Bitter Life

Bitter Life
32. Pemulihan dan Kakak



Mata memelas dan berair karena tangisan yang meminta pengampunan pada Hakki yang mencabik-cabiknya dengan begitu brutal saat berada dalam wujud serigala muncul dari wajah Eric yang dipenuhi dengan darah dan saat ini wajah Eric yang benar-benar berantakan itu dilihat oleh Hakki tepat didepan matanya disebuah ruang yang gelap.


“Kakakku, kembalikan kakakku Hakki!”


Hakki mendengar suara seorang gadis yang menangis dan meraung dibelakangnya dan saat menoleh kebelakang dia melihat Eden yang berbadan kurus sedang terikat oleh beberapa bom ditubuhnya kemudian meledak bersama bom itu dan selain asap dan api juga ledakan itu memunculkan cipratan darah dan pecahan daging yang terbang kemana-mana.


Dan disudut ruang gelap itu dia juga melihat kakak tirinya Alicia yang menangis disana dan dikelilingi 4 pembully di SMAnya dulu, ke 4 pembully itu terlihat pucat dengan leher yang dipenuhi darah dengan wajah senang mereka tersenyum lebar pada Hakki, kemudian dari kejauhan dengan nada tinggi ke 4 orang itu berkata serentak.


“Kau sudah seenaknya membunuh kami, maka kami juga dengan seenaknya akan membunuh satu-satunya orang berharga bagimu yaitu kakakmu dengan memecahkan kepalanya!!”


Hakki melihat jika keempat orang itu bersiap membunuh Alicia dan mengangkat balok kayu yang muncul entah darimana ditangan mereka untuk menghantamkannya kekepala Alicia.


“Jangan!” Hakki menjerit.


“Kumohon jangan” kata Hakki lagi saat beberapa kali balok kayu dari keempat orang itu menghujam kepala Alicia.


Mendengar Alicia menjerit kesakitan Hakki bergegas untuk berlari sekencang-kencangnya menuju tempat Alicia diserang, dengan jeritan dia memanggil kakak tirinya itu.


“Kak Alicia!”


Kelopak mata Hakki terbuka lebar dan terbelalak saat menatap lampu putih dengan plafon yang berwarna sama saat tersentak dari mimpi buruk tersebut, tubuhnya yang terasa sakit saat terbangun perlahan-lahan membaik dan menjadi sangat nyaman dan seperti terlahir kembali seakan-akan tubuhnya sedang diperbaiki, saat menoleh kekiri dia dapat melihat Alicia sedang menyentuh tubuhnya dengan lembut dengan kedua tangannya yang memunculkan cahaya putih sehingga Hakki tahu jika Alicia lah yang sedang  menyembuhkan tubuhnya dengan kekuatan naga ajaib yang Alicia dapatkan.


“Syukurlah” kata Alicia riang, saat mengetahui Hakki akhirnya bangun dari pingsan yang dialami adik tirinya itu selama seharian.


Begitu pula Hakki yang memiliki rasa syukur dihatinya jika kakak tirinya masih hidup dan tidak mengalami hal seperti yang ada didalam mimpinya karena khawatir akan mendapat karma karena telah membunuh saudara orang lain dan memunculkan sedikit rasa bersalah dihatinya karena mimpi itu, tapi untuk saat ini dia langsung membuang jauh-jauh pemikiran tentang Eric dan adiknya itu sehingga hanya bisa terpaku dengan sosok kakak tirinya yang masih berdiri disampingnya dan menghela nafas serta bersyukur karena tidak kehilangan orang berharga lagi setidaknya untuk sekarang.


“Tubuhku terkena dampak ledakan?” Hakki bertanya saat teringat jika rasa panas dan beberapa benda yang menghujam tubuhnya dia rasakan sebelum dirinya kehilangan kesadaran saat bom dari tubuh adiknya Eric menghancurkan rumah tempat terjadinya tragedi kota 68, dan sekarang meski dampak yang didapatinya itu sempat memberinya rasa sakit saat terbangun namun dengan cepat tergantikan dengan kesejukan yang nyaman untuk memulihkan tubuhnya itu berkat sihir dari unsur tubuh astral naga putih yang digunakan oleh Alicia.


Alicia yang matanya terfokus pada tangan yang memberikan sihir penyembuhan di tubuh Hakki masih bisa sesekali menoleh pada adik tirinya itu untuk berkata “Hanya terkena percikan pecahan bangunan, polisi dan ambulan menyelamatkan kau dan pak Nala kemarin siang.”


Cahaya putih ditelapak tangan Alicia perlahan meredup begitu pula efek nyaman dan sejuk ditubuh Hakki yang perlahan menghilang namun tidak mengembalikan rasa sakitnya melainkan merasa sehat dan kuat setelah cahaya itu meredup, Alicia pun melepaskan kedua telapak tangannya dari tubuh Hakki kemudian berkata pelan “Kau terkena bahaya karena mencari identitas pembunuh ibu dan ayah.”


Alicia menghela nafas dan berkata dengan nada yang begitu pelan juga lembut “Tapi… meski begitu aku tidak akan melarangmu untuk terus mencari identitas pembunuh ibu dan ayah.”


“Kenapa?” tanya Hakki yang sedikit terkejut mengetahui reaksi Alicia yang pagi tadi menangis karena mengetahui apa yang dirinya lakukan dan sekarang seakan menerima begitu saja atas apa yang telah dilakukan Hakki selama ini, dan saat itu juga Hakki merubah posisi dari berbaring menjadi duduk bersandar karena tubuhnya yang pulih dengan cepat sudah bisa digerakkan dengan lancar.


Alicia menatap tajam mata Hakki dengan wajah yang begitu serius dan dengan tegas berkata “Asalkan kau berjanji jika semua ini selesai kau mau dipenjara dan tidak membunuh lagi.”


“Ya, aku berjanji” kata Hakki saat kepalanya mengangguk pelan, kemudian memerhatikan kursi roda Alicia tempat kakak tirinya itu duduk yang menjawab kenapa Alicia bisa ada ditempatnya dirawat.


“Setelah itu aku dan pak Nala ketika kau dipenjara nanti akan berusaha mengurangi masa tahananmu supaya kau bisa hidup normal kembali” Alicia berkata dan memberikan senyuman tipis pada Hakki.


Alicia beberapa kali menepuk Pundak Hakki seraya berkata “Karena itu mulai sekarang dan seterusnya aku akan menjadi bagian dari tim pencarian pembunuh orang tua kita sekaligus sebagai penyembuh didalam tim.”


Hakki memutar kepala juga bola matanya karena tidak mengetahui dimana Nala yang telah menarik tubuhnya demi menghindari ledakan bom kemarin siang dan sedikit merasa khawatir jika detektif kepolisian itu terluka parah. “Pak Nala dimana?” Hakki bertanya.


Tangan Alicia menunjuk arah dinding yang merupakan ruangan sebelah kemudian berkata “Diruangan _”


“Hakki, kau baik-baik saja?”


Namun perkataan Alicia itu terpotong saat Nala menunjukkan dirinya ketika bertanya tentang kabar Hakki dan langsung masuk melewati pintu ruangan Hakki yang berada dibagian unit gawat darurat itu.


Hakki dan Alicia langsung menoleh pada Nala dengan air muka heran karena seakan bertanya-tanya mengapa bisa dengan santainya Nala berjalan dan berdiri tegap seperti yang dilihat mereka, hingga menciptakan keheningan beberapa saat diantara mereka bertiga.


“…Satu jam yang lalu setelah disembuhkan kakakmu aku langsung bisa berjalan seperti ini” Nala berkata dengan volume suara kecil yang cukup untuk memecah keheningan disana.


Hakki mengangguk karena mengerti penjelasan Nala dan Alicia mengangguk juga karena mengerti jika Nala seperti itu karena penyembuhan yang dilakukannya namun meski begitu dia merasa aneh karena seperti yang Hakki alami sekarang seharusnya orang yang baru pulih membutuhkan istirahat dan pengembalian energi yang tentunya tidak terlihat terlalu bersemangat sepert Nala.


“Pak Nala tolong kembali keruanganmu, kau masih butuh perawatan” seorang suster menyusulnya dari belakang.


“Sebentar, 15 menit saja” Nala berkata dan menunduk-nundukkan kepalanya seperti meminta maaf saat meminta izin pada suster itu.


Melihat Nala yang serius meminta izin seperti itu, suster itu mengangguk kemudian berkata “Baiklah 15 menit…”


“Aku sudah memberikan pisau itu kebawahan dan informanku supaya segera diselidiki” Nala berkata pada hakki dan mendekati anak muda itu.


“Jadi tenang saja, Hakki” Nala sudah tiba disebelah Hakki dan beberapakali menepuk-nepuk pundak Hakki sembari tersenyum.


Hakki menoleh pada Nala dan memasang wajah yang serius untuk berkata “Aku juga mendapatkan petunjuk”


“Nama pembunuh pada tragedi itu adalah Gael dia adalah otak dari semua pembunuhan itu, memaksa Eric dan Adiknya yang merupakan keganjilan untuk melakukan pembunuhan bersamanya demi kesenangan” lanjut Hakki saat memberitahu Nala disebelahnya dan sesekali menoleh pada Alicia supaya kakak tirinya itu terlibat dalam pembicaraan.


Hakki mememerhatikan Nala yang berjalan dan melihat sekeliling ruangan Hakki untuk mencari kursi dan saat Nala telah menemukannya Hakki melanjutkan perkataannya.


“Dia seorang petinggi dikepolisian”


“Petinggi dikepolisian?” Nala meletakkan kursi plastik bewarna hitam yang ditemukannya kemudian dengan perlahan duduk disana dan bertanya karena tidak pernah mendengar nama yang Hakki sebutkan ituitu dikepolisian.


“Ya, dan dia juga pemburu keganjilan” Nala menjawab.


“Pemburu keganjilan, apa itu?” tanya Nala lagi saat keningnya mengerut juga saat kedua tangannya tersilang diantara dadanya.


“Kau belum tau rupanya” Hakki berkata dengan suara yang mirip berbisik kemudian menghela nafas sesaat dan menegapkan posisi duduknya kemudian dengan meninggikan volume suaranya dengan tegas Hakki berkata “Kalau begitu aku akan memberitahumu dan juga keterkaitan Elias yang kukatakan saat itu dengan pemburu keganjilan yang kusebut ini.”[]