Be My Home

Be My Home
Pesta



Klik Love ya!


Jaga kesehatan dan semoga sehat selalu!


*********


"Apa harus seperti ini melanjutkan ceritanya?" tanya Adam ragu.


"Ini lagi happening bos."


"Lanjutkan ceritamu!" titah Adam.


"Jangan kaku bos, santai dan rileks. Ini cerita yang keren. Bos pasti suka."


"Hmm..." guman Adam.


Lia mulai bercerita dengan intonasi seorang narator.


"Ibu dari anggota dewan tersebut terkenal sebagai orang yang jujur. Dia selalu mengatakan apa adanya. Dia juga seorang yang dermawan. Tetangga sekitar rumah memuji kebaikan dan kedermawanannya"


"Jangan bertele-tele. Cepat ceritakan akhir ceritanya!"


Sekarang Lia mengubah gaya bahasanya menjadi penuh dialog dalam drama.


Seorang reporter bertanya pada si Ibu.


Reporter A: "Apakah benar anak ibu menerima suap?


Ibu: " Iya itu benar."


Reporter B:"Apa ibu yakin dengan jawaban ibu?"


Ibu:"Saya sangat yakin. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri."


Reporter C: "Apakah Bapak Dewan sering menerima suap? Kapan terakhir Ibu melihat Bapak dewan menerima suap?"


Ibu: " Iya dia sering menerima suap.Tadi pagi dia masih menerima suap."


Semua orang terbelalak mendengar ucapan si Ibu. Masyarakat yang menyaksikan konfrensi pers tersebut geram ternyata anggota dewan yang mereka puja seorang yang bermuka dua.


Anggota Dewan tersebut pun tak kuasa menahan tangis. Namun, dia tetap berupaya tegar di hadapan ibunya. Dalam hati kecilnya dia sungguh tak percaya ibunya mengatakan hal demikian di depan umum. Dia pun sudah pasrah jika karir politiknya akan berhenti sampai di sini. Demi ibunya dia rela hancur.


Anggota Dewan tersebut meradang saat beberapa orang meneriakinya dengan ucapan tak pantas. Dia tetap bergeming. Hingga sebuah batu akan terlempar ke arah ibunya. Dengan sekuat tenaga dia berlari berusaha melindungi ibunya.


Anggota Dewan: "Apa mau kalian jika kalian pikir aku bersalah. Lempar ke aku!"


Ibu itu pun geram melihat anaknya disakiti. Dia berjalan ke depan. Dia memasang badan di hadapan si Anak.


Ibu: "Sebenarnya apa yang salah dengan menerima suap. Aku selalu melakukannya."


Kini, semua orang terbengong dengan ucapan si Ibu. Mereka tidak percaya kalau menerima suap bukan hal yang melanggar hukum atau salah di mata si Ibu.


Reporter A: "Maksud ibu. Ibu selalu memberi suap?"


Ibu:" Iya aku selalu melakukannya."


Reporter B:" Apa ibu tahu memberi suap termasuk pelanggaran hukum."


Ibu:"Hukum apa yang dilanggar? Apa salah kalau seorang ibu memberi suap pada anaknya walaupun si anak sudah dewasa?"


Reporter C: "Maksud ibu suap seperti apa?"


Ibu: "suap makanan."


Reporter A:"Ibu masih menyuapi anak ibu makan?"


Ibu:"Iya anda benar."


Semua reporter :?????


"Gimana bos ceritanya? Bos.... Bos... Yach si bos tidur." Guman Lia kesal. Lia mematikan sambungan telepon dengan Adam. Dia pun bersiap tidur.


******


"Kenapa wajahmu seperti kepiting goreng?" tanya Adam menggoda.


"Apa bos tidak punya pengandaian yang pas" guman Lia dalam hati.


"Ceritamu belum selesai kemarin. Selesaikan nanti!" kata Adam sambil menahan senyum.


"Tidak bisa, Tadi malam aku sudah cerita sampai mulutku berbusa bos. Busanya saja bisa aku pakai untuk mencuci piring. Bos malah tidur duluan."


"Jadi piringnya kamu cuci pakai mulut." kekeh Adam.


"Gak lucu, bos."


"Tapi kamu lucu." jawab Adam spontan.


Deg


"Apa maksud si bos? Aku lucu." guman Lia dalam hati.


Adam terdiam setelah ucapannya begitupun Lia. Gadis itu merasa canggung saat bersama Adam sekarang.


"Ini sarapannya bos. Roti panggang dan telur dadar. Kopi atau teh?" tanya Lia memecah keheningan.


"Kopi." tegas Adam.


Lia bergegas ke dapur membuatkan Adam kopi. Hatinya berasa dag dig dug duarr.. seperti lagu balonku ada lima.. meletus balon hijau door...


Bos Adam ternyata juga bisa tersenyum. Bos Adam tidak sesangar bayangannya tempo hari. Lia juga ikut senyum -senyum gak jelas membayangkan senyum Adam.


"Ini bos kopinya."


"Tukang yang akan merenovasi rumah ini kapan dijadwalkan?" tanya Adam.


"Mereka akan bekerja senin besuk bos."


Pertanyaan bos Adam membuat Lia bersedih. Hatinya teriris. Dia akan berpisah dengan rumah lamanya. Bangunan ini akan diubah seperti keinginan Adam. Rumah ini yaitu mantan Rumah Lia akan direnovasi total.


Cat Rumah ini akan di ganti seperti keinginan bos. Cat dusty pink di kamar yang ditempati Lia akan diganti warna yang lebih maskulin. Adam berniat menjadikan kamar itu ruang kerjanya. Beberapan bagian rumah akan dihilangkan atau ditambah.


Lia tertunduk lemas dibelakang Adam. Rasanya berat kehilangan apa yang sudah pernah dia miliki. dan berat saat harus melihatnya berganti rupa dihadapannya.


"Malam ini temani aku ke pesta wanita itu!" pinta Adam


Lia terperangah dengan permintaan Adam. Pesta dengan bu Marisa. Kenapa Lia diajak? Pasti sebagai asisten pikir Lia.


"Tidak apa-apa bos? Nanti saya mengganggu? Pesta apa itu?" tanya Lia ingin tahu.


"Bajumu dan perlengkapanmu akan di urus seseorang. Belanjalah bersamanya!" jawab Adam tanpa memperdulikan pertanyaan Lia.


"Uangnya dari mana bos? potong gaji?"


Adam tersenyum miring menanggapi pertanyaan Lia.


"Sudah kau buat surat kontraknya?"


Pertanyaan bos Adam selalu membuat Lia mati kutu. Kutu yang cuma setitik. Bisa mati diinjak atau ditimpuk pakai buku.


Buk.... Mati


"Be...lum... Bos!" jawab Lia terbata-bata.


"Pengacaraku akan mengurusnya. Asisten belum kembali. Aku akan meminta sekretarisku membuat rekapan jadwal kegiatanku."


"Gajiku bos? Em... memang baru seminggu kerja tapi pembayaran gajiku bagaimana?" tanya Lia sedikit ragu. Uang tetaplah uang. Baunya saja selalu menarik orang untuk mencicipi nilainya.


"Kau bisa gunakan uang yang sudah ku transfer. Carilah beberapa pekerja untuk mengurus rumah ini. Kirimkan CV yang menurutmu pantas. Dan.... Aku tidak suka orang yang tidak kompeten."


"Maksudnya nyindir aku gitu. Bos memang kalau ngomong suka langsung jleb."


****


Setelah perjalanan belanja yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran. Lia bisa terbebas. Dia memilih beberapa potong baju, sepatu dan aksesoris pendukung. Uangnya dari kartu kredit si bos. Lia belanja bersama sekretaris Adam. Orangnya cukup sinis menurut Lia.


"Ini rekap kegiatan pak Adam selama satu bulan. Tugas Anda menggantikan pak Eric saat diluar kantor." ucap sekretaris itu didalam mobil tanpa melihat Lia.


Lia tidak mengajak sekretaris ke restoran. Anggarannya belum ada. Lia belum konfirmasi Adam boleh makan diluar apa tidak. Sebenarnya dia juga lapar.


"Eric?" ulang Lia.


"Dia asisten Bapak. Nona bisa bertanya pada saya jika ada yang Nona tidak tahu." jelas sekretaris.


"Tugasku apa ya?"


"Mengurusi keluarga pak Adam?"


"Pak Adam sudah berkeluarga." Batin Lia.


"Keluarga pak Adam tidak tinggal bersama pak Adam." tanya Lia.


"Itu privasi pak Adam. Tidak banyak yang tahu latar belakang pak Adam. Nona juga sebaiknya profesinal. Jangan membuat masalah."


Lia merasa ketakutan dengan ancaman dari si sekretaris. Dia berusaha tenang dan memasang wajah tersenyum.


Malam hari tepat pukul tujuh. Adam sudah bersiap dengan baju yang dipilihkan Lia. Gadis itu merasa canggung harus berjalan beriringan besama sang bos. Lebih canggung lagi karena dia memakai gaun backless.


Jika ditanya alasannya Lia enggan menjawab. Lia terlanjur suka dengan bajunya jadi ingin memakainya.


"Bos, ini pesta apa?" tanya Lia saat duduk berdampingan dengan Adam di mobil.


"Kau akan tahu nanti." jawab Adam sambil memeriksa email di HPnya.


Hening...


Perjalanan cukup hening. Sudah 1 jam lebih berkendara. Belum jelas kapan tiba di lokasi.


"Kenapa bos tidak bilang tempatnya jauh." batin Lia.


Adam diam dan memandang keluar jendela. Sepertinya kelip lampu lebih menarik dari pada gadis di sampingnya. Bibir gadis itu sudah mengerucut. Bukannya hendak dicium. Mohon jangan GR Lia.


Lia kesal setengah mati kenapa bos tidak bilang tempatnya jauh. Lia juga jengkel ternyata tempatnya di daerah pegunungan yang hawanya cukup dingin. Dia salah kostum kalau begitu.


Adam turun dengan setelah jasnya dan menampakkan aura seorang big boss.


Tanpa memperdulikan Lia yang hampir membeku. Bibir Lia sudah bergetar karena dingin. Adam berjalan memasuki rumah. Dia meninggalkan Lia sendirian di belakang. Ingin rasanya minta tolong untuk dihangatkan. Pinjam jas maksudnya.


Sebuah bangunan megah dua lantai dengan halaman yang luas dan arsitektur yang modern menyambut Lia.


Pesta yang dikatakan bu Marisa ada pesta barbekyu. Panggang-pangganganlah gak ada suara musik apalagi DJ. Ingin rasanya Lia menghatamkan dirinya ke kasur saja. Dia pilih tidur di kasur. Berselimut tetangga eh bedcover.


Kalau cuma pesta yang diikuti lima orang. Dia tidak usah bergaya sok anggun. Lima orang Adam, bu Marisa, Dua orang kakek dan nenek. Yang terakhir sudah pasti Lia. Keren kan Lia pestanya!


"Selamat datang gadis cantik." sapa kakek.


Lia tersipu, wajahnya memerah. Kata pujian ini membuat Lia merasa naik ke atas. Meskipun diucapkan oleh seorang kakek tua.


"Trima kasih kakek." balas Lia genit.


"Kakek, Nenek kenalkan ini Lia." kata bu Marisa.


"Salam kenal kakek dan nenek senang bertemu dengan kalian."


"Ini pacarmu Adam?" tanya nenek pada Adam.


Adam memutar kepalanya menghadap si Nenek.


"Bukan." jawab Adam ketus.


Lia terdiam dan takut jika nanti Adam akan memarahinya. Marisa tersenyum melihat kemarahan Adam.


"Ini calon tunangan Adam."


Semua mata tertuju pada orang yang berbicara tersebut.


***


Tinggalkan Jejak ya!


Semoga Bahagia selalu.