
Seekor cicak yang tak bergeming didinding kamar Hakki yang berwarna putih polos ditatap begitu lama olehnya karena seakan-akan itu adalah cicak dari sihir Furi yang mengawasi dirinya saat beraktifitas sebagai Si Pahit Lidah dengan perantara hewan, cicak, kadal, burung dan binatang jalanan lainnya sering digunakan Furi untuk mengawasi Hakki dengan sihirnya yang membagi penglihatan dengan hewan.
Biasanya setelah mengawasi Hakki, Furi akan menghancurkan kepala hewan perantaranya agar posisi Hakki tidak terdeteksi pemburu keganjilan, karena mengingat itu Hakki tersenyum lembut kemudian berkata pelan “Kepala cicaknya tidak pecah.”
Tentu saja Hakki tau jika cicak itu bukanlah perantara sihir Furi karena orangnya sudah tiada saat itu dia hanya mengizinkan hatinya mengenang hal-hal dari Furi meskipun terasa perih, hingga membuat matanya berkaca-kaca namun saat baru mulai setetes air yang mengalir dipipinya ketukan yang begitu kuat muncul dari pintu masuk rumahnya.
Hakki dengan cepat mengusap air matanya dan bergegas menuju jendela rumahnya, membuka sedikit tabir jendela yang tertutup dan memastikan siapa orang yang mengetuk rumahnya dengan mengintip, seorang laki-laki seumuran pamannya dengan jaket kulit hitam dan celana dasar yang warnanya sama berdiri dengan wajah yang sangat ramah di depan pintunya pada malam ini.
Karena tidak menemukan bahaya dan keanehan pada laki-laki itu Hakki membuka pintu rumahnya meskipun hanya setengah, melihat Hakki yang muncul laki-laki itu menyapa dengan mengangkat tangan kanannya kemudian berkata “Selamat malam, apa benar ini rumah Hakki Haranza?”
“Ya benar” Hakki mengangguk.
Laki-laki itu memberi jabat tangan pada Hakki sembari berkata “Aku Nala detektif kepolisian kota 33_”
Perkataan Nala terputus saat melihat Hakki seketika mendorong pintu untuk menutupnya karena mendengar perkataannya yang menjelaskan jika dirinya seorang detektif kepolisian dan dengan sigap Nala menahan pintu itu agar Hakki tetap mendengar perkataannya.
“Tunggu sebentar, aku bukan ingin menangkapmu” Nala mengerang menahan pintu yang didorong Hakki dengan sekuat tenaga.
“Iya aku tahu, tapi biasanya detektif ingin menyelidiki diriku karena mencurigakan” Hakki membalas perkataan Nala dengan tempo yang cepat serta suara yang kencang.
“Itu juga tidak” Nala menggeleng dengan begitu cepat sembari menahan tekanan dorongan pintu.
Nala menghela nafas kemudian berkata dengan lantang “Aku hanya ingin membantumu menemukan identitas pembunuh orang tuamu.”
Mendengar perkataan itu Hakki berhenti mendorong pintunya dan membiarkan pintu rumahnya terbuka kemudian membiarkan Nala si Detektif kepolisan masuk.
Kehampaan, itulah yang tergambar dirumah Hakki saat Nala memasukinya sunyi karena hanya Hakki sendiri dirumah ini dan hanya menggunakan sangat sedikit properti rumah dan untungnya ada beberapa sofa diruang tamu rumah itu sehingga Nala bisa duduk setelah Hakki mempersilahkan masuk.
Tanpa basa-basi Nala memulai pembicaraan untuk mulai membujuk Hakki karena itulah tujuannya dan berkata “Jika secara resmi aku kesulitan membantumu tetapi tidak jika kita berdua berdiri sendiri menjadi tim dan menemukannya secara independen.”
Hakki tidak menanggapi perkataan Nala itu namun hanya mendengarnya dengan seksama sembari melihat-lihat gaya berpakaian Nala yang seperti anak muda penyuka musik rock namun masih setia menggunakan lencana kepolisian kota 33 berbentuk kalung yang bergantung dilehernya.
Mengetahui Hakki mendengarkan perkataannya dengan seksama namun dengan mata yang tertuju pada penampilannya, Nala tetap melanjutkan penjelasannya “Aku banyak kenalan orang-orang penting di kota ini kita pun bisa berkoodinasi dengan teman-temanku sesama anggota kepolisian nantinya untuk membantu, sehingga kita bisa mengetahui identitas pelaku pembunuhan orangtuamu.”
Nala memberhentikan perkataannya dan menatap Hakki cukup lama seakan menyuruh Hakki kali ini yang berbicara tetapi malah tercipta suasana hening cukup lama saat hakki memikirkan apa yang akan disampaikan dan Nala yang menunggunya, setelah beberapa saat Hakki menundukkan kepalanya dengan tempo pelan dan suara yang kecil dia berkata “Aku sendiri sudah cukup menemukan pembunuh orangtuaku.”
“Tidak, kau saja tidak cukup” Nala menggeleng.
Nala beberapa kali menggerak-gerakkan kakinya kemudian sedikit menggaruti kepalanya dan berkata “Setahuku kasus yang ditutup biasanya kasus yang melibatkan orang penting, jadi jika ada orang sipil sepertimu mencoba mencari tahu atau memecahkan kasus yang ditutup, maka akan dipersulit.”
“Bahkan nyawamu bisa diincar” Nala menunjuk Hakki, kemudian menunjuk dirinya sendiri “namun jika bersamaku resiko itu bisa dikurangi.”
Hakki menoleh pada Nala kemudian memberikan tatapan tajam nan serius pada detektif itu.
“Membunuhnya”
Mendengar perkataan Hakki yang ingin balas dendam dengan membunuh mengingatkan Nala tentang apa yang pernah Hakki lakukan sebelumnya dan dia bertugas untuk menangkap Hakki, itulah alasan utama dirinya kesini. Membujuk Si Pahit Lidah agar menyerahkan diri pada kepolisian menjadi tujuan utama Nala datang kesini dan dia pun berkata “Tunggu sebentar.”
“Aku mau meminta suatu hal padamu”
Hakki menoleh pada Nala dan dengan seksama mendengarkan perkataan Nala selanjutnya demi menggambarkan jika dirinya akan memenuhi permintaan itu.
Mengetahui tanggapan baik Hakki itu Nala melepaskan sandarannya dan berkata “Baru-baru ini dibantu dengan Elias si detektif yang terkenal itu aku mengetahui identitasmu sebagai Si Pahit Lidah yang menjadi rumor yang hoboh dikota ini karena membunuh dengan hal aneh diluar nalar dan telah melakukan pembunuhan terhadap 73 orang kriminal pembunuh yang sudah bebas juga yang menjadi DPO beberapa bulan ini dengan kutukannya selama dua tahun ini.”
Mendengar nama Elias lagi setelah beberapa saat tak mendengarnya membuat Hakki geram dan mengepalkan tangan dan menatap Nala dengan ekspresi penuh amarah karena mengira jika Nala bekerjasama dengan Elias yang merencanakan sesuatu dibalik semua ini.
“Sudah kuduga orang itu lagi” Hakki menggeratakan giginya
“Sabar Hakki, dengarkan aku dulu” dengan tenang Nala tersenyum mencoba menenangkan Hakki. Meskipun masih dalam amarah Hakki mencoba mengendalikan dirinya agar tak membuat kekacauan dan berlapang dada mendengar dulu perkataan Nala, Hakki pun melemaskan jari jemari juga otot wajahnya yang kaku karena geram untuk menggunakan air muka yang datar.
Nala menghela nafas lega karena lepas dari amarah orang yang mempunyai kekuatan mengerikan kemudian berkata dalam hati "Orang itu lagi? Apa maksudnya? Saat mendengar nama Elias kenapa dia begitu marah bukannya mereka sesama keganjilan?”
Karena dia kesini untuk mengetahui masalah Hakki dan Elias dengan cepat Nala mengalihkan pikirannya dan kembali fokus pada tujuan utamanya dan berkata “Pembunuhan yang selama ini kau lakukan telah melanggar hukum meski kutahu kau melakukannya karena tidak ingin para kriminal berkeliaran agar tidak ada lagi orang yang mengalami nasib yang sama sepertimu.”
“Jika kau tidak ditangkap pemerintah negeri ini yang sudah geram dengan kelakuanmu mungkin secara besar-besaran mengincarmu bahkan mungkin keganjilan lainnya.”
Nala menatap lama mata Hakki yang terlihat mati saat bicara padanya dan melanjutkan perkataannya “Jadi serahkanlah dirimu kekepolisian setelah semua ini selesai”
“Aku akan berusaha menutup identitasmu dan kekuatanmu dengan merubahnya menjadi pembunuhan yang dilakukan orang biasa”
Mendengar perkataan Nala tentang pemerintah yang mengincarnya sedikit membuat Hakki ketakutan bahkan jika sampai melibatkan keganjilan lainnya yang tentunya tertuju pada organisasi keganjilan kota 33 karena dia merasa tidak sanggup jika adalagi keganjilan lain yang mati karena dia memiliki misi untuk melindungi keganjilan lain disekitar Furi yang merupakan teman-teman gadis itu.
Karena hanya memiliki sedikit pilihan Hakki membulatkan tekad untuk menuruti perkataan Nala dan dengan cepat berkata “Baiklah.”
Nala mengangguk pelan sekaligus terperangah mendengar tanggapan Hakki, dia tidak menyangka anak muda itu menerima tawarannya dengan begitu cepat.
“Lagipula tidak ada lagi hal yang ingin kulakukan setelah aku membalaskan kematian orang tuaku, jadi hidup dipenjara selama-lamanya lebih baik daripada menghancurkan tubuh ini kemudian mati...” kata Hakki dalam hati saat telah menentukan arah hidupnya.
"...dan setidaknya aku bisa memenuhi permintaan Furi untuk tidak mati."
Dipagi harinya setelah pertemuan dengan Nala selama 2 jam lebih Hakki mendapat telepon dari rumah sakit umum kota 33 yang mengabarkan jika kakak tirinya Alicia sudah siuman dan dengan ajaib cedera berat di otak kakak tirinya sembuh.[]