
Gemuruh petir terdengar dari kejauhan dan langit saat itu dipenuhi awan abu-abu, mendung yang tercipta pun pastinya membuat sekujur tubuh setiap orang yang tinggal di kota 77 begitu terasa dingin, begitu pula Hakki yang telah tiba di kota 77 beberapa menit yang lalu untungnya dia mengenakan sweater hitam bergambar segitiga putih didadanya untuk menangkal dingin di cuaca yang akan menghantarkan hujan itu, dan saat itu juga tampak jelas dari wajah kesalnya Hakki yang sedang berdiri didepan salah satu bangunan toko sedang menunggu seseorang.
Beberapa saat kemudian dari kejauhan dia bisa melihat Furi yang berlari kecil untuk menghampirinya, dan dia juga bisa melihat jika Furi membawa dua buah minuman kaleng berwarna hitam, Furi yang saat itu berderap dengan sepatu sportnya tersenyum pada Hakki dan berkata “Maaf lama.”
Hakki hanya bisa menanggapi Furi dengan air muka datar demi menutup kekesalannya pada gadis itu karena telah membuatnya menunggu hampir 30 menit sejak tiba di kota 77 padahal hanya ke toilet, namun tampaknya gadis itu sedikitpun tidak sadar jika Hakki agak kesal karena menunggu lama.
“Kau mau” Furi menawarkan minuman kaleng pada Hakki.
Hakkki yang sekejap memaafkan Furi langsung mengambil minuman kaleng bertuliskan Cappucino itu namun dia terkejut karena minuman kaleng itu sangat dingin saat menyentuh kulit telapak tangannya. “Minuman dingin?” kata Hakki kemudian melihat langit mendung seakan mengisyaratkan pada Furi jika tidak pas untuk meminum Cappucino dingin yang diberikan Furi di cuaca seperti sekarang.
“Sudah minum saja” Furi tersenyum dan menepuk Pundak Hakki dengan pelan dan langsung meneguk minumannya setelah merasa lega dia lanjut berkata “Dari kota 33 kita naik bis dan berjalan kaki, dan itu sudah cukup membuatku kehausan, apalagi aku sangat menyukai Cappucino.”
Hakki mengangguk setelah mengerti penjelasan Furi dia pun juga ikut meminumnya.
“Aku, sangat senang di akhir pekan bisa datang ke kota 77” kata Furi sembari perlahan menyeruput minumannya.
Namun meskipun perkataan Furi itu adalah ungkapan kebahagiaan Hakki menanggapinya dengan wajah bingung dan sedikit kesal kemudian memberikan peringatan “Ingat, kita kesini bukan untuk wisata!”
“Ya, aku tahu” Furi terkekeh.
Furi menghirup nafasnya dengan begitu panjang kemudian tersenyum dan berkata “Di akhir pekan bisa sedikit melepas penat dari kuliah dengan berjalan ke kota 77 denganmu kurasa sungguh menyenangkan.”
Hakki tidak mengerti kenapa bisa jantungnya berdegup saat melihat senyuman tulus Furi yang sangat manis padanya dikala hujan saat ini diantara perkataannya, karena senang mendengar perkataan itu yang secara khusus untuk dirinya pipi hakki pun juga memerah, karena itu semua Hakki tergagap saat akan mulai berkata “Ba..ba..iklah, kalo begitu kita langsung saja menuju panti asuhan Clover.”
Furi mengangguk dengan sedikit memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah agar tidak ketahuan oleh Hakki dengan perkataan yang diutarakannya barusan.
Bangunan besar berwarna putih mereka temukan setelah 15 menit berjalan kaki di kota 77, tampak di pagar betonnya yang bertuliskan panti asuhan Clover sudah cukup menjelaskan jika bangunan itu adalah tempat tujuan mereka di kota ini, baik Hakki maupun Furi memiliki rasa gugup untuk memasuki panti asuhan yang terlihat mewah, elegan nan bersih itu, seakan mereka takut jika nanti juga bertemu orang yang mewah juga elegan, karena bagi mereka biasanya ciri-ciri orang seperti itu sulit dimintai informasi.
Mereka yang masih memiliki rasa gugup kali ini benar-benar berada di pintu masuk panti asuhan Clover dan dari sana mereka berdua bisa melihat jika banyak anak-anak disana sedang bermain, dan saat itu juga diantara anak-anak yang berlarian ada seorang wanita yang sedang mengawasi anak-anak itu tersadar akan kehadiran Furi dan Hakki sehingga membuat wanita itu dengan cekatan menghampiri dua anak muda itu.
“Ada keperluan apa?” Wanita yang tampak seumuran bibi Hakki itu tersenyum ramah pada mereka.
Meski bekerja menjadi wartawan Hakki bingung untuk menanyakan hal tentang pembunuh yang memiliki kekuatan super saat menyerang orang pada peristiwa pembunuhan Adam maher karena takut wanita itu tak mengerti, percaya, bahkan dirinya takut jika identitasnya diketahui jika membicarakan tentang kasus dan supranatural pada wanita didepannya itu.
Hakki sedikit melirik pada Furi berharap temannya itu membantunya memulai pertanyaan namun dia tak menyangka Furi meliriknya juga seakan memintanya yang memulai pertanyaan duluan, karena tahu jika Furi juga bingung Hakki memutuskan memulai pertanyaan namun dia tergagap “Ka…ka..kami_”
“Tentang Video Ini!” Furi berkata dengan lantang dan mengeluarkan smartphonenya.
Hakki yang sedikit terkejut dengan suara Furi bisa melihat jika gadis itu melirik dirinya dengan wajah yang meringis seakan kasihan melihat Hakki yang benar-benar gugup hingga tergagap, Hakki menghela nafas dengan kuat karena merasa lega.
“Apa benar remaja pada kasus pembunuhan pejabat Adam Maher ini berasal dari panti asuhan ini” Kaira memutarkan video berita pembunuhan itu, dan meski hanya sekilas menontonnya tampaknya wanita itu langsung mengerti dan wanita itu sedikit mengangguk kemudian berkata “Ya benar.”
Wanita itu memiringkan kepalanya, dengan sesaat menunjuk video itu lagi dan berkata “Namun jika kalian mencari informasi lebih lanjut aku tidak bisa menjelaskannya, karena pendiri panti asuhan kami berkata tentang kasus ini, hanya dia yang boleh menjelaskan”
Mendengar perkataan itu Furi dan Hakki terdiam untuk beberapa saat dan mereka berdua saling melirik lagi kali ini dari mimik wajahnya Furi benar-benar meminta Hakki yang bertindak untuk menentukan langkah apa yang akan mereka berdua lakukan selanjutnya, hingga kemudian Hakki mencoba bertanya “Kalau begitu, bisakah kami menemui pendiri panti asuhan ini sekarang?”
Pertanyaan Hakki membuat wanita itu menoleh kearah jendela atas lantai dua yang kelihatannya merupakan ruangan pendiri panti asuhan Clover itu.
“Maaf, kurasa dia sedang banyak pekerjaan hari ini”
Untuk kedua kalinya Hakki dan Furi terdiam namun kali ni mereka tidak saling melirik melainkan sama-sama tertunduk merenungkan apalagi yang harus mereka lakukan setelah putusnya harapan mereka dalam pencarian informasi kematian kedua orang tua Hakki setelah mendengar halangan yang muncul itu.
Melihat wajah putus asa yang diperlihatkan kedua anak muda itu wanita itu pun merasa kasihan jika mereka tidak mendapatkan apa-apa terkait dengan apa yang mereka cari dan wanita itu akhirnya memberikan kesempatan dengan tahapan awal mengetahui dulu identitas mereka, siapa tahu bisa memberikan solusi.
“Sebelumnya aku mau bertanya dari mana asal kalian” wanita itu bertanya.
“Kota 33” Hakki menjawab dengan cepat.
“Apa kalian tergabung dengan organisasi tak biasa disana” tanya wanita itu lagi.
Namun untungnya wanita itu menanggapi dengan senyuman mengerti dan saat mengangguk wanita itu melanjutkan perkataannya dengan nada suara yang hampir seperti berbisik “Keganjilan rupanya…”
“Sebentar, kalo begitu akan kucoba bertanya pada pak pendiri apa dia bisa ditemui atau tidak” Seakan kata keganjilan merupakan kunci bagi dua anak muda itu dalam mencari informasi, wanita itu pun mencoba berusaha menemui atasannya untuk membantu kedua anak muda itu.
Setelah beberapa saat menunggu Hakki dan Furi melihat wanita tadi berlari kecil kearah mereka kemudian mendengarnya berkata “Pak Yalna meminta kalian menemuinya di ruang kerjanya.”
Wajah bahagia dan senyum semringah muncul dari mereka berdua dan Hakki pun melangkah lebih dulu untuk masuk, dan dibelakangnya Furi bertanya “Terima kasih, bu…?”
Wanita itu tersenyum melihat Furi yang tampaknya ingin mengetahui namanya dan dia menjawab dengan ramah dan lembut.
“Arina.”
“Dan Kalian?” Wanita bernama Arina itu balik bertanya, agar saling mengenal.
“Furi” Furi berkata dan langkah kakinya saat akan memasuki bangunan panti asuhan itu terhenti, sembari membalas senyuman ramah Arina kemudian menepuk pundak Hakki dengan cukup kuat agar temannya itu berhenti saat melangkah tak sabaran ketika mencari informasi demi bersikap sopan saat ada yang bertanya, kemudian berkata “Dan dia temanku Hakki” kemudian Hakki pun menyeringai lebar.
“Silahkan lewat tangga itu” Arina menunjuk arah Wanita itu menunjuk tangga yang tidak jauh berada didepan Hakki dan Furi.
Hakki melangkahkan kakinya duluan saat memasuki ruangan pendiri panti asuhan Clover diikuti dengan Furi dibelakangnya dan saat masuk mereka menghirup semerbak aroma herbal memenuhi setiap sudut ruangan itu, meski sedikit terganggu dengan bau yang menurut kedua anak muda itu terlalu berlebihan tampaknya mereka tak ingin terfokus pada bau tersebut dan dengan fokus yang kuat mereka berdua melangkah cepat kearah meja kerja pendiri panti asuhan Clover, dan disana mereka mendapati seroang pria paruh baya yang tampaknya memegang jabatan itu sedang duduk dan tersenyum ramah kepada mereka berdua.
Hakki dan Furi bisa melihat nama bertuliskan ‘Richard Von Diguiselce’ pada papan nama yang berada dimeja pendiri panti asuhan tersebut, yang membuat mereka mengerti nama dari pria paruh baya itu, saat mereka memerhatikan papan nama itu saat itu juga pria paruh baya bernama Ric chard tersebut berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk kearah empat kursi dan satu meja yang dikhususkan untuk tamu didekat sana untuk mengarahkan Hakki dan Furi.
“Silahkan duduk” kata Richard.
“Furi dan Hakki” Richard lanjut berkata dan tersenyum saat dengan ramah menyebut nama kedua anak muda itu, namun keramahannya itu membuat Hakki dan Furi takut karena dari mana pria paruh baya itu bisa mengetahui nama mereka berdua, belum sempat memikirkan hal tersebut lebih lanjut kursi di depan mereka sudah lebih dulu menarik perhatian mereka untuk duduk dengan segera setelah letih karena berjalan kaki.
Furi dan Hakki mengikuti perintah Richard dan duduk dengan perlahan dan sopan.
Richard juga ikut duduk pada kursi di depan mereka kemudian berkata lagi.
“Asosiasi Keganjilan Kota 33”
Richard melemaskan otot punggungnya dan dengan alami bersandar pada sofa empuk untuk menerima tamu itu sambil mendongak keatas sedikit dia berkata “Dulu saat masih kerja kantoran di Kota 33 aku mengenal beberapa orang disana….”
“Kalian juga keganjilan?” tanya Richard.
“Ya, aku seorang penyihir” Furi menjawab cepat.
Sesaat Furi melirik Hakki yang tertunduk saat disinggung soal identitas keganjilannya dan membuat Furi ragu untuk menjelaskan identitas Hakki
“Dan dia…….” Furi berkata dengan suara yang begitu kecil karena keraguan.
“Tidak apa Furi….” Hakki mempersilahkan Furi menjelaskan identitasnya karena sudah siap menerima segala reaksi apapun terhadap orang yang sudah pasti akan memberikan informasi yang berkaitan dengan orangtuanya.
“Dia Si Pahit Lidah” Furi lanjut berkata.
“Si Pahit Lidah!?” Mata Richard terbelalak, dia melepaskan sandarannya di sofa dan duduk lurus karena begitu tertarik dengan kata Si Pahit Lidah.
“Menakjubkan, jadi ternyata Si Pahit Lidah masih memiliki keturunan” Richard berkata lagi dengan air muka bahagia dan rasa penasaran.
“Tidak, aku bukan keturunannya, aku hanya diwarisi kekuatannya saja” Hakki berkata dan mengalihkan pandangan Richard yang melihatnya dengan begitu riang kearah lantai dan tertunduk dengan cukup lama.
Air muka bahagia Richard tadi sekejap berubah menjadi serius dan juga tergambar rasa kasihan diantaranya seakan mengetahui jika siapapun yang mewarisi kekuatan Si Pahit Lidah akan mengalami kepahitan hidup dia pun berkata dengan tenang nan perlahan “Diwarisi ya, kau mengemban tugas yang cukup berat nak.”
“Aku dulu pernah mengetahui tentang Si Pahit Lidah tapi tidak pernah sekalipun melihat sosoknya” Richard tersenyum. “Dan aku senang bisa melihat orangnya langsung”
Richard masih menjaga wajah seriusnya dan kali ini tatapannya pada Hakki seakan mengintimidasi anak muda itu dan berkata “Apa benar rumor tentang kasus Si Pahit Lidah yang membunuh parah pembunuh dengan kutukannya kau yang melakukan?”[]