Bitter Life

Bitter Life
8. Kekosongan dan Permintaan



Langkah kaki Hakki yang berirama pelan serta kusut masai ekspresi wajahnya saat berjalan menuju kantor redaksi saat malam hari menampakkan dengan jelas jika dia terjebak dalam kebuntuan pikiran karena beberapa hari ini dia hanya mampu meliput berita ringan seperti tempat liburan dan keadaan pasar, dia merindukan kasus kriminal yang memberikannya kesempatan untuk membunuh para tersangka dengan kemampuan Si Pahit Lidah miliknya yang beberapa hari ini kasus seperti  itu seolah-olah menghilang dari kota ini.


Hakki memelankan lagi langkahnya dan memerhatikan sebuah mini market dari kejauhan untuk memastikan seseorang didalam sana.


“Dia berkata akan menemuiku di depan sini…” Hakki bergumam sembari memerhatikan jam dilengannya, kemudian berjalan melewati mini market dan Hakki melihat seorang gadis berpakaian hitam kasual dengan tas ransel biru yang ingin menemuinya keluar dari sana kemudian menyapa dirinya yang masih melihat gadis itu dangan tatapan mata yang kosong.


“Setelah ini kau akan pergi ke kantor?” gadis itu berkata.


“Aa..a..Furi” Hakki sedikit terkejut seakan belum melihat gadis itu lagi akhir-akhir ini.


“Iya, aku akan menyetor berita yang kuliput seharian ini” Hakki menjawab pertanyaan Furi.


“Berita tentang tempat wisata yang menyenangkan lagi?” Furi terkekeh dan seketika mengikuti Hakki yang memelankan langkahnya lagi demi berbicara padanya.


Hakki hanya diam dengan wajah kusutnya dan mengganguk kecil.


“Tidak dapat menemukan informasi mengenai pembunuh target untuk kau bunuh hanya untuk beberapa hari bisa membuatmu begitu depresi seperti ini, kau benar-benar mengerikan Hakki”  Furi menatap Hakki serius.


“Kau tahu kepolisian benar-benar menutupi penyebaran kasus pembunuhan kepada media seakan mereka mencoba menghentikan langkahku untuk mengutuk para pembunuh” Hakki berkata sembari melihat sekitar untuk menemukan tempat yang cocok untuk berbicara dan duduk daripada berbicara sambil berjalan


“Kuyakin ada orang yang tau benar tentang misteri kemampuanmu karena telah menyelidikinya dan kemudian meminta bantuan dari kepolisian” Sambung Furi yang juga mengikuti  Hakki mencari tempat duduk.


“Orang yang mengetahui hal mengenai supranatural di kota ini dan bisa menyelidikinya seperti seorang detektif serta bisa menghubungi kepolisian……” kata Hakki pelan.


“Hanya Elias Si Mata Empat yang mendekati ciri khusus seperti itu” Sambung Furi lagi yang menemukan tempat duduk beton didepan sebuah kantor yang diterangi lampu jalan.


Hakki berjalan membuntuti Furi saaat mengikuti gadis itu yang akan duduk.


“Aku tidak mengerti kenapa orang yang juga yang menjadi bagian ‘keganjilan’ di kota ini begitu ingin menangkapku?”


Saat telah duduk Furi terdiam sesaat untuk menjawab pertanyaan dari Hakki itu.


“Karena kepentingannya sebagai seorang detektif yang terkenal, itu hal yang wajar karena jika dia melindungimu disaat orang di kota ini menyadari keanehan yang kau lakukan saat membunuh maka orang yang penasaran dengan alasannya melindungimu, kemungkinan akan mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya, dan mungkin identitasnya sebagai ‘keganjilan’ di kota ini akan terungkap”


Jawaban yang begitu Panjang dari Furi cukup membuat Hakki mengerti bahwa Elias adalah orang yang akan menyulitkan langkahnya karena kepentingan pribadi karena itu dalam benak Hakki, dia memutuskan akan mewaspadai detektif itu meskipun dia juga bagian dari keganjilan di kota ini.


Hakki mengusap mukanya dengan kuat beberapa kali “Aku tidak tahu kali ini apa lagi yang Elias rencanakan sampai-sampai harus menutup penyeberan informasi kriminal pembunuhan  seperti ini”


“Kurasa ini yang dia rencanakan” Furi menunjukkan sebuah berita dari media online lain dari smartphonenya yang memuat judul tentang acara pernikahan anak walikota kota 33 tepat kedepan wajah Hakki.


“Pernikahan anak walikota?”


“Tidakkah kau sadar jika selama ini semua berita di media manapun terlalu tertuju kepada berita ini, seakan-akan menutup kabar lainnya, dan banyak berita yang secara jelas menjelaskankan tentang 3 pejabat yang terlibat kasus pembunuhan yang bebas dengan cara yang aneh datang ketempat ini, beritanya seolah-olah  memancing dirimu.” Furi berkata dan menarik kembali smartphonenya.


“Menutup penyebaran berita dan terbuka tentang berita pesta pernikahan anak walikota  juga mengundang 3 pejabat yang terlibat kasus kriminal berat” wajah serius Furi saat berkata  terlihat jika gadis itu meyakini tentang apa yang dia asumsikan.


“Aku yakin Elias dan kepolisian bekerjasama untuk mengarahkanmu pergi ketempat ini”


Asumsi dari gadis disampingnya membuat Hakki dapat menerimanya namun untuk beberpa saat Hakki terdiam untuk berfikir apa yang seharusnya akan dia lakukan.


“Mungkin ada baiknya kau kesana agar kemurunganmu karena tidak membunuh bisa teratasi dan disana ada 3 pejabat yang bebas begitu saja meskipun telah membunuh orang, bukankah mereka cocok untuk menjadi targetmu” Furi berkata lagi seakan membujuk Hakki.


“Termakan umpan…….” Kata Hakki dengan suara yang kecil dan pelan.


“Aku tidak sebodoh itu”


“Tapi jika kau kesana juga demi membunuh ke tiga kriminal pembunuh itu Elias mungkin  tidak akan benar-benar menangkap mu” Furi berkata dengan yakin.


“Kenapa kau yakin Elias akan begitu?”


Furi kembali meletakkan smarthphonenya kedalam saku.


“Seperti yang kukatakan tadi ‘demi kepentingan’ dia hanya ingin terlihat tidak berpihak kepada keganjilan sepertimu”


“Tertangkap atau tidaknya dirimu itu bukan urusannya, bisa saja karena merasa satu jenis denganmu dia berpura-pura membuatmu terlepas atau tidak serius menangkapmu bersama dengan para polisi itu” Furi lanjut berkata.


“Tapi tetap saja aku tidak mau bertindak bodoh” tegas Hakki.


Furi mengangguk pelan kemudian gadis itu sedikit menggaruk rambut sebahunya yang sedikit coklat karena diwarnai dan menghela nafas.


“Kasus pembunuhan yang menimpa orang tua mu…..”


Furi sedikit melihat Hakki dengan begitu lembut.


“Dari tiga pejabat yang diundang itu, pejabat yang bernama Adam Maher adalah pemilik perumahan tempat mayat orang tua mu ditemukan” Furi berkata.


“Aku pernah sedikit mendapatkan informasi dari berita tentang Adam Maher ini dan satu-satunya kesaksian yang tidak diungkapkan kepublik adalah kesaksian darinya, padahal dialah satu-satunya orang yang memberi akses keluar masuk kepada seseorang yang tidak dikenal yang bukan penyewa di rumah kosong tempat orang tuamu ditemukan 3 hari sebelum penemuan mayat di rumah itu ditemukan, Elias kemungkinan membiarkanmu lolos dan kau akan mendapatkan informasi penting terkait kematian orang tuamu, kuharap kau datang ketempat itu Hakki”


Penjelasan yang begitu panjang dari Furi yang berarti jika dia harus memakan umpan Elias karena ada keuntungan tentang informasi tentang kematian orang tuanya membuat Hakki kebingungan untuk memilih menuruti permintaan Furi atau tidak, hingga membuat dirinya membisu.


“Aku ingin menemuimu  karena ingin memberitahumu hal itu saja, aku pulang dulu” Furi berkata dan berjalan meninggalkan Hakki.


“Sebentar Furi!, aku ingin bertanya sesuatu”


Perkataan Hakki berhasil membuat Langkah kaki Furi terhenti.


“Dari awal semenjak aku mendapatkan kemampuan Si Pahit Lidah, kenapa kau selalu membantuku?” tanya Haki.


“Membantumu?” Furi menoleh kebelakang untuk menatap Hakki.


“Ya, kau selalu memberikan ku informasi penting terkait misteri kasus pembunuhan orang tuaku”


Hakki berdiri dari tempat duduk.


“Bahkan meskipun aku tidak pernah datang ke tempat berkumpulnya Organisasi Keganjilan kau seakan memberikanku tempat bernaung dengan memberitahuku keberadaan mereka”


Pertanyaan dari Hakki itu menciptakan ekspresi wajah yang datar dari Furi dan tanpa berpikir gadis itu berkata “Tentang organisasi keganjilan itu aku hanya ingin kau memiliki teman, kau sudah cukup menderita di SMA Hakki, dan bisa membuatmu berhenti berpikiran untuk bunuh diri karena kesepian”


“Dan tentang kematian orang tuamu……” Furi berbalik dan kakinya sedikit melangkah kearah Hakki.


“Dengan informasi yang kuberikan, aku berharap kau bisa berhenti mengutuk para kriminal  pembunuh jika pelaku kematian orang tuamu ditemukan_”


“Aku tidak akan berhenti mengutuk para pembunuh meskipun pembunuh orang tuaku ditemukan…” Hakki membalas perkataan Furi dengan cepat.


“Jadi kau tidak perlu repot-repot mencari pembunuh orang tuaku…..aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu”


Pernyataan dari Hakki itu membuat Furi tertunduk lagi dan kali ini guratan amarah muncul diwajahnya.


“Kenapa kau tidak mau berhenti mengutuk para pembunuh?”


Tatapan dalam yang menusuk dari Furi kearahnya membuat Hakki sedikit memalingkan muka dan berkata “Kau sudah tahu kan, jika aku tidak ingin para pembunuh itu membuat orang lain menderita, karena mungkin saja mereka tertawa diatas penderitaan orang lain.”


“Melakukannya untuk orang lain……”


Hakki jelas melihat sebuah penolakan dari gestur tubuh dan wajah gadis didepannya itu.


“Sepertinya kau tidak setuju jika aku membunuh, padahal saat itu ketika aku membunuh 4 orang yang merundungku kau tampak menyetujui tindakan ku”


“Bukan itu Hakki” tegas Furi memotong perkataan Hakki.


“Aku tidak mempermasalahkan dirimu yang membunuh orang lain”


“Aku mempermasalahkan dirimu yang keterlaluan bertindak untuk orang lain sampai-sampai mengabaikan dirimu sendiri”


“Kau tidak akan dihargai hanya karena bertindak untuk orang-orang yang telah ditinggalkan oleh korban para pembunuh karena hitungannya kau juga seorang pembunuh, kau juga dianggap penjahat, tindakan yang kau pilih ini hanya akan membuatmu menderita dan pada akhirnya kau tidak akan mendapatkan apa-apa.”


“Jika seperti ini kau juga akan mengalami penderitaan yang sama seperti Si Pahit Lidah yang sebelumnya” Furi mengakhiri perkatannya dengan wajah serius dengan tatapan yang tak lepas pada Hakki.


Namun Hakki membalas perkatannya dengan senyuman kecut yang penuh dengan perasaan sedih “Aku memang tidak ingin mendapatkan apa-apa Furi, aku hanya ingin kekuatan ini menghancurkan tubuhku sampai kematianku tiba dengan tindakan yang kupilih”


Furi terlihat mengendalikan air mukanya karena meredam amarahnya kemudian berbalik kembali untuk meninggalkan Hakki.


“Seperti saranku saat itu agar tidak menderita harusnya kau bisa mempertahankan tubuhmu dengan hanya menggunakan kekuatanmu seperti saat kau membunuh 4 perundung itu untuk membela diri, membalaskan dendam atas kematian orang tuamu saja atau untuk bertarung melawan pemburu keganjilan,”


Furi berbibacara dengan tempo yang cepat dan dengan suara yang lantang.


“Kenapa kau masih saja berpikiran untuk bunuh diri dan membuang-buang nyawamu untuk membunuh para pembunuh”


Hakki ingin menyela perkataan Furi namun hanya bisa terperangah karena ditatar keras dari gadis penyihir yang menjadi teman dekatnnya yang selama ini telah mendukungnya semenjak dirinya mendapatkan kemampuan Si Pahit Lidah.


“Bahkan meski aku telah berupaya membuatmu berhenti berpikiran untuk bunuh diri kau masih saja ingin menghancurkan tubuhmu demi orang lain”


“Bertindak berlebihan demi orang lain…”


“Dari dulu kau tidak pernah berubah Hakki…”


Furi berjalan cepat meninggalkan Hakki.


Furi mengingat sosok Hakki yang saat itu pernah bertemu dengannya saat masih SMP ketika dirinya yang dipukuli dan hampir dilecehkan berandalan dari SMP yang sama dengan Hakki ditolong oleh anak laki-laki kurus berkulit putih pucat itu meskipun setelah itu Hakki babak belur sesudah membantunya namun setidaknya Furi selamat, dan anehnya sejak saat itu pula rumor buruk tentang Hakki yang dikatakan si lemah yang sok jagoan dan sok berani tersebar.


Hakki yang dikenal selalu membela siapapun yang tertindas sampai-sampai mengorbankan dirinya, tapi akhirnya dialah yang babak belur dan menanggung semua rasa sakit, namun bukannya jadi pahlawan Hakki justru diacuhkan karena tindakkan dirinya yang merupakan orang lemah yang sok jagoan dianggap terlalu berlebihan hingga akhirnya dia yang selalu diacuhkan, lambat laun menjadi target perundungan orang yang lebih kuat bahkan saat SMA rumor tentang dirinya yang mudahnya menjadi korban perundungan tersebar hingga Hakki tidak terelakkan dari perilaku buruk orang-orang disekitarnya.


Furi tidak ingin Hakki merasakan penderitaan seperti itu lagi karena itulah dia ingin agar Hakki menggunakan kekuatannya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain lalu berakhir tewas setelahnya dan Furi takut jika tak ada yang menghargainya yang merupakan seorang pembunuh meski dia melakukannya demi orang lain.


“Aku hanya ingin kau tetap hidup meski hanya aku didunia ini yang bisa menghargaimu……” kata Furi dalam hati ketika wajah yang begitu sedih terukir diwajahnya sebelum akhirnya ribuan titik cahaya kecil yang berasal dari sihir yang dia munculkan dari jentikkan jari mengitarinya.


“Fu..furi!” Hakki memanggil dengan suara kecil ketika gadis itu menghilang dari pandangannya berkat ribuan titik cahaya dari sihir yang digunakan gadis itu.[]