Bitter Life

Bitter Life
31. Pertanyaan dan Aturan



Tangan Eden benar-benar tidak bisa digerakkan dan parahnya tidak akan kembali normal seperti semula karena kalimat yang dikeluarkan Hakki hanya tidak bisa digerakkan, ditambah dengan kutukan-kutukan yang diterima Eden seperti kaki membatu bagian tubuh yang membusuk, hingga racun yang didapatinya dari Hakki yang ditahannya saat bertarung tadi membuat Eden benar-benar tak berdaya sehingga dirinya tersungkur didepan pintu keluar ruangan itu.


Hakki mendekat pada Eden yang terduduk lemas dan bersandar di pintu ruangan itu, dengan wajah yang serius dicampur adukkan dengan sedikit perasaan amarah kemudian berkata “Mengatakan hal tentang merenggut orang yang penting untukmu.”


“Aku juga bisa mengatakan hal yang sama tentang itu sialan!” Hakki berkata dengan nada yang tinggi.


“Kakakmu merenggut orangtuaku mereka adalah orang yang berharga bagiku” Hakki beberapakali menunjuk-nunjuk Eden.


“Tidak ada yang bisa menghindari orang yang terbunuh, dari pembalasan dendam”


“Itulah yang terjadi diantara kita bahkan didunia ini” Hakki mengakhiri perkataannya dengan nafas yang terengah-engah.


Hakki mencoba mengatur nafas dengan memghirup dan membuang nafasnya itu kemudian bergegas berdiri sembari berkata “Setelah kutukan itu berakhir, aku akan membunuhmu demi membela diriku juga untuk balas dendam kau juga tadi ingin membunuhku karena memang sepeti itulah aturan konyol didunia ini berjalan.”


“Kenapa dunia ini harus membuat kita saling bunuh?” Eden berkata pelan dan dengan berani menatap Hakki dengan tajam dan serius.


“Karena kejahatan dan kebaikan selalu ada sampai kapanpun” Hakki menjawab pertanyaan Eden namun dengan mengalihkan pandangan dari gadis itu.


Eden teringat hari-hari suram dan mengerikannya saat dipaksa membunuh orang-orang yang merupakan anggota keluarga, diahanya bisa menuruti perintah kakak dan tuannya yang menjadi otak pembunuhannya, danterpaksa ikut tersenyum demi menghargai Eric kakanya yang begitu bahagia dan tersenyum lebar saat membunuh orang-orang walaupun dirinya tidak sanggup “Tuanku menggunakan kami untuk membunuh orang dengan alasan kejahatan demi kepuasan hatinya dan kau orang yang balas dendam apakah bisa disebut tindakan kebaikan?”


Hakki hanya terdiam dan mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Furi karena sedikit ragu dengan arti dari perkataan Eden itu dari perbuatan yang dilakukannya untuk selama ini maupun sekarang.


Setetes demi setetes air mulai muncul dari mata Eden yang cekung melewati tonjilan tulang pipinya yang kurus kemudian berkata “Dulu, sebelum kami, dia sering menggunakan para keganjilan untuk membunuh orang dan akhirnya mereka dibunuh karena membosankan, sekarang dia menemukan kami dan mengatakan jika cara kami membunuh manusia biasa sangat menyenangkan”


Eden mengingat wajah tuannya yang tertawa saat membunuh orang dan air mukanya langsung beriak dan menunjukkan kengerian yang dalam, sembari melanjutkan perkataannya “Dia sangat ingin melihat keganjilan seperti kami membunuh manusia biasa, baginya, itu hiburan.”


Dan Eden pun mengingat jika kejadian saat dia membunuh keluarga orang itu berdampak pada situasi sekarang dimana mereka saling balas dendam sehingga membuat kakak yang sangat dia cintai terbunuh.


“Hey Hakki, apakah karena kita keganjilan semua itu terjadi?”


“Apakah karena dunia ini menolak keganjilan semuanya bisa terjadi”


“Apakah benar kita menggangu keseimbangan dunia sehingga membuat orang-orang terbunuh dan dibunuh?”


Pertanyaaan demi pertanyaan Eden lontarkan pada Hakki


yang sekarang hanya tertunduk diam saat memikirkan jawaban yang benar untuk


gadis itu.


“Apakah terlahirnya kita adalah sesuatu yang salah?”


“Atau memang kita harus dimusnakan”


Eden menangis sejadi-jadinya saat berkata dan membayangkan kekejaman pemburu keganjilan yang dulu pernah menyerang keluarganya sehingga menjadi berantakan kemudian diantara tangisnya gadis itu lanjut berkata “Padahal keganjilan hanya inginhidup normal.”


“Tidak, tidak, itu tidak benar” Hakki menggelak perkataan Eden seakan tidak ingin menerima kenyataan jika keganjilan selalu diganggu para pemburunya, hal itu dia lakukan agar dendamnya pada pemburu keganjilan tidak menjadi-jadi setelah para pemburu keganjilan membunuh Furi.


“Jadi apa yang akan kau lakukan Hakki?” tanya Eden lagi.


Hakki yang telah merubah tujuannya untuk menyerah atas hidup dan berniat mati membusuk dipenjara terganggu oleh perubahan pikiran untuk menyelamatkan keganjilan dari pertarungan dan merebut kejayaan dari pemburu keganjilan dengan menghabisi mereka bila perlu dengan cara berperang, dan setelah menang membuat sejarah untuk menyatakan diri ke dunia jika mereka para keganjilan adalah sesuatu yang nyata didunia ini bukan khayalan seperti propaganda yang diberikan pemburu keganjilan keseluruh orang-orang didunia selama berabad-abad, seperti itulah yang dipikirkan Hakki.


“Apa kau tetap menuruti aturan dunia seperti yang kau katakan dan membiarkan para keganjilan tetap berada dalam posisi terbunuh serta dipermainkan sepertiku?”


Pertanyaan kesekian dari Eden itu membuat Hakki semakin bingung dengan pilihannya apalagi jika mengikuti cara berperang maka penglihatan Elias tentang keganjilan akan merusak keseimbangan dunia dengan berperang yang ingin dipatahkannya akan benar-benar terjadi, karena itulah dia memilih mengikuti Nala untuk dipenjara setelah menemukan pembunuh orang tuanya untuk balas dendam karena tak ingin lagi berurusan dengan keganjilan.


“Atau kau memiliki cara lain agar keganjilan bisa bebas tanpa pernah mengalami pertarungan dan bisa menemukan solusi untuk kita para keganjilan?”


Hakki masih terdiam dan tak menanggapi pertanyaan Eden itu karena masih terjebak dalam pilihan yang ada dipikirannya juga bingung akan apa yang akan dilakukannya untuk kedepan.


“Kau belum menemukan jawabannya ya?” senyum tipis kecewa muncul pada Eden karena menyaksikkan Hakki tak sedikit pun menjawab pertanyaannya yang mengebu-gebu.


Eden melihat kearah waktu dari bom yang tertempel ditubuhnya untuk memastikan waktu yang tersisa dari bom yang akan meledak itu kemudian berkata “Masih ada 2 menit.”


“Baiklah aku akan membiarkanmu lewat supaya kau bisa menemukan jawaban dan solusi untuk keberadan keganjilan di dunia ini” Eden membuka kunci pintu ruangan itu dengan wajah sedih yang tak niat bertarung lagi saat membiarkan Hakki kabur agar selamat dari ledakan bom.


Hakki yang tadinya masih diam tertunduk langsung mendongak kan kepalanya karena tindakkan mushnya yang aneh karena ingin menyelamatkan tubuhnya dan tak bisa berbuatapa-apapada bom itu apalagi menyelamatkan Eden karena tidak mengerti apapun tentang bom, Hakki memilih untuk bergegas keluar.


“Kau mencari informasi tuanku yang menjadi otak dari tragedi kota 68 kan?” kata Eden saat Hakki melangkah keluar.


Hakki menghentikan langkah kakinya untuk mendengar perkataan Eden.


“Nama tuanku Gael meski aku tidak mengerti seperti apa posisinya dikepolisian tapi yang kutahu dia memiliki jabatan tinggi disana, dan dia juga bekerja sebagai pemburu keganjilan” Eden lanjut berkata, setelah mengakhiri penjelasannya Eden menutup kembali pintu ruangan penyekapan itu dan menyendiri bersama bom yang akan meledak itu.


Hakki yang masih terperangah dengan petunjuk yang diberikan Eden, khususnya tentang pelakunya merupakan salah satu pemburu keganjilan menatap kosong pada pintu kayu ruangan tadi yang tertutup dan api kebencian yang lebih besar dari sebelumnya terhadap pemburu keganjilan muncul seketika.


Saat berjalan meninggalkan ruang penyekapan itu sesekali Hakki menoleh pada pintu tertutup yang didalamnya ada Eden yang akan meledakkan diri sendiri, dengan tatapan mengasihani dan membuat Si Pahit Lidah itu semakin bingung dengan tujuannya setelah ini, untuk melupakan segalanya dan mati dipenjara atau terlibat sepenuhnya untuk melawan pemburu keganjilan meski harus menghancurkan tubuhnya sampai mati.


Nala yang beberapa kali melihat jam yang terikat dilengannya dengan wajah yang cemas akhirnya bisa lega saat melihat hakki sudah berada dipintu keluar rumah kosong tempat penyelidikan itu dan saat menyadari jika waktu di jam tangannya sudah mencapai 15 menit Nala berlari sekuat tenaga dan berteriak.


“Hakki!”


Nala menarik kuat-kuat tubuh Hakki demi menghindarkan anak muda itu dari ledakkan besar yang sudah muncul.[]