Bitter Life

Bitter Life
2. Mengutuk dan Menciptakan



Jantung seorang laki-laki yang baru saja membunuh seorang gadis terpompa begitu hebat hingga membuat darah di sekujur tubuhnya yang mengalir pada nadinya mengalir deras.


Napasnya tak beraturan karena kelelahan berlari, keringat di pelipisnya bercucuran karena cemas.  Beberapa kali dia melihat kebelakang memastikan jika para polisi yang berhasil memergoki tindakannya tidak mengejarnya lagi.


Di tepi jalan dia menemukan gang sempit yang cocok baginya menjadi jalur melarikan diri,  kakinya berderap dengan cepat memasuki lorong gang itu namun hal yang tidak diinginkan ditemuinya.


"Sial, gang buntu" dia berkata.


Tembok bata tinggi menjulang menghadang langkahnya untuk kabur meski begitu dia yakin jika dirinya mampu memanjat tembok itu, hanya saja sekarang belum saatnya karena tubuhnya letih karena tak henti berlari.


"Baiklah aku akan sembunyi dan beristirahat sebentar disini" dia berkata lagi saat masih kesulitan mengatur nafasnya yang tersengal.


Santai namun dengan dicampur adukan perasaan cemas setelah di kejar-kejar ketika dia duduk ditempat itu, nafasnya pun sedikit kembali beraturan, detak jantungnya perlahan kembali normal namun suasana itu berubah ketika dia melihat bayangan seseorang sedang duduk di puncak tembok sambil melihat kebawah untuk menatapnya dengan tajam.


"Sialan!!! Siapa kau!!!"


Saking terkejutnya, laki-laki itu ter lonjak ke belakang hingga kepalanya kepalanya hampir terantuk ke tembok bata dibelakangnya itu.


Orang yang berada di Puncak tembok itu tidak menjawab pertanyaan, malah memulai berbicara sembari tersenyum tipis kepada laki-laki yang sedang dikejar-kejar itu.


"Yoga Zaenal, 26 tahun, menjadi buronan yang membunuh dan memperkosa 5 gadis belia akhir-akhir ini,  dan hari ini melarikan diri dari polisi,  karena tertangkap basah sedang membunuh lagi" setelah berkata orang misterius itu menarik nafas.


"Sialan...Kau tidak pernah  puas ya?" Orang misterius itu melanjutkan perkataannya lagi.


Yoga yang sedang melarikan diri dari kejaran polisi itu hanya bisa terdiam cemas,  melihat orang misterius itu mengetahui perbuatan keji nya.


"Si...siapa kau!? " Yoga menanyakan lagi identitas orang misterius itu.


Dari ekspresi wajah yang datar orang misterius itu merubah ekspresi wajahnya sekejap menjadi ekspresi yang penuh amarah.


"Aku,  orang yang akan menghilangkan nyawamu"


Meskipun sedikit takut karena diancam akan di bunuh, Yoga dengan angkuhnya kembali berdiri dan menunjuk-nunjuk orang misterius itu.


"Ha!! Mau menghilangkan nyawaku!? Memangnya Siapa kau !? Kau mau menjadi superhero di malam hari begini ha!?  Mau mendapat pujian orang-orang kau sialan!? "


Yoga si kriminal melihat sekeliling dan mengambil balok kayu yang cukup panjang tergeletak di sebelahnya.


"Sini!  Akan ku ladeni kau! "


Orang misterius itu terkekeh "Sudah jelas aku yang akan kalah jika bertarung denganmu"


"Tenang saja... Aku tidak akan membunuhmu dengan cara bertarung"


"Aku.... Hanya akan.... Mengutuk mu"


Yoga terdiam mendengar perkataan orang misterius itu tanggapannya bercampur aduk saat akan menghina orang misterius itu karena pengecut,  dan akan menyebutnya aneh karena perkataan tak masuk akalnya, namun entah mengapa,  buluk kuduknya merinding mendengar ucapan orang misterius itu.


"Ada apa ini? "Yoga berkata.


Yoga mulai melihat sekeliling saat  merasakan sesuatu yang tidak enak,  sekujur tubuhnya merasa kedinginan karena suasana aneh yang melandanya, setelah itu ada dengungan kecil muncul di telinganya.


Orang misterius itu melihat smartphone yang dimilikinya untuk mencari tahu sesuatu.


"Yoga, Seperti info yang ku baca kau, selalu menipu gadis belia menjadi pria kaya yang selalu membawa motor sport untuk membujuk mereka.... Jadi sudah ku putuskan... "


Orang misterius itu memasukkan smartphone nya kembali ke saku,  kemudian berbalik untuk turun dari tembok keluar gang buntu itu demi meninggalkan Yoga,  namun sebelum itu dia membuka tudung jaket hitamnya agar wajahnya terlihat jelas oleh Yoga.


Orang misterius itu menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya untuk mengucapkan sesuatu.


Yoga melihat senyum tipis terakhir dari wajah orang misterius yang terlihat lebih muda darinya itu dan setelah perkataan orang misterius berakhir dengungan kecil di telinganya tadi semakin menguat dan mengeras.


"Telingaku kenapa?"  Yoga berkata dalam hati.


"Mau lari kemana kau?" Yoga berkata karena geram melihat orang misterius itu meninggalkan dirinya begitu saja.


"Kutukan yang kuberikan seperti judul film religi saja.." Orang misterius itu terkekeh, Kemudian saat kakinya telah mencapai tanah dia melangkah meninggalkan Yoga.


Yoga yang mendengar langkah kaki orang misterius itu dari balik tembok, penasaran dengan apa yang dilakukan orang misterius itu padanya.


"Hei tunggu"


Yoga memaksa memanjat tembok bata yang menghalanginya meskipun letih. Namun tindakannya berhenti,  saat dari jalan raya yang berada di luar gang ini terdengar suara deru mobil yang melaju kencang. karena takut itu adalah mobil polisi yoga gemetaran dan membeku di ujung gang buntu itu.


Telinganya semakin berdengung dengan keras.


Sekujur tubuhnya dingin.


Bulu kuduknya berdiri.


Dan beberapa saat kemudian mobil bak terbuka dengan membawa motor sport di sana yang dikiranya mobil polisi tadi muncul dan menerabas lobang di depan gang buntu itu,  akibatnya mobil bak terbuka itu berhenti mendadak  dan dengan anehnya, motor sport yang dibawa mobil itu terpental ke dalam gang, terbang dan menghantam kepala Yoga yang membeku karena masih ketakutan.


Hanya wajah datar yang muncul  dari orang misterius itu saat mendengar bunyi kerasnya motor sport menghantam tanah dan Yoga yang berada di balik tembok gang buntu itu.


Orang misterius itu terbatuk, dan di telapak tangan kanannya yang digunakan untuk menahan batuk muncul bercak darah.


"Aku mengurangi sisa hidupku lagi" Orang misterius itu berkata.


Setelah kejadian tadi orang misterius itu hanya menelusuri jalanan gelap tak berlampu,  dan menuju kesebuah rumah kosong yang sama gelapnya dengan jalan.


Sebelum masuk rumah dia melihat seekor kadal sedang diam tak bergeming di depan teras rumah kosong itu.


Orang misterius itu menatap kadal yang ditemuinya kemudian mengatakan sesuatu hal dengan sangat kecil sehingga hampir tak terdengar.


Tak lama setelah dia berkata kepala kadal itu meledak dengan mengeluarkan darah yang sangat banyak.


"Dia tidak pernah menyerah untuk mengawasiku"  Orang misterius itu berkata saat melangkahi kadal yang telah menjadi bangkai untuk masuk ke rumah kosong itu.


Orang misterius itu mengambil sebuah tas yang disembunyikannya di sana kemudian mengeluarkan sebuah seragam kerja wartawan dan id card dari kantung celananya yang bertuliskan perusahaan media cetak bernama berita rakyat yang berbentuk pin kartu.


Hakki Haranza nama asli orang misterius itu tertulis di id cardnya,  setelah mengalungi id card itu dia mengambil kamera foto dan bergegas meninggalkan rumah kosong itu.


"Sekitar setengah jam lagi polisi akan ke lokasi kejadian dari kecelakaan yang ku buat barusan"


"Aku harus cepat agar bisa duluan  mendapatkan narasumber wawancara"


Sambil berjalan Hakki menunduk untuk merenungkan sesuatu kemudian berkata dalam hati.  “Bodoh sekali,  ingin mendapati wawancara di sebuah kejadian disaat aku sendirilah yang menciptakan kejadiannya,  tapi untuk saat ini tak apa,  ini demi menjaga keadilan yang ku janjikan untuk diriku juga untuk kak Alicia, meski nyawaku dikorbankan hanya inilah satu-satunya cara,  selama aku berpura-pura menjadi wartawan untuk menutupi perbuatan ku,  aku tidak akan ketahuan.”


"Lagi pula karena meliput berita dengan cepat seperti inilah aku bisa memenuhi kebutuhan kehidupanku" Hakki menghela nafas.


Hakki berjalan agak lama karena memutar dari rumah kosong tadi untuk menuju gang sempit buntu tempat tewasnya Yoga dan saat hampir tiba di sana, dari kejauhan Hakki melihat gerombolan orang telah memenuhi gang sempit buntu itu sampai ke tepi jalan raya.


Hakki memulai untuk memfoto suasana kejadian dan tak lama berselang rombongan polisi yang akan menjadi target wawancara Hakki datang dengan beberapa mobil polisi dan sebuah mobil ambulan.


Suasana disaat orang-orang, polisi dan wartawan lain ada selalu dirasakan Hakki setelah dia  membunuh pelaku kriminal, kali ini ke 13 kalinya dia berhasil melakukannya berkat kemampuan supranatural yang ia dapatkan.


Jika bukan karena kemampuan supranaturalnya dia tidak akan bisa menegakkan keadilan sesuai dengan janjinya kepada Alicia sang gadis yang menjadi kakak tiri yang dia kagumi, kemampuan supranaturalnya didapatkan tepat 1 tahun yang lalu disaat dia sedikit lagi lulus SMA.[]