Be My Home

Be My Home
Magang



Happy Reading!


Semoga sehat selalu!


Tinggalkan jejak ya!


...*****...


Senin adalah hari yang baru bagi Lia. Setelah dua hari menghabiskan waktu berdua dengan bos Adam, kini Lia harus kembali ke dunia nyata.


Yang kemarin dunia bawah sadarnya Lia. Dua hari yang menyita tenaga, emosi dan pikiran Lia. Badan Lia remuk, lembur tak beraturan dengan bos Adam. Sabtu dia baru tidur jam 3 subuh dan minggunya dia tidur jam 2.


Hari ini, Lia berangkat ke tempat magangnya karena dia mendapat panggilan magang. Senyum tersungging di bibir Lia. Walau mata panda juga ikut nangkring. Betapa bahagianya dia akan bekerja di tempat yang bonafit bersama orang-orang yang terpilih. Ini pasti bisa memberikan banyak profit bagi Lia.


Gadis itu menemui Pak Yahya bagian HRD. Setelah bertemu pak Yahya, dia harus melapor pada bu Yulia manager keuangan. Bu Yulia akan mengatur posisi Lia. Dibagian apa Lia akan ditempatkan.


Jam kerja di perusahaan ini adalah 8 jam. Lia akan mulai bekerja pukul 9 pagi dan pulang kerja pukul 5 sore.


Dia bekerja di bagian keuangan bersama rekan kerja yang ganteng dan cantik. Ya... karena anak magang terpaksa pakai baju item dan putih. Pakaian nasional pelamar kerja dan grup magang.


Suasana cukup sibuk dengan beragam lalu lalang pekerja ada yang mengambil file memasukkan entry data ke komputer atau memeriksa file. Tugas Lia sebagai anak magang adalah serabutan. Saat ini dia belum terkondisikan. Walaupun kuliah dibagian keuangan, dia masih amatiran. Beda dengan rekan kerjanya yang sudah profesional.


"Lia tolong fotokopikan file ya!" pinta salah seorang rekan kerjanya.


"Iya, Mas." jawab Lia.


"Lia tolong telpon PT. Jaya Maju. Tanyakan kapan Faktur penjualannya akan dikirim. No telponnya ada dibuku agendaku. PT. Jaya Maju!" dengan penekanan pada nama PT tersebut.


"Kalau sudah telpon, tolong datangi bagian perencanaan minta salinan proposal pembangunan Mall di daerah Bandung beserta lampiran astimasi anggaran."


Tolong, maaf, terima kasih sepertinya sudah diucapkan ratusan kali.


Tolong


Tolong


Rasanya Lia ingin menjerit. Orang-orang sangat sibuk dan suka memerintah tapi sungguh mereka orang-orang yang sangat bekerja keras. Lia kagum dengan etos kerja pekerja seperti mereka. Lia merasa seperti pesuruh yang belok kiri lurus wae.


Capai....


"Lia makasih ya bantuannya." ucap bu Dina. Dia wanita muda yang profesional dan mandiri.


"Iya mbak sama-sama."


"Nanti mbak usulin job desk kamu sama bu Yulia. Mbak gak tega kamu disuruh-suruh terus."


"Makasih mbak." jawab Lia.


"Berapa lama magangnya?" tanya mbak Dina ingin tahu.


"Dari kampus nyaranin 3 bulan mbk tapi fleksibel kok mbak yang penting dapat nilai dari perusahaan ini aja." jelas Liam


"Anak kuliahan sekarang pinter ya!"


" Ayo makan di luar nanti mbak traktir." ajak mbak Dina.


Mata Lia terbelalak dan bibirnya merekah menanlmpakkan deretan giginya.


"Makasih mbk." Lia tersenyum sumrigah atas ajakan mbak Dina.


Hari berganti dan waktu berlalu Lia sekarang sudah punya job desk yang pasti. Tugasnya menata file dan menyerahkannya pada yang bersangkutan. Walaupun terlihat sederhana tapi sumpah Lia harus jeli. Banyak perusahaan mempunyai nama hampir sama.


Dia juga harus menghapal nama rekan kerja yang jumlahnya belasan. Lia sampai membuat catatan nama yang dia dapat dari data pegawai. Gadis berambut panjang itu orang yang supel dan mudah bergaul. Tidak heran dia gampang akrab dengan teman kantor.


Lima hari bekerja Lia sudah bisa adaptasi dengan segala rush yang harus dijalani.


"Eh... dik mau gak pulang kerja kita kongkow-kongkow nanti abang traktir." ucap mas Herlan.


Dia terkenal playboy. Kata mbak Dina, kalau bisa jauh-jauh aja dari Herlan. Dia buaya darat plus buaya buntung.


"Nanti pulang kerja Lia harus cepat sampai di rumah Om. Banyak kerjaan." terang Lia.


"Kok Om Sih. Mas aja biar lebih akrab. Mas boleh main ke rumah?" tanya Herlan kepo.


Lia mengernyitkan dahinya. Melipat bibirnya ke dalam. Dia benar-benar merasa tak berkutik. Apalagi Herlan mendekatkan tubuhnya ke arah Lia. Naik turun Lia harus mengatur napas. Tangan Herlan mulai terangkat sepertinya dia hendak membelai rambut Lia.


"Mbak Dina...." teriak Lia spontan untuk mengalihkan perhatian Herlan.


Herlan menoleh.


"Pak Herlan, Saya kebelet pipis." Lia bangkit dan segera berlari menjauh dari Herlan.


Gubrak...


Tidak bisa. Tidak mungkin ada cowok yang boleh masuk rumah. Lia ingat pesan bos Adam.


"Kau tidak boleh membawa pria masuk ke rumah. Siapapun mereka. Temanmu, saudaramu ataupun pacarmu. Jika sampai terjadi, lihat akibatnya."


Lia tersentak membayangkan tatapan bos Adam yang sangat mengintimidasi. Jika saja bos Adam lembut sedikit saja pasti si bos sudah menikah. Bos Adam berumur 28 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah. Lajang, tampan dan kaya idaman semua wanita. Jika bos Adam menurunkan volume suaranya satu oktaf, sudah dipastikan banyak gadis antre bersama bos Adam.


Lia baca KTP bos Adam. Itu tidak sengaja tapi terlanjur kebaca tanggal ulang tahun yang ke-28 juga Lia tulis. Sebulan lagi tanggal 11 November. Di bulan yang sama dengan Lia.


Drtt....Drt...


"Telepon dari siapa sih? Mau pulang juga." gerutu Lia.


"..."


"...."


"Hah..."


"...."


"Kantor yang kita pernah ketemu dulu, bos."


"..."


Lia menutup teleponnya dan komat-kamit seperti baca mantra. Dia kesal harusnya hari ini dia bisa janjian makan sama Ratih. Sejak magang sampai hari kelima, mereka belum ketemu.


Lia terlalu capai naik angkutan umum yang harus nunggu lama dan dua kali sampai 3 kali oper.


"Ngapain sih bos pakai jemput segala."


Lia memposisikan dirinya menunggu di halte depan kantor. Dia sudah memakai masker. Berhubung sekarang pandemi dan juga untuk menyembunyikan diri. Lia takut kalau nanti teman kantornya melihat dia.


Pasti akan ada gosip baru. Lia dijemput lelaki bermobi. Pacar atau....?


Sudah jangan Suudzon. Menunggu bos Adam membutuhkan kesabaran ekstra daripada menunggu angkutan. Kalau saja naik angkutan walau berkali oper dia sudah akan sampai rumah. Ini sudah pukul 6 lebih dan si bos belum kelihatan batang hidungnya.


Mobil sedan warna kuning berhenti di depan Lia. Gadis itu seperti mengenali mobil tersebut. Kaca mobil dibuka. Sesosok wanita cantik dengan dress warna hitam tersenyum pada Lia. Wanita itu turun dan menghampiri Lia.


"Nona, menunggu taksi?"


"Eh.. bu. Saya menunggu seseorang."


"Sudah lama di sini? apa dia tidak datang? Ayo ikut aku!" ajak wanita cantik itu.


"Terima kasih bu Marisa tapi saya sudah janji untuk menunggu." tolak Lia halus.


"Coba telpon dia mungkin dia lupa!"


Lia tertegun dengan saran bu Marisa. Dia bengong dan membayangkan kata-kata bosnya.


"Jangan menghubungiku. Aku yang akan menghubungimu. Ingat kata-kataku!"


Banyak sekali pesan bos Adam yang tergiang di kepala Lia. Semua berisi larangan dan perintah mirip seperti tata tertib di sekolah.


Harus dihafalkan , diingat dan dipatuhi.


Lia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Bagaimanapun tawaran pulang bersama bu Marisa sangat menggoda. Gadis itu sudah merasa gerah dan penat dengan rutinitasnya. Apalagi besuk dia harus menyiapkan data keuangan bos Adam.


Sayangnya, bos Adam pasti akan marah jika Lia ketahuan pulang duluan.


"Bagaimana Nona...?" desak bu Marisa.


"Panggil Lia saja bu. Umur saya di bawah ibu sepertinya. Terlalu formal kalau memanggil nona. Saya juga bukan nona besar. Saya cuma butiran debu." jawab Lia terkekeh. Wanita itu juga tersenyum.


Nama seorang butiran debu memang gampang dilupakan dan tidak untuk dikenang.


"Baiklah Lia. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Aku senang berbicara denganmu. Selamat malam!" pamit bu Marisa.


"Malam bu!" jawab Lia sambil menganggukkan kepala.


Setelah kepergian bu Marisa, datanglah mobil sedan berwarna silver. Jelas mobil si bos.


Lia masuk ke mobil sambil cemberut dan memegang betisnya. Pegal kaki Lia harus duduk dan berdiri menunggu si bos. Protes juga tidak mungkin. Aura si bos terlalu yang galak terlalu mendominasi.


Si bos bergeming dengan segala tingkah polah Lia. Di biarkan saja dan dilupakan seperti kembang tebu sing kabur kanginan dadi saksi bisu.


Kembang tebu arane gleges ya!!


Adam berniat makan malam di luar. Lia menolak sekuat tenaga bagaimanapun badannya penuh keringat dia benar-benar ingin pulang dan mandi.


Mereka pun pulang ke rumah dan memesan makanan onlinem Setelah menyiapkan air dan pakaian si bos Lia menuju kamar lamanya untuk mandi dan membersihkan tubuh.


Lia segera turun ke bawah dan menyiapkan meja makan.


Ting...Tong..


"Alhamdullilah, makanan datang."


Lia bergegas ke pintu utama untuk mengambil pesanan makanan.


Pintu dibuka.


Seseorang berdiri di depan pintu. Lia membeku seketika. Menyuruh dia masuk atau mengusir keluar.


***


Mau tebak-tebakan siapakah dia?


A. cewek


B. cowok


**Happy Holiday!


Tinggalkan jejak ya! biar bisa feedback! Maaf bagi yang belum!


Thank you**!