
Dunia semakin menggelap ketika matahari sore seakan-akan ditarik oleh pegunungan untuk tenggelam didalamnya, tetapi meskipun dunia menuju gelap malam penjelasan Hakki mengenai keterlibatan Elias dengan pemburu keganjilan dan tentang pemburu keganjilan itu sendiri pada Nala belum usai, beberapakali Nala mengangguk karena mengerti siapa Elias dan pemburu keganjilan itu serta fungsi asli kekuatan mata empatnya yang bisa melihat masa depan.
Dari penjelasan Hakki yang semua struktur penceritaannya mirip dengan penjelasan dari Furi yang pernah didengar Hakki saat pertamakali bertemu. Hakki menghela nafas dalam-dalam karena membutuhkan tenaga yang cukup saat menjelaskan kemudian mengakhiri penjelasannya dengan berkata “Jadi seperti itulah pak Nala.”
Sesaat Nala menoleh pada jendela demi memastikan jika sekarang benar-benar sudah malam dan memikirkan langkah selanjutnya yang akan dilakukannya setelah selesai disini kemudian beberapakali mengecek waktu pada jam di tangannya kemudian “Aku harus menemui dokter dulu untuk izin pulang kerumah”
“Aku harus segera melanjutkan penyelidikan kita” Nala berdiri dan meninggalkan kursi yang didudukinya.
“Bagaimana denganku pak Nala?” tanya Hakki yang terlihat menegapkan pundaknya.
“Kau tunggu saja dulu sampai informasi yang kita dapatkan sudah jelas” kata Nala saat tangannya menggenggam kuat pundak Hakki dengan tatapan mata serius yang tertuju pada Hakki seolah-olah mengisyaratkan jika Si Pahitl Lidah itu harus istirahat sejenak
“Kau ingin melakukannya sendiri?” tanya Hakki lagi.
Nala mengangguk pelan dan berkata “Ya, sampai semua informasi yang ditemukan bisa menggapai titik terang untuk mengetahui siapa pembunuh orang tuamu aku akan bekerja sendiri.”
“Kau tunggu saja perintahku” Nala pun memberikan senyuman yang menenangkan pada Hakki.
“Kau, mempercayai apa yang kukatakan? “Hakki bertanya saat Nala membelakanginya untuk meninggalkan ruangan Hakki.
Nala menoleh pada Hakki kemudian berkata pelan “Tentang Pemburu Keganjilan aku memercayainya karena orang-orang yang ingin menyingkirkan dan membenci keganjilan pasti ada.”
“Tentang Elias?” tanya Hakki lagi karena menyadari air muka Nala yang bisa dibaca tampaknya masih belum mempercayai sepenuhnya identitas elias sebagai pemburu keganjilan padahal Elias adalah keganjilan itu sendiri.
“Aku akan memastikannya sendiri” Nala kembali mengarahkan pandangannya kearah pintu kemudian lanjut berkata “Aku tidak bisa menebak dia orang yang seperti apa, dan tentu saja banyak hal yang dia sembunyikan dariku.”
“Jika benar seperti yang kau katakan, aku ingin bertanya padanya kenapa tidak memberitahuku tentang identitas aslinya dan kenapa dia bergabung oleh kelompok yang merenggut kebebasan suatu ras”
Perkataan Nala barusan hanya membuat Hakki terdiam saat melihat punggung Nala dan tidak bisa menanggapi apa-apa karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan setelah menjelaskan dengan cukup panjang hingga akhirnya dia membiarkan kehendak Nala yang mau meninggalkan ruangan untuk melanjutkan penyelidikan.
“Kalau begitu, aku pergi dulu” Nala meninggalkan ruangan Hakki dengan langkah lebar yang cepat.
Dihari berikutnya saat menuju jam 9 malam Nala yang sudah diperbolehkan pulang sedang menunggu kedatangan seseorang didepan kantor kepolisian tepat diparkiran tempat dia meletakkan mobil pribadinya.
“Pak Nala” suara laki-laki yang familiar bagi Nala memanggil detektif kepolisian itu dari belakang.
Dengan cepat Nala menoleh pada orang yang memanggilnya itu dan mengetahui jika orang itu merupakan Andi informan pribadinya yang telah ditunggunya cukup lama, rengutan wajahnya yang muncul saat menunggu tadi berubah menjadi senyum semringah karena lega melihat informannya itu membawa banyak berkas-berkas beserta map yang dengan segera diserahkan padanya.
Dengan nafas yang masih terngah-engah Andi si Informannya itu berkata cepat “Ini data-data asal dari pisau yang kau berikan kemarin, beserta data orang-orang yang pernah membeli pisaunya.”
Nala langsung mengambil berkas-berkasi itu dan memasukkan kedalam “Baiklah, kalau begitu aku tinggal meminta data terakhir yang kuperlukan untuk melengkapi semuanya”
Andi sang informan dengan raut wajah kesal memiringkan kepalanya agar lepas dari usakkan dikepalanya yang dilakukan Nala karena merasa terganggu, kemudian setelah itu dirinya memerhatiakn Nala yang langsung berlari kecil masuk kedalam mobilnya dan mengementori tingkah detektif kepolisian itu dan berguman sendiri “Ada apa dengannya, tingkahnya tidak seperti biasa.”
Selang beberapa menit kemudian Elias yang sedang mengerjakan sesuatu pada laptop dirumahnya didatangi oleh Nala dengan suasana canggung yang dibawa oleh detektif kepolisian itu padanya, seakan bisa membaca air mukan Nala Elias pun yakin jika Nala mengetahui sesuatu tentang hal yang disembunyikannya kemudian menebaknya dengan bertanya “Kau telah mengetahui semuanya dari Hakki?”
Nala hanya menanggapi perkataan Elias dengan anggukan kecil dan dari tanggapan itu dengan cepat Elias memutuskan untuk bertanya lagi “Termasuk fungsi asli kekuatanku?”
“Ya” Nala juga menjawab dengan cepat, dan kali ini Elias tak menanggapi apapun tapi dari raut wajahnya Nala mengerti jika kenyataan yang diberitahukan Hakki tentang Elias tidak dibantah oleh Elias itu sendiri sehingga membuat Nala berkata spontan saat melanjutkan perkataannya “Ternyata benar rupanya.”
“Mengetahui itu apa kau akan melakukan sesuatu kepadaku” Elias bertanya karena merasa Nala tidak terlalu menerima identitas adlinya sebagaipemburu keganjilan dan bertanya seperti itu untuk mengetahu apakah selanjutnya Nala akan menjauhi, menganggap dirinya musuh atau berada dipihaknya.
“Tidak” Nala menggeleng.
“Lagipula aku tidak memilii kaitan dengan pemburu keganjilan dan tentunya aku tak ingin mengganggu hak pribadimu”
Kaki Nala tak hentinya bergoyang seakan tak nyaman lagi dengan suasana seperti sekarang yang tercipta berkat kecurigaan yang dibawanya dan tembok kewaspadaan yang dibentuk Elias namun meski dengan gestur yang tidak tenang seperti itu Nala tetap melanjutkan perkataannya.
“Tetapi aku hanya ingin menanyakan kenapa kau bergabung disana, disaat kau juga seorang keganjilan?”
Terlihat dari pundaknya Elias menegapkan posisi duduknya dan seakan-akan memperlihatkan jika dirinya tidak ingin argumennya mengenai alasannya bergabung itu dipertanyakan lagi sehingga membuat Elias berkata lantang pada Nala “Aku bergabung untuk membalas budi dari kebaikan seseorang.”
“Begitu rupanya” Nala menggaruti kepalanya beberapa kali dan terbesit dipikirannya tentang kerjasama yang dia lakukan saat ingin menangkap Si PahitlLidah di pesta pernikahan anak walikota, kemudian dengan serius dirinya menoleh dan menatap Elias untuk bertanya “Mengajakku bekerjasama saat itu hanyalah rencanamu?”
“Ya, aku hanya memanfaatkanmu” Elias menjawab Nala dengan begitu dingin lengkap bersama tatapan mata yang kosong bersama wajah yang serius.
“Semakin rumit saja” Nala berkata dan beranjak dari tempat duduknya.
Saat berdiri Nala berkata lagi “Aku menuju tahap akhir dari penyelidikan yang kulakukan dengan Hakki dan kebetulan aku akan menuntaskan penyelidikan ini dengan data-data yang akan kucocokkan dengan data dari kepala kepolisian yang menyimpan data kasus-kasus yang belum terungkap seperti kasus tragedi kota 68.”
“Aku akan kerumahnya hari ini” Nala melanjutkan perkataannya dan mulai melangkah menuju kpintu untuk keluar dari kediaman Elias.
Nala menghentikan langkah kakinya saat membelakangi Elias kemudian menoleh sedikit pada Si Mata empat itu untuk berkata “Dan aku hanya ingin tahu dari penglihatanmu itu apakah kematianku akan datang hari ini?”
“Jika aku memberitahumu, sama saja aku membantumu dan tentunya membantu Hakki yang bekerjasama denganmu juga…” Elias berkata kemudian ikut berdiri juga kemudian melanjutkan perkataannya “…Dan aku tidak mau itu.”
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu” Nala mengakhiri perkataannya kemudian meninggalkan kediaman Elias dengan begitu cepat.
Saat kesunyian menggantikan suasana canggung yang tercipta tadi Elias menyempatkan dirinya untuk menatap begitu lama gelas kopi Nala yang tak diminum sedikitpun walau sudah dibuatkan kemudian berkata dengan volume suara yang kecil “Hanya datang untuk bertanya dan memintaku melihat masa depannya saja?[]