Bitter Life

Bitter Life
15. Pengepungan dan Kematian 2



“Hakki!” Furi melepas sapu terbangnya dari genggaman untuk menerbangkannya kembali.


“Naiklah ke Sapu Terbang Ku sekarang!” Furi menggenggam tangan kiri Hakki yang tak terluka dia menghiraukan noda darah yang masih menempel ditangan kiri Hakki, kemudian menarik temannya yang masih terlihat lemas dan bingung karena berbagai hal yang dialaminya itu dengan cukup kuat.


“Mereka akan menyibukkan para pemburu keganjilan itu!” Furi menoleh kearah Remi bersama 7 pemburu keganjilan lain yang mulai bertarung melawan 4 teman-teman keganjilannya.


“Ta…tapi teman-temanmu!” Hakki berkata disaat kepalanya mendongak melihat seorang penyihir yang baru tiba dan menembakkan sihirnya bersama laki-laki yang ditumpanginya dengan sapu terbang, laki-laki itu kemudian terjun lalu berubah menjadi serigala besar dan langsung ikut dalam pertarungan.


“Mereka akan baik-baik saja”


Meski berkata dengan tegas wajah khawatir tergambar jelas di wajah Furi.


Hakki yang mengetahui Furi kesulitan menyembunyikan wajah khawatirnya berusaha meyakinkan Furi jika teman-temannya itu benar-benar harus dikhawatirkan “Dua orang temanmu sudah mati karena mereka! Mustahil mereka akan baik-baik saja.”


“Cepatlah!” dengan mata yang berkaca-kaca Furi menatap pelan dan meninggikan suaranya untuk memerintah temannya itu.


Hakki yang lebih menilai jika perkataan dan tatapan Furi adalah permintaan tolong dengan cepat naik sapu terbang tersebut bersama Furi dan seketika melesat menjauhi gedung pesta pernikahan itu.


“E..Elias melihat dengan kemampuan penglihatannya jika kalian semua akan mati” dengan suara yang kecil diantara terpaan angin kencang saat terbang dengan cepat diudara Hakki berusaha memberitahu Furi tentang kekuatan Elias.


“Kau mengatakan apa?” Furi berkata saat mendengar samar-samar perkataan Hakki yang terkalahkan oleh suara angin yang menerpate telinganya.


“Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa”


Selain karena dihalangi angin Hakki memilih tidak jadi menjelaskan lagi tentang penglihatan Elias itu karena tersadar jika dirinya ternyata tidak ingin membuat khawatir Furi yang sudah susah payah membantunya.


Setelah beberpa menit melintasi langit malam akhirnya Furi memilih istirahat sebentar disebuah taman untuk menjalankan rencana yang telah dibuatnya dengan Hakki kemarin sembari memulihkan energi sihirnya dan juga tidak tahan melihat Hakki yang semakin kelelahan karena darah dilengan kananya masih mengalir dan berniat untuk memberikan Hakki minum dengan air botolan yang dibawanya.


Hakki yang perlahan duduk dikursi taman setelah minum mulai berkata dengan pelan “Karena sekarang aku benar-benar berada dalam keadaan darurat.”


“Aku yakin pasti kau membawa kotak sihir dimensi itukan” Hakki menatap penuh harapan pada Furi.


Furi dengan cepat mengeluarkan sebuah kotak berat seukuran kotak tissue yang bercahaya ungu gelap dari dalam tasnya dan meletakkannya disebelah Hakki dengan hati-hati.


“Kau membawa kertas?” Hakki bertanya lagi, dan membuat Furi dari tas selempangnya dengan cepat merobek sebuah buku catatan pelajaran sihirnya yang terlihat kuno dan mengambil selembar kertas untuk diberikan pada Hakki.


Hakki mengambil pulpen yang selalu dibawanya untuk berjaga-jaga yang dengan selamat masih terselip di kantong seragamnya dan mulai menuliskan sesuatu kemudian berkata dengan menyelipkan senyum tipis “Baiklah.”


Sementara itu pada atap gedung pesta pernikahan anak walikota Remi bersama rakan-rekannya telah menyelesaikan pertarungan dengan cepat terlihat dari tergeletaknya 6 mayat teman keganjilan Furi dibawah kaki mereka yang berlumuran darah.


“Tidak kusangka melawan mereka ternyata semudah ini” Remi memercikkan darah yang menempel dipedangnya.


Sembari membersihkan kaca matanya dari noda darah Remi melihat jam tangan peraknya “Kurasa sudah cukup memberikan waktu bersantai untuk Si Pahit Lidah.”


“Baiklah semuanya!” Remi berjalan menuju helikopter.


“Kita akan menuju taman Comet Garden” Remi menyempatkan diri untuk sesaat melihat keadaan didasar gedung ini dan menemukan orang-orang, para media dan polisi yang semakin berdatangan sibuk dan panik


“Lagipula kita harus cepat pergi dari sini sebelum para polisi lebih banyak berdatangan karena semua kekacuan hari ini”


Remi dengan cepat memasuki Helikopter dan menyarungi kembali pedangnya kemudian berkata “Kita akan serahkan ke Dewan Keseimbangan Dunia untuk membersihkan semua kekacauan ini”


Di depan Hakki yang baru saja selesai menulis dan telah memberikan kotak sihir itu kepadanya Furi menundukkan kepalanya begitu lama saat memasukkan kotak sihir itu kembali kedalam tasnya dan Hakki yang aneh dengan tindakan Furi itu bisa melihat jika di dagu gadis itu saat menunduk air matanya sedang mengalir.


“Maafkan aku…” Furi sedikit terisak.


“Karena aku yang memaksamu datang kepesta itu disaat para Pemburu Keganjilan memang ingin memancingmu demi operasi besar mereka, hanya karena ingin kau mendapatkan Informasi tentan orangtuamu, hingga membuat dirimu dalam bahaya…”


“Tidak Furi ini bukan salahmu_”


Disaat belum sempat sama sekali menenangkan Furi yang menangis Hakki dengan jelas melihat jika kilatan kaca mata yang terpantul cahaya lampu taman muncul dengan sekejap bersamaan dengan bayangan seseorang dan saat itu juga Hakki bisa melihat jika perut Furi telah tertembus sebuh pedang dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.


“Hai, Si Pahit Lidah” Suara berat Remi muncul dari balik Furi, Remi tersenyum dengan tatapan mata tajam kearah hakki yang masih duduk, kemudian mencabut dengan cepat pedang yang tertancap pada Furi, sehingga membuat gadis itu menjerit pilu karena kesakitan.


“Dimana teman-temanku? _” Furi berkata dengan suara yang berat berkata dan seketika tergopoh-gopoh dengan menahan cucuran darah yang mengalir diperutnya saat terduduk menoleh pelan kearah Remi.


“Oh, Para Manusia Serigala, Penyihir, Vampire dan Iblis Ifrit itu ya?” kata Remi, kemudian melempar potongan kepala dari teman Furi si laki-laki berambut Api., dan wajah ketakutan dengan tatapan mata yang kosong seperti orang mati seperti itulah yang tergambar jelas pada wajah Furi ketika melihat potongan kepala itu.


“Maafkanku, Sebenarnya aku ingin berbaik hati membiarkan mereka hidup, tapi membunuh keganjilan seperti kalian adalah kewajiban kami” sambil menunjukkan wajah sedih Remi menepuk-nepuk pelan ubun-ubun kepala Furi seolah-olah sedang mengasihani.


“Sialan Kau!!!” dengan suara serak nan lirih Furi mengumpat dengan bersusah payah.


Remi menekan pelan ujung pedangnya dileher Furi dan merobek leher gadis itu yang sedang meringis kesakitan dengan matanya yang masih lembab dengan sekejap. Darah yang mengalir deras dari leher gadis itu sudah cukup untuk meryakinkan Hakki yang mennyaksikan pemandangan pilu yang mengerikan itu jika satu-satunya teman sesama keganjilan yang dimilikinya telah kehilangan nyawa.


“Fu..Furi” suara Hakki saat berkata hampir tak terdengar seakan lehermya tersengkal, dadanya terasa sesak karena tangisan yang akan muncul disaat dirinya masih terkejut dan dari kegelapan Elias yang menggengam sebuah suntikan muncul dari belakang Hakki untuk menancapkkan suntikkan itu pada lehernya.


Hakki yang sedang tak karuan dengan leher yang tertancap suntikkan masih terduduk dan tak bisa melakukan apa-apa bahkan untuk mencabut suntikkan itu atau membalas mereka berdua dengan mengeluarkan kutukan sekalipun karena kelelahan, ketakutan, kebingungan, kesedihan yang bercampur aduk telah berhasil menghancurkan dirinya sekaligus dan membuat dirinya akhirnya pasrah untuk ditangkap. Mata Hakki mengabur perlahan dan semakin lama semakin menggelap, kemudian dirinya kehilangan kesadaran.


Jam dinding yang berdetak diantara kesunyian dari balik kegelapan saat mata terpejam mampu didengar Hakki hingga membuatnya terbangun, dia melihat jika dirinya terduduk disebuah kursi dengan kaki yang terikat tali tambang  dan dengan tangan yang terborgol, kepalanya berputar demi melihat sekeliling ruangan tempat dirinya terbangun ruangan dengan dinding beton tanpa ventilasi berlantai marmer putih polos lengkap dengan jeruji didepanya sudah cukup diketahui Hakki jika ini adalah ruangan untuk mengurung dirinya setelah tertangkap pemburu keganjilan, dan dari balik jeruji dia bisa melihat jika didepannya Elias duduk disebuah sofa sambil mengoprasikan sebuah laptop dengan wajah yang serius.


“Kau orang yang sangat konyol Elias” Hakki memulai pembicaraan dengan wajah yang kesal.


Namun Elias tak menghiraukan, sehingga hanya suara ketikan dilaptopnya yang menjawab Hakki ditengah keheningan, Meski tanpa adanya tanggapn Hakki tetap berusaha mungusik Elias yang sedang fokus dan berbicara lagi “Membantu orang-orang yang akan menghabisi ras keganjilan disaat kau sendiri adalah keganjilan.”


“Aku memiliki alasan dan hutang budi pada Pak Remi” Elias akhirnya menjawab diantara suara ketikan tanganya pada laptop yang bersuara kuat.


“Pak?” Hakki terkekeh.


“Sepertinya kau juga bawahan dari Pemburu Keganjilan berkacamata itu”


Hakki menoleh kearah jam dinding yang tertempel tepat diatas Elias dan melihat jika jarum jamnya telah berada di angka 7 lewat 16 menit, meski tidak ada ventilasi di ruangannya dia bisa mengetahui sekarang sudah pagi berkat cahaya matahari dari venitlasi diluar jeruji yang berada tak jauh dari tempat Elias duduk. Karena yakin sekarang sudah pagi dan tubuh dan otaknya yang lelah pulih karena pingsan dan tertidur dalam beberpa jam Hakki tersenyum dan berkata lagi pada Elias “Aku akan mendengarkan alasanmu membantu para pemburu keganjilan disuatu tempat dan di garis waktu yang berbeda.”


“Di garis waktu yang berbeda?” Jari tangan Elias yang sedang mengetik terhenti seketika, karena pernasaran dengan apa yang dikatakan Hakki, Elias beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendekati hakki langkah yang pelan.


“Apa maksudmu Si Pahit Lidah?”


“Sebagai Si Mata Empat kau memiliki kemampuan melihat masa depan” Hakki menjawab pertanyaan Elias kemudian mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Elias yang berdiri dan menatap Si mata Empat itu dengan penuh kesombongan dan juga dengan rasa amarah, kemudian melanjutkan perkataannya “Jadi, aku Si Pahit Lidah bukan tidak mungkin bisa merubah masa lalu dengan kekuatanku.”


“Kau hanya bisa mengutuk, tidak lebih dari itu” tegas Elias dengan wajah datar sambil mengengam Erat besi jerujui tempat Hakki dikurung.


“Ya, benar” Hakki terkekeh lagi, kemudian sekejap merubah wajahnya menjadi datar dengan tatapan kosong.


“Karena itulah aku akan mengutuk diriku di masa lalu agar….” Hakki menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya bersamaan dengan jeritan yang menggema di seluruh ruangan itu “MENGALAMI KECELAKAAN SAAT AKAN DATANG KE PESTA PERNIKAHAN ANAK WALIKOTA!!”


“Apa yang kau lakukan sialan! Tidak mungkin cara seperti itu berhasil” dengan wajah yang kesal dan serius Elias menatap Hakki dengan begitu tajam kemudian meninggikan suaranya untuk berkata “Bahkan jika berhasil, Informasi yang kau dapatkan dari Adam Maher akan menghilang, karena kau tidak pernah datang ke pesta pernikahan itu untuk menemui Adam Maher!”


“Kita Lihat Saja Nanti” Hakki tersenyum tipis, saat menatap Elias dan saat itu juga Hakki merasakan dengungan mengerikan lagi untuk kedua kalinya sampai-sampai membuatnya pusing hingga lubang hidungnya mengeluarkan darah kemudian benar-benar memuntahkan darah yang sangat banyak dari dalam mulutnya hingga untuk kedua kalinya dirinya kehilangan kesadaran.


***


Bunyi beep teratur yang muncul dari EKG disebelah Hakki membuat dirinya yang dirawat disebuah rumah sakit terbangun dengan perlahan, dia bisa melihat jika infus juga selang oksigen telah menempel ditubuhnya, saat melihat keujung kaki dia menemukan disebelah kanan pahanya ada Furi yang sedang tertidur pulas.


Hakki hanya mengetahui jika dirinya dirawat di rumah sakit ini karena kecelakaan yang menimpa dirinya dan teman-temanya saat menuju ke pesta pernikahan anak walikota sehingga dirinya dan teman-temannya batal melakukan liputan disana dan dia tidak mendapatkan apa-apa dari Adam Maher karena belum sempat menemui orang yang diberitahu Furi memiliki informasi penting terkait kematian orang tuanya itu.[]