
Tidak ada satupun orang yang datang untuk melihat ataupun mengintip dari pintu dan jendela rumah mereka kegiatan pencarian petunjuk dan bukti dari si pembunuh sebenarnya dari tragedi kota 68 di rumah kosong ini karena memang orang-orang diperumahan ini tidak ingin mendekat dan terkait dengan kasus itu karena takut jika pembunuh yang masih berkeliaran itu juga mengincar mereka karena pembunuh di tragedi itu menculik dan mengincar keluarga orang untuk dibunuh apalagi mereka sering mendengar raungan dan tangisan misterius seorang perempuan didalam rumah itu yang menambah kengerian.
Nala dan Hakki yang mengetahui situasi dimana tidak ada satupun orang yang memerhatikan mereka melakukan penyelidikan dirumah kosong itu bisa sangat leluasa menelusuri setiap sudut rumah tersebut tanpa gangguan, tetapi mereka berdua tetap waspada dengan rumah bekas tempat pembunuhan besar-besaran yang memiliki suasana mengerikan itu dan memlih untuk tidak terpisah saat menyelidiki dan mencari hal-hal yang bisa menjadi petunjuk.
Disebuah kamar kosong mereka menemukan sebuah kursi kayu lengkap dengan kawat-kawat yang sepertinya diduga untuk menyekap korban yang bisa diketahui dari bekas darah yang banyak menempel dikursi itu, bercak-bercak darah juga menghiasi dinding ruangan itu. Nala dan Hakki memberanikan diri masuk keruangan tersebut dan disana Nala menemukan sebuah kaleng biskuit yang tertutupi debu dan saat diguncang ada bunyi dentingan besi didalamnya, dengan cepat nala membuka kaleng itu dan menemukan sebuah pisau dapur yang memiliki bekas noda darah juga.
Nala menghela nafas saat menemukan pisau itu kemudian membaca merek yang terdapat di gagang pisau itu yang bewarna hitam kemudian berkata pada Hakki yang sedang memeriksa sekitar jendela ruangan itu “Kurasa kita bisa menyelidiki asal pisau dapur ini dibeli supaya mendapatkan petunjuk.”
Tetapi bukannya mengangguk atau menjawab perkataan Nala untuk menanggapi, Hakki malah terperangah oleh sosok yang berada dibelakang Nala, seorang gadis dengan kukunya yang terlihat sangat tajam dan panjang sedang memasang kuda-kuda untuk menusuk Nala dari belakang.
“Ada apa?” Nala berkata polos karena penasaran kenapa Hakki melihat dirinya seperti melihat hantu.
“Kau tidak bisa bergerak untuk sementara!” kata Hakki saat mengeluarkan kutukannya dengan wajah yang cemas saat menyaksikan Nala yang saat ini berada dalam bahaya.
Nala membalas Hakki dengan wajah yang kebingungan kemudian berkata “Tidak bisa bergerak?”
Efek seperti telinganya berdenging dan bulu kuduk merinding saat mendengar perkataaan Hakki dirasakan oleh Nala bahkan setelah mendengarnya tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan sehingga membuatnya berkata dengan begitu panik dan kebingungan yang terlihat diwajahnya.
“Benar! aku tidak bisa bergerak!”
“Kau menggunakan kekuatanmu padaku?” Nala yang cemas bertanya pada Hakki karena takut jika Si Pahit Lidah itu akan membunuhnya dan berkhianat ditempat ini. Nala yang masih cemas juga takut itu merasa akan diserang lagi oleh Hakki saat melihat Si Pahit Lidah itu bergerak kearahnya dan mendorongnya begitu kuat kebelakang hingga membuat tubuhnya yang kaku karena tak bisa bergerak tersungkur hingga terbentur begitu keras dilantai bermamer putih dibawahnya.
Nala melihat Hakki yang mendorongnya tadi itu sedang menatap waspada seroang gadis yang menggunakan daster serba putih didepannya yang memasang pose untuk menusuk seseorang dengan kukunya yang terlihat tajam. Karena menduga jika sebenarnya Hakki seakan melindunginya Nala sekejap kembali menganggap Hakki masih berada dipihaknya dan menggangap jika gadis yang terlihat mengerikan yang sepertinya akan menusuk dirinya adalah musuh sebenarnya.
Dugaan keberpihakan Hakki padanya itu menguat saat dia mendengar Hakki berkata “Sebenarnya kutukanku untuk gadis yang dibelakangmu yang sepertinya akan menyerangmu” Hakki menoleh dan sedikit menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya “Tetapi maaf, jika kau mendengarnya dan menganggap itu untuk dirimu maka kau juga terkena kutukanku.”
“Efek kekuatan kutukan sangat mengerikan” Nala menanggapi perkataan Hakki itu dalm hati.
Gadis misterius yang sedang terikat oleh kutukan Hakki itu mengumpat dengan nada tinggi yang mencapai jeritan “Sialan!!! kupastikan kalian akan mati mengenaskan juga seperti kakak ku.”
“Terutama kau Si Pahit Lidah!” gadis itu memelankan nada bicaranya dan dengan air muka penuh amarah dia menatap Hakki dengan tajam.
“Adiknya Eric?” Hakki berkata dalam hati saat sadar jika terselip kata ‘kakak’ di perkataan gadis itu dan melihat kulit pucat serta taring tajam dan aura yang sama dengan Eric si Vampir.
Mengetahui jika gadis itu juga seorang vampir Hakki semakin menguatkan waspada dan memastikan kuda-kudanya benarbenar sempurna agar tidak kerepotan seperti saat melawan Eric beberapa hari yang lalu. Ditengah Hakki yang fokus akan bertarung Nala yang masih terikat kutukan Hakki dengan santai bertanya “Siapa dia?”
Kutukan yang mengikat gadis vampir itu akhirnya menghilang dan saat bisa bergerak dengan kakinya dia menincar kepala Hakki dengan tendangan yang sangat kuat tetapi untungnya dengan reflek yang cepat Hakki merespon tendangan kaki kanan itu dengan tangkisan tangan kanannya, benturan kuat tendangan gadis itu membuatnya sedikit meringis saat beradu dengan otot serta tulang tangannya dan serasa akan patah dan didalam situasi itu Hakki menyempatkan menjawab pertanyaan Nala “_Nanti aku jelaskan!”
Nala menyaksikan pertarungan hebat antara Hakki dan gadis misterius itu, detektif kepolisian itu hanya bisa menggengam pistol yang dibawanya itu untuk pertahanan diri jika ada musuh lain atau jika gadis itu mencoba menyerangnya dan duduk tersudut diujung ruangan penyekapan korban itu. Beberapa kali dia terperangah melihat jual beli serangan dari Hakki yang memberikan kutukan aneh diluar nalar hingga gadis lawannya yang memiliki kekuatan dan kelincahan super dengan taring dan kuku yang tajam saat menyerang Hakki.
Gadis vampir itu sempoyongan, selain kerepotan karena menerima dan menahan efek kutukan Hakki dan memaksakan diri bergerak, tubuhnya yang lesuh karena belum sedikitpun meminum darah minggu ini membuatnya kewalahan saat menghadapi Hakki, gadis vampir yang telah kehilangan tenaga itu menyandar pada dinding dan dengan terengah-engah dia memaksa dirinya berkata “Kau sangat kuat.”
“Dengan kekuatan mengerikan itu, sudah pasti aku tidak akan bisa mengalahkanmu” lanjut gadis itu kemudian menyingkap rok daster putihnya yang menunjukkan beberapa bom yang terikat di paha dan kakinya.
Sambil menunjuk bom-bom yang terikat ditubuhnya dengan senyuman jahat dia berkata lagi dengan nada tinggi “Untungnya tuanku memberiku benda ini, untuk menghancurkan semua bukti dan petunjuk yang akan menunjukkan identitas tuanku serta menghancurkan tubuhmu!”
Nala yang juga menyaksikan kejadian itu bisa melihat jika ada angka waktu mundur di bom yang tertempel pada gadis misterius itu yang menunjukkan jika bom itu akan meledak 12 menit lagi sehingga membuat dirinya dengan langsung menoleh pada Hakki agar Si Pahit Lidah itu cepat mengambil keputusan untuk melawan gadis misterius itu dengan tepat kemudian berteriak “Hakki! Itu bom waktu!”
Dengan wajah jahat yang tak memiliki belas kasih nan kejam gadis itu perlahan terkekeh kemudian benar-benar tertawa terbahak-bahak “Hahahahahahahahahah”
“Pak Nala selamatkanlah dirimu dan barang bukti itu aku akan menahan gadis ini dan akan menyusul setelah aku menghabisinya” Hakki memerintah saat menoleh dan menatap Nala dengan serius.
“Baik!” Nala menjawab cepat dan tanpa pikir panjang meninggalkan rumah itu bersama dengan pisau dengan noda darah yang dibawanya karena yakin Hakki seorang keganjilan yang memiliki kekuatan kutukan hebat akan bisa mengatasi masalah yang muncul dari gadis misterius itu.[]