
Happy Reading!
Klik Love!
******"
Lia masuk ke dalam rumah setelah Adam menarik lenganya. Sungguh kasar dan tidak menghargai. Lia tak berdaya dengan perlakuan Adam. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan wajah marahnya juga rasa jengkelnya. Lia juga merasa malu pada Sopir Adam.
"Lepas! Aku bisa jalan sendiri." hardik Lia.
"Apa tidak ada yang mengajarimu sopan santun? Seharusnya kau berterima kasih." tukas Adam.
"Terima Kasih? Akan ku pertimbangkan nanti. Bukankah kau yang membuatku dalam kondisi seperti ini?" Lia merasa kesal terus disalahkan.
"Lia apa maumu?" bentak Adam.
"Kenapa aku harus bekerja padamu. Aku berkali-kali ingin resign. Apakah sulit mengiyakannya?" protes Lia dengan nada tinggi.
"Aku belum punya orang yang bisa aku percaya. Saat Eric kembali kau bisa pergi."
"Kapan Eric akan kembali?" tanya Lia ingin tahu.
"Tidak tahu. Untuk sementara uruslah rumah ini dan kakek nenekku. Dua bulan ke depan aku akan ke luar negri. Besuk pengacaraku akan datang mengurus kontrak kerjamu dan sekretarisku akan memberi tahu tugasmu." terang Adam panjang lebar.
"Sebenarnya kenapa harus aku yang kau pilih?" cicit Lia.
"Aku hanya merasa kau mampu dan bisa dipercaya. Jauhi Marisa! Dia sangat jahat. Jangan tertipu penampilannya!" Adam berlalu meninggalkan Lia yang masih mematung. Marisa wanita yang anggun. Dia terlihat lembut dan perhatian. Bagaimana Adam berfikir dia wanita jahat?
Lia masuk ke kamarnya. Dia bersandar pada pintu dan memejamkan mata. Gadis itu memutar rekaman kejadian dirinya. Ia membayangkan dan mengingat beberapa kejadian sebelum dia kembali ke rumah.
Flashback On
Adam menarik rambut Lia sehingga wajah gadis itu menengadah ke atas. Dengan pelan dia mendekatkan wajahnya pada leher Lia. Dia berfikir untuk menggoda gadis kecil yang terlalu banyak bicara dan membuatnya dalam masalah.
Adam mengendus leher Lia. Mencium aroma tubuhnya. Lelaki itu terhanyut dan mengecup pelan leher Lia. Maksud hati hanya ingin menggoda tapi Adam malah meninggalkan tanda kemerahan di sana.
Gadis itu berusaha mendorong dada bidang Adam agar menjauh. Tenaga Lia masih terlalu lemah untuk mendorong Adam. Lelaki itu mengurai genggaman di rambut Lia. Tangannya menekan tengkuk kepala Lia. Agar dia leluasa memberi tanda. Beberapa tanda kemerahan tercetak di sana.
Dorongan tangan Lia membuat Adam melepas tangannya dan memberi jarak dengan Lia. Dia menatap wajah Lia dalam. Dengan tatapan berkabut lelaki itu memandang Lia tertuju pada satu fokus. Tak selang berapa waktu dia mendaratkan bibirnya sekali dan berulang dengan ringan. Dia mengecup kupu-kupu pada bibir Lia pelan dan lembut. Kecupan itupun berubah menjadi lebih menuntut. Lia tak kuasa melawan dan malah terbawa suasana. Tangan yang digunakan untuk mendorong Adam malah memegang erat jas Adam. Mereka terhanyut dalam kesepian dan keputusasaan.
Menikmati hembusan napas Adam dan hangatnya pelukannya. Lia merasa dirinya lengkap setelah lama tidak merasakan sentuhan tangan kekar seorang pria. Sejak berpisah dengan Robert tidak ada seorang pria pun yang mendekati Lia. Saat bersama Robert mereka hanya berpelukan atau bergandengan tangan. Berciuman hanya sesekali dan itupun tidak sepanas seperti yang Adam lakukan padanya.
Aura maskulin Adam selalu membuat Lia terhipnotis. Tatapan Adam membuat Lia memuja. Garis wajah Adam bisa mencuri perhatian Lia dan mengalihkan dunianya. Waktu berlalu beberapa saat, mereka saling saling berpagutan.
Brukk....
Mobil di belakang Adam kehilangan kendali. Itu cukup membuat Adam tersentak dan menghentikan aktivitasnya. Dengan napas memburu mereka berhenti dan berusaha bersikap tenang.
Lia menatap Adam berapi-api menahan amarah dan rasa malunya. Malu menyadari dia juga ikut menikmati ciuman Adam. Lelaki itu menjauhkan tubuhnya dan acuh pada tatapan Lia. Lia memejamkan mata menahan rasa hina di dalam dadanya karena di mobil bukan hanya mereka berdua. Lia bahkan sesekali memergoki sopir melihat kelakuan mereka berdua di mobil. Sopir itu pasti mengira Lia perempuan gampangan. Lia mendesah kasar dan bersedekap.
Lia beberapa kali mengusap wajahnya. Adam bergeming dan tak menoleh pada Lia. Dia sendiri berusaha menenangkan dirinya dari kesalahan yang dia buat.
Saat Adam lengah Lia keluar dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya. Meskipun sulit berlari dengan sepatu hak tinggi. Adam tentu dengan mudah mengejarnya dan mencengkeram tangannya.
"Kau mau kembali atau... kupatahkan kakimu." ancam Adam.
Mata Lia terbelalak dengan ancaman Adam. Gadis itu tidak menjawab dan berusaha melepas cengkraman Adam.
"Aku juga bisa menyerahkanmu pada para lelaki di sebrang jalan sana." sinis Adam.
Lia menoleh pada kumpulan lelaki yang dimaksud Adam. Dia mengalah. Bulu kuduknya berdiri menatap para lelaki dengan pakaian preman yang nampak kejam dan tanpa belas kasih. Mereka nongkrong di pinggir jalan menikmati rokok dan minuman keras. Beberapa tampak kehilangan kontrol diri dan merancau. Pilihan bersama Adam masih tetap yang terbaik. Lia hanya membawa baju yang melekat di tubuhnya. Tas, uang dan Handphone ketinggalan di rumah. Itu karena Adam terburu-buru mengajaknya.
Gadis berambut panjang mendesah kasar dan menggangguk samar. Adam tersenyum dan melepaskan cengkeramannya. Dia berjalan di depan. Lia mengekori Adam tak berdaya.
Flashback End
"Maafkan aku ayah dan Bunda. Bagaimana aku bisa jauh dari bos Adam kalau kami tinggal di satu tumah.?" guman Lia penuh keputusasaan.
*****
Pagi hari saat sinar mentari menunjukkan terangnya. Lia berdiri di depan pintu kamar Adam. Dia gamang dengan hatinya. Masih terasa sangat dilecehkan dan marah. Dia paham bahwa ini masih tugasnya membangunkan Adam untuk sarapan. Ragu-ragu Lia mengetuk pintu kamar.
Tok...Tok...Tok
"Bos, waktunya sarapan." Lia terus mengetuk pintu dan melihat jam tangan. Hari ini Lia telat bangun. Sekarang sudah pukul 8. Adam biasanya bangun awal pukul 6 untuk berolah raga. Dia akan menunjukkan otot lengannya dan perut sixpacknya.
Itu yang membuat Lia sering mencuri pandang saat bosnya berolah raga pagi. Adam benar-benar lelaki idaman, jika Adam bisa berbicara lebih lembut.
Ting... Tong... Ting.... Tong....
Suara bel di pintu depan membuat Lia meninggalkan kamar Adam. Dia turun dari tangga dan membuka pintu.
Mereka datang sepagi ini pada di hari Minggu. Lia tidak menyangka bos Adam serius dengan kontrak kerja ini. Lia mempersilakan mereka masuk dan duduk di sofa. Dia ke belakang membuat minuman dan mempersiapkan camilan.
" Nona Lia, Saya Helmi. Di sini saya selaku pengacara pak Adam. Saya membawakan kontrak kerja yang harus ditandatangani." ucap Helmi datar. Lia mengernyitkan dahi dan merubah wajahnya lebih serius.
"Kenapa harus ada kontrak kerja? Saya cuma pelayan." ucap Lia menjelaskan.
"Ini berkaitan dengan dana yang akan nona kelola. Dananya cukup besar."
"Dana? Tapi ini hanya jutaan."
"Akan menyentuh level milyaran." terang sang pengacara.
Mulut Lia menganga mendengar ucapan pengacara. Sekretaris yang duduk di samping pengacara itupun menoleh pada lelaki di sampingnya. Dia sama terkejutnya dengan Lia.
"Saya akan memanggil pak Adam." ucap Lia.
"Pak Adam sudah pergi ke Amerika nona. Dia akan melakukan kunjungan kerja selama 2 bulan." kata sekretaris Adam menjelaskan.
Hati Lia merana. Dia ditinggal tanpa pamit. Kesal dan kecewa karena Adam tidak berpamitan padanya. Tadi malam dia sudah bilang tapi itu bukan berpamitan secara khusus. Lia ditinggal sendiri. Siapa Lia yang berharap Adam akan memikirkannya? Entah kenapa Lia merasa Rindu. Semua sikap galak Adam dan omelannya.
"Ini beberapa persyaratan yang harus nona Lia patuhi. Nona bisa membacanya dan saya harap hari ini bisa langsung ditandatangani." tekan Helmi.
Lia membaca butir demi butir secara serius. Ada beberapa poin yang menurut Lia sangat aneh. Poin yang menyatakan pihak kedua tidak boleh menghubungi pihak pertama. Jika pihak kedua ingin menghubungi pihak pertama maka harus melalui perantara. Perantara tersebut adalah pengacara.
"Apa saya tidak boleh menghubungi pak Adam?" tanya Lia serius.
"Itu benar. Nona bisa menghubungi pak Adam melalui saya."
"Bagaimana jika saya membutuhkan keputusan pak Adam?"
"Nona bisa memilih opsi lain."
"Apa itu?"
"Memutuskan sendiri atau menundanya."
"Jika pak Adam tidak berkenan?"
"Nona akan kena denda."
Lia menggelengkan kepalanya bingung harus menerima atau menolak kontrak. Poin terakhir yang membuat Lia menjadi yakin untuk menandatanganinya. Gaji Lia akan dibayarkan tergantung dengan jumlah pengeluaran. Jika per bulan jumlah pengeluaran sedikit maka uang sisa tersebut menjadi milik Lia ditambah gaji perbulan. Ini jumlah yang cukup besar.
Lia tidak sanggup menolak uang sebanyak itu. Apalagi bos Adam tidak ada di rumah selama dua bulan. Dia akan merasa menjadi pemilik tunggal rumah. Lia menandatangani kontrak kerja dengan bos Adam. Kini, giliran sekretaris yang akan menjelaskan tugas Lia.
"Nona Lia saya Via. Ini adalah draf tugas Nona. Nona bisa membacanya dan saya akan menjelaskan poin yang belum nona pahami." kata sekretaris itu.
Lia membaca lembar-lembar kertas yang diberikan dan benar saja dia mengernyitkan dahi pada beberapa poin.
"Saya setiap Minggu harus berkunjung ke rumah kakek dan nenek?" tanya Lia ragu.
"Iya, beliau sudah Uzur dan perlu teman. Nona bisa memberikan hadiah pada mereka. Nona bisa mengambil dari uang bulanan pak Adam. Nona juga harus menuruti keinginan kakek dan nenek pak Adam."
"Menuruti? Maksudnya?"
"Pak Adam ingin nona bisa menyenangkan hati kedua kakek dan nenek pak Adam. Menghibur mereka selayaknya seorang cucu."
"Kenapa bukan pak Adam yang melakukannya?"
"Pak Adam sangat sibuk nona jadi dia butuh bantuan."
"Kemana asisten pak Adam yang bernama Eric?"
"Saya tidak bisa memberikan informasi apapun selain berhubungan dengan kontrak ini." tolak Via.
"Apa kau juga kenal Bu Marisa?"
"Maaf nona itu urusan pribadi pak Adam. Seperti pada poin D. Nona wajib menjaga kerahasiaan dan nama baik pak Adam. Nona juga tidak boleh ikut campur urusan pribadi pak Adam. Jika nona melanggar. Nona dikenai pinalti 3X lipat dari uang uang sudah pak Adam transfer ke rekening nona."
Lia merasa menyesal telah menandatangani kontrak dengan Adam. kesalahan sedikit saja pasti membuat Lia terkena denda. Apalagi jika dia tidak pandai menjaga mulutnya.
"Huft... Dimana aku harus tanda tangan?" kata Lia penuh keputusasaan.
"Di sini" ucap sekretaris Adam memberikan pulpen.
****
**Tinggalkan jejak dan rate 5 ya!
Thank You**