
**Favoritkan aku ya!
Klik Love!
Happy reading**!
*****
"Pak, tolong menjauh. Jangan dekat-dekat!
"Saya minta maaf pak kalau salah. Saya akan pergi pak. segera." mohon Lia.
Lia bangkit dari ranjang, pelan - pelan menjejakkan kaki di lantai. Dia berjalan mengendap-endap melewati Adam. Lelaki itu menyedekapkan tangannya di depan dada dan mengawasi tiap gerak-gerik Lia.
Lia memandang Adam sambil berjalan mundur menuju knop pintu. Gadis itu membalikkan badan dan memutar knop pintu.
Ceklek...
Pintu itu terbuka. Lia melangkahkan kaki keluar dari kamar. Hanya dua langkah keluar dari kamar, Lia berjalan mundur masuk ke ruangan yang ditempati Adam. Di luar semua bodyguard menatap Lia. Ketakutan dan gemetar menjalari tubuh Lia. Melawan seorang Adam lebih memungkinkan dari pada sepuluh orang.
Di dalam ruangan Adam tersenyum menyeringai menampakkan kemenangannya.
"Jangan membuang waktuku. Duduklah dan dengarkan tugasmu." titah Adam.
Lia duduk di ranjang berhadapan dengan Adam. Adam menjelaskan beberapa hal yang harus Lia lakukan. Lia bertanya dengan sangat detail. Hal itu membuat Adam jengah dan merubah raut wajahnya.
"Lakukan perintahku. Kita akan bertemu Sabtu malam di sini. Kau laporkan semua perkembangan yang sudah kau buat dan hambatannya. Pastikan semua on the track. Jangan membuat kesalahan."
"Sudah, bos? Itu saja tugas saya."
Adam mengangguk mengiyakan. Lia tersenyum lega. Ternyata semua pikiran buruknya hilang diterpa angin tadi hanya sebuah prasangka. Prasangka yang berlebihan. Syukurlah!
"Simpan kartu kreditku untuk keperluan rumah ini. Berikan juga no rekeningmu. Secepatnya lakukan tugasmu dan segera pindah ke sini."
"Terima kasih, Bos." ucap Lia sambil tak berhenti mengulas senyum
Lia mengulum senyum. Hatinya berbunga-bunga mendengar dia akan segera pindah ke rumah ini. Rumah yang sangat dia rindukan.
****
Pekerjaan baru Lia di mulai yaitu membersihkan rumah Adam. Mantan rumahnya maksudnya. Dia akan membuat semua pembukuan tentang pengeluaran dari rumah ini. Entah sebutan apa yang tepat bagi pekerjaaannya, Kepala pelayan, Asisten pribadi atau ART.
Sebutan tidak terlalu dipedulikan Lia. Sekarang dia tangan kanan bosnya dalam mengurus rumah ini. Adam ingin rumah ini layak di tempati. Dia ingin tinggal di sini di akhir pekan. Saat ini Adam tinggal di apartemen dekat restoran Lia dulu. Apartemen itu juga dekat dengan kantornya.
Sedih sekali saat Lia harus berpamitan pada teman restoran dan pada si ganteng mantan bosnya. Senyumnya selalu membawa angin segar bagi Lia. Senyum bos Yudha.
Sudah lima hari sesi bersih-bersih rumah selesai dilakukan. Lia menyewa jasa dari perusahaan kebersihan untuk membersihkan rumah. Rumah Adam sudah layak ditempati sekarang. Gadis itu juga harus berbelanja keperluan rumah tangga.
Si best friend selalu setia menemani. Ratih sahabat Lia. Mereka berbelanja keperluan dapur meliputi bahan makannan dan alat-alat dapur. Keperluan kamar tidur juga tidak lepas dari kegiatan Shopping.
Lia hampir kalut berbelanja kalau saja Ratih tidak mengingatkan betapa galaknya si babang. Dia hanya berbelanja keperluan basic agar tidak bermasalah dengan keuangan Adam. Terlebih lagi bentakan dan tatapan tajam yang meluluhkan hati Lia. Meluluhkan bukan dalam arti cinta.
Meluluhkan kepercayaan Lia kalau Adam adalah ras bangsa manusia yang patut dipertahankan eksistensinya. Saking galaknya Adam, menurut Lia Adam adalah keturunan Dinosaurus jenis T-rex. Galak dan buas.
"Astagfirullohaladzim, ya ampun Lia ini dulu rumahmu? Kamu dulu tajir melintir ya!" ujar Ratih sangat terpesona.
"Dulu. Harusnya Subkhanallah karena kita memandang keindahan." ucap Lia sambil menengadahkan kedua tanngannya ke atas.
"Lia beneran pekerjaanmu cuma sebatas ngurusin rumah? Kamu gak disuruh ngurusin pemiliknya githu?" ucap Ratih agak keras.
Lia menelan salivanya dan celingukkan melihat ke kiri dan ke kanan.
"Sttt... Ini rahasia kita aja ya! Aku bisikin." Ratih mendekatkan telinganya ke bibir Lia.
"Astagfirullohaladzim. Serius Lia?" Mata Ratih terbelalak dengan mulut menganga karena terkejut. Ratih menutup mulutnya dengan satu tangan dan menjauhkan wajahnya dari bibir Lia. Penuh Ekspresi tak percaya Ratih menatap Lia yang melipat dua bibirnya ke dalam. Lia mengangguk pasti.
"Dia bilangnya githu. Janji jangan bilang siapa-siapa! gertak Lia.
Ratih memposisikan tangannya seperti menarik resleting dibibirnya tanda dia akan menyimpan rahasia itu.
"Aku bakalan siap-siap. Bos bakal dateng ngapelin aku. Ha...ha... minta pertanggungjawabanku maksudnya." ucap Lia bersemangat.
"Kayak kamu dah menodai babang aja."
"Sttt... tembok punya telinga, Fren. Ati-ati kalau ngomong."
"Huft... halumu ketinggian."
"Biarin." dengus Lia.
****
Malam menjelang, semburat jingga sudah hilang berganti kerlip bintang kecil yang aslinya gak kecil. Biarlah disebut bintang kecil daripada nanti anak-anak salah lirik lagu.
Lia si gadis cantik yang terus berbahagia beberapa hari terakhir, dia berdandan memakai dress merah marun selutut. Dengan rambut yang tergerai ditambah aroma parfum vanila miliknya membuat Lia merasa seorang putri yang menunggu pangerannya. Aroma parfum itu mengular memenuhi tubuhnya. Dia memakai highheels senada dengan bajunya. Lia memakai dress agar bajunya keluar dari koper. Jujur bajunya lama tersimpan dalam
Hati Lia berdetak mirip jarum jam.
Tak...Tik...Tuk
Eh itu mirip sepatu kuda. Pokoknya hatinya berdetak aja biar bisa terus hidup. Berdetak berharap babang akan takjub dengan hasil kerjanya.
Lia bersiap membuka pintu untuk bosnya setelah suara mobil terparkir di garasi. Tentu senyum sumrigah masih lekat di bibirnya.
Catat ya... Bos aja bukan bos tercinta atau tersayang karena Lia gak cinta atau sayang. Dia cuma cinta dan sayang sama rumahnya. Lia juga cinta dan sayang dengan gaji yang ditawarkan si bos besar. Gajinya cukup Wow... menurut Lia. Satu bulan gaji cukup untuk hidup beberapa bulan. Penulis gak mau sebut nominal takut gak etis. Takut penulis kalah gaji sama Lia.
Senyum manis merekah di bibir Lia dan ditambah ucapan selamat datang yang sangat ramah dari Lia.
Balasan senyuman atau ucapan terima
kasih hanya halusinasi Lia. Adam lebih mirip Nasi aking yang kering, kasar dan basi tapi masih diawetkan.
"Huft..." Lia menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya saat Adam melewatinya. Dengan lamgkah yang cepat dan berusaha dibuat panjang mirip-mirip sekretris Kim. Lia mengikuti kemana Adam pergi. Seharusnya dia memilih flat shoes daripada highheels.
Itu juga kalau dia tahu Adam akan mengitari seluruh rumah, mengecek debu dan mengecek lantai.
Lia berdecak kagum sekaligus enek melihat betapa Njlimetnya Adam. Apa ada yang tahu bahasa Njlimet? Lia berjalan tertatih-tatih. Sesekali dia memegangi betisnya yang kram. Tumben Adam tidak bawa bodyguard. Bisa tengsin dong ketahuan para bodyguard itu kalau Lia payah. Bakalan malu kalau Lia ketahuan gak anggun pakai Highheels.
Lagunya Bondan Prakoso cocok banget buat kondisi Lia saat ini. Ya Sudahlah Lia. Setelah segenap jiwa raga sudah Lia kerahkan untuk membersihkan rumah dan mengatur keindahan dan ke.. ke yang lain. Tibalah sebuah ucapan Adam yang membuat Lia ingin pingsan atau menjatuhkan diri ke kolam renang.
"Aku mau mandi. Siapkan handuk dan baju!"
Lia gelagapan dan terhuyung hampir jatuh.
TIDAK
Jika boleh teriak. List kamar mandi adalah list yang diskip oleh Lia.
List yang tidak dipikirkan. List yang sama sekali tidak penting bagi Lia. Mandi sekali sehari sudah cukup. Sabun perlu dan tidak tergantung kuota uang tersisa diakhir bulan.
"Pak Bos. Maaf!"
Adam menoleh pada Lia. Menajamkan pandangannya dan bersiap menerkam atau mungkin mengeluarkan bola api Kamehame Su goku.
Lia menunduk kadang mendongak sedikit dan menunduk lagi begithu seterusnya mirip bal bekel.
"Katakan!" ucap Adam penuh penekanan.
"Belum saya beli, Pak."
Adam mengernyitkan dahinya. Menaikkan tangannya dan berhenti di depan dahi Lia. Gadis itu masih menunduk ketakutan.
"On the track, Miss. Don't miss anything!" ucap Adam yang sumpah mengetarkan hati Lia dan meruntuhkan seluruh pertahanan diri Lia. Lia ingin dlosor kalu bisa. Kalau tidak ya apalah asal tidak berhadapan dengan si Bos.
Adam membuka tangannya dan menampakkan kunci mobil yang tergantung di tangan.
"Buatkan aku makanan. Pergilah beli perlengkapan mandi. Sebelum aku selesai makan pastikan peralatan mandi itu sudah ada di sini."
"Iya, pak!"
"Mau makan apa pak?" lanjut Lia.
"Buatkan makanan! Aku yang akan memutuskan aku makan atau tidak. Tugasmu hanya mempersiapkan. Keputusan ditanganku." terang Adam membuat Lia menelan salivanya berkali-kali.
Di dapur yang cukup mewah Lia berdiri di depan kulkas sambil menempelkan kedua ujung jari telunjuknya ke dahinya. Dia berharap ada kekuatan yang bisa membuatnya mampu memasak. Lia tidak bisa memasak. Seharusnya dulu dia rajin membantu bundanya.
Kalau saja Lia tahu kemampuan memasak akan sangat dibutuhkan saat ini.
PUSING
PENAT
Lia hanya mengantuk-antukkan kepalanya ke pintu kulkas. Pelan pastinya Lia masih takut sakit. Penulis juga gak mau ekstrim nyakitin Lia.
"Buat apa? Buat apa? Masak apa?" ucap Lia seperti mantra yang dibaca berulang-ulang.
*****
**Tinggalkan Like, vote and komen!
Udah segithu dulu aku juga pusing mau nglanjutin kok Lia.
Maaf agak banyak halu... Penulisnya lagi pengen bikin cerita lucu. Mau menghibur diri sendiri!
Semoga Readers juga terhibur!
Thank you**!