Bitter Life

Bitter Life
12. Pelaku dan Menutupi



Dari bawah Nala dan Elias menatap begitu lama jendela gedung yang terbuka lebar di atas sana yang mereka duga cukup muat untuk lewatnya satu tubuh manusia.


Setelah menatap jendela Nala beralih ke 2 tubuh mayat pejabat rekan Adam Maher itu, mengambil sarung tangan disakunya yang selalu dia bawa kemudian dengan sedikit berusaha memanjangkan tangannya kedalam kotak sampah setinggi dadanya untuk menyentuh leher kedua mayat itu yang dipenuhi dengan darah untuk mengetahui suhunya.


“Masih hangat….” Nala bergumam kemudian memerhatikan sepasang tangan kedua mayat itu yang memangku kepala mereka yang telah terputus sambil duduk bersila dalam kotak sampah besi berukuran sedang yang hampir tidak berisi sampah dengan begitu rapi.


“Mereka tewas beberapa menit lalu” Nala melepas sentuhan di leher mayat itu.


“Diantara keramaian seperti ini membunuh kemudian memotong kepala mereka dan membentuk mayatnya seperti itu dalam waktu yang begitu singkat juga meletakkan mereka disini tanpa disadari orang banyak, menurutku pembunuhnya seorang profesional” Elias berkata sembari memerhatikan Nala yang menyudahi tindaknnya.


Nala melepas sarung tangannya dan meletakannya kembali kedalam saku “Tapi membuang mayat mereka disini sangat ceroboh.”


Remi yang baru saja selesai mendokumentasikan mayat itu dengan kameranya berjalan perlahan mendekati Elias dan Nala. “Apa Si Pahit Lidah yang melakukan ini?”


Nala menoleh dengan begitu cepat kearah Remi yang tiba-tiba bergabung kedalam obrolan kemudian menjawab “Sepertinya ini murni pembunuhan, jika Si Pahit Lidah yang melakukannya dia akan membuat pembunuhan ini seolah terjadi karena kecelakaan”


“Lihat saja leher mereka yang terpotong dengan rapi, itu sudah jelas seseorang memotongnya dengan benda yang sangat tajam” Elias menunjuk leher kedua mayat itu.


Remi yang mengangguk untuk menanggapi perkataan Elias seketika merubah gerakan lehernya untuk berputar ketika menoleh pada Nala yang melangkah cepat kearah belakang untuk menghampiri orang-orang serta wartawan yang menonton penemuan mayat itu.


“Tidak ada yang melihat orang yang mencurigakan di sekitar sini?” Nala memerhatikan orang-orang disekitar sana dan saat melihat sekumpulan satpam dirinya lebih fokus memerhatikan keberadaan mereka karena mengetahui satpam disini ikut bertanggung jawab pada keamanan gedung dan pestanya.


Seorang satpam yang memiliki tubuh paling kecil dan terlihat paling muda diantara para satpam itu mengangkat tangan kanannya dengan begitu pelan karena ragu dan kurangnya keberanian.


“Ji..jika di sekitar tempat sampah ini aku tidak melihatnya, tapi sekitar setengah jam lalu di pintu masuk utama saat pesta berlangsung ada remaja berambut pirang yang membawa tas dan berpakaian lusuh menerobos masuk dengan terburu-buru”satpam muda itu berkata sambil menunduk karena tidak memiliki keberanian menatap wajah Nala.


“Kau tidak mengejarnya?” tanya Nala.


Satpam muda itu mengangkat mukanya dengan pelan untuk meyakini Nala kemudian berkata “A..aku mengejarnya bahkan mencarinya namun tidak menemukan anak mencurigakan itu, dan setelah 15 menit mencari saat keluar lagi, di tempat sampah ini kami menemukan mayat ini."


Setelah mendapat informasi dari satpam itu tatapan Nala mulai berjalan kearah satpam lainnya yang terlihat  lebih senior dan memiliki badan besar yang sesuai untuk bekerja dibagian keamanan dan mencari informasi lagi dari mereka “Tidakkah ada yang menyadari jika ada yang aneh saat mayat ini muncul?”


“Tidak,kami bermain kartu sebagian lagi bermain do..do..mino….” Seorang satpam menjawab perkataan Nala dengan menundukkan kepalanya sembari sedikit menyikut lengan satpam muda bertubuh kecil tadi.


“Bersantai di acara orang yang sangat penting di kota ini!?” Nala menatap nanar satpam itu ketika amarah dari hilangnya jejak wartawan berita rakyat bernama Hakki, Elias yang tidak bisa menggunakan kekuatannya, serta perkataan satpam di depannya itu benar-benar terkumpul memenuhi otaknya.


Nala menoleh kearah pos para satpam di dekat sana yang terdapat tumpukkan kartu remi dan domino yang berserakan serta piring yang terdapat beberapa sisa kue juga gelas-gelas berisi ampas kopi yang posisinya tak beraturan, melihat pemandangan itu Nala hanya bisa menggeleng dan berkali-kali mengelus dada.


“Aku tidak mengerti kenapa negeri ini selalu mempekerjakan orang seperti kalian” Nala menghela nafas perlahan dan menyisir rambut lurusnya menggunakan jari dengan begitu kuat.


Nala mengambil smarthphone di saku jas hitamnya kemudian bergegas menghubungi anggota kepolisan lain yang bisa membantunya disini.


Kemudian Nala yang masih tersulut Emosi sembari menempelkan smarthphone ditelinganya itu dihampiri Elias dan Remi.


“Aku dan Remi akan kembali kedalam untuk mencari wartawan berita rakyat itu, aku harus lanjut memastikan wartawan berita rakyat itu benar-benar Si Pahit Lidah atau bukan…” Elias berkata.


Beberapa polisi lain yang hadir di pesta baru saja datang menghampiri mayat itu, diantara banyaknya polisi yang berdatangan itu Elias melangkah mundur disaat tersempil oleh para polisi dan dengan suara yang cukup keras dia berkata “…..agar kasus Si Pahit Lidah bisa selesai dengan cepat.”


“Tunggu sebentar aku ikut kalian dan akan menyerahkannya ke tim penyidik” dengan cepat nala berkata untuk menanggapi perkataan Elias itu namun dia tidak bisa mengejar Elias yang akan masuk gedung pesta itu lagi karena telepon di smarthphonenya sudah tersambung.


“Tidak apa pak Nala, mungkin mereka akan membutuhkanmu, jadi serahkan saja tugas menginvestigasi wartawan berita rakyat itu pada kami” Remi tersenyum kemudian melangkah cepat demi memasuki gedung lagi.


“Tunggu Elias!” Nala memanggil.


Elias memberhentikan langkahnya kemudian menoleh.


“Setidaknya biarkan aku mempersilahkan polisi disini membantu kalian menyergap dan menginvestigasinya!” dari kejauhan Nala berkata dengan suara yang kencang dan saat itu juga sebagian polisi yang berada disana dia pinta untuk menemani Nala dan Remi yang memasuki gedung.


Dan akhirnya Nala hanya bisa diam memaku saat melihat punggung Elias dan Remi yang meninggalkannya ditempat ini dengan segera.


Melihat beberapa polisi yang menuruti kepala divisi detektif kepolisian untuk menemaninya menyergap wartawan  berita rakyat yang diduga Si Pahit Lidah membuat Elias terlihat bersemangat sambil tersenyum Elias juga berkata dengan suara yang kencang “Terimakasih Pak Nala!”


Setelah menoleh untuk memerhatikan para polisi di belakangnya yang bergabung dengan mereka Remi terusik oleh ekspresi wajah Elias disampingnya yang tadinya memasang wajah ceria, penuh dengan senyuman, serta bersemangat seketika berubah menjadi wajah datar yang dipenuhi dengan kekosongan tampak jelas dari bola matanya.


“Semuanya sesuai penglihatanmu?” Remi tersenyum.


“Ya” Elias mengangguk tanpa ekspresi.


Remi menyeringai lebar sambal berjalan cepat mendahului Elias, menoleh kepada detektif itu.


“Sepertinya aku harus berterimakasih pada pembunuh 2 pejabat itu” Remi terkekeh.


Berbeda dengan Remi Elias menanggapi perkataan itu dengan wajah yang serius.


“Kenapa?”


“Aku jadinya tidak perlu bersusah payah membuat Nala terbunuh demi menghalanginya ikut mengakhiri misi menangkap Si Pahit Lidah” Remi memainkan jari-jemarinya.


“Benar kan?” Remi masih menyeringai dan menatap Elias dengan begitu tajam.


“Ya benar, dari awal sesuai dengan penglihatanku aku hanya perlu memanfaatkannya untuk memberi bantuan pada kita dengan mengumpulkan para polisi disini agar lebih mudah menyergap Si Pahit Lidah” Elias menundukkan kepalanya.


“Dia tidak perlu ikut mengakhiri misi ini” kata Elias lagi dan dengan begitu tajam matanya tertuju pada orang-orang yang memenuhi sekitar Hakki karena disana akan dimulainya pertarungan


Kaira terdiam sesaat ketika menyadari jika orang yang dia goresi lehernya saat dilihat ternyata adalah teman SMA nya, tidak ada yang berubah pada air mukanya dan Kaira pun memulai pembicaraan kepada orang yang dikenalinya itu dengan biasa saja.


“Maafkan aku Hakki”


“Aku dibayar untuk membunuh siapa saja orang yang akan membunuh Adam Maher” Kaira menarik pisaunya untuk memberi Hakki ruang bergerak agar teman SMA nya itu memiliki kesempatan bertarung dengannya sebelum dihabisi.


Sembari mengusap sedikit darah goresan di lehernya Hakki memerhatikan seksama kuda-kuda beladiri Kaira yang begitu rapi, tegap dan tampak kuat membuatnya cukup bisa menilai jika gadis itu sudah terlatih.


“Tapi aku tidak boleh mati dulu sampai aku bisa mendapatkan informasi dari klienmu” dengan setengah hati Hakki yang sedikit dihantui rasa takut akan dibunuh justru ikut memasang kuda-kuda yang dicontohnya dari dari video beladiri dari internet untuk melawan gadis itu.


Tentu saja dari kuda-kuda itu Kaira bisa menilai jika Hakki adalah seorang amatir dalam pertarungan, karena tahu Hakki amatir Kaira membatalkan niat untuk memberi Hakki kesempatan bertarung dan memilih untuk tetap membunuh Hakki demi pekerjaan, setelah beberapa kali memainkan pisau yang menjadi senjata favoritnya di jari-jemari, dengan nafsu membunuh yang serius ujung pisau yang digenggamnya dia arahkan dengan begitu cepat ke leher Hakki.


Tusukan pisau dari Kaira hanya berhasil menghujam lengan bawah Hakki, berkat reflek yang cepat serta teknik yang ditiru dari video yang sering di ditontonnya untuk menghadapi situasi seperti sekarang Hakki berhasil menyelamatkan dirinya dari kematian.


Pisau yang tertancap di lengan bawah kanannya, membuat Hakki si pembunuh para pembunuh itu meringis kemudian amarah pun membuatnya menatap Kaira dengan begitu tajam dan dipenuhi keseriusan, saat itu juga dia benar-benar membulatkan tekadnya untuk siap melawan bahkan akan mengutuk Kaira jika gadis itu menyerang lagi sekalipun gadis itu adalah orang yang disukainya.


Namun ketika Kaira dengan kuatnya menarik pisau yang tertancap dilengannya itu, Hakki merasakan sakit tak tertahankan di tangan kananya hingga membuatnya tergelincir dan terjatuh kebelakang, Hakki terduduk dan begitu cemas saat melihat tangan kirinya mati rasa juga gemetaran bercucuran darah.


Kaira melangkah pelan kearah Hakki, saat itu adalah pertama kalinya Hakki melihat wajah Kaira dengan ekpresi datar bersama tatapan mata yang kosong, sejenak Hakki terkejut seakan tak mengenal wajah Kaira, nafsu membunuh bisa dirasakan oleh Hakki saat gadis di depannya itu mengangkat pisaunya.


Keringat dingin muncul di sekujur tubuh Hakki, dia ketakutan karena sadar tangan kanannya yang luka serta tangan kirinya yang ia gunakan untuk menutup cucuran darah tidak bisa menahan pisau itu lagi dan dengan cepat ujung pisau itu menuju leher Hakki Kembali.


“Berhentilah Bergerak Untuk Sementara!” Hakki mengerang dengan mengeluarkan kalimat kutukannya karena terdesak diantara sakit pada tangan kanan yang dia alami.


Bersama dengan kliennya Kaira pun juga tidak bisa bergerak berkat kutukan dari Hakki, wajah datar yang digunakannya berubah saat gadis itu terperangah karena kebingungan. Rasa penasaran akan siapa sebenarnya Hakki yang memiliki kekuatan luar biasa seperti ini datang di pikiran Kaira sehingga membuat gadis itu menatap lama teman SMAnya karena penasaran.


“Maafkan aku juga Kaira!” Hakki berkata saat membalas tatapan Kaira.


“Gadis itu tidak bisa bergerak?”


Suara dari orang-orang yang berkerumun untuk melihat pertarungannya dengan Kaira terdengar oleh Hakki.


“Kenapa dua orang itu tidak bisa bergerak?”


“Mereka tidak bisa bergerak, setelah laki-laki itu mengatakan sesuatu?”


Suara orang-orang semakin bersautan karena membicarakan pertarungan yang dilakukan Hakki.


“Aneh”


“Mengapa berbagai kejadian mengerikan dan aneh ini bisa terjadi di pesta ini?” Seseorang diantara kerumunan terisak.


Hakki memerhatikan seksama kerumunan yang mengelilinginya dan menemukan jika semua orang sekarang benar-benar melihat dan memerhatikan seksama dirinya yang terluka, bahkan ada orang yang masih merekamnya dengan smarthphone sejak pertarungan dengan Kaira tadi.


Rasa penasaran, cemas, panik yang bercampur diantara kerumunan orang-orang yang memenuhi gedung itu menyenggol perasaan Hakki, dia juga penasaran kenapa rencananya tidak berjalan lancar, cemas karena kekuatannya diketahui orang-orang sehingga membuatnya panik dengan situasi sekarang, kepanikannya bertambah saat beberapa polisi yang masih mengenakan jas pesta melesak masuk diantara kerumunan orang untuk mendekatinya.


Dalam kepanikan itu Hakki berpikiran kenapa dengan bodohnya dia datang ketempat yang menimbulkan banyak masalah demi sebuah informasi yang belum tentu akan cepat menemukan pelaku pembunuhan kedua orang tuanya.


Hakki menatap langit-langit gedung yang dihisasi lampu mewah yang bergantungan.


“Aku tidak boleh menyesali tindakanku, karena ini demi Furi juga” Hakki yang tadinya membeku diantara kerumunan orang mulai melangkahkan kakinya berkat wajah Furi yang terlintas dipikirannya.


Saat melewati Kaira, Hakki menoleh kemudian menatap penuh amarah pada gadis itu “Diriku sendirilah yang memutuskan untuk menanggung resiko berkat dorongan dari wanita sialan ini.”


Hakki mendekati Adam Maher dengan berjalan cepat, dengan tatapan kesal dia berhasil membuat Adam Maher mengeluarkan keringat dingin karena ketakutan dan berusaha meronta-ronta untuk melarikan diri meskipun tindakan itu sia-sia.


“CEPAT KATAKAN SEMUA YANG KAU KETAHUI!” Hakki berteriak tepat didepan wajah Adam Maher.


Namun meskipun ketakutan Adam Maher memilih untuk tidak mengatakan apapun.


Melihat begitu keras kepalanya Adam Maher, Hakki memilih untuk menggunakan kekuatannya “Atau Kau Akan Menjadi Batu Ditempat Ini Untuk Selamanya”


Adam Maher panik saat merasakan kaki dan tangannya yang tidak bisa digerakkan itu perlahan-lahan mengeras, kulitnya berubah menjadi abu-abu tua, dan pria itu menyadari jika kutukan yang diucapkan Hakki itu mulai menjalar untuk menutupi seluruh tubuhnya, dengan mata yang berkaca-kaca dan sedikit meringis dia berkata “Baiklah-baiklah, tapi jika aku mengatakannya kau harus membatalkan kutukan ini.”


“CEPAT KATAKAN!” Hakki membentak karena pria itu masih saja bertele-tele.


Adam Maher meneguk liur kemudian mengatur nafasnya.


“O..orang yang kuberi akses diperumahan Loid itu adalah pelaku pembunuhan dari 8 mayat yang ditemukan disana, dia adalah orang penting di kota 33, Namanya __”


Suara tembakan pistol muncul beberapa kali dari arah para polisi yang mendekati Hakki dan membuat Hakki tidak bisa mendengar sepenuhnya apa yang dikatakan Adam Maher.


“Dia adalah seorang__”


Berkali-kali suara tembakan muncul mengalahkan suara Adam Maher karena para polisi dengan pistol mereka sedang menghalangi seseorang yang mencoba menerobos dan menyerang mereka untuk mendekat ketempat Hakki.


“__Hanya itulah yang kuketahui”


Perkataan akhir Adam maher hampir tidak dihiraukan Hakki saat dia lebih fokus melihat remaja berambut pirang dengan tas ransel dibahu serta berpakaian lusuh yang terlihat lebih muda darinya sedang mengamuk dan membunuh beberapa polisi yang berjarak tidak jauh dengannya.


Amukan remaja itu akhirnya memecahkan susunan kerumunan yang mengitari Hakki hingga akhirnya jeritan orang-orang muncul dari kekacuan yang dibuat remaja dengan kekuatan tidak normal itu hingga membuat Hakki benar-benar tak lagi mendengarkan Adam Maher.


“Apalagi ini?” saat keluhan dalam hatinya itu muncul, saat itu juga dia melihat jika remaja yang mengamuk itu terbang secepat kilat kearah Adam Maher.


“Dia akan mengirim orang untuk membunuhku dan kedua rekanku demi menutupi apa yang dilakukannya kepada orangtuamu__” Setelah menyelesaikan perkataannya kepala Adam Maher buyar ketika remaja berambut pirang tadi mendaratkan tendangan memutar di udara diwajahnya dengan kekuatan besar yang diluar nalar.


Hakki yang mendapat kejutan dari remaja itu Hanya bisa terdiam dan membeku ketika melihat kepala Adam Maher yang hilang, digantikan dengan semburan darah yang juga berceceran dilantai bersama daging dari kepala orang tua itu.


“Tidak, tidak! bukan orang yang dikatakan keparat ini pelaku pembunuhan orang tuamu” remaja itu berkata setelah mendaratkan kakinya yang dipenuhi darah dilantai.


“Pe..pelaku pembunuhannya adalah aku!” Remaja itu berkata pelan sambil menggigil.


Remaja itu menunjuk-nunjuk mayat Adam Maher yang tergeletak dibawah kakinya dengan wajah yang ketakutan “Jangan dengarkan perkataan dia!.”


“Dia berbohong…” Remaja itu menatap Hakki yang masih terdiam dengan penuh kecemasan.


Remaja itu ikut terdiam untuk beberapa saat, kemudian menjerit “DIA BERBOHONG!”[]