Bitter Life

Bitter Life
37. Anak dan Perjanjian



Hujaman peluru dan peledak banyak membolongi dan merusak tembok pemukiman yang telah menjadi panggung medan perang disebuah daerah kecil disebuah negara yang menjadi tempat tinggal terbesar para keganjilan kejadian yang berlangsung 20 tahun lalu itu melibatkan Elias kecil yang saat ini berlarian melindungi diri dari peluru dan peledak yang beterbangan dengan tangan yang menggengam batu untuk melawan tantara musuh.


Dirinya yang masih kecil itu pernah menguping dari orang dewasa yang merupakan teman-teman seperjuangan orang tuanya jika perang ini dimulai karena kejahatan pemerintahan negeri ini yang ingin memusnahkan mahluk supranatural atau keganjilan seperti mereka di tanah kelahiran mereka ini demi keseimbangan dan keamanan manusia biasa dan orang-orang tinggi di pemerintahan itu meminta bantuan dengan jumlah terbesar dari pemburu keganjilan.


“Elias, cepat kesini!” Suara berat laki-laki dewasa menegur Elias kecil yang terlihat kebingungan mencari tempat berlindung.


Saat menoleh Elias bisa melihat jika yang menegurnya itu ayahnya dengan wajah yang dipenuhi amarah, namun meskipun begitu Elias tetap menuruti ayahnya dan berlindung ditempat yang ditunjuk-tunjuk oleh ayahnya yaitu dibelakang punggung ayahnya sendiri, ayahnya menoleh pada Elias kecil dan membentak “Ini garis terdepan medan perang kenapa kau disini?”


“Paman-paman yang berjaga di tenda di dekat rumah kita menyuruhku untuk membantu jika ingin perang ini cepat usai” Elias menjawab perkataan ayahnya dengan suara yang kencang Bersama dengan air mata yang mengalir diantara wajahnya yang kusam dan memerah karena panas terik matahari.


Ayahnya Elias terdiam sesaat melihat tangisan beserta ekspresi serius dari wajah kecil anaknya yang ingin perang mengerikan ini berakhir, setelah beberapa saat merenungkan hal menyedihkan dari anaknya itu dia kembali menoleh pada musuh yang ada di sebrang.


“Para penjaga sialan!” ayahnya Elias mengumpat.


“Hanya orang dewasa yang bisa menyelesaikan perang ini nak! Mereka membohongimu karena mereka selalu merasa kekurangan tenaga” Ayahnya Elias berkata dengan nada tinggi sembari beberapa kali menembaki musuh yang bersebrangan dengannya.


“Pergilah pulang ke tenda sana!” Ayah Elias membentak anak itu agar pergi kembali ke markas yang merupakan tenda yang dekat dengan rumah keluarga mereka jauh di belakang sana.


Seorang laki-laki muda yang merupakan pejuang keganjilan juga melihat dengan seksama langkah demi langkah dari lari kaki kecil Elias yang menuju tenda markas dibelakang sana dengan wajah yang sinis.


“Bukannya bagus jika anak kau juga ikut berperang pak!?” Tegas pejuang muda itu meninggikan volume dan bicaranya untuk berbicara pada ayah Elias.


Namun ayahnya Elias tidak menghiraukan perkataan pejuang muda dan berpura-pura tidak mendengarkannya untuk fokus menembaki musuh.


Karena mengetahui dirinya diabaikan pejuang muda itu mengambilnafas sekuat-kuatnya dan berkata lagidengan nadadanvolumeyang ditinggikan lagi.


“Hingga sekarang anakmu tidak berani menggunakan kekuatannya untuk melihat masa depan dan dirimu serta istrimu tidak pernah menyuruh anak kalian menggunakan kekuatan yang didapat dari leluhur kalian!”


Ayahnya Elias berhenti menembak untuk menunduk karena kehabisan peluru, kemudian mendekati pejuang muda itu yang berjarak 5 kaki darinya kemudian mencengkram kaos lusuh pejuang mud aitu dengan begitu kuat kemudian berkata “Aku tidak ingin dia melihat hal mengerikan lagi sudah cukup perang ini saja, aku tidak ingin membuatnya menderita untuk melihat masa depan yang bisa saja sangat mengerikan.”


“Ta…tapi…” pejuang muda itu gemetaran melihat tatapan mata ayahnya Elias yang begitu dalam dan mengerikan karena tersulut amarah,


“Jika ingin memenangi perang dengan instan hingga menggunakan anak ku, aku tidak segan-segan akan membunuh kalian” ayahnya Elias mengakhiri perkataannya dengan menunjukkan warna mata yang sekejap menjadi merah menyala dengan taring dan kuku tajam yang sekejap bermunculan.


Pejuang muda itu semakin ketakutan melihat transformasi ayahnya Elias yang diketahuinya akan berubah menjadi mahluk supranatural kuno di padang pasir yaitu ghoul, sedangkan dia hanya seekor harpy biasa karena itu dia hanya bisa menjawab dengan pelan “Ma…. maafkan aku.”


Setelah mendengar perkataan pejuang mud aitu ayahnya Elias melepas cengkramannya kemudian dengan kekuatan ghoulnya dia melompat dengan kecepatan tinggi dan langsung membantai beberapa musuh di depan mereka yang merupakan tantara pemerintah.


“Hei santai Willas aku yang menyuruh mereka untuk memerintah anakmu!” Suara berat laki-laki tua muncul dari balik pintu tenda.


Mendengar suara laki-laki tua itu ayahnya Elias yang bernama Willas itu langsung berbalik dan mencengkram kedua pundak laki-laki tua berumur60 tahunan itu dengan sangat kuat “Sudah kubilang Elias harus disetarakan dengan anak-anak kecil lain yang ada disini!”


“Anakmu sangat istimewa Willas” laki-laki tua itu berkata dan menyebut nama ayahnya Elias dengan lembut sambil tersenyum tipis.


“Siapa tahu jika mengalami kejadian mengerikan secara langsung dia akan berani menggunakan kekuatannya…” laki-laki tua itu terkekeh.


Willas mengangkat dan mengepalkan tangannya untuk memukul laki-laki tua itu.


“Sialan kau!__”


Perkataan dan tindakan Willas terhenti seketika saat dia dan orang-orang yang berada di dalam tenda itu mendengar bunyi tubuh seseorang menghujam tanah, dan saat semuanya menoleh ke sumber suara mereka melihat salah satu pejuang keganjilan sudah terkapar tak bernyawa dengan sayatan dilehernya.


“Hooh, jadi disini tempat persembunyian kalian” seorang laki-laki seumuran Willas memegang sebuah bilah pedang yang sudah berlumuran darah berkata dengan nada ramah.


Wajah ceria dengan rambut hitam klimis serta rapi beserta jas dan celana dasar serba putih Bersama dengan gaya ramahnya yang selalu ada tanpa alasan, membuat setiap orang disana mengerti jika mereka sedang berada dalam bahaya karena ada laki-laki yang baru saja membunuh rekan mereka dengan sekejap dan mereka tentunya tau siapa orang berbahaya itu.


“Dia ketua Asosiasi Pemburu keganjilan kota ini” Seseorang berkata dengan lantang dan membuat semua orang di dalam tenda itu mengangkat senjata kemudian langsung mengarahkannya pada laki-laki berjas putih itu.


“Welf?!” sontak ayah Elias menyebut nama asli laki-laki berjas putih yang terkenal sangat kuat menurut semua orang yang ada disana.


“Oi santai aku datang bukan untuk bertarung” Sembari tersenyum welf berkata.


“Aku hanya ingin membuat perjanjian dengan kalian” Welf menatap setiap orang yang menodongkan senjata padanya dan tanpa rasa takut memberikan senyum lebar untuk semuanya kemudian menyarungi pedangnya kembali dengan perlahan.


“Aku tahu kalian ingin tetap tinggal di negeri ini dan aku bisa mengatakannya kepada presiden kalian agar kalian tidak dimusnahkan” Welf lanjut berkata.


“Tidak usah membual kau sialan!” bentak Willas yang sama sekali tidak percaya perkataan pemburu keganjilan   itu.


Welf mengangkat tangannya kemudian dengan sedikit terkekeh dia berkata “Hei, aku serius kawan.”


“Tapi syaratnya anak yang mewarisi kekuatan Si Mata Empat itu bergabung dengan kami” Welf menunjuk arah belakang Willas untuk menunjuk Elias kecil yang sedang berdiri dalam pelukan ibunya, yang saat itu benar-benar memeluk erat-erat Elias untuk melindunginya dari Welf.


Dengan tatapan mata yang tajam dan terarah pada Elias kecil, Welf tersenyum lebar kemudian berkata “Kekuatan anak itu yang bisa melihat masa depan akan sangat merepotkan, namun bisa juga menjadi sangat berguna bagi kami.” []