Bitter Life

Bitter Life
17. Pedoman dan Ajakan



Tidak ada satupun kendaraan maupun orang-orang yang mampu merusak keheningan yang mengitari Hakki dan Elias saat berhadapan seakan alam menyuruh mereka untuk saling berbicara sejelas-jelasnya, hingga suara Elias saat berkata pun terdengar begitu kuat meskipun berada pada jarak yang jauh pada Hakki.


“Kemarin setelah mengaku membunuh kedua orang tuamu di insiden pesta pernikahan anak Walikota satu minggu yang lalu…. dia menyerahkan dirinya ke kantor polisi”


“Aku meminjam buku catatan data terduga pelaku dari kepolisian” Elias memutar buku coklat itu diatas jari telunjuknya seperti memutar sebuah bola basket dan sesaat tersenyum tipis.


“Tentu saja aku tidak mau memberikannya secara cuma-cuma” kata Elias lagi saat tatapan matanya sekejap berubah menjadi sedingin es.


Demi membuat pembicaraan mereka berdua menjadi rileks lagi supaya tidak memunculkan kesalahpahaman, agar tenang Elias mengajak Hakki untuk berbicara disebuah cafe yang tepat berada di seberang rumah sakit itu, dan karena dia yang mengajak dan memilihkan tempat berbicara untuk Hakki dia juga yang berjanji untuk membayar minuman yang Hakki pesan.


“Aku hanya akan memberitahukan isi buku ini bahkan membantumu mencari identitas sebenarnya dari pelaku kedua orang tua mu, jika kau berjanji saat kasus orang tuamu selesai sepenuhnya, kau menyerahkan diri pada pemburu keganjilan dan bergabung dengan kami” Elias lanjut berkata setelah pelayan cafe tersebut meninggalkan Hakki dan dirinya setelah memesan minuman.


“Atau jika tidak ingin bergabung kau hanya perlu menyerahkan tubuhmu untuk dibunuh” Elias menatap tajam juga melihat dengan seksama keseluruhan tubuh Hakki yang begitu kurus baginya.


Seakan mengisyaratkan pada Elias jika dirinya tidak tertarik dengan perkataan detektif itu Hakki mengalihkan pandangannya pada Elias yang masih menatapnya dengan dingin kepada ornamen-ornamen serta pelayan yang mengisi cafe itu sembari berkata “Lebih baik aku tidak menerima bantuanmu daripada bergabung dan mati untuk pemburu keganjilan.”


“Jadi, jika kau berhasil menyelesaikan kasus orang tuamu kau masih akan tetap membunuh?” Elias menyilangkan tangannya dengan pelan.


Setelah berhenti memutar matanya untuk melihat sekeliling cafe Hakki akhirnya menghela napas kemudian berkata “Tidak juga, karena setelah ini aku tidak akan membunuh untuk amarah lagi aku hanya akan melindungi orang-orang yang berhargaku bahkan jika sampai harus membunuh.”


“Jika begitu, bergabung saja” kata Elias saat tangannya yang menyilang sedikit merenggang.


“Paman dan bibimu akan dilindungi oleh pemburu keganjilan jika kau bergabung”


Mendengar Elias yang mengetahui dirinya memiliki paman dan bibi ditempat dirinya tinggal sekarang membuat Hakki terkejut juga takut, namun begitu kagum karena mengetahui jika mengetahui informasi adalah bagian dari kehebatan seorang detektif dan sambil sedikit menggaruti rambut belakangnya Hakki menjawab perkataan Elias “Bukan, hanya mereka orang-orang yang kulindungi Elias, seorang teman yang selama ini selalu membantuku dan sesuatu yang berharga baginya akan kulindungi”


Pupil coklat mata Elias mengarah keatas saat memikirkan siapa seorang teman yang disebutkan Hakki dan mengingat lagi peristiwa penangkapan Hakki di garis waktu berbeda yang diciptakan Hakki dan kebetulan masih diingatnya, dia terbayang seorang gadis penyihir yang begitu mencemaskan Hakki saat itu.


“Oh, gadis penyihir itu rupanya”


“Bersama sesuatu yang berharga baginya maksudmu?” kening elias sedikit mengkerut.


“Keganjilan yang lain memilki ikatan dengannya aku akan membantunya untuk melindungi mereka agar tidak hilang dari muka bumi demi menjaga senyumannya” wajah serius ditunjukkan Hakki saat berkata dengan begitu tegasnya pada Elias.


“Setelah kasus ini selesai aku akan membantunya” Hakki menatap dalam dengan penuh keyakian yang begitu membara pada Elias yang masih menatapnya dengan begitu dingin.


“Keganjilan?” Elias melepas silangan tangannya dengan begitu cepat karena sedikit terkejut dan tak menerima perkataan Hakki.


“Kau tahu mereka hanya akan merusak keseimbangan dunia, dan menimbulkan perang” Elias meninggikan nada bicaranya.


“Jika melindungi mereka, tidak mustahil gadis penyihir itu akan terkena dampak dari sesama keganjilan, jadi percuma saja jika kau melindungi keganjilan” air muka marah perlahan muncul dari wajah Elias.


“Akan banyak tangisan orang yang timbul karena keganjilan untuk itu kita harus membantu pemburu keganjilan membasmi mereka agar tidak ada lagi yang menderita, dan hanya menyisakan gadis penyihir itu untuk diselamatkan”


Elias meneguk liurnya karena merasa tenggorokkannya kering setelah berbicara dengan nada tinggi nan cepat.


“Bukankah lebih baik seperti itu saja?”


Berkat pelayan yang telah membawa minuman yang telah mereka berdua pesan akhirnya bisa membuat Elias kembali menormalkan nada bicaranya bertepatan dengan tenangnya tarikan nafasnya, namun pada raut wajahnya masih terukir kekesalan.


Setiap dari mereka berdua meminum kopi susu yang mereka pesan dengan tiupan dan perlahan karena panas , sedikitnya orang yang mengunjungi kafe itu membantu mencipatakan kembali suasana hening diantara Hakki dan Elias diantara asap panas minuman mereka.


“Tapi selama ini aku belum melihat keganjilan membuat orang-orang menderita apalagi menimbulkan perang seperti yang kau katakan” Hakki mulai berkata lagi untuk mematahkan keheningan tersebut.


“Ya benar” kata Elias kemudian meminum lagi sedikit minumannya.


Elias mengambil sebuah buku lain dari saku jaket kulit hitamnya yang ia kenakan.


“Tapi semua itu akan terjadi tepat seperti yang tertulis dibuku ini” Elias meletakkan dengan perlahan juga sopan buku berwarna merah darah itu diatas meja dengan tulisan sansekerta pada sampulnya.


Jari telunjuk Elias mengarah ke buku merah itu “Penyebab dari kisah legenda Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah selalu bertarung adalah buku ini, leluhurku demi menyelamatkan bumi mencoba untuk membasmi Si Pahit Lidah agar ramalan masa depan tentang Si Pahit Lidah yang jadi pemicu perang ras manusia dan keganjilan tidak terjadi.”


“Buku dari leluhur pertama kami ini ditulis olehnya 3000 tahun lalu dan berdasar dari kekuatan mahadsyat yang pernah dilakukannya sekuat tenaga hingga mampu melihat apa yang akan terjadi dimasa depan” sambil mengetuk -ngetuk buku merah itu Elias meyakinkan Hakki tentang kelebihan dan keaslian buku yang dibawanya tersebut.


“Bahkan aku, dengan kekuatan yang masih lemah ini, samar-samar pernah melihat bayangan perang ras manusia dan keganjilan mengerikan yang akan terjadi entah kapan itu”


Dengan wajah yang ketakutan tangan Elias terkepal dan gemetaran.


“Keganjilan yang menarik keganjilan lainnya untuk berkumpul di suatu tempat bahkan dia juga penyebab munculnya mahluk keganjilan lain, dan menggerakkan orang untuk berperang”


Setelah berkata dengan perlahan Elias menatap Hakki dengan serius dan dihiasi rasa takut.


“Itulah Si Pahit Lidah sesungguhnya” Elias mengecilkan suaranya yang sedikit bergetar kemudian dengan perlahan melepas kepalan tangannya.


“Namun aku berbeda dengan leluhurku Hakki, aku memberikanmu pilihan untuk bekerjasama menghapus keganjilan laiinnya dan kita bisa menjadi penyelamat dunia bersama”


Saat berkata ada nada bujukan diantara penjelasan Elias pada terpapar jelas pada telinga Hakki yang hanya menanggapi kata demi kata detektif itu dengan menunduk dengan tatapan yang kosong.


“Demi ras asalmu yaitu manusia biasa kau akan jadi penyelamat bagi keseimbangan dunia”


Perkataan lanjutan dari Elias hampir tidak didengar karena Hakki memikirkan perkataan yang tepat untuk membantah Elias dan saat perkataannya muncul Hakki mengambil nafas dalam-dalam dan berkata dengan sedikit meninggikan nada suaranya.


“Tidak aku, tidak akan!_”


Elias yang menyerap perkataan Hakki itu sebagai ancaman lumayan merasa  takut dengan anak yang memiliki kekuatan mengerikan itu, namun bagaimanapun juga sebagai orang yang lebih tua dan memiliki gelar sebagai tokoh berpengaruh Elias berhasil menutup gestur maupun ekspresi takutnya dan mengantikannya dengan senyum kecut kemudian berkata dengan sedikit terkekeh “Jadi seperti itu ya.”


“Prinsip kita sedikit berbeda ternyata” nada yang kecil kembali lagi didalam perkataan Elias dan juga terdengar lirih seakan bercampur kesedihan didalamnya, kesedihan tersebut bahkan bisa dilihat jelas dari ekspresi wajahnya yang mengalihkan pandangan Hakki saat melihat kearah luar jendela kafe itu.


Elias menghela nafas kemudian berkata lagi “Aku, mau tidak mau, demi melindungi orang yang kusayangi aku harus menghancurkan para keganjilan.”


Setelah minum di kafe itu Elias dan Hakki melanjutkan perbincangan mereka pemberhentian Bus yang masih tak jauh dari rumah sakit itu, Hakki memilih duduk berjauhan dengan Elias karena masih waspada meskipun barusaja ditraktir minuman oleh Elias.


“Padahal tanpa bantuanku mungkin kau tidak mampu menyelesaikan kasus orang tuamu itu” Elias berkata memulai pembicaraan lagi sembari menunggu bus untuk pulang.


“Mustahil melakukannya sendiri, bahkan teman-temanku sesama detektif baik dari kepolisian dan swasta mencoba menyelesaikan kasus itu dulu sangat sulit melakukannya karena, banyaknya informasi yang ditutupi”


Sesekali Elias melihat kearah jalan raya memastikan Bus yang menuju arah rumahnya sudah tiba atau belum.


“Intinya jika kita bekerja sama mungkin kita berdua akan menyelesaikannya” Elias berdiri perlahan karena dari kejauhan dia melihat bus yang memiliki list hijau penanda bus kearah rumahnya sudah muncul dijalan raya ini.


“Kalau begitu pembicaraan kita berakhir sampai disini saja” Elias memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal terkhusus buku yang dia bawa tadi, kemudian sedikit menepu-nepuk jaket kulitnya serta celana hitamnya untuk membersihkan debu.


“Sebentar Elias, karena aku memilih tidak bergabung denganmu jadi kau akan selalu memburu nyawaku sampai kapanpun?” Hakki bertanya tanpa memandang wajah Elias.


“Ya, sampai kapanpun, demi mencegah hancurnya dunia karena keseimbangan yang telah terganggu karena keganjilan yang dirimu menjadi pemicunya” Elias menjawab perkataan Hakki dengan sedikit menoleh.


Elias kemudian memilih berbalik dan melihat kearah Hakki dan berkata lagi “Tapi untuk sementara waktu berkat rencana yang kupikirkan aku tidak akan membiarkan pemburu keganjilan mengganggumu”


“Kenapa?” Hakki pun terttarik dengan perkataan Elias sehingga kali ini menoleh pada Elias meskipun masih dipenuhi rasa waspada dan takut.


“Mungkin karena merasa kagum padamu yang telah merubah garis waktu dengan kekuatanmu dan melakukan hal segila dan sebebas itu demi menyelematkan temanmu aku jadi ingin sedikit ingin mempermudah hidupmu”


Elias tersenyum lebar dengan tatapan mata yang tajam seolah menantang Hakki yang berada didepannya itu.


“Aku ingin melihat hal gila apalagi yang akan kaulakukan demi mencapai tujuanmu, dan aku masih ingin melihatnya kebetulan aku sedang lelah, karena banyaknya pekerjaan akhir-akhir ini”


Elias mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya kearah kepala Hakki dengan cepat dan masih tersenyum lebar bak iblis berapi yang membara, dan Hakki hanya bisa terdiam dan menatap dingin detektif yang masih berstatus sebagai musuh bagi dirinya itu, dan diantara senyuman itu Elias berkata “Namun bukan berarti kau bebas sepenuhnya Hakki, kau hanya terbebas dari pemburu keganjilan untuk sementara namun tidak dariku karena aku ingin mengalahkanmu murni dengan tindakanku sendiri.”


Elias berbalik lagi kearah jalan raya dan memastikan lagi bus tadi yang telah semakin dekat dan berkata “Heh, membatalkan dirimu yang pergi kepesta itu dengan cara mengutuk dirimu sendiri di masa lalu.”


“Kenapa kau bisa mengetahui jika aku merubah garis waktu” Hakki berkata dengan mengencangkan suaranya agar tidak kalh dengan bunyi deru bis yang semakin dekat.


“Berkat mataku yang bisa melihat segala masa, di garis waktu apapun aku bisa melihatnya dan mungkin satu-satunya orang yang bisa melihat keanehan itu” Elias menjawab cepat dengan suara yang dikencangkan juga dan mengisyaratkan jika usaha Hakki untuk mengencangkan suaranya daiantara deru mobil bis itu berhasil.


Bus yang ditunggu Elias sekarang berada tepat dihadapannya, bunyi deritan pintu bis itu yang mempersilahkan Elias untuk menumpang sangat jelas terdengar, dan saat pintu itu terbuka Elias masih saja meneruskan pembicaraan pada Hakki.


“Kalau tidak salah, digaris waktu saat kau tertangkap itu aku melihat kau sepertinya mengenali gaids pembunuh bayaran itu” kata Elias.


“Iya aku mengenalinya” Hakki mengangguk pelan dengan menunjukkan ekspresi yang datar.


“Dia orang yang berharga?” Elias bertanya lagi.


“Mu..mungkin saja berharga_” Hakki berkata terbatah untuk menentukan kata yang tepat untuk menjawab Elias tentang apayang dia rasakan pada Furi.


Elias menaiki tangga untuk memasuki bus itu dan saat pintu itu tertutup senyum licik muncul di bibir Elias saat memikirkan gadis pembunuh bayaran yang dia tanyakan pada Hakki barusan.


***


Dengan sepatunya yang memiliki hak sekitar  5 cm Kaira melangkah kedalam ruangan mewah yang agak gelap dengan beberpa lampu saja didalmnya, langkah kaki Kaira yang berderap itu memunculkan suara detakan yang cukup kuat karena beradunya marmer dengan hak sepatu kaira sehingga bisa didengar oleh pria tua yang sedang menghadap televisi untuk menonton film koboy ala barat dan membuatnya menyadari jika Kaira masuk kedalam ruangannya, pria tua itu mengecilkan suara televisinya dan memutar kursinya dengan pelan untuk menghadap Kaira yang berdiri didepan meja kerjanya.


Pria tua itu menghembuskan nafas berat dan mulai berkata.


“Aku tidak bisa mengatakan jika kau berhasil atau gagal Kaira”


Diantara kumisnya yang putih pria tua itu tersenyum dengan tatapan yang meremehkan pada Kaira.


“Disaat kau tidak berhasil membunuh remaja berambut pirang yang membunuh klienmu yaitu Adam Maher saat pertarungan seminggu yang lalu, namun Adem Maher telah membayarmu lebih banyak, sebagai pembunuh bayaran uang hal penting tapi membunuh adalah hal yang lebih penting”


Pria tua itu mengambil sebuah foto dan beberapa berkas lainnya dari laci meja kerjanya dan meletakkannya diatas meja itu untuk ditunjukkan pada Kaira.


Laki-laki itu juga mengambil sebatang rokok dari laci itu dan mulai menghidupkannya sembari berkata “Tapi jangan bersedih, kau bisa menebusnya di minggu ini.”


“Dia orang yang dirumorkan sebagai Si Pahit Lidah…” Kaira berkata saat melihat foto Hakki yang sedang duduk bersantai disuatu tempat bersama Furi dan kebetulan dia juga mengetahui informasi dari perusahaan pembunuh bayaran tempat dia bekerja ini jika Hakki adalah Si Pahit Lidah sang pembunuh kriminal kota 33.


“Dia targetnya?” tanya Kaira karena meyakini orang seberbahaya Hakki sudah jelas banyak yang ingin membunuhnya.


“Bukan” diantara tangannya yang mencoba memantik api pria tua itu dengan jari telunjuknya sempat menunjuk Furi yang berada pada foto itu kemudian lanjut berkata “gadis itu, gadis itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Si Pahit Lidah.”


Meskipun sedikit terkejut jika harus membunuh orang yang dekat dengan hakki, Kaira bisa menjaga perubahan ekspresinya dan tetap memasang raut wajah yang datar, dingin dengan tatapan kkosong yang mengerikan.


“Bunuh dia, dan kau akan mendapatkan bayaran besar dari seorang detektif terkenal” kata pria tua itu setelah menghidupkan rokok yang dipeganginya dan mengembus asapnya dengan pelan kearah langit-langit.


Dengan mulut yang masih berasap pria tua melanjutkan perkataannya dengan tatapan yang tajam pada kaira “Detektif itu berkata dalam beberapa hari kedepan dua orang ini akan berkeliaran di kota 77, manfaatkan dengan baik kesempatan itu.”


“Baik, pak Direktur” Kaira mengangguk.[]