Bitter Life

Bitter Life
30. Penerang dan Janji



Kaki Nala berderap menuju teras rumah kosong tempat dia dan Hakki melakukan penyelidikan, nafasnya pun terengah-engah karena menuruti perintah Hakki supaya cepat meniggalkan tempat yang akan diledakkan gadis misterius yang dilihatnya tadi, beberpa kali saat didepan mobilnya dia melihat jendela lantai dua yang menunjukkan sosok Hakki dan gadis itu saling bertarung di ruangan tempat disekapnya korban pada insiden kota 68.


Entah mengapa rasa simpati, cemas dan khawatir muncul dari dalam diri Nala saat melihat Hakki yang kesulitan padahal yang dia khawatirkan itu juga pembunuh, perasaan aneh itu dia ikuti dan memilih untuk menelpon teman-temannya sesama kepolisian untuk meminta bantuan namun tidak ada yang tersambung dan akhirnya dia mencoba menghubungi Elias namun meski tersambung Elias tidak mengangkatnya.


Elias yang sedang mengetik beragam pekerjaan dengan laptop dirumahnya beberapa kali melihat jika telepon dari Nala memasuki handphonenya namun dengan tatapan dingin dia menghiraukannya, namun selang bebrapa saat kemudian karena penasaran dia mencoba menggunakan kekuatannya untuk melihat apa yang terjadi pada Nala dengan melihat masa depan yang akan dialami Nala.


Elias Si Mata Empat itu bergumam dengan mata yang mengeluarkan cahaya biru, “Hooo…penyelidikan di kota 68 ya…”


“Tenang saja Nala, dari penglihatanku Hakki bisa mengalahkan gadis itu, tetapi tidak menarik jika aku memberitahukan caranya dan mengatakan padamu jika Hakki bisa mengalahkannya.”


***


“Mirallia Blood Claire Lilith VII itulah nama dari ratu vampir ke 7 yang memimpin peradaban di kota kuno Dunkelheit 700 tahun yang lalu…” Eric yang saat itu masih berumur 10 tahun membacakan akhir dari buku tentang sejarah vampir pada adiknya, kemudian menoleh dengan senyuman yang lebar pada adiknya yang sudah siap mengenakan piyama untuk pergi tidur.


“Itu nenek buyut kita?” tanya adiknya yang berumur 7 tahun saat itu dengan pipi yang bulat diantara kulit putih pucatnya.


“Ya, jika kau sudah besar nanti kau yang akan memimpin, karena vampir wanita memiliki kekuatan yang sama dengan ratu Mirall dan juga kau keturunannya langsung” Eric menjawab perkataan adiknya itu dengan menepuk-nepuk pelan ubun-ubun adiknya yang di hiasi rambut perak lurus yang indah.


“Eden Blood Claire Lilith VIII, namaku akan jadi seperti itu?” Eden sang adik bertanya lagi saat mendongak dan bola matanya melihat kelangit-langit.


Berbeda dengan adiknya sang kakak Eric menunduk dan bola matanya melihat lantai ruang tamu dirumah mereka kemudian berkata pelan dengan nada yang sedikit sedih “Tapi kata dulu kata ibu dan ayah, kita harus mengalahkan pemburu keganjilan didunia ini.”


“Sehingga kita bisa kembali kota Dunkelheit dan mengembalikan kejayaan vampir” Eric menegakkan kepalanya kembali kemudian tersenyum lebar sampai-sampai menghilangkan matanya.


“EDEN, ERIC AYO CEPAT KEKAMAR KALIAN!!” suara seorang wanita dari dalam kamar yang berjarak 10 meter dari mereka menggelegar keseluruh ruangan tamu itu sehingga membuat kedua anak kecil itu terlonjak karena terkejut, amarah yang bisa mereka berdua rasakan membuat mereka buru-buru mengembalikan buku kedalam rak yang berada didekat ruang tamu itu, sembari membersihkan debu-debu yang menempel di piyama mereka berdua karena duduk dilantai.


Melihat adiknya yang masih melamun saat menatap buku yang baru mereka kembalikan kedalam rak buku itu, Eric dengan segera menarik tangan kecil adiknya dengan lembut sembari berkata “Ibu marah! ayo cepat! jika dia tahu kita masih disini kita akan dihukum lagi.”


“Sebentar lagi ayah juga akan pulang dia akan memukul kita lagi jika kita belum tidur” kata Eric lagi saat menoleh pada adiknya Eden dengan wajah yang serius.


“Baik kak Eric” kata Eden membalas dengan senyuman.


Setelahhari-hari yang hangat itu awal mula pertengkaran besar ibu dan ayahnya yang berkepanjangan sampai bertahun hingga membuat Eden dan Eric disiksa habis-habisan terus berdatangandan. akhirnya saat Eden yang berumur12 tahun tersudut dikamarnya karena terjadi pertengkaran hebat lagi Eric kakaknya datang kekamar itu mendekati adiknya dengan tubuh yang dipenuhi darah dengan kata-kata ‘aku sudah membunuh ayah dan ibu’ dia tersenyum pada Eden dan Eden pun membalas dengan senyum lebar yang menandakan kelegaan, adik kakak itu larut dalam pelukan yang berujung tangisan bahagia.


“Kegelapan yang menyelimuti hatiku” Eden menyentuh dada kirinya saat mengingat dia selalu dipukul dan dikuring oleh kedua orang tuanya.


Eden menangis saat kembali mengingat Eric yang selalu tersenyum untuknya walau bersimbah darah kemudian lanjut berkata “Hanya kak Eric yang bisa meneranginya kembali agar aku bisa tersenyum”


“Menemaniku dihari-hari sulitku” kata Eden saat mengingat Eric yang selalu menemaninya setelah kehilangan orang tua dan hidup berdua saja dengan kehidupan yang sulit Eden menyeka air matanya “Hanya dia yang bisa.”


Eden mengatur nafasnya yang tersengal karena menangis kemudian dengan nada tinggi dia berkata sembari menunjuk-nunjuk Hakki dengan kasar “Dan kau merenggut orang yang sepenting itu dariku!”


“Aku akan membalasnya, kau akan kehilangan nyawa juga Hakki!” Eden mencabut sebuah benda dari bom yang terikat dibadannya dengan cepat.


Benda itu merupakan sebuah remot detonator bom kecil seukuran genggamannya kemudian mengancam Hakki dengan nada yang masih tinggi “Aku tidak takut dengan kekuatanmu, ayo kutuk aku!”


“Saat kau mengeluarkan kalimat kutukanmu, saat itulah aku akan menekan tombol yang telah diberikan padaku” eden melirik remote yang digenggamnya kemudian menunjuk waktu yang ada pada bom itu dan lanjut berkata “Atau menunggu waktu dari bom ini habis, pilihlah Hakki!”


Hakki tersenyum tipis saat sekelebat ide muncul dari pkirannya untuk mengatasi situasi sulit ini dan memulai rencana dari ide itu dengan kabur dari ruangan penyekapan itu menuju pintu keluar, namun dengan kecepatan super Eden menyusulnya dan mengunci pintu keluar.


“Aku tidak akan membiarkanmu lari Hakki!”


Bukannya mengeluarkan kutukan, dengan tangannya yang bergerak begitu cepat Hakki mencoba menggapai jari-jemari tangan kiri Eden yang menggengam remot tanpa ragu dan saat berhasil dia menahan jari jemari gadis itu agar tidak memencet tombol detonatornya.


“Apa yang kaulakukan?” ujar Eden menanggapi perlawanan Hakki yang aneh.


“Sudah jelas aku menahan telapak tanganmu supaya ‘jari jemarimu tidak bisa bisa menekan tombol bom itu” Hakki menjawab pertanyaan Eden itu dengan tempo cepat.


“Tidak bisa bergerak?” Eden mengerutkan keningnya dan terlonjak sampai-sampai membenturkan diri kepintu karena terkejut saat menyadari jika perkataan Hakki barusan mengandung penekanan kalimat kutukan yang tertuju pada dirinya sehinga telingannya berdenging.


Hakki menatap gadis itu dengan tatapan kemenangan bersama senyuman tipis yang dilontarkannya pada Eden.


Eden mencoba menggerakkan jari jemarinya namun apalah daya jari-jemarinya sekarang tidak bisa dirasakan apalagi digerakkan seakan sudah putus dari tangannya dengan nada pelan gadis itu menngeluarkan umpatan “Sialan!”[]