
Furi tersentak dari tidurnya dan dengan cepat gadis itu beranjak pada sandarannya yang merupakan kasur tempat berbaring Hakki yang dirawat dirumah sakit, karena tersadar jika dirinya ketiduran sejak kemarin malam, dia tampak sungguh sangat terkejut karena tak pernah menyadari jika dirinya telah tertidur disamping Hakki. “Kau kenapa?” Furi mendengar suara pelan seseorang berbicara dengannya.
Saat menoleh perlahan dia melihat jika Hakki lah yang ternyata sedang berbicara dengannya, Furi terdiam untuk beberapa saat jantung yang dimilikinya terpompa kuat untuk kedua kalinya setelah terkejut saat terbangun dari tidur tadi sekarang dia mendapatkan kejutan lagi yang melegakan hatinya. Dia melihat Hakki sudah sepenuhnya bangun dari koma yang dialaminya.
Hakki cukup lama menatap Furi yang terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan tentunya dia kebingungan terhadap sikap gadis itu yang semakin lama meneteskan air mata bahagia setelah melihatnya seakan sudah lama tidak berjumpa dengannya dan kebingungan Hakki ditambah lagi saat melihat jika gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan memasang ancang-ancang akan memeluk dirinya yang saat ini sedang duduk, antara senang dan tak mengerti dengan alasan Furi terlihat seperti ingin memeluknya Hakki hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan dilakukan gadis cantik seperti Furi, namun Furi dengan cepat membatalkan niatnya memeluk Hakki, selain tersadar tubuh Hakki masih dipenuhi cedera, rasa gugup juga menggerayanginya saat mencoba memeluk seorang pria untuk pertama kali seumur hidupnya.
“AAA!! Se_sebaiknya aku memanggil dokter” meskipun tampak salah tingkah Furi masih bisa bertindak benar mengingat dengan kondisi Hakki yang baru terbangun, Hakki hanya bisa mengangguk kemudian tersenyum tipis melihat punggung Furi yang berlari kecil dengan sedikit tergopoh-gopoh saat keluar ruang rawat Hakki untuk mencari dokter demi mengkonfirmasi kondisi Hakki untuk sekarang.
Satu kelompok dokter yang terdiri dari beberapa perawat dan dokter utama baru saja meninggalkan ruang rawat Hakki, dan setelah melihat kondisi Hakki dokter menyuruh Hakki untuk tetap dirawat sampai tubuhnya benar-benar pulih sekitar satu dua hari lagi, mengetahui lamanya dia akan tetap disini dan takut jika pekerjaannya terkorbankan, untuk mengetahui beberapa lama dia dirawat demi memastikan jika waktu dia meninggalkan pekerjaannya tidak terlalu banyak Hakki bertanya pada Furi yang kembali duduk disebelahnya untuk memulai pembicaraan.
“Beberapa lama aku dirawat?”
“3 hari” Furi menjawab cepat sambil menunjukkan ke tiga jarinya.
“Kecelakaannya membuatku koma selama itu?”
Furi mengangguk pelan kemudian berkata “Ya, dan anehnya kecelakaan yang kau alami sebenarnya bukan penyebab utama kau koma.”
Hakki yang tidak mengerti keanehan yang dikatakan Furi akhirnya hanya bisa melihat gadis itu dengan tatapan tajam namun dengan mata yang sendu karena masih lesuh seakan memberi tahu jika dia tak mengerti. Furi juga membalas dengan tatapan sesaat dan langsung menjawab karena tahu seperti biasa Hakki belum mengerti perkataannya dengan gaya bicaranya yang cepat.
Furi menunjuk beberapa perban yang melekat ditubuh Hakki “Kau memang mendapatkan luka yang cukup serius pada bahu dan kaki kirimu yang sudah pasti bukan penyebab kepalamu mengalami pendarahan, teman-temanmu juga mengalami luka-luka sepertimu dan tentunya mereka tidak dirawat disini karena tidak mendapat benturan dikepala apalagi pendarahan.”
“Saat kecelakaan sangat jelas hidung dan mulutmu mengeluarkan darah yang sangat banyak meski tak mendapatkan benturan di kepala” Furi mengakhiri perkataannya saat mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri beberapa kali dengan kelima jarinya.
“Dokter mengetahui penyebabnya?” tanya Hakki yang menegapkan badannya karena semakin penasaran.
“Tidak” Furi menggeleng. “Dokter berkata tubuhmu mengalami kerusakan yang sangat banyak tanpa sebab setelah kecelakaan itu”
“Sangat mirip dengan efek dari kutukanmu jika kau menggunakannya sangat berlebihan, Tapi dengan sihir aku memastikan jika saat itu kau sama sekali tidak menggunakan kutukan pada siapapun.”
Jawaban Furi itu membuat Hakki tersentak juga merinding, saat itu juga dia teringat akan sesuatu tentang rencana yang telah dia pikirkan demi mencari informasi di tempat pesta pernikahan anak walikota itu. Dengan tempo yang pelan juga tersirat rasa tak percaya, untuk memastikan sesuatu ia bertanya “Sebentar, apa kau membawa kotak sihir dimensi yang aku pinta sebelum datang ke pesta pernikahan anak walikota saat itu?”
“Ya, aku membawanya” Dari dalam tasnya Furi mengambil kotak sihir bercahaya ungu gelap dan sedikit membersihkan bulu maupun debu yang berasal dari dalam tas, meskipun selalu membawa kotak sihir dimensi tersebut yang merupakan artefak sihir berharga warisan orang tuanya Furi sangat jarang mengeluarkan kotak sihir dimensi itu dari dalam tas karena hampir tidak pernah digunakan.
Hakki menunjuk kotak itu dan berkata dengan penuh keyakinan “Aku yakin disana ada secarik kertas yang ada tulisanku didalamnya.”
“Iya, benar” Furi mengangguk, saat membuka dan juga sekilas membaca tulisan pada kertas itu mata gadis itu terbelalak.
“Sejak kapan kau_” Furi membuat kemungkinan dari kertas yang memiliki tulisan tangan Hakki itu dan tergambarlah dipikirannya yaitu sesosok Hakki yang ceroboh mengutuk dirinya sendiri di masa lalu demi menyelamatkan semua orang dengan memanfaatkan kotak sihir ini yang memiliki dimensi ruang dan waktu tersendiri yang tidak berkaitan dengan dunia nyata dan barang yang tersimpan seperti kertas kecil yang dipeganginya itu atau benda apapun yang disimpan di dalam kotak sihir itu tak akan pernah terpengaruh oleh perubahan ruang dan waktu meskipun waktu di dunia ini maju atau mundur berabad-abad karena ulah seseorang seperti Hakki yang merubah garis waktu seenaknya.
“Kecelakaan itu berasal dari dirimu yang di masa saat berada di pesta pernikahan untuk mengutuk dirimu dimasa sebelum pergi kepesta pernikahan itu” setelah matanya terbelalak karena rasa tak percaya dan bingung Furi pun kemudian menoleh dengan pelan kearah Hakki yang sekarang telah larut dalam lamunan dengan sekejap.
Hening beberapa saat muncul diantara Furi yang menunggu jawaban serta lawan bicaranya Hakki yang masih larut dalam lamunan. Dengan sedikit rasa takut Hakki meneguk liur kemudian mulai berkata dengan pelan “Ternyata aku mendapatkan situasi terburuk.”
“Situasi Terburuk?” Furi menyingkap rambut sebahunya ketelinga demi mendengarkan jelas apa yang akan Hakki beritahu.
“Aku memiliki rencana darurat jika menemukan situasi terburuk yang merugikan aku akan mengutuk diriku sendiri di masa lalu untuk mencegahku datang ketempat pesta pernikahannya”
Hakki menoleh kearah jendela rumah sakit seakan mengingat kembali apa yang telah dia rencanakan didalam rumahnya yang berada diluar rumah sakit ini.
Hakki kembali melirik kertas yang dipegang Furi “Dan jika aku tidak mengingat apa-apa dengan apa yang kutemukan khususnya informasi dari Adam Maher aku mencatat disebuah kertas dan menaruhnya dikotak sihir dimensi milikmu yang kau katakan tidak akan pernah terganggu oleh perubahan ruang dan waktu.”
“Namun tak kusangka aku di garis waktu yang berbeda itu benar-benar mengalaminya” Hakki mengakhiri perkataannya kemudian menyender pada dinding dibelakangnya dengan hela nafas yang panjang.
“Ternyata kekuatanmu bisa melakukan hal semustahil dan serumit itu” Furi beberapakali mengelus-ngelus kertas dari tulisan Hakki itu seakan sedang memeriksa suatu hal terkait kemustahilan yang dilakukan Hakki dikertas itu dengan dicampur aduk rasa takjub, tak percaya dan bingung.
“Dari awal kekuatan ini memang mustahil, jadi bukan tidak mungkin hal mustahil seperti mengutuk seseorang dimasa lalu tidak bisa dilakukan” Hakki menjawab pertanyaan Furi dengan cepat.
“Tapi, lihatlah dirimu Hakki” Furi dengan perlahan kembali mengalihkan fokusnya pada kertas yang dipeganginya itu untuk mulai membaca kembali disaat masih berbicara.
“Pendarahan sebanyak itu aku yakin berasal dari efek penghancuran tubuhmu karena kau menggunakan kekuatanmu untuk kutukan yang mengakibatkan perubahan sejarah.” Furi lanjut berkata.
“Kuharap kau tidak menggunakan kekuatanmu untuk hal seperti merubah garis waktu lagi demi merubah sejarah yang kau inginkan”
Permintaan maaf dari Hakki membuat Furi juga ikut merenungkan sesuatu didalam pikirannya, dengan ekpresi yang dipenuhi dengan rasa bersalah gadis itu berkata lagi dengan volume suara yang kecil“ Setelah mendapat informasi terkait operasi besar pemburuan Si Pahit Lidah yang akan dilakukan Elias dari temanku yang juga penyihir, Aku tahu yang seharusnya minta maaf karena memaksamu ketempat ituadalah aku karena mungkin saja jika dirimu di masa depan mendapat kemungkinan terburuk penyebabnya karena permintaan dariku .”
“Entah apa yang akan terjadi padamu sekarang jika kau tidak merubah garis waktu…” Furi tanpa sadar mensyukuri apa yang telah Hakki dapati dari tindakannya meskipun tidak menyutujui tindakan temannya itu yang sungguh ceroboh.
“Akibat kebodohanku yang memaksamu pergi ketempat itu….” Furi menundukkan kepalanya dan sedikit menghela nafas.
“Aku tidak pernah mengira kotak sihir dimensi ini akan digunakan untuk seseorang untuk merubah masa lalu.”
Furi sedikit mengetuk-ngetukkan jarinya pada kotak sihir dimensi itu.
“Baiklah aku akan membacakan apa yang ditulis dirimu digaris waktu ketika tertangkap” Furi mulai memerhatikan kalimat pertama tulisan di kertas itu dan mulai mengatur suaranya agar bisa didengar Hakki dengan baik.
-Di garis waktu ini diriku tertangkap oleh para pemburukeganjilan yang bekerjasama dengan Elias Si Mata Empat yang sedang melaksanakan operasi besar penangkapan Si Pahit Lidah.
-Berhati-hailah pada Elias bila perlu menhindar darinya! Kemungkinan dia bersama pemburu keganjilan akan melakukan operasi besar penangkapan Si Pahit Lidah lagi, karena dia adalah anggota dengan istilah lain yang tak mengenakan seperti “keganjilan yang dimanfaatkan pemburu keganjilan”.
-Jangan pernah berurusan dengan gadis pembunuh bayaran seperti Kaira, dia benar-benar profeional dalam pekerjaannya untuk membunuh orang, hindari juga dia, kemungkinan ada orang membayarnya untuk membunuh Si Pahit Lidah.
-Pembunuh ayah dan ibu adalah orang penting di Kota 33, hanya itu yang kutahu sebelum Adam Maher dibunuh seorang remaja pirang dengan kekuatan super yang mengatakan jika dirinya yang merupakan anak berpakaian lusuh adalah pembunuh ibu dan ayah padahal Adam Maher mengatakan pembunuhnya adalah orang penting.
“Ternyata benar di garis waktu itu, kau ditangkap oleh Elias yang bekerja sama dengan pemburu keganjilan.” Furi menyimpulkan tulisan yang dibacanya.
“Semua yang terjadi ditulisan ini karena salahku” Furi merenung untuk sesaat kemudian berkata lagi. “Sekali lagi maafkan aku yang di garis waktu ini, juga di garis waktu saat kau ditangkap Hakki_”
“Kaira….” Hakki berkata pelan dan secara langsung mematahkan permintaan maaf yang berulang dari Furi, seakan mengisyaratkan sudah cukup dan tidak ingin menanggapinya lagi.
“Teman sekelasmu itu ya” Furi pun memilih ikut menanggapi perkataan potongan dari Hakki itu.
Meski menanggapi dengan tenang, bulu kuduk Hakki berdiri dengan sendirinya disebabkan takut dengan profesi sebenarnya dari gadis yang dia sukai dan khawatir jika ada orang-orang yang akan menyewa gadis itu untuk membunuhnya karena memiliki kekuatan Si Pahit Lidah, karena itu dengan suara yang kecil Hakki menjawab singkat. “Ya, benar.”
Furi meletakkan kertas itu diatas kotak sihirnya disaat pikirannya mengingat wajah Kaira yang sering tersenyum saat berbicara dengan dirinya dan Hakki di SMA dulu. “Sepertinya kau harus menjauhinya, sama seperti kau harus menjauhi Elias.” Furi tersenyum tipis saat berkata dirinya juga memiliki sedikit maksud untuk menjauhkan Kaira dari Hakki yang diketahuinya memiliki sedikit perasaan pada gadis pembunuh itu.
“Ternyata hanya itu informasi yang aku dapatkan dari adam maher” Hakki menghela nafas.
“Kurasa kau mendapatkan petunjuk lainnya Hakki” Furi menyingkap rambut sebahunya ketelinga.
“Remaja pirang berpakaian lusuh itu dari tulisanmu di garis waktu yng berbeda itu aku yakin dia adalah kunci utama pelaku pembunuhan orang tuamu.”
“Aku sudah menontonnya kemaren” Furi mengeluarkan smartphonenya dan memutarkan sebuah video berita dari internet tentang kasus pembunuhan yang terjadi di Gedung Pesta Pernikahan anak Walikota kepada Hakki. Hakki melihat sesosok anak yang diduga membunuh Adam Maher beserta kedua rekannya yang wajahnya jelas terekam CCTV sedang bertarung dengan seorang gadis yang diduga oleh Hakki Kaira, dan diakhir video itu dijelaskan jika remaja pirang itu diduga berasal dari panti asuhan Clover yang berada di kota 77.
“Dari yang kau tulis sangat jelas jika dia ingin menutupi siapa sebenarnya orang yang membunuh kedua orang tuamu” Furi mematikan video itu dan meletakkan smarthphonenya kembali.
“Ini hanya saranku tidak apa jka kau tidak ingin menurutinya.” Diantara jeda perkataan Furi itu ada segudang rasa ragu dan takut karena khawatir akan membahayakan Hakki lagi seperti yang yang terjadi di dalam tulisan Hakki tersebut, meski itu hanya terjadi digaris waktu yang lain tetapi Furi dihantui rasa bersalah dan merasa tak enak memberikan saran yang agak memaksa diantara diantara keraguannya. “Aku bersedia menemanimu mencari informasi tentang remaja pirang itu di panti asuhan Clover….” Furi lanjut berkata dengan sedikit meringis karena takut Hakki menolaknya
“Baiklah, setelah aku diperbolehkan pulang, kita akan mencari informasi mengenai remaja berambut pirang itu” Hakki tersenyum pelan pada Furi.
Furi menghela nafasnya sembari membalas senyuman Hakki, dia dan Hakki pun langsung mendiskusikan rencana mereka mencari informasi remaja berambut pirang itu dan memutuskan untuk pergi mencari informasinya pertama kali ke panti asuhan Clover.
Setelah dua hari satu malam, Hakki diizinkan pulang kerumah dari rumah sakit tempatnya dirawat seperti biasa kesepian kali ini juga menghantui aktivitasnya, tidak ada yang menjemputnya kerumah sakit itu untuk mengantarnya pulang kerumah, bahkan Furi yang merupakan salah satu dari sedikit orang yang menjenguknya tidak bisa menemaninya pulang namun meskipun begitu Hakki tetap menjaga pikirannya untuk tidak sedih disaat sekarang karena dirinya akan memulai menjalankan misi mencari informasi tentang kematian orang tuanya agar bisa fokus.
Gerbang rumah sakit itu yang menunjukkan matahari senja ditatap hakki dengan mengerenyitkan matanya sedikit dan pemandangan itu membuatnya tersenyum karena bersyukur masih bisa melihat matahari indah disaat dirinya telah menggunakan kekuatannya yang hampir mencabut nyawa yang dia miliki, pemandangan yang dia perhatikan diusik oleh sebuah siluet manusia yang sepertinya sedang berdiri dihadapannya sembari menatap dirinya begitu dalam, langkah Hakki terhenti karena waspada dengan manusia yang mencurigakan itu. Manusia dihadapan Hakki itu menarik nafas dan berkata dengan suara dalam seroang laki-laki “Jadi seperti ini maksudmu di Garis Waktu yang berbeda itu?”
“Elias?” Hakki terbelalak saat melihat Elias, karena bagi dirinya di garis waktu ini, inilah pertama kalinya dia melihat detektif terkenal itu secara langsung. Namun meskipun beruntung bertemu orang terkenal Hakki sangat ketakutan karena mengetahui jika dirinya di garis waktu yang berbeda mengatakan jika Elias telibat dengan pemburu keganjilan yang siap menangkapnya.
“Tak usah takut begitu aku tidak membawa siapapun untuk menangkapmu” Elias berkata saat menyadari gestur Hakki yang begitu ketakutan saat berhadapan dengannya dan dia pun melangkah maju mendekati Hakki melepaskan dirinya dari bayangan tembok agar sosoknya yang memasang raut wajah yang tak berbohong bisa dilihat jelas oleh Hakki. “Hari ini aku hanya ingin berbicara denganmu” lanjut Elias.
“Be_berbicara?” Hakki yang sudah jelas hanya bisa menuruti kehendak Elias karena tidak bisa melakukan apa-apa terkhusus melarikan diri setelah menggunakan kekuatan yang begitu besar hanya bisa tergagap ketika berkata saat semakin lama otaknya memberi sinyal bahaya.
Elias menanggapi Hakki dengan anggukan pelan kemudian dari dalam sakunya dia mengambil sebuah buku kecil berlambang kepolisan negeriini dan berkata “Kau mencari identitas remaja berambut pirang yang menjadi terduga pembunuhan Adam Maher dan ketiga rekannya kan?”[]