


Hakki membeku saat mendengar perkataan Eric itu tanpa sadar sangat dekat dengan telinganya Hakki pun tercengang dan begitu takut karena tahu jika lehernya sudah dicengkram oleh Eric dengan begitu cepat.


“Walaupun, Richard menyuruh kalian bertanya padaku, sedikitpun aku tidak akan memberikan informasi apapun padamu!” Eric membisikkan perkataan itu ketelinga kanan Hakki.


Diiringi dengan suara gemericik air hujan yang perlahan mulai banyak berjatuhan dari langit  suara pelan Eric muncul dengan Ekspresi ketakutan yang datang bersama tatapan mengerikan Eric dan kemudian Eric berkata pelan “Demi, nyawa adikku.”[]