Bitter Life

Bitter Life
23. Jeritan dan Badai 2



Meskipun Hakki telah bersujud dibawah kakinya tatapan Kaira tetap sama, namun karena merasa tindakan Hakki berlebihan gadis itu menarik kerah baju Hakki agar laki-laki itu berdiri kembali kemudian dengan lantang berkata “Kenapa kau sangat ingin melindungi gadis ini?”


Untuk beberapa saat Hakki melempar tatapannya yang dalam pada bola mata Kaira yang terlihat mati seolah akan memberi pesan jika dia siap menjelaskan kenapa Furi harus dilindungi dan akan membuat Kaira mengerti, kemudian dengan lantang Hakki berkata “Dia orang yang menemaniku saat aku sendirian dan tidak mengerti apa-apa.”


Hakki teringat akan kejadian ketika baru mendapat kekuatan kemudian dihampiri oleh Furi yang saat itu sangat ramah padanya dan menemaninya sejak saat itu karena sesama keganjilan.


“Dia orang yang memberitahuku apapun yang tidak kuketahui saat aku kebingungan”


Kata Hakki lagi saat terbesit dipikirannya jika Furi adalah orang yang memberi tahunya segala hal tentang keganjilan maupun informasi atas semua masalah yang dirinya miliki.


“Selama hampir 2 tahun berteman dia satu-satunya orang yang mampu membuatku tersenyum disaat kepahitan hidup banyak melandaku”


Hakki mengingat betapa seringnya dia tersenyum saat bersama Furi selama ini entah itu saat bercanda atau sedang mengobrol biasa dan karena hal itu semua dia bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada Kaira yang saat ini dari air mukanya masih belum mengerti dengan alasan Hakki melindungi targetnya, dan Hakki berkata “Dia orang yang berharga bagiku, dialah satu-satunya teman yang sangat dekat denganku.”


Semua perkataan itu tidak sedikitpun didengar oleh Furi yang saat ini sangat cemas dengan Hakki yang berhdapan langsung dengan Kaira karena hujan menghalangi pembicaraan Hakki tersebut, namun Hakki bukan ingin membuat Furi tersipu karena mendengar perkataan darinya tetapi ingin membuat Kaira mengerti alasan berarti dari mengapa seseorang manusia sangat ingin melindungi manusia lainnya, karena Hakki tau pembuh bayaran mungkin saja tak pernah melindungi manusia lain dari hatinya sendiri, kecuali dibayar.


“Apa sudah cukup?” ujar Hakki mengakhiri perkataannnya.


Perlahan genggaman Kaira pada pedangnya melemas dan renggang, dia pun seakan-akan tidak ingin menggunakan pedangnya kembali dan ingin menyimpannya, kemudian gadis itu berkata “Aku tidak mengerti arti dari orang berharga, bahkan seorang teman pun aku tak punya.”


“Dan orang yang mampu membuatku tersenyum sepertinya tak ada….” Perkataan Kaira terhenti, saat otaknya mencari adakah orang yang membuatnya tersenyum dan sesaat kemudian dia hanya teringat saat SMA orang yang pernah beberapa kali membuatnya tersenyum dan mendekati dirinya dengan hangat hanya Hakki seorang.


Hakki bisa melihat jika bola mata Kaira seketika berubah menjadi hidup dan dari wajah dinginnya muncul sedikit warna namun tak mengetahui apa yang dipikirkan gadis pembunuh bayaran itu sehingga bisa memunculkan perubahan yang cukup banyak seperti itu.


Belum selesai memerhatikan keajaiban dari wajah Kair a tersebut Hakki menyaksikan jika dengan santainya Kaira menyarungi kembali pedangnya dan meletakkannya di pinggang.


“Kenapa…” tanya Hakki.


“Aku penasaran seperti apa rasanya memiliki teman. yang di juluki orang berharga” kata Kaira kemudian berbalik untuk meninggalkan Hakki.


“Setahuku hal berharga, tidak boleh diganggu”


Kaira sedikit berbalik dan melihat kearah Hakki, kemudian memberikan senyuman yang begitu tipis darti yang dilihat Hakki diantara air hujan yang mengguyur tubuh Kaira.


“Mungkin aku melakukan hal ini, karena aku tidak ingin mendapatkan karma” kata Kaira lagi kemudian melangkah perlahan meninggalkan Hakki yang masih terperangah dengan perubahan drastis dari tindakan gadis pembunuh itu.


“Aku berharap jika aku menemukan orang berharga suatu hari nanti semoga tidak diganggu juga” Kaira berkata dan mengencangkan suaranya agar bervolume besar karena sadar jika sudah tahu jaraknya sudah menjauh dari Hakki dan tak ingin perkataannya kalah dengan suara hujan.


Setelah mendengar perkataan Kaira dan menyaksikan punggung gadis pembunuh bayaran itu saat meninggalkannya Hakki pun mengelus dadanya karena merasa lega jika tak perlu bertarung dengan Kaira gadis yang masih disukainya dan bisa melindungi teman dekatnya, berlari kecil mendekati Furi yang berdiri di teras bersama Richard dan Arina, kemudian berkata dengan sedikit rasa cemas “Kau tidak apa-apa?”


“Aku tidak apa-apa” Kaira menjawab cepat dan seakan tidak ingin pembicaraan fokus pada dirinya yang diincar Kaira, Furi memerhatikan seksama Hakki dengan rasa khawatir kemudian langsung berkata “Kau tidak menggunakan kekuatanmu dengan berlebihan lagi kan?”


Hakki hanya diam karena tidak bisa jujur pada Furi jika dirinya menggunakan kekuatan yang cukup menyakiti tubuhnya karena mengutuk diri sendiri untuk merubah takdir menjadi serigala.


“Dokter berkata tubuhmu sudah pada batasnya” Furi melanjutkan perkataannya sambil menatap Hakki yang masih belum menjawabnya.


Namun kebohongan Hakki tak bertahan lama saat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah yang begitu banyak sehingga membuatnya sempoyongan karena lemas dan lesuh, Hakki pun seketika terduduk di lantai.


“Hakki!” Furi seketika histeris ketika menopang tubuh Hakki yang lesuh.


Dengan air muka yang cemas dan mata yang berkaca-kaca Furi mencoba mengatur nafasnya agar tenang kemudian dengan pelan “Mungkin aku akan membiarkanmu menggunakan kekuatan untuk membela diri”


“Tetapi tolong, jangan menggunakan kekuatanmu untuk merubah masa lalu apapun yang terjadi” ujar Furi yang hanya bisa terfokus dan cemas dengan masalah Hakki yang bisa merubah alur waktu dengan kekuatannya mengingatkan Hakki yang sedang mencoba menguatkan dirinya kembali setelah terduduk lemas dan mengesampingkan temannya yang telah kehilangan darah itu dan kutukan seperti apa yang tadi Hakki telah gunakan.


“Kau benar-benar akan mati jika melakukannya lagi…” Furi mengecilkan suaranya karena tersenguk akibat tangisannya yang keluar karena sedih melihat kondisi Hakki yang telah tertimpa masalah hari ini dirinya juga teringat kembali akan Hakki yang pernah koma, serta ingatan tentang segala hal yang membuat Hakki terlibat masalah selama ini sehingga harus terus menghancurkan tubuhnya dengan kekuatan kutukan.


Saat akan berjalan meninggalkan panti asuhan dari kejauhan Kaira melihat sebuah mobil putih yang berada didepan gedung panti asuhan clover itu dia juga bisa melihat ada tiga orang pria dewasa yang berdiri menggunakan payung hitam yang memiliki warna yang sama dengan jas mereka.


Kaira yang mengetahui jika itu adalah kedua rekannya sesama pembunuh bayaran dikantornya dan pak Andi seorang direktur yang meminjamkannya pedang yang dibawanya langsung menghentikan langkah kakinya dengan ketakutan dan tangan yang gemetaran Kaira menundukkan kepalanya perlahan, dia sadar dirinya telah bersalah karena tidak menyelesaikan pekerjaan.


Pak Andi melangkah perlahan mendekati Kaira dan saat tiba di depan gadis itu dia memayungi Kaira dan berkata pelan “Apa yang kau lakukan Kaira?”


“Pembunuh bayaran harus menyelesaikan pekerjaannya”


“Pembunuh bayaran tidak bisa mementingkan perasaan pribadi untuk membunuh orang” pak andi beberapa kali menepuk-nepuk Pundak Kaira.


Pak Andi kembali menegakkan kepalanya dan berkata dengan volume suara yang ditinggikan “Cepat habisi gadis itu.”


“Ba… baik pak Andi” Kaira menjawab pelan dengan bibir yang bergetar dan tangan tergenggam yang juga ikut bergetar dan ditengah rasa takutnya dia memiliki kekesalan karena tidak bisa membanttu Hakki orang yang pernah membuatnya tersenyum karena pekerjaan gelap yang dimilikinya.


Arina yang melihat mobil yang tiba bersama orang-orang yang sepertinya akan membantu gadis pembunuh bayaran itu ingin mengambil tindakan karena merasa ada kesempatan dengan melihat sedikitnya jumlah orang yang datang dari mobil putih itu dan menghampiri Richard untuk berkata “Pak, aku dan teman-teman akan menghalangi mereka.”


“Jangan…” Richard menjawab cepat dengan cemas dia memegang Pundak Arina dengan wajah yang ketakutan.


“Itu Andi…” kata Richard lagi dan agak menunduk saat berbicara kemudian menunjuk laki-laki bermata sipit.


“Dan dia membawa Lei wakil ketua pemburu keganjilan serta ketua pemburu keganjilan negeri ini….” kemudian menunjuk laki-laki rambut sebahu dan menyebutkan nama sang ketua itu “Adrian.”


Kaira yang masih bingung akan apa tindakan yang akan diambilnya sehingga membuatnya merenungkan hal tersebut cukup lama sembari menundukkan kepala dibawah hujan dan saat itu pula pak Andi meninggalkan gadis itu dan berjalan menghampiri Ricahrd yang masih terperangah karena ada mantan ketua pemburu keganjilan yang sangat kuat mendatanginya.


Setibanya dihadapan Ricahrd dengan suara yang lantang pak Andi berkata “Richard, aku disini bukan untuk urusan pemburu keganjilan melainkan mengawasi pekerjaan bawahanku”


Richard hanya bisa mengalihkan pandangan dari tatapan serius pak Andi yang mengancam dan membuatnya terintimidasi dan diam tak menjawab perkataan pak Andi, melihat hal itu pak Andi pun semakin lancar mengeluarkan peringatannya “Lagipula aku telah pensiun, jadi jika kau mengganggu kami, maka akan dianggap perlawanan keganjilan terhadap orang sipil”


Richard masih diam tak berkata apa-apa Arina yang kebingungan melihat suasana itu membisu saat melihat atasannyayang tersudutkan Hakki yang Lelah dan Furi yang sedang menopang Hakki saat mendengar pembicaraan itu tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut terdiam.


Pak Andi tidak menghiraukan kenapa Richard tidak menjawab dan terus menusuk pria tua seumurannya itu dengan perkataannya “Seterusnya pemburu keganjilan akan memburumu dan bawahanmu karena telah melawan orang sipil dan seketika perjanjianmu dengan pemburu keganjilan akan dibatalkan.”


Kaira yang tadinya masih merenung ditengah halaman lebar panti asuhan Clover dibawah hujan dengan cepat mengeluarkan pedangnya dari sarung kembali kemudian berbalik serta berlari kencang kearah teras dan menuju langsung kearah Furi, kemudian lompat dan menusukkan pedangnya kearah jantung Furi.


Hakki yang lelah karena penggunaan kekuatan yang berlebihan tidak bisa menghalau serangan Kaira begitu pula dengan Richard yang tidak bisa berbuat apa-apa karena peringatan pak Andi serta Arina yang tentunya mematuhi atasannya, karena tak ada yang menolong pedang Kaira yang sudah menembus perisai sihir buatan Furi yang diciptakan dengan sangat cepat untuk pertahanan diri, telah menghujam jantung gadis penyihir itu.


Setelah menusukkan pedangnya Kaira menunduk kemudian berkata dengan nada rintih “Maafkan aku, Inilah pekerjaanku…”


Kaira mencabut pedangnya dan menjauhi jasad Furi yang langsung tergeletak didepannya, menyarungi kembali pedangnya dan berjalan cepat kearah mobil putih diikuti dengan pak Andi yang berjalan santai.


Hakki tidak sedikit pun menghiraukan Kaira dan pak tua berjas hitam yang meniggalkan mereka begitu saja setelah membunuh Furi karena dia hanya bisa terpaku pada Furi yang telah tergeletak di hadapannya hakki menjerit histeris.


“Tidak!”


“Furi!”


“Furiii!” saat menopang tubuh Furi, Hakki menjerit lagi dan kali ini dirirngi bunyi sambaran petir yang menggelegar didekat sana, tangisannya pun tak tertahankan melihat Furi yang telah pucat dan terkulai lemas tanpa bergerak, badai yang mulai muncul disekitar sana pun sekan mengiringi jeritan dan tangisan Hakki.


“Aku harus melakukan sesuatu” kata Hakki saat bibirnya bergetar karena tangis yang berlebihan.


“Sebelum pergi ketempat ini diriku dimasa lalu terkena kecelakaan” Hakki mengeluarkan kalimat kutukan untuk dirinya sendiri, namun meski dia mendengar dengingan dan merinding namun tampaknya kutukannya tak bekerja, dan hanya membuatnya mimisan dan memuntahkan darah begitu banyak.


Dia mengutuk dirinya sendiri sekali lagi namun masih belum bekerja hanya muntah darah yang dia dapatkan dan saat itu juga dia teringat perkataan Furi tadi yang mengatakan jika dia akan mati bila menggunakan kekuatan untuk merubah relitas seperti merubah sejarah, namun dia langsung menghiraukannya karena baginya kematian Furi lah yang tak boleh terjadi dari pada kematiannya.


Mengutuk dirinya sendiri kemudian memuntahkan darah, itulah hal yang terus diulangi Hakki, Hakki yang menangis dan memuntahkan darah itu pun disaksikan oleh Kaira yang telah memasuki mobil putih dan meninggalkan panti asuhan Clover, sekali lagi Kaira hanya bisa menunduk dan menyesali perbuatannya karena membuat orang yang pernah membuatnya tersenyum begitu menderita.


“Apa yang kau lakukan nak kenapa kau mengutuk dirimu sendiri?”” kata Richard cemas sat mendekati Hakki yang terus menerus mengeluarkan kutukan dan muntah darah.


“Dimasa lalu? Dia ingin merubah sejarah dengan membatalkan kepergiannya ketempat ini dengan menciptakan kejadian dimasa lalu?” Kata Richard dalam hati setelah mendengar kalimat kutukan Hakki barusan.


“Hei, kau kenapa?” Arina yang khawatir berkata dan ikut mendekati Hakki.


Richard menoleh pada Arina untuk berkata pada perempuan itu.


“Sepertinya itu Efek dari penggunaan kutukannya, kalau dia tidak berhenti mengucapkan kalimat kutukan untuk dirinya sendiri dia akan mati” Richard kemudian menggenggam kedua pipi Hakki agar Si Pahit Lidah itu tidak berbicara dan mengeluarkan kalimat kutukan.


Richard menoleh lagi pada Arina dan memberikan perintah “Ayo kita hentikan dia!”


Namun Hakki mencoba melepaskan tangan Richard dan Arina yang menghalanginya dan berkata “Sebelum pergi ketempat ini diriku dimasa lalu terkena kecelakaan_” dan untungnya Richard dan  Arina berhasil mencegahnya kembali.


“Tolong, tolonglah sialan! bekerjalah!kutukanku!” rintih Hakki didalam hati.[]