Bitter Life

Bitter Life
21. Amarah dan Petir



Langit semakin menghitam, rintikan air pun terasa cukup kuat saat mengguyur kepala siapapun orang yang berada ditaman itu, rambut bahkan baju pun tak terhindarkan untuk mengalami basah yang cukup banyak, itulah yang dirasakan keempat orang yang berada dalam suasana pertarungan ditaman Lavern itu.


Berkat pertarungan itu bahkan hujan tersebut tak bisa mengusik mereka, terkhusus Hakki yang saat ini hanya bisa terdiam dengan jantungnya yang terpompa karena berada dalam situasi genting ketika tangan Eric sudah mencengkram lehernya.


Hakki yang mengetahui Eric memiliki tenaga mengerikan seorang vampir memutar otaknya agar bisa keluar dari cengkraman itu dan saat itu juga terbesit dipikiran Hakki jika Eric sudah pasti belum mengetahui jika dirinya Si Pahit Lidah, karena belum pernah bertemu di garis waktu ini.


Perlahan Hakki mengatur nafasnya agar tenang dan bisa membalikkan keadaan dengan kekuatan kutukan yang dimilikinya, kemudian dengan pelan dan perlahan mengeluarkan kekuatannya dan berkata.


“Tangan kananmu akan membusuk dan menjalar keseluruh tubuhmu”


Eric terdiam sesaat dan dengan seksama memperhatikan Hakki yang dicengkramnya kemudian dengan sedikit rasa takut karena bulu kuduknya berdiri dengan sendirinya serta telinganya pun berdenging dia mulai berkata “Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan?”


Dan seketika tangan kanan Eric menghitam dan mengkerut hingga kehilangan fungsi dan dengan sendirinya cengkraman yang dia lakukan pada leher Hakki terlepas, karena menyaksikan peristiwa mengejutkan yang terjadi pada tangannya Eric melompat cukup jauh kebelakang.


“Apa yang terjadi pada tanganku?” Eric bergumam dengan suara kecil dan saat itu juga menyadari jika pembusukan ditangannya itu mulai menjalar menu bahunya hingga membuatnya cemas karena takut akan menjalar keseluruh tubuhnya, karena merasa jika orang yang dia cengkram barusan melakukan sesuatu padanya dengan cepat dia menatap penuh amarah pada orang itu dan membentak.


“APA YANG KAU LAKUKAN PADA TANGANKU SIALAN!!!”


Hakki yang mendengar bentakan itu hanya diam juga menatap dingin pada Eric dan hanya mengamati proses pembusukan tangan kanan Eric dengan tenang.


Eric yang melihat respon Hakki yang dingin seolah telah memenangkan pertarungan sangat panik dan takut karena


mungkin akan terbunuh oleh lawannya itu, namun dengan cepat Eric memilih memutar otaknya dan terpilihlah cara terburuk dengan mencabik tangan kanannya dengan kuku tangan kirinya hingga terputus agar pembusukan itu tidak menjalar ketubuhnya.


Dengan fisik vampirnya Eric dengan sendirinya mulai memberhentikan pendarahan pada tangan kanannya kemudian dengan sedikit meringis dia berkata “Dirimu seakan mengutukku setelah mendengar perkataanmu tadi…”


Sembari menjalankan pemberhentian pendarahan ditangan kananya, Eric menjeda perkataannya dengan menulusuri otaknya untuk mengingat informasi seorang keganjilan yang memiliki kemampuan seperti yang dia sebutkan kemudian berkata “Kemarin aku pernah mendengar seseorang dengan kekuatan mengerikan seperti ini.”


“Si Pahit Lidah!” Eric berkata dengan nada rendah dengan ekpresi ketakutan.


Melihat Eric yang masih sibuk dengan tangannya dengan cepat Hakki menoleh pada Furi yang sedang terdesak oleh Kaira yang akan membunuh gadis itu, melihat kesempatan disaat Kaira masih terdiam dan lengah menyaksikan kekuatan kutukan Hakki memerintah Furi dan berkta “Furi, pergilah ke gedung panti asuhan Clover minta bantuan pada pak Richard.”


“Kau…?” jawab Furi dengan wajah khawatir.


“Aku tetap disini” Hakki berkata lagi sembari kembali menoleh dan menghadap Eric.


“Tapi…” kata Furi dengan nada lirih yang tersengal karena hampir menangis, kemudian gadis itu melihat darah Eric dilandasan rerumputan itu, memerhatikan baju Hakki yang kotor karena pertarungan dan sosok Hakki yang berdiri tegap yang sepenuhnya siap menghadapi Eric demi mendapatkan informasi, hingga membuatnya terpaksa membiarkan Hakki disini karena kekacauan yang telah terjadi agar dirinya tak menghalangi Hakki.


“Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan Informasi dari Eric” Hakki lenjut berkata tanpa menoleh pad Furi.


Furi yang hanya bisa melihat punggung Hakki mengangguk pelan dan saat itu juga sapu terbangnya datang dari atas langit.


“Aku berjanji akan mendapatkannya dan segera menyusulmu kesana” Hakki berkata lagi sambil melangkah mendekati Eric.


Furi dengan cepat menaiki sapu terbangnya dan melesat menuju gedung panti asuhan Clover kembali demi mendapatkan bantuan dan tentu saja dirinya diikuti Kaira yang mengejarnya begitu cepat dengan berlari.


Setelah menyaksikan Kaira yang pergi dari taman, dengan wajah kecewa Eric berkata “Sialan, padahal aku ingin membunuh gadis pembunuh bayaran itu, tapi kau malah membiarkannya pergi.”


Kemudian Eric kembali menatap tajam Hakki yang mendekatinya dan dengan sedikit cemas, dia berkata dengan volume suara yang begitu kecil “Tak apa, sebagai gantinya ada dirimu yang akan kuhabisi.”


Hakki memberhentikan langkah kakinya dan begitu dekat menghadap Eric kemudian berkata “Aku berjanji ku tidak akan menyakitimu jadi kumohon beritahu identitas asli pembunuh orang tuaku pada Insiden kota 68.”


Eric terdiam sesaat hingga membuat Hakki berpikiran jika Eric akan memberitahunya, namun dia tidak menduga dengan jarak sedekat itu Eric sangat mudah menjangkaunya kembali saat dengan cepat kakinya melompat dan langsung mendaratkan pukulan tangan kir ke mulut Hakki dengan begitu kuat hingga membuat Hakki tersungkur.


Dengan bertubi-tubi Eric mendaratkan pukulan pada mulut Hakki dan juga sambil membentak Hakki dengan sekuat tenaga “Kau pikir dengan memperlihatkan kekuatanmu aku akan takut dan begitu saja memberitahukan identitas pembunuh orang tuamu, sialan!”


“Adikku yang dikurung akan dibunuh orang itu jika ada keluarga korban yang mengetahui identitasnya”


Eric terus melanjutkan perkataannya saat memberi puklan bertubi-tubi itu.


“Dengan memukul mulutmu seperti ini kuyakin kau tidak bisa mengutukku dengan ucapanmu”


Pukulan demi pukulan tak henti diluncurkan Eric meski menggunakan tangan kiri Hakki bisa merasakan jika kekuatan pukulannya bahkan melebihi pukulan tangan kanan yang kuat dari orang biasa.


“Lagipula jika kau mengetahui pembunuhnya apa yang akan kau perbuat”


Sedikitpun Eric tak memberikan jeda pada pukulannya.


“Jangan katakan kau akan balas dendam”


Pukulan yang tak henti di mulut itu membuat Hakki begitu meringis kesakitan disaat Eric sedang mengeluarkan perkataan-perkataannya.


“Mustahil kau bisa melakukannya orang itu sangat kuat bahkan aku saja tidak berani melawannya”


Namun meski begitu Hakki masih bisa mendengar perkataan-perkataan Eric itu.


“Aku juga tidak akan membiarkannya terbunuh karena balas dendammu”


Dan ditengah perkataannya Eric memelankan tempo pukulannya karena menyaksikan jika Hakki sudah lemas.


“Dia sangat suka membunuh orang dan selalu menyuruhku menghias dan menata mayat yang dibunuhnya agar menjadi karya seni”


Begitu juga dengan tempo perkataanya dia juga ikut memelankannya agar bisadidengar Hakki yang terlihat lemas itu, agar bisa didengar baik-baik oleh Hakki.


“Bahkan diberi kesempatan membunuh orang, sungguh sangat menyenangkan bisa diberi kesempatan itu”


Perkataan Eric itu bisa didengar Hakki meskipun dia begitu kesakitan diantara matanya yang mengabur dan mulut yang berlumuran darah.


“Membantunya membunuh orang-orang sungguh menyenangkan...terlebih membunuh keluarga orang, itu sangat menyenangkan…”


Pupil mata Hakki membesar saat mendengar Eric menyebutkan jika dirinya menikmati membunuh keluarga orang.


Eric mendekatkan mulutnya pada telinga Hakki dan berbisik “Seperti keluargamu...”


Hakki yang mendengar itu tersentak karena marah dan memanfaatkan celah yang dibuat Eric saat itu karena berhenti memukulnya, dan menendang Eric dengan tenaga seadanya dan hanya mampu membuat Eric sedikit terdorong.


“Hahaha” Eric tertawa melihat usaha Hakki dan dia pun bergerak kembali mendekati Hakki sembari melanjutkan perkataannya “Ibu ayahku selalu bertengkar, bahkan mereka juga menyiksa aku dan adikku.”


Meski sudah sekuat tenaga menendang Eric dengan bibir yang sudah pecah dan berdarah membuatnya tidak bisa mengucapkan kutukan apapun dan Hakki pun hanya bisa duduk terdiam karena lemas Eric yang melihat kondisi Hakki itu tanpa belas kasih kembali memukul mulut Hakki nuntuk menghindari kutukan dan melanjutkan perkataannya.


“Hingga akhirnya aku terpaksa membunuh ayah dan ibuku agar adikku tidak tersiksa”


Eric memelankan nada bicaranya.


Kemudian Eric menoleh pada bekas rumah mewahnya yang ada dibelakangnya.


“Aku sangat membenci keluarga orang yang bahagia dan untunglah orang itu memberikan aku kesempatan membunuh keluarga orang”


Dan akhirnya Eric mengeluarkan senyuman yang sangat lebar yang menampakkan taring gigi Vampirnya, diantara hujan lebat itu dengan berlatar belakang langit mendung Hakki yang masih dipukulinya saat melihat dengan samar Eric diantara air hujan yang membasahi matanya Hakki seakan melihat proyeksi iblis yang tercipta dari wajah Eric yang tersenyum lebar itu yang diiringi beberpa kali gemuruh petir.


“Aku sungguh berterimakasih padanya”


Mendengar akhir dari perkataan Eric yang mendukung pembunuhan dan orang yang menyuruhnya membuat Hakki merenungkan apa yang akan dia lakukan pada ditengah pukulan-pukaln itu.


“Jadi sialan ini, sangat senang dan menikmati saat membuuh orang”


Kata Hakki dalam hati.


“Bahkan berterimakasih pada orang yang menyuruhnya membunuh”


Hakki tetap memainkan pikiran diotaknyanya disaat pukulan-pulan Eric masih menghujam.


“Aku akan memberinya pelajaran”


Tatapan Hakki begitu tajam menatap Eric yang masih memukulnya.


“Tapi ini sangat sakit, pukulannya sakit sekali”


Hakki meringis kesakitan.


“Bagaimana caranya aku bisa lepas?”


Hakki bertanya pada dirinya sendiri.


“Disaat mulutku tak bisa berkata untuk mengutuk supaya didengarnya?”


Dengan begitu dalam dia memikirkan cara untuk lepas dari pukulan bertubi-tubi yang akan membuatnya bisa kehilangan nyawa ini.


“Oh, benar juga saat ini aku juga sedang berbicara tapi dalam hati, bahkan mendengar diriku sendiri”


Dan saat itu juga muncul sebuah ide gila muncul dalam pikirannya.


“Hanya perkataan dalam hati sepertinya yang bisa menolongku, karena aku sendiri yang mendengarnya jadi mengutuk diri sendiri sepertinya akan berhasil”


Hakki pun memutuskan menggunakan satu-satunya cara yang belum pernah dia coba itu.


“Jadi…Aku mengutuk diriku sendiri menjadi manusia serigala”


Perkataan kutukan dari dalam hatinya itu membuat dia merasakan dengingan ditelinga yang kuat juga kembali merasakan pahit luar biasa dilidahnya yang terasa sangat singkat karena bercampur dengan darah dimulutnya.


Kemudian setiap otot-otot dan tulang yang ada ditubuh Hakki membesar dan menguat, badannya semakin lama semakin membesar muncul bulu abu-abu yang sangat lebat di sekujur tubuhnya dan mulutnya pun memanjang juga memunculkan taring yang sangat tajam dan panjang yang membuat otomatis mulutnya yang berdarah dan pecah tadi beregenarasi.


Eric yang menyaksikan perubahan pada tubuh Hakki itu tanpa sadar memberhentikan pukulnnya dan secara spontan terlonjak kebelakang karena terkejut juga berkata “Kenapa kau bisa menjadi manusia serigala?”


“Aku mengutuk diriku sendiri dengan ucapan dalam hati” kata Hakki ketika menyelesaikan perubahan tubuhnya yang saat ini menjadi seekor serigala seukuran beruang dewasa besar.


“Dasar gila” ucap Eric yang mengeluarkan keringat dingin karena tak mengerti tindakan Haki dan takut, dengan kekuatan kutukan yang bahkan bisa merubah ras seseorang dalam sekejap.


Dengan telapak kaki besar berbulu dan penuh cakar Haki melangkah perlahan mendekati Eric.


“Menjadi berbulu dan mengerikan seperti manusia serigala ini merupakan kutukan bagiku dan tentunya membuat kutukannya bekerja”


Hakki mengambil ancang-ancang untuk menerkam Eric yang masih duduk terdiam karena tercengang didepannya.


“Untungnya temanku memberitahu hanya manusia serigala yang bisa mengimbangi kekuatan vampir sepertimu” Hakki mengakhir perkataannya dan melompat serta menggit tangan kiri Eric dan dengan berat tubuh serigalanya mendorong Eric hingga terbaring ditanah.


Hakki mencabik lengan kiri Eric hingga membuat Vampir itu mengerang kesakitan dan panik karena tangan kirinya mengeluarkan darah yang banyak, saat Eric ingin menghentikan pendarahan pada tangannya juga beregenerasi, dengan pengetahuannya tentang Vampir Hakki tak henti menggigit juga mencakar sekujur tubuh Eric agar lawannya itu tak sempat melakukannya.


Beberapa kali Eric mengerang kesakitan berkat serangan balasan Hakki, dia pun mencoba lepas dari terkaman Hakki namun karena telah kehilangan banyak darah dan panik dia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk mendorong tubuh serigala besar Hakki, apalagi saat itu dengan kaki belakang wujud serigalanya Hakki menusukkan cakar dan menekan ketanah kedua paha pada kaki Eric.


Dan Eric juga teringat jika sejak 3 hari yang lalu dia belum meminum darah sedikitpun hingga membuat tubuhnya tidak bisa membalikkan keadaan melawan seekor manusia serigala besar seperti sekarang ini.


“Hentikan!!”


Eric berteriak kesakitan dan air matanya pun keluar.


“Tolong Hentikan!!”


Di berteriak kembali namun sepertinya Hakki tak menghiraukannya dan tetap mencabik-cabik tubuh vampirnya yang terus beregenerasi dengan cepat.


“KAU INGIN INFORMASINYA KAN?”


Eric menyerah karena kesakitan juga menderita dan akan memberikan informasi yang dibutuhkan Hakki, namun sepertinya Hakki sudah diselimuti emosi yang sangat besar sehingga membuat Si Pahit Lidah itu mengamuk tak terkendali dan menghiraukan tawaran Eric.


“Kumohon, ampuni aku…”


Eric meringis kesakitan, cabikan yang diberikan Hakki terus menerus dan cepat pun membuatnya lemas dan tak mampu beregenenerasi lagi sampai-sampai tubuhnya kehilangan banyak darah, matanya mulai mengabur namun dia tetap mencoba berkata pada Hakki agar Si Pahit Lidah itu memberikan ampunan padanya meski tenggorokannya mulai terasa sesak.


“Dia orang berpengaruh yang bahkan bisa membuat pemerintah kota ini tidak menggusur rumah mewahku yang sekarang sudah menjadi taman kota, bahkan bisa menutup kasus yang kubuat karena membunuh kedua orang tuaku” Eric berkata pelan dengan suara berat nan lirih.


Seakan emosinya sudah meredam Hakki yang kehilangan akal karena amarah kembali pada pikirannya yang menginginkan informasi, mencoba mendengar perkataan Eric serta menghentikan serangannya pada tubuh Eric yang sangat mengenaskan dan merubah dirinya menjadi manusia kembali sembari mendengar perkataan Eric yang mulai sekarat.


“Jabatannya sangat tinggi di kepolisian_....” seketika kesadaran Eric menghilang karena kehabisan darah dan perkataannya pun terputus begitu saja dan Hakki bisa memastikan jika manusia Vampir itu telah kehilangan nyawanya.


“Aku mendapat informasinya” Hakki bergumam dan berbalik menjauhi mayat Eric.


“Tetapi sangat sedikit,sial ” kata Hakki lagi kemudian berlari kecil untuk keluar dari taman Lavern.


“Dan sekali lagi tanpa mengetahui namanya”


Hakki melompat kedepan dan merubah kembali dirinya menjadi manusia serigala agar bisa berlari cepat menyusul Furi ke panti asuhan Clover.


“Furi….” Ucap Hakki diantara nafas besar yang melewati taring dan muncung serigalanya yang terengah-terengah, Hakki berlari dengan begitu cepat tanpa terusik hujan yang semakin lebat serta banyaknya kilatan petir yang menari-nari diatas langit kota 77.[]