
asan menit yang lalu sebelum Elias tiba dirumah Alda dan saat Nala belum dibunuh, Alda sedang duduk disebelah Nala sambil menatap Nala yang akan jadi target pembunuhannya dan hening pun tercipta diruang tamu Alda itu sehingga benar-benar membuat detak jam dinding disekitar sana terdengar begitu nyaring ditelinga siapapun yang mendengarnya dan menambah hiasan dari suasana mencekam yang melanda Nala sekarang, Nala benar-benar tidak bisa bergerak dari tempat duduknya karena shock dan ketakutan apalagi saat ini dia terperangkap dalam tatapan kosong nan tajam Alda yang memiliki hasrat membunuh padanya.
Alda menghela nafas dengan sangat panjang kemudian berkata dengan tempo pelan “Kau tidak bisa menemukan jawaban untuk menghilangkan pikiran tertekan ini?”
“Kalau begitu aku sendiri yang akan menemukan jawabannya” kata Alda saat beranjak dari tempat duduknya.
“Ah benar” Alda berjalan menuju lemari tempat dia mengambil berkas-berkas data untuk diberikan pada Nala tadi dan merogoh sebuah benda di salah satu laci dilemari itu.
“Jawabannya adalah mulai untuk mengurangi orang-orang yang telah membuatku tertekan” Alda melanjutkan perkataannya dan mengeluarkan sebuah pistol glock dari sana.
Alda memamerkan pistol glocknya itu pada Nala sembari berkata “Kemarin Adam Maher mencoba untuk melaporkan pembunuhan di kota 68 itu karena aku tidak memberikan mereka uang dan hak bebas hukum dari kepolisian.”
“Tapi aku berhasil membunuh mereka agar mereka tidak mengungkapkan bukti-bukti pembunuhan itu” kata Alda saat jari jemarinya memasukkan satu persatu peluru ke magazine pistolnya.
“Selanjutnya membunuhmu” Alda memasang peredam pada pistolnya kemudian berjalan kembali mendekati Alda.
“Kemudian Si Pahit Lidah itu!” Alda berteriak dan menodongkan pistolnya tepat kearah kening Nala.
“Meski aku tidak yakin bisa membunuhnya atau tidak” Alda berkata dalam hati saat terbayang kekuatan menakjubkan dari Si Pahit lidah, kemudian matanya tertuju pada ujung pistol dan kembali berkata dengan volume suara yang kecil dengan air muka penuh amarah “Aku tidak ingin kegiatanku terhentikan karena kalian.”
Dengan Amarah juga Nala memberanikan diri untuk berdiri kemudian menepis pistol yang ditodongkan Alda dan menatap kepala kepolisian itu dengan begitu tajam sembari berkata dengan nada yang tinggi “Kau mengatakan pembunuhan di kota 68 itu kegiatan?”
Alda menanggapi perkataan Nala dengan wajah datar dengan mendekatkan wajahnya pada Nala menggunakan tatpan mata yang kosong kemudian berteriak “AKU TIDAK MEMBUNUH SIALAN!”
Dengan kaki kanannya Alda menendang betis Nala dengan kecepatan tinggi sampai-sampai Nala tidak menyadari sejak kapan kaki Alda mendarat dibetisnya sehingga membuatnya tersungkur dengan begitu cepat, dan seketika Alda menembak kedua betis Nala agar pria itu tidak bisa bergerak.
Alda melihat Nala yang meringis saat memegangi kedua betisnya yang dilubangi peluru dan berdarah-darah diantara kain celana panjangnya dan dengan tatapan yang begitu merendahkan sembari berkata dengan nada kesal “Aku tahu jika kau terlibat dengan Si Pahit Lidah itu maka sudah pasti kau tau tentang keganjilan.”
“Aku menggunakan keganjilan itu untuk menyuruh mereka membunuh keluarga orang-orang dan melihat penderitaan keganjilan juga orang-orang itu saat membunuh” kata Alda dan kembali menodongkan pistolnya kekening Nala yang tersungkur.
“Kau tahu…” Alda memilih untuk jongkok dihadapan Nala yang menatapnya dengan penuh kekesalan dan kebencian dan memerhatikan dengan seksama Nala yang masih duduk karena tersungkur itu agar bisa mengantisipasi gerakan Nala selanjutnya.
“Penderitaan mereka yang dibunuh sungguh menyenangkan” Alda tersenyum selebar-lebarnya hingga membuat matanya menyipit.
“Kesenanganmu itu membuat banyak orang menderita Alda!” Nala meninggikan nada bicaranya kemudian mencengkram bahu Alda sehingga membuat piyama Alda mengerut.
“Temasuk Si Pahit Lidah itu, karena membenci orang sepertimu yang melakukan pembunuhan demi kesenangan dia menjadi pembunuh untuk membantai orang sepertimu, meskipun dia menderita karena hal itu” Nala berkata pelan sembari meringis kesakitan dengan nada lirih yang sedih karena mengerti penderitaan Hakki yang pikirannya terbebani karena sudah banyak membunuh orang, tanpa melepas cengkramannya pada bahu Alda, Nala menundukkan kepalanya.
“Diam kau!” Alda membentak kemudian dengan begitu kuat melepas cengkraman Nala menggunakan tangannya.
“Kau tidak berhak menghalangiku” Alda berkata lagi, sembari melihat kaki dan tubuh Nala yang mencoba bergerak.
Alda yang menyadari gerakan Nala itu untuk bergerak demi berdiri dan mungkin saja melarikan diri seketika mengalihkan pistolnya yang terarah dikening Nala itu kearah paha Nala dan seketika dengan suara yang teredam menembak dan melobangi paha Nala dengan seketika, sehingga membuat Nala mengerang kesakitan, dengan menghiraukan Nala yang kesakitan diantara kebisingan dari erangan kuat Nala, Alda dengan tenang berkata “Bahkan orang terdekatku akan kubunuh jika ada yang berani menghalangi kesenanganku.”“Sekalipun itu seorang teman baik sepertimu” Alda berkata dan kembali mengarahkan pistolnya kearah kening Nala namun kali ini dengan sedikit mengetuk-ngetukkan ujung pistol besi itu beberapa kali pada kening Nala.
Alda mengusap-ngusap wajahnya kemudian menggaruki rambut dan wajahnya juga setelah itu berkata “Setelah membunuh kau dan Si Pahit Lidah itu aku harus berusaha lagi untuk menutupi kasusnya, sungguh melelahkan.”
“Tapi syukurlah dengan jabatanku kasus-kasus yang kubuat bisa tertutup dengan mudah jadi tidak apa-apa repot sedikit” dia melanjutkan perkataannya dan kali ini menepuk-nepuk dadanya beberapa kali dengan ekspresi tersenyum bangga.
Nala masih menatappenuh amarah dan kebencian pada Alda dan beberapa kali menyempatkan dirinya melihat sekitar ruang tamu dan memastikan adakah orang lain selain mereka berdua dan tak perlu menunggu lama Nala bisa melihat jika pelayan yang bekerja di rumah Alda wara-wari dirumah itu tanpa sedikit pun menghiraukan apa yang Alda lakukan padanya bahkan ada yang menonton dari kejauhan dengan tatapan yang kosong, hingga bisa dipastikan tidak ada satu orangpun yang peduli tentang percobaan pembunuhan itu, Nala yang sadar jika pelayan itu tidak akan membantunya dan tentu saja membantu tuannya akhirnya pasrah dan sekejap air muka amarah Nala berubah menjadi datar.
“Selamat tinggal Nala” kata Alda sembari tersenyum tipis dan menekan pelatuk pistol itu dan melobangi kepala Nala dengan sekejap.
Alda menyaksikan darah yang tercecer dari kepala Nala yang telah tergeletak dikakinya sembari tertawa kecil, kemudian mengangkat mayat Nala yang berlumuran darah dan memanggil pelayan-pelayannya yang berada dirumah itu, karena mengetahui Nala adalah seorang polisi yang bertugas menegakkan hukum dan juga tahu jika Nala sedang mencari keadilan hukum untuk Hakki atas kematian orang tuanya, Alda terinspirasi untuk membentuk mayat Nala seperti simbol hukum yaitu timbangan hukum agar dirinya terpuaskan.
Setelah peristiwa itu, selang beberapa menit kemudian Elias tiba didepan gerbang rumah mewah Alda dan menemukan jika gerbang juga pintu depan rumah mewah Alda yang tampak gelap itu terbuka lebar. Elias tidak menemukan tanda-tanda jika Alda ada dirumah namun Elias memastikan jika ada beberapa pelayan Alda yang berkeliaran didalam rumah itu, tanpa pikir panjang Elias memasuki rumah Alda.
Meskipun berpikir ada yang aneh dengan kondisi rumah ini karena begitu terbuka dan sangat gelap saat semua listriknya dimatikan dan tidak adanya Alda didalamnya tetapi Elias tetap memaksakan diri masuk kerumah itu dengan berlari kecil dan hanya bisa percaya diri dengan kemampuan bertarungnya jika semua ini adalah jebakan dan diserang oleh orang-orang yang ada disini.
Beberapa saat kemudian dia menemukan mayat seseorang yang diberdirikan diatas meja ruang tamu dengan ditopang dengan tiang yang menyilang, kedua pergelangan tangan mayat itu diputus dan digantung dengan terhubung oleh lengannya dengan rantai kecil tangan kanan menopang pistol glock dan tangan kiri menopang sebuah kepala seseorng yang dikenal Elias yaitu kepala Nala yang merupakan bagian terputus dari mayat tanpa kepala itu.
Karena melihat pemandangan mengerikan itu nafas Elias terasa sesak dan berat kepalanya seakan pecah dia beberapakali mengusak-ngusak rambutnya matanya memerah dan berkaca kaca detak jantung dan aliran darahnya terpompa tidak karuan dia terduduk lemas dan tertunduk seraya bergumam “Aku terlambat lagi…”
“Karena keegoisanku, aku selalu terlambat menyelamatkan orang-orang” Elias bergumam pada dirinya sendiri lagi dan terbayang gambaran mengerikan yang muncul dipikarannya tentang mayat-mayat kedua orang tuanya dan para saudaranya hingga membuat dia bergumam lirih diantara tangisannya “Kenapa aku selalu berada dalam penyesalan?”[]