Bitter Life

Bitter Life
5. Kekuatan dan Kehilangan



Taman yang begitu hijau dihiasi sedikit pepohonan dengan beberapa pasien yang menenangkan diri disekitar sana dan tak jauh berada di rumah sakit dipilih oleh Furi untuk membicarakan tentang kemampuan Hakki lebih lanjut agar tak mengusik pasien di dalam rumah sakit juga tentunya menghindari teguran perawat di sana. "Sejuk sekali~" Furi menghirup nafasnya kemudian meletakan tas yang ia bawa ke sebuah kursi yang berada di sana.


Hakki yang duduk duluan di kursi itu masih terdiam dengan berbagai pertanyaan di kepalanya karena bingung memilih pertanyaan yang mana untuk memulai percakapan.


Ketika tiba saatnya pikirannya menentukan pertanyaan yang ingin dikeluarkan Hakki meneguk liur sedikit kemudian berkata "Saat itu si paman yang kau bilang Si Pahit Lidah memang mengatakan hal seperti 'aku mewarisi kekuatanku padamu' apa perkataan itu berhubungan dengan kekuatan yang kudapatkan?"


Kepala Furi mendongak kearah langit untuk memikirkan sesuatu, dia berdeham kemudian memilih duduk di samping Hakki meski dengan sedikit  berjarak, "Ya....Perkataan itu adalah kutukan yang diberikannya padamu"


"Kutukan!?"


Furi memiringkan kepalanya saat berpikir, "Kau tahu, seperti di kisahnya Si Pahit Lidah selalu mengutuk orang-orang yang bertentangan dengannya"


"Padahal dia hanya ingin,  memberi pelajaran orang-orang itu tapi karena kekuatannya setiap perkataannya menjadi sebuah kutukan, sehingga setiap orang di sekitarnya bahkan mungkin orang terdekat pun akan terkena kutukan dari amarahnya."


Furi menghentikan perkataannya untuk mengambil nafas kemudian lanjut berkata "Bagi Si Pahit Lidah kekuatan yang dimilikinya adalah kutukan yang diberikan tuhan, karena membuatnya tidak bebas berbicara, begitu pula paman Si Pahit Lidah yang menjadi keturunan terakhir itu"


"Dan sekarang kekuatan yang merupakan kutukan baginya itu telah diberikannya padamu melalui perkataan 'kutukan' agar kau melanjutkan derita dari kekuatannya" kata Furi menatap Hakki dengan wajah serius.


Hakki menanggapi tatapan itu dengan menunduk namun matanya memutar karena bingung akan sesuatu.


"Meski perkataan darinya 'mewarisi' namun jika yang diwarisi akan menderita maka itu akan menjadi sebuah kutukan" Furi yang menyadari kebingungan Hakki berkata lagi.


Dari sebelah Furi, Hakki yang tak terima perkataan gadis itu mengetuk-ngetuk jarinya ke lengan kursi dan juga karena masih bingung sebuah pertanyaan muncul darinya.


"Jadi... Kekuatan yang kudapat ini ini akan membuatku menderita"


Furi mengangguk.


"Tapi, jika kau tidak ingin menderita jangan gunakan itu sembarangan"


"Gunakanlah kekuatan itu saat kau menghadapi para pemburu keganjilan" kali ini Furi menatap lagi namun lebih membara dari yang sebelumnya,  seakan menaruh harapan pada Hakki.


Hakki masih terdiam menatap Furi seolah melontarkan pertanyaan 'apa itu pemburu keganjilan' dari air mukanya.


Furi menghela nafas panjang.


"Mereka orang-orang yang ingin melenyapkan segala jenis mahluk atau manusia berkekuatan supranatural seperti kita yang mereka sebut ‘keganjilan’, demi menjaga realitas dunia" kata Furi dengan penuh semangat.


Furi menunjuk dirinya dan Hakki.  "Penyihir, Si Pahit Lidah...."


"Vampir,  Manusia serigala,  Hantu,  hingga mahkluk supranatural lainnya yang merupakan keganjilan akan mereka lenyapka__"


"Sebentar-sebentar, vampir,  Hantu?" Hakki memotong.


Hakki sedikit bergeser mendekati Furi.


"Iya" Kata Furi.


"Mereka benar-benar ada?" Tanya Hakki lagi.


"Yap"


"Saat ini manusia biasa,  termasuk dirimu berkat pemburu keganjilan tentunya hanya menganggap Penyihir, Vampir,  hantu dan mahluk supranatural lainnya hanya sebagai dongeng....." nada bicara Furi menjadi pelan.


"Dari zaman dahulu pemburu keganjilan membasmi para mahluk maupun manusia supranatural di kota ini untuk kemudian diubah sejarahnya agar keberadaan mereka dilupakan dan membuat keberadaan mereka hanya diingat sebagai kisah dongeng”


"Dan sekarang mereka menyebut kita ‘keganjilan’ karena dianggap menggangu keseimbangan realitas dunia, padahal manusia dan mahluk supranatural dulunya juga bagian kehidupan bumi,  tapi lihatlah sekarang... " Furi berkata dengan terselip senyuman tipis kepada Hakki dan Hakki mengetahui dibalik senyuman itu banyak kesedihan yang tergambar dari wajah gadis didepannya itu.


Namun Hakki yang bisa mengabaikan ekspresi Furi semakin ingin banyak bertanya.


"Memangnya pemburu keganjilan bisa sehebat itu sampai bisa merubah sejarah"


"Berbaur dengan orang-orang dan berprofesi sebagai anggota pemerintahan, sejarahwan dan penulis tentu saja mereka bisa melakukan itu semua" Furi menjawab,  saat memangkul tas yang dibawanya.


"Mereka sangat kuat"


"Tapi meski begitu,  kami selalu berjuang agar mendapatkan realitas kami kembali dan keberadaan kami bisa diakui oleh manusia" lanjut Furi, ketika beranjak dari tempat duduk.


"Aku lupa mengatakan sesuatu... " Furi yang telah berdiri dan akan melangkah meninggalkan tempat duduk itu menoleh kembali pada Hakki.


"Paman Si Pahit Lidah pernah mengatakan jika orang biasa yang mewarisi kekuatannya menggunakan kekuatan itu secara berlebihan maka sistem tubuh orang itu sedikit demi sedikit hancur hingga mempercepat kematiannya"


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Hakki.


"Aku tidak tahu paman itu tidak pernah memberi tahu hal lebih lanjut lagi"  Furi menggelengkan kepalanya.


"Bukannya aku ingin menakutimu tapi seperti itulah paman Si Pahit Lidah memberitahuku"


Keseriusan Furi saat berkata membuat Hakki yakin akan perkataan itu dan tau tidak ada maksud lain dari gadis itu.


"Kau sepertinya sangat dekat dengan paman itu" Hakki tersenyum.


"Yap,  aku, dia dan keganjilan lainnya sering mengobrol di organisasi"


"Oh iya!" kata Furi spontan saat teringat sesuatu.


Sembari berkata Furi mengeluarkan sebuah kartu putih dari dalam tasnya.  "Wahai keganjilan yang baru~ jika kau ingin bergabung..."


Kartu putih dengan tulisan hitam itu pun dibaca oleh Hakki.


"Organisasi Keganjilan Supranatural Kota 33'" Kata Hakki sambil meraih kartu yang diberikan Furi itu.


"Datang saja ketempat ini, kau bisa mengobrol dengan banyak tentang  keganjilan lain dikota ini" Furi mengakhiri perkataannya dengan senyuman yang sangat manis kepada Hakki.


***


Tampak dari balik gedung rumah sakit langit semakin bewarna oranye saat matahari hampir hilang di ufuk barat, meski begitu Hakki yang beberapa saat lalu telah berpamitan dengan Furi, masih tak bergeming dan termenung di taman itu.


Masih banyak hal yang mengelilingi pikiran di kepalanya baik itu tentang yang dikatakan Furi ataupun tentang apa yang akan di lakukan nya setelah pulang dari rumah sakit ini.


Saat di sadari hari ini sedikit lagi akan gelap dan mengetahui jika di sekitarnya para pasien yang berada di taman disuruh kembali keruangan masing-masing, setelah melihat jam tangan digital miliknya yang menunjukkan waktu 17:38, Hakki beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan taman saat telah menemukan beberapa hal yang akan dilakukannya saat pulang nanti.


"Mandi, makan dan tidur, tapi sebaiknya sebelum tidur aku main game dulu" Hakki berbicara sendiri sambil terkekeh.


Dirinya seperti itu karena kebingungan dengan apa yang akan dilakukannya dengan kekuatan yang didapatinya dan berpikiran jika mungkin kekuatan itu bisa merubah nasibnya hingga akhirnya dia hanya tenggelam di pemikiran yang berulang-ulang.


Ditambah lagi kasus yang dibuatnya saat mengutuk ke 4 perundung di SMA ternyata benar-benar tidak dibahas lagi oleh kepolisian, membuat Hakki tambah yakin jika dirinya menggunakan kekuatannya untuk membalas perlakuan orang-orang yang mengganggunya atau sekedar jadi superhero tak akan ada yang menghalanginya.


Hakki yang sering berlarut-larut dalam pikiran terkadang sesekali menyegarkan kepalanya untuk keluar rumah untuk belanja atau mengunjungi ibunya dan kak Alicia di rumah sakit.


Dan di pagi hari ini ketika dirinya akan pergi berkunjung ke rumah sakit lagi dia mendengar suara dari 2 buah mobil yang menderu memasuki halaman rumahnya dan saat mengintip dari balik kain gorden jendela dia bisa melihat beberapa kerabat keluarga dekatnya yang membantu ibunya turun dari dalam mobil.


Dengan cepat Hakki membuka pintu rumah dan ayah tirinya yang  melihat Hakki keluar tampak melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum.


"Hei nak, tolong bantu aku membawa beberapa barang dari bagasi" Ayah tiri Hakki berkata.


Hakki yang  mengangguk berlari kecil menghampiri bagasi, "Ke...Kenapa tidak memberitahuku jika hari ini ibu diperbolehkan pulang?" Hakki berkata sembari mengangkat barang di kedua tangannya.


"Ibumu ingin memberi kejutan padamu"


Perkataan ayah tirinya itu membuat Hakki berhenti melangkah untuk kemudian melihat lembut sosok ibunya dari belakang yang tertatih saat dibantu orang-orang masuk ke dalam rumah.


Hakki tersenyum lega melihat ibunya sudah cukup sehat untuk memberikan kejutan seperti ini.


Tidak hanya kerabat keluarga dekatnya yang berada di rumah Hakki untuk melihat kesembuhan ibunya, beberapa tetangga juga ada dirumahnya, Hakki pun membatalkan niatnya untuk berbincang dengan ibunya serta ayah tirinya untuk mengetahui hal-hal kesembuhan ibunya.


Mencoba untuk mencari angin segar diluar mungkin tidak buruk bagi Hakki saat ini untuk menghindari keramaian dirumahnya yang tidak membuatnya betah.


"Aku keluar sebentar" Hakki berkata.


Ayah tiri dan ibunya mengganguk seakan memahami jika anak mereka tidak betah dengan banyak orang.


Di saat sampai di ambang pintu Ayah tiri Hakki memanggil.


"Hakki, jika sempat aku ingin kau menemani Alicia sebentar di rumah sakit"


Ibu Hakki mengangguk, juga berkata "Kondisi Alicia masih harus diawasi"


"Baiklah" Hakki mengangguk kemudian dengan santai melewati pintu rumahnya.


Saat diluar Hakki berjalan mengelilingi kota, belanja cemilan hingga dirinya kelelahan dan terakhir menuju rumah sakit untuk sekalian istirahat di sana.


Sesampainya di rumah sakit sudah pasti hanya menemukan Alicia yang masih terbaring tak berdaya, Hakki hanya membisu dan termenung ketika menemani Alicia. Beberapa saat kemudian dia melihat jam yang telah menunjukkan 18.26 di jam tangannya dirinya baru menyadari jika dia telah berkeliling begitu lama hingga begitu sore tiba ditempat ini.


Hakki yang merasa lelah karena berjalan ditambah lagi kurang tidur beberapa hari akibat bermain game didatangi rasa kantuk yang dahsyat, matanya yang seakan digelantungi sesuatu  semakin lama semakin ingin tertutup hingga akhirnya dia tertidur lelap di kursi yang berada di ruangan tempat Alicia dirawat.


Hakki tersentak saat mimpi tentang lidahnya yang terasa pahit hingga membuatnya mual menggangunya dirinya yang sudah bangun dengan sempoyongan melihat jam tangan yang kini telah memperlihatkan waktu 23:36.


Karena tidak menyangka akan tertidur sampai hampir tengah malam Hakki dengan terburu-buru bergegas mempersiapkan diri untuk pulang karena tahu batas kunjungan di hari ini tidak boleh lewat sampai jam 12 malam.


"Aku pulang dulu ya kak Alicia" ucap Hakki sembari berjalan cepat keluar ruangan itu. Dia juga berpikiran untuk membuka smartphonenya demi memastikan jika orang tuanya tak bertanya kenapa belum pulang dan ternyata pertanyaan itu benar-benar ada saat dia melihat beberapa pesan chat telah tertampung dan belum terbaca.


Karena menyadari pesan chat dari ibunya itu Hakki menambah kecepatan langkah kakinya sembari membaca satu persatu dengan seksama.


"Kau masih di rumah sakit?" Hakki membaca pesan pertama yang muncul sekitar 3 jam yang lalu.


"Pulanglah jika ingin pulang, orang-orang di rumah kita sudah pulang dari tadi" baca Hakki lagi dengan pelan.


"Cepatlah pulang,  Kami ada sesuatu untukmu~"


"Kenapa belum pulang?"


"Kau dimana?"


"Ada orang mecurigakan didepan rumah kita"


Pesan-pesan chat yang dibaca Hakki itu, muncul berturut dengan jarak sekitar 2 puluhan menit, pesan aneh yang terakhir tiba di smartphonenya sekitar jam 10 malam setelah itu tak ada lagi pesan yang datang.


Firasat aneh muncul begitu saja di benak Hakki ditengah malam ini karena mendapat pesan terakhir yang aneh nan mencurigakan itu,  entah mengapa dia seakan merasakan sesuatu hal telah terjadi dirumahnya dia memilih berlari kecil karena khawatir untuk cepat tiba dirumah.


Setibanya dirumah Hakki melihat jika pintu rumahnya terbuka lebar, tangan Hakki gemetaran saat dirinya tahu tidak mungkin orang tuanya membiarkan pintu terbuka lebar seperti itu di tengah malam.


Kakinya yang ikut gemetaran melangkah perlahan saat masuk ke dalam rumah.


"Ibu, Ayah?" Hakki memanggil pelan untuk memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi.


Namun beberapa kali dia memanggil tidak ada yang menyautinya, Hakki panik dan dia pun mengeraskan suaranya.


"IBU!?  AYAH!?"


Masih sama, meskipun dia mengeraskan suaranya tidak ada yang menyaut.


Mobil dan motor masih ada dirumahnya, meski begitu ayah tiri dan ibunya tidak ada di dalam rumah, beberapa kali Hakki mencari ke setiap sudut rumahnya ayah dan ibunya tetap tak bisa ditemukan.


Berlari keluar untuk bertanya dengan tetangga jawaban yang ditemukan Hakki hanya penjelasan mengenai keyakinan tetangganya jika mereka percaya orang tuanya ada didalam rumah, tetangga yang tak percaya orang tua Hakki menghilang itu ikut mencari walau tak bisa menemukan apapun.


Kerabat keluarga dekat yang telah berulang kali ditanya Hakki juga tidak mengetahui dimana atau kemana orang tuanya sekarang.


Berhari-hari Hakki dan kerabat keluarga dekatnya mencari namun tidak menemukan petunjuk bahkan polisi yang terus menerus dimintai pertolongan oleh Hakki belum bisa menemukannya sampai 5 hari, hingga akhirnya tibalah hari mengerikanpada malam itu.


Di hari yang sudah larut malam itu, Hakki yang baru saja termenung dengan matanya yang sembab karena cemas saat mengkhawatirkan orang tuanya ingin menenangkan diri dengan menghidupkan televisi.


Namun secara tak terduga muncul sebuah berita tentang penemuan 8 mayat yang tak sengaja di lihatnya saat mencari tontonan.


Berita tentang mayat yang terdiri dari 1 keluarga dan 2 pasang suami istri yang ditemukan di sebuah rumah kosong di daerah perumahan terpencil bernama Loid pada kota 68 dihiraukan oleh Hakki karena tak ingin terpengaruh dan cemas karena berita itu disaat dirinya masih yakin orang tuanya masih hidup. “Aku yakin mayat-mayat itu bukan mereka” gumam Hakki dalam hati.


Beberapa menit setelahnya Hakki mendengar bunyi smartphone miliknya yang berdering dengan begitu keras karena ada yang menelpon.


Hakki dengan cepat mengangkat smartphone itu karena melihat nomor dari kepolisian lah yang menelponnya dan berharap mereka memberitahu kabar terbaru tentang orang tuanya.


"Halo" kata Hakki saat tersambung.


"Halo nak Hakki, kami telah menemukan mayat orang tua mu di perumahan Loid kota 68" dari telepon itu suara seorang polisi memberi kabar yang begitu buruk untuk Hakki.[]