Bitter Life

Bitter Life
35. Titipan dan Kekhawatiran



Bulan sabit yang tampak terang dengan bintang-bintang disekitarnya ditatap Hakki begitu lama setelah baru saja diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan meskipun melihat keindahan entah mengapa kegelisahan diotak Hakki muncul begitu saja saat memikirkikan Nala yang sedang mencari data-data untuk menemukan petunjuk juga bukti di rumah kepala kepolisian, kekhawatirannya bertambah besar saat menyadari jika yang didatangi Nala itu merupakan orang dengan jabatan tinggi di kepolisian dan menerka-nerka jika orang bernama Alda itulah pelaku pembunuhan tragedi kota 68 meskipun adiknya Eric berkata jika orang itu bernama Gael dan Nala tidak pernah mendngar ada orang dengan jabatan tinggi memiliki nama itu.


Hakki dengan segera menghapus pikiran buruknya dan berbalik untuk meninggalkan teras rumahnya saat menatap bulan itu dan akan masuk kerumah sunyi miliknya yang hanya ditinggali oleh dirinya sendiri, namun saat memutari kunci rumahnya dia mendengar suara deru mobil yang begitu kencang dan saat merspon suara itu dengan berbalik ada mobil hitam yang berhenti mendadak didepan pagar rumahnya.


Seseorang dengan jaket parasut biru tua yang begitu tebal bersama dengan celana jeans juga sepatu yang serba hitam muncul dari dalam mobil itu dan berlari kecil mendekati Hakki kemudian saat tiba dihadapan Hakki dengan wajah yang cemas kemudian sedikit menunduk laki-laki itu berkata “Hakki, aku butuh bantuanmu!”


Hakki menyadari jika pernah melihat laki-laki itu disuatu tempat namun lupa langsung mengalihkan pikirannnya untuk fokus memperhatikan laki-laki yang nampak lebih tua sedikit darinya itu saat mendekati dirinya dengan mata yang penasaran dan bertanya-tanya kenapa laki-laki itu begitu terburu-buru.


“Bantuan?” tanya Hakki pada laki-laki itu.


Laki-laki didepan Hakki itu menanggapi perkataan Hakki dengan merapi-rapikan pakaiannya yang terlihat kusut kemudian berkata “Maaf sebaiknya aku memperkenalkan diri dulu.”


“Namaku Andi aku Informan yang selama ini sering membantu pak Nala” Laki-laki itu menyodorkan tangannya pada Hakki untuk salaman.


Hakki dengan sigap meyambut tangan laki-laki bernama Andi itu kemudian mengangguk, Andi pun setelah melepas tangannya sesudah salaman berdeham dan meskipun nafasnya tak beraturan karena terburu-buru dia dengan tenang berkata “Aku diminta untuk menyampaikan pesan yang dikirimkan detektif Elias padaku untukmu.”


“Sebenarnya aku tidak mengerti apa pesan yang dikirim detektif itu” Andi mengambil smartphonenya yang berada di saku kiri.


Membuka smarthphonenya dan dengan jempol yang tak berhenti bergerak dia mencari pesan yang dikirimkan Elias beberapa menit yang lalu sembari berkata “Intinya dia mengatakan dengan penglihatan masa depannya dia melihat Nala akan dibunuh kepala kepolisian Alda karena pak Alda pembunuh utama tragedi kota 68.”


Mata Hakki terbelalak saat mendengar perkataan Andi itu dan detak jantung Hakki mulai tak beraturan darah dalam nadinya pun mengalir deras, seketika keringat dingin pun muncul didahinya karena mengetahui Nala berada dalam bahaya.


“Dan Elias meminta menyampaikan hal itu padamu, meski kau percaya itu atau tidak” Andi menghentikan perkataannya saat jempol terehenti dipesan yang dicarinya kemudian menoleh dengan mata yang begitu serius pada Hakki


Andi membaca pesan yang dikirimkan Elias itu dalam hati kemudian membagi fokusnya untuk berkata “Hal yang tak kumengerti lagi, dia juga berkata karena pak Alda adalah pemburu keganjilan jadi dia yang akan pergi kekediaman pak Alda dan membantu Nala dengan berbicara baik-baik padanya agar Nala selamat.”


“Selain menyampaikan semua hal itu aku disuruh Elias untuk meminta bantuanmu untuk menyelamatkan anak-anak dan istri Nala dirumahnya sekarang” Andi melanjutkan perkataannya.


Dengan mengangkat layar smarthphonenya didepan wajah Hakki Andi memperlihatkan isi pesan itu kemudian berkata “Elias berkata dia melihat masa depan dan mengetahui jika kau memilih untuk menyelamatkan anak-anak dan istri nala dan hal itu berhasil karena kau mampu mengalahkan keganjilan lain yang diperintah Alda untuk membunuh mereka dalam penghapusan bukti dengan kemampuan kutukanmu.”


“Namun jika kau memilih untuk membantu Nala masa depan akan berubah dan mungkin kemungkinan buruk bisa terjadi.” Andi mengakhiri perkataannya dan dengan cepat memasukkan kembali smarthphonenya kedalam saku.


Karena mengetahui kehebatan kekuatan Elias yang mampu melihat alur waktu termasuk masa depan dengan akurat Hakki mempercayai pesan Elias itu dan memilih untuk tidak ceroboh membantu Nala karena takut suatu hal buruk akan terjadi karena merubah takdir dan yakin jika Elias bisa membantu karena pembunuh koita 68 yang ditanganinya itu juga pemburu keganjilan, dan memprioritaskan nyawa keluarga Nala yang terancam dsan setidaknya mampu melindungi orang-orang yang berharga bagi Nala kemudian hanya bisa berharap keselamatan pada Nala yang sedang dibantu Elias.


Hakki berbalik kearah pintunya dan memutar kuncinya lagi namun dengan arah yang berlawanan dan saat yakin rumahnya sudah terkunci Hakki berjalan cepat kearah mobil Andi sembari berkata “Ayo cepat pergi.”


“Ba..baiklah” Andi menjawab pelan dan mengekori Hakki walau masih banyak hal yang tidak dia mengerti tentang kejadian ini juga tentang hal supranatural yang ditangkapnya dari pesan Elias, dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa berada dalam situasi yang membuatnya harus berbicara langsung pada Si Pahit Lidah si pembunuh berantai yang membunuh para pembunuh.


Tentang Hakki yang merupakan Si Pahit Lidah Andi mengetahuinya dari Nala beberapa hari yang lalu, berkat mengetahui hal itu tangan Andi mengalami tremor sedari tadi karena takut dengan kekuatan Si Pahit Lidah yang juga seorang pembunuh saat memasuki mobil.


Namun jika itu demi Nala atasannya atau juga orang yang dianggapnya sebagai teman baik apapun akan dia lakukan meskipun berhadapan langsung dengan pembunuh berantai.


Disaat mobil Andi yang ditampangi Hakki melesat menuju rumah Nala disaat itu juga dijalanan lain mobil Elias melesat menuju rumah Kepala Kepolisian Alda dengan kecepatan tinggi, meskipun menunjukkan wajah cemas nan khawatir tetapi Elias menatap jalan dan memperhatikan sekitar agar tidak menemukan halangan dengan serius namun pikiran-pikiran buruk berkecamuk diotaknya sehingga membuatnya berkata dalam hati.


“Aku tidak ingin kejadian seperti saat itu menimpa Nala…”


“Semoga masih sempat” Nala bergumam kemudian menekan gas dengan kakinya begitu kuat hingga mobilnya benar-benar melesat dengan kecepatan tinggi.


Tetapi seakan doa dan harapan Elias tak terkabulkan dirumah mewah Alda yang begitu gelap saat semua listrik dirumah itu dimatikan dan ketika Alda bersama penghuni lainnya meninggalkan rumah itu ada mayat Nala yang dipenuhi darah dan dibentuk seperti timbangan hukum dengan tangan kiri yang dilebarkan menopang sebuah pistol perak dan tangan kanan yang dilebarkan memegang kepalanya sendiri yang sudah terputus dan diberdirikan diatas meja ruang tamu rumah Alda seolah-olah hiasan ruang tamunya.[].