Bitter Life

Bitter Life
10. Keputusan dan Identitas



Dirumahnya, Elias bersama Nala sedang berdiskusi lebih lanjut tentang kasus Si Pahit Lidah yang mereka selidiki juga mempersiapkan rencana yang benar-benar matang untuk mencari kemudian menyergap orang yang diduga Si Pahit Lidah karena memungkinkan akan terpancing dengan 3 pejabat yang terlibat kasus pembunuhan dan diyakini akan datang di pesta pernikahan anak walikota.


Diskusi mereka terganggu oleh ketukan pintu yang begitu kuat dari seseorang diluar sana Elias dengan cepat membuka pintu, dan seseorang yang sebaya dengannya masuk kesana kemudian berkata “Aku telah mendapatkan semua data wartawan berita rakyat yang kau pinta dari kenalanku yang bekerja disana.”


“Terimakasih Remi, silahkan duduk dan letakkan berkas-berkasnya dimeja” Elias Kembali duduk di kursi, dan diikuti laki-laki bernama Remi itu yang juga meletakkan tumpukan berkas-berkas di atas meja, Nala dengan cepat memerhatikan berkas-berkas itu karena penasaran, “Data wartawan berita rakyat?” Nala bertanya.


“Aku membutuhkan data itu agar lebih mudah mengetahui siapa saja wartawan yang memiliki kaitan dengan kasus-kasus maupun kriminal pembunuhan yang terjadi dan yang dirugikan oleh kasus pembunuhan sehingga memiliki niatan balas dendam kepada para kriminal pembunuh” jawab Elias yang juga ikut melihat-lihat berkas itu.


“Dengan begitu kita hanya perlu mempersempit perhatian kita pada wartawan yang memiliki masalah atau yang dirugikan oleh kasus pembunuhan tersebut saat di acara pernikahan anak walikota nanti” jelas Elias lagi yang kemudian memerhatikan Nala yang tampak jelas dari mimik wajahnya seakan bertanya-tanya siapa laki-laki pembawa berkas yang di izinkan masuk oleh Elias.


Karena tersadar akan hal dari Nala itu Elias berkata “Perkenalkan dia Remi informan ku yang menjadi wartawan lepas di kota ini, dan salah satu dari begitu sedikitnya orang yang memercayai hal supranatural”


“Remi” laki-laki dengan setelan jaket dan celana levis yang serba hitam tersenyum kemudian mengulurkan salam dari tangannya pada Nala


“Nala, kepala divisi detektif kepolisian kota 33” Nala berkata dan menyambut salam dari pria itu.


Saat baru saja Elias dan Nala memulai memeriksa berkas-berkas itu secara satu persatu, Remi langsung menyela kesibukan ke dua orang itu dan berkata sambil menggaruk rambutnya yang sedikit ikal “Di berkas ini aku menemukan para wartawan  yang sesuai dengan yang kau cari Elias.”


Remi memilih 4 berkas dan menunjukkannya pada Elias dan Nala, dan di berkas yang di tunjukkan itu menunjukkan profil wartawan berita rakyat dan data berita yang sering mereka liput,“Mereka adalah wartawan khusus  bidang kriminal dan kebanyakan berita yang mereka liput adalah berita pembunuhan.”


Ada sebuah foto wartawan muda di antara berkas itu yang membuat Nala tertarik karena tertulis jika wartawan muda itu bukan wartawan khusus berita kriminal seperti yang disebutkan Remi sehingga membuat Nala bertanya “Tapi, dia…?”


Remi yang menyadari pertanyaan  Nala mengambil berkas dengan foto wartawan muda dengan nama Hakki Haranza kemudian berkata “Orang ini wartawan junior yang di tugaskan untuk meliput segala jenis berita, namun berita yang paling banyak diliputnya adalah berita kriminal pembunuhan dan juga puluhan berita tentang kecelakaan dari 7 bulan terakhir lalu, termasuk kecelakaan aneh yang terjadi di kota ini”


“Karena itulah aku menunjukkan data orang ini pada kalian” Remi meletakkan Kembali berkas itu kemeja.


“Kalau tidak salah anak ini menjadi salah satu orang yang di tinggal para korban pada kasus pembunuhan di Perumahan Loid Kota 68” Nala berkata lagi dan kali ini dia yang mengangkat berkas itu untuk melihat.


“Secara kebetulan meliput kejadian Si Pahit Lidah…..” kata Elias menyambung pembicaraan kemudian masuk dalam lamunan sesaat dan bersender pada sofanya.


“Mungkin saja itu bukan kebetulan” Perkataan dalam hati Nala muncul saat dia mulai memunculkan asusmsi dari pikirannya ketika mencocokkan apa yang dilakukan Si Pahit lidah dan yang dilakukan wartawan muda bernama Hakki tersebut.


Nala memerhatikan Elias yang masih termenung karena larut dalam pikiran panjang kemudian mencoba bertanya pada Elias “Si pahit lidah sering membawa tas untuk berganti pakaian kerjanya kan?”


Elias yang tersentak dari lamunan pikirannya karena mendengar pertanyaan Nala hanya menggangguk untuk menanggapi pertanyaan itu.


“Jadi demi keuntungan berita bisa saja anak muda ini meliput berita yang dilakukannya sendiri sebagai…..yaa… Si Pahit Lidah”  Nala lanjut berkata.


“Meskipun ini hanya asumsi, tapi aku yakin dari kasus yang pernah menimpanya bisa dikatakan dia memiliki dendam pada pelaku kriminal jadi jika benar dia Si Pahit Lidah ada alasan yang cukup untuk membuatnya membunuh para pembunuh” Nala menjelaskan, dan asumsi nya itu di dengar oleh Remi dan Elias yang hanya menanggapi dengan anggukan .


Ketika sedang menjelaskan tadi Nala tersadar  jika mata Elias memunculkan cahaya biru untuk beberapa detik namun ketika baru akan bertanya tentang cahaya biru itu Elias melepas nafasnya dengan begitu kencang.


“Huft……Baiklah” kata Elias yang menarik bahunya dari senderannya di sofa yang seketika menjadi yakin dengan dugaan pada wartawan muda bernama Hakki itu berkat asumsi dari Nala yang mendorongnya juga pemikirannya.


“Kita akan memberikan perhatian lebih kepada orang ini besok lusa di pesta pernikahan anak walikota” Elias berkata dengan nada bicara yang semangat juga dihiasi wajah yang serius.


***


Menatap kosong pada langit-langit kamarnya karena dipenuhi bayang-bayang pikiran tentang Kaira yang ditemuinya beberapa hari lalu membuat Hakki teringat lagi akan masa SMA nya yang bisa dikatakan kelam namun mendapati sedikit warna karena kebaikan Kaira yang dengan suka rela mengobrol dengan pecundang sepertinya setiap di kelas meskipun menjadi salah satu orang cantik terkenal di SMA Hakki.


Seketika itu juga Hakki mengingat perkataan Kaira di bus waktu itu yang membuatnya tergerak untuk memilih keputusan beresiko demi mendapatkan keuntungan yang berharga pada hidupnya, dia juga berpikiran untuk menghubungi Furi lagi setelah sekian lama dan membicarakan tindakan yang dia pilih.


“Ha...Halo Furi” Hakki berkata saat telepon dari smarthphonenya telah tersambung pada Furi.


“Hakki? Ada apa?” Furi menjawab telepon dengan datar tanpa ada rasa amarah seperti beberapa hari sebelumnya.


“Kupikir, sebaiknya aku harus menggali informasi tentang kematian orangtuaku, dan menghadapi risiko untuk datang ke acara pernikahan anak walikota…” Hakki berkata lagi dan kemudian membisu untuk mendengar tanggapan Furi.


Ada jeda sunyi di antara mereka di dalam sambungan telepon untuk beberapa saat.


Furi  menghela nafasnya dengan begitu dalam dan berkata dengan suara yang kencang “Ada apa denganmu?”


Hakki yang terkejut dengan suara Furi menjawab dengan sedikit tergagap “Ti,.. ti…tidak ada.”


“Baru-baru ini aku berpikir jika aku yakin bisa mengatasi masalah sebesar apapun disana, apalagi kau bilang Elias si detektif itu akan melepaskanku dan akan memudahkanku jadi aku akan pergi”


Hakki mengambil jeda  berkata untuk mengambil nafas kemudian lanjut berkata dengan volume suara dari mulutnya yang dia kecilkan.


“Dengan begitu aku bisa mendapatkan informasi berharga tentang kematian orang tuaku. ”


“Apa kau masih tetap akan membunuh para pembunuh jika pembunuh kedua orang tua ditemukan?” tanya Furi.


Hakki berpikir untuk beberapa saat.


“Kalau itu, aku belum memutuskannya, maafkan aku”


Dari balik telepon yang tersambung itu Furi sedikit menggangguk dengan sedikit merengut dan siap untuk menutup telepon kemudian berkata “Baiklah…”


“Sebentar Furi” Hakki berkata, karena menyadari gelagat Furi yang akan mematikan telepon, kemudian dia bertanya “Aku ingat kau pernah menunjukkan kotak sihir dimensi ketika kau menyarankanku untuk menyimpan kamera serta peralatan kerja ku yang lainnya agar tidak terasa berat saat membawanya, apa kau masih memilikinya?”


“Masih ada… kenapa?” jawab Furi.


“Aku membutuhkannya untuk melakukan sesuatu" Hakki berkata dengan penuh semangat.


***


Puluhan mobil mewah telah terpakir begitu rapi di depan Gedung Bersama Kota 33 pada malam hari , dan juga belasan mobil serta kendaraan lain datang dari berbagai media yang akan meliput pesta pernikahan anak walikota pada hari ini, pesta yang akan dimulai bebarapa menit lagi membuat para wartawan-wartawan di sana sibuk dengan sendirinya, begitu pun Hakki yang mengajukan diri pada kepala redaksinya kemarin untuk ikut meliput bersama 2 rekannya yang merupakan wartawan politik dia bersama rekannya itu mengecek dan mempersiapkan kamera.


Hakki mengeluarkan smartphonenya dan memastikan jika tidak ada pesan atau telepon yang masuk kemudian menyetel smartphonenya ke mode hening dan memasukkan smarthphonenya ke dalam tas agar tidak mengganggu kegiatannya dan juga rekannya yang akan meliput sebentar lagi.


Remi si wartawan lepas juga ikut meliput pesta pernikan anak walikota itu, dengan seksama dia memerhatikan Hakki yang baru masuk kedalam gedung, apa yang dilihatnya dia laporkan pada Elias dan Nala yang telah hadir disana dan sedang berbincang dengan kumpulan polisi yang merupakan kenalan mereka.


“Dia sudah datang?” Elias berkata.


Remi mengangguk “Ya, dia datang bersama dua wartawan berita rakyat lain.”


“Kita fokuskan perhatian lebih kepadanya tapi juga tidak melepas pengawasan dengan dua rekannya itu” Elias keluar dari obrolan kumpulan polisi dan mendekat pada Remi.


“Kau yakin?” Remi berkata dan menatap mata Elias dengan begitu dalam.


“Ya aku yakin, kemarin aku telah melihatnya” Elias menjawab dengan cepat.


Nala yang menyadari serta mendengar percakapan Remi dan Elias juga mendekat meninggalkan kumpulan para polisi kemudian berkata dengan senyuman di wajahnya. “Kau terlihat gugup Elias.”


“Aku sering gugup jika turun ke lapangan seperti ini” Elias tersenyum juga.


Nala menunjuk kumpulan polisi tadi kemudian berkata “Aku telah berbicara pada mereka untuk membantu kita nanti jika ada sesuatu yang diluar dugaan sehingga membuat kita berada dalam situasi bahaya, jadi jangan khawatir.”


“Terimakasih pak Nala” Elias berkata.


“Jika dia melakukan hal yang mencurigakan serta mendekati 3 pejabat itu kami akan melakukan tindakan secepatnya, dan memastikan apakah benar dia Si Pahit Lidah” Elias berkata dalam hati saat melihat 3 pejabat kriminal pembunuh yang sedang tertawa dengan walikota di dekat panggung pelaminan kemudian dia bersama  Remi dan Nala memerhatikan Hakki saat wartawan muda itu berada dalam kerumunan tamu undangan untuk siap meliput.


“Tenang Elias kau sudah melihat semuanya” Elias menyemangati dirinya.


Hakki menyadari jika dirinya diawasi beberpa orang dari kejauhan di dekat sudut gedung, karena itu dia memutuskan untuk meningkatkan kewaspadaannya untuk menggali informasi dari Adam Maher setelah melakukan liputan nanti, sekarang dirinya hanya berpikiran untuk fokus melakukan liputan.


Pada malam itu juga di sebuah taman sepi yang berada di pinggiran kota 33 Furi sedang menunggu seseorang penyihir lain untuk mendapatkan sebuah informasi.


Muncul cahaya di dekat Furi yang beputar-putar dan mendatangkan seorang perempuan muda yang merupakan penyihir serta rekan Furi yang akan ditemuinya, setelah cahaya itu menghilang perempuan muda yang terlihat cemas itu berlari tergesah-gesah mendekati Furi kemudian berkata “Aku telah mendapat indentitas lengkap dari Elias.”


Perempuan muda itu memberikan sebuah map coklat pada Furi, dengan cepat Furi mengambilnya dan mengambil beberapa berkas yang tertulis data lengkap identitas Elias Noor, mata Furi terbelalak melihat berkas itu keringat dingin muncul di dahinya jari jemarinya gemetaran kemudian dengan cepat dia mengambil smarthphonenya demi menghubuingi Hakki.


Nada sambung muncul kemudian Furi berkat dalam Hati “Bodohnya aku hanya karena ingin membantunya menemukan informasi aku membuatnya berada dalam bahaya besar.”


“Bahaya sebesar ini tak akan mungkin bisa diatasinya”


Hanya Nada sambung yang terdengar dari sambungan telepon itu.


“Tolong angkat Hakki!”


Masih nada sambung yang begitu panjang terdengar olehnya “Dia harus pergi dari tempat itu."


“Maafkan aku Hakki” Furi mengakhiri perkataan dalam hatinya setelah itu sambungan telepon itu akhirnya benar-benar terputus.


Panggilan masuk belasan kali dari Furi itu masuk pada smarthphone Hakki yang telah disetel mode hening, Hakki yang saat itu berada dalam puncak pesta pernikahan anak walikota sedang sibuk liputan dan tak menyadari sama sekali panggilan masuk itu.[]