Bitter Life

Bitter Life
26. Penyelamat dan Wadah



Suasana kota semakin gelap dan sunyi ketika dini hari telah tiba namun saat itu tiba-tiba malam yang gelap menjadi sangat terang karena sekelebat cahaya putih yang mampu menyinari seluruh lebar jalan raya besar kota 33 tiba-tiba muncul dan meluncur lurus kearah rumah sakit umum kota 33, karena jalanan sepi dan cahaya itu meluncur sangat cepat hanya sedikit orang yang melihat fenomena aneh itu sehingga tidak ada yang heboh dengan kemunculannya.


Cahaya putih itu masuk kedalam rumah sakit yang ditujunya dan dari kaca jendela yang ditembusnya cahaya putih itu masuk kesebuah kamar dan setelah berhasil masuk seketika cahaya itu mengecil seukuran cahaya senter dan berputar-putar hingga akhirnya memunculkan seorang gadis berpakaian serba putih dengan noda darah dan   dengan rambutnya yang putih juga.


Wajah cantik seorang gadis yang berasal dari cahaya putih tadi rusak karena memiliki beberapa luka sayatan dan memar di wajahnya, begitu pula lengan badan dan kakinya yang memiliki banyak luka dan darah, tetapi dia tidak menghiraukan tentang apa yang dialaminya dia hanya berjalan dengan tertatih menuju dipan seorang pasien koma yang berada didepannya.


“Pemburu keganjilan sialan, memburuku dengan jumlah anggota yang sangat banyak” sembari berjalan gadis berambut putih itu berkata dalam hati.


“Hanya untuk menghabisi naga lemah sepertiku, mereka sangat berlebihan”


Gadis berambut putih itu mengakhiri perkataan dalam hatinya dengan meringis kesakitan.


“Alicia Alenea” gadis berambut putih itu membaca nama pada plakat identitas yang berada diujung kaki pasien.


“Kakak tiri, dari Si Pahit Lidah” gadis berambut putih itu mengelus rambut hitam halus yang panjang dari pasien Bernama Alicia tersebut.


Gadis berambut putih itu sesaat memegangi dagunya seraya berpikir tentang kemungkinan kedepan yang akan dia dapatkan terkait rencana yang akan dilakukannya “Kurasa memasuki tubuhnya bukan hal yang buruk.”


“Jika gadis ini menggunakan kekuatanku untuk membantu meningkatkan kekuatan Si Pahit Lidah dan melawan pemburu keganjilan yang semakin gencar memburu kami” kata gadis berambut putih itu lagi sembari menggerakan tangannya dan membuat gerakan tangan seperti sedang berdoa.


“Maka keberadaan kami sebagai keganjilan tidak akan hilang bahkan mungkin kami bisa mencapai kejayaan” kata gadis berambut putih itu lagi saat sekujur tubuhnya perlahan menjadi cahaya putih kembali.


Setelah gadis berambut putih itu menjadi satu bulatan cahaya putih seukuran bola kaki dia mengarahkan bentuk dirinya yang menjadi cahaya putih itu menembus dada Alicia dan memasuki tubuh gadis itu.


Sang gadis pasien koma bernama Alicia itu terbangun disebuah padang rumput yang sangat luas seakan tak memiliki ujung dibawah langit berawan dengan matahari yang menyinarinya dengan lembut dan tidak memberikan rasa panas karena kalah dengan kesejukan di padang rumput itu, Alicia yang bingung dengan tempat indah ini yang mirip seperti didalam mimpi bergumam “Dimana aku?”


“Ini alam bawah sadar mu Alicia” gema suara seorang gadis muncul dari langit dan saat Alicia mencoba mendongak untuk melihat sumber suara itu dia menemukan seekor naga putih besar melayang dilangit dan menuju kearah tempatnya berdiri kemudian mendarat pelan dihadapannya.


Alicia terperangah melihat sosok raksasa dari naga yang dilihatnya, naga itu tidak memiliki sisik melainkan bulu mirip seperti bulu burung yang berwarna putih bersih, naga putih dengan mata biru itu terlihat sangat cantik dan menakjubkan saat dilihat dan setelah terdiam beberapa saat karena terpana Alicia yang bingung kenapa ada naga didalam alam bawah sadarnya dan siapa naga yang memberitahukan jika tempat ini adalah alam bawah sadar tersebut, memberanikan dirinya untuk bertanya “Kau siapa?”


“Aku Drakon Kholkikos salah satu legenda yunani” naga putih itu menjawab dengan ramah dan ceria.


“Kikos?” Alicia memiringkan kepalanya karena merasa aneh dengan nama yang tak biasa dari naga itu.


Naga yang namanya disebut bagian ujungnya saja itu mengerti jika Alicia kesulitan memanggil nama lengkapnya menyetujui jika Kikos menjadi panggilannya.


“Ya, kau boleh memanggilku begitu”


Sekali lagi Alicia memerhatikan naga yang dipanggilnya Kikos itu karena masih tak percaya di alam bawah sadarnya dia melihat naga namun terasa nyata dan anehnya bisa berbicara.


Melihat Alicia yang sepertinya tidak bisa fokus berbicara dengannya saat masih teralihkan untuk  melihat bentuk naganya karena begitu penasaran, Kikos si naga putih itu memilih menggunakan wujud manusianya dan seketika berubah menjadi gadis berambut putih yang terluka saat menemui Alicia yang koma tadi namun bedanya kali ini lukanya sudah menghilang sehingga membuatnya percaya diri berbicara dengan Alicia yang baginya sangat manis dan cantik, kemudian Kikos tersenyum ramah seraya berkata “Tunggu aku akan berbicara denganmu menggunakan wujud ini.”


“Sebentar lagi kau akan bangun dari koma yang kau alami” Kikos lanjut berkata sembari berjalan memutari Alicia.


Kikos menghentikan langkah kakinya dan berhenti dihadapan Alicia kemudian mengambil nafas untuk menjelaskan sesuatu pada gadis itu.


“Ya, berkat tubuh astralku yang memiliki unsur sihir peningkatan materi alam yang bergabung dengan tubuh kritismu otakmu yang cedera terselamatkan berkat sistem penyembuhan dan regenerasi tubuh yang dtitingkatkan sihir peningkatan materi alam tersebut”


Mendengar penjelasan Kikos itu membuat Alicia sedikit mengerutkan kerningnya karena menambah kebingungan dari Alicia kenapa ada sosok gadis jelmaan naga yang tak dikenal menyelamatkan tubuhnya sehingga membuatnya bertanya “Tapi kenapa?”


“Aku juga mendapatkan keuntungan dari tubuhmu” ujar Kikos setelah membaca air muka Alicia yang penasaran kenapa gadis naga sepertinya membantu gadis biasa itu.


“Saat ini tubuh asliku rusak karena ulah musuhku, namun dengan sihir aku bisa merubah wujudku menjadi bentuk astral.”


Saat menjelaskan Kikos merubah dirinya menjadi bentuk cahaya yang disebutnya wujud astralnya dan kembali menjadi manusia.


“Tetapi masalahnya jika aku kembali ketubuh yang rusak dan sekarat itu aku akan mati dalam hitungan waktu saja dan jika selalu hidup dengan wujud astral maka lama kelamaan wujud astral yang merupakan roh dari tubuhku ini akan kehilangan bentuk, karena roh akan terpecah menjadi partikel alam jika tidak ada wadah dan tentunya membuatku lenyap.”


Kikos mengakhiri penjelasannya dan mengatur nafasnya karena berbicara dengan sangat panjang juga menggunakan tempo yang lumayan cepat, agar semuanya bisa tersampaikan karena tidak ada waktu lagi karena tempat dimana mereka berdir perlahan-lahan lenyap menjadi serpihan debu dan Kikos tahu jika hal tersebut menandakan sebentar lagi Alicia akan bangun dari koma panjangnya.


“Tubuhku adalah wadahnya?” tanya Alicia yang tidak mengerrti arti dari lenyapnya tempat itu.


Kikos menanggapi pertanyaan Alicia itu dengan mengangguk kemudian menambah lagi penjelasannya dengan berkata “Satu lagi… berkat wujud astralku ditubuhmu kau juga mendapatkan kekuatan sihir peningkatan materi alam yang sama sepertiku_”


Sekejap semua yang ada disekitar Alicia menghilang bahkan Kikos yang tadi ada didepannya kali ini yang menemaninya hanya gelap tak berujung, namun dibalik kegelapan itu dia mendengar gaung suara beberapa perempuan saling berbicara dan tak lama kemudian Alicia membuka kelopak matanya dengan pelan untuk keluar dari kegelapan itu dan melihat jika 1 orang dokter bersama 2 perawat lainnya sedang mengecek dan mengurus tubuhnya.


Sang dokter yang paling dekat dengan wajah Alicia menyaksikan jelas peristiwa terbukanya sehingga membuat dokter itu tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca karena terharu, dua perawat disana pun tampak bahagia menyambut Kaira yang bangun dari koma yang memakan waktu 2 tahun lamanya.


Setelah beberapa saat diurus dokter dan 2 perawat itu Alicia dipersilahkan untuk dan bersandar demi mengganti suasana oleh Dokter dan karena urusan ketiga orang itu selesai di ruang Alicia mereka pun bergegas kembali, namun langkah mereka terhenti saat melihat gestur tubuh Alicia yang terlihat ingin bertanya suatu hal dan Alicia pun bertanya “Dokter, aku ingin menghubungi ayah, ibuku serta_”


“Ayah ibumu…” dokter tersebut memotong perkataan Alicia dan seketika air mukanya berubah menjadi sangat sedih, dua perawat itu seakan memberi isyarat pada dokter agar tidak usah mengatakan apa-apa pada Alicia yang baru saja sembuh namun dokter itu menggeleng karena baginya perkataannya ini harus disampaikan.


Dokter itu menyampaikan kenyataan pahit tentang semua kronologi Ayah dan Ibu tirinya yang menjadi korban pembunuhan dalam Insiden kota 68, sampai-sampai membuat Alicia menangis pilu dihadapan mereka diantara senguk tangisnya Alicia mencoba berkata dengan tempo pelan.


“Apa adikku juga dibunuh_”


Perkataan Alicia terputus ketika gadis itu terperangah melihat Hakki yang tiba didepan pintu ruang rawatnya secara mengejutkan.


“Hakki!?” Alicia berkata dan tersenyum bahagia diantara tangisannya.


“Kak Alicia” balas Hakki yang masih terengah-engah karena baru saja selesai terburu-buru berlari dari gerbang rumah sakit sampai keruang rawat Alicia ini.


“Hakki!” Alicia melebarkan tangannya seakan meminta Hakki memeluknya, Hakki dengan cepat memeluk lembut kakak tirinya itu dan Hakki kemudian menangis seperti anak kecil didalam pelukan itu diikuti dengan Alicia yang tangisannya masih tak berhenti.[]