Be My Home

Be My Home
Babang Galak



Lia mengacuhkan gadis cantik yang bertanya pada Lia. Dia adalah Tasya. Dia sepupu Lia. Saat kecil mereka teman yang akrab. Perbedaan usia mereka hanya 2 tahun. Lia menganggap Tasya seperti kakaknya. Lia anak sulung tentu dia menginginkan seorang kakak yang bisa membela dirinya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Tasya dengan tatapan sinis.


"Ini tempat umum. Semua orang boleh ke sini kan?" balas Lia.


"Tapi bukan penghianat." umpat Tasya sambil mendekatkan wajahnya pada Lia. Lia menahan kelopak matanya terpejam dan menghela napasnya pelan.


Tatapan Tasya sangat tajam menusuk Lia saat gadis itu membuka mata. PENGHIANAT.... sebutan Tasya terlalu melukai hati Lia.


"Kak Tasya..." nada Lia sedikit meninggi.


"Aku bukan Kakakmu." suara Tasya meninggi. Tasya keluar dari lift dan menyenggol bahu Lia agak keras. Hampir... Lia hampir terjatuh jika ia tidak menapakkan kakinya kuat.


Tasya pergi berlalu. Dari bajunya, Lia menduga Tasya bekerja di sini atau dia ada urusan di sini. Orang tua Tasya juga punya perusahaan meskipun tidak sebesar perusahaan ini. Mereka memiliki usaha supplier bahan bangunan yang cukup besar.


Lia memasuki lift dengan perasaan tak menentu. Dia menghela nafasnya pelan dan memandang dirinya di pintu lift. Tidak buruk sebenarnya wajahnya. Semenjak kebangkrutan orang tuanya mengapa bertubi-tubi orang memperlakukannya dengan buruk. Amel sahabatnya sejak semester 1 berubah menjadi musuhnya saat kondisi keuangannya memburuk. Kak Tasya teman sepermainannya yang sangat akrab kini membencinya dan menganggap penghianat.


Pintu lift terbuka di lantai 20. Ada dua orang dengan setelan jas memasuki lift.


"Silahkan keluar nona!" Pria itu dengan sopan menyuruh Lia keluar. Lia pun menuruti. Lia berjalan keluar dari lift. Di luar lift ada dua orang lagi yang berpakain formal. Sepertinya mereka bodyguard. Nampak samar Lia melihat seseorang di belakang bodyguard itu.


"Silahkan menjauh nona, tuan kami mau lewat."


"Iya. Maaf." jawab Lia.


Lia mundur dua langkah ke belakang. Dia penasaran dengan bos mereka. Sedikit mengintip karena bos mereka tertutupi oleh badan si bodyguard.


"Bagaimana sih tampangnya sampai harus dilindungi bodyguard? Apa dia lemah?" guman Lia dalam hati.


Lia terperanjat menyaksikan si bos mereka.


Lelaki itu berhenti tepat di depan Lia. Dia menyunggingkan senyum miring pada Lia. Si gadis buru-buru menundukkan kepala.


"Hei, Masuk!"


Gadis itu diam dan tak bergerak.


"Nona." ucap seorang bodyguard.


Lia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari orang yang mungkin disuruh masuk.


"Silahkan masuk, nona!" Seorang bodyguard mempersilahkan Lia masuk.


Lia mendongakan kepalanya mensejajarkan pandangannya dan menunjuk hidungnya dengan telunjuknya.


"Silahkan, nona!" ucap seorang bodyguard sambil memberi jalan pada Lia. Lia masuk diikuti dua bodyguard di belakangnya. Dia berdiri bersebelahan dengan si Bos.


Sungguh, Lia harus menelan saliva beberapa kali. Tidak ada suara yang tercipta di dalam lift. Aura si Bos tampak lebih sangar dari biasanya. Bahkan para bodyguard itu juga menampakkan kesan mencekam. Seorang wanita dengan lima pria di dalam satu lift. Apapun bisa terjadi pikir Lia.


Lantai tujuan Lia sudah terbuka. Tidak ada orang yang keluar. Dua bodyguard di depan Lia sulit membuatnya berpindah tempat. Gadis itu hampir bisa melangkahkan kaki. Pintu lift tertutup sebelum dia sempat keluar.


Rombongan itu menuju lantai basement. Lia diam ketika dua orang bodyguard keluar. Dia bermaksud akan naik ke lantai yang dia tuju.


"Ayo!" ajak babang galak.


Lia keluar bersama dengan Adam. Mereka menuju mobil sedan Mercedes Benz warna silver.


"Saya bawa motor pak. Permisi!" Adam menampakkan senyum menyeringai saat Lia hendak pergi.


Seorang bodyguard menghalangi Lia pergi.


Lia pun berbalik dan mendekati Adam.


"Pak?"


"Berikan kuncimu dan kartu parkirmu." pinta Adam.


Setelah memberikan kunci dan kartu parkir pada seorang bodyguard, Lia masuk ke mobil dan duduk di samping Adam.


"Pak.... Itu motor minjem pak." bisik Lia.


Adam masih diam dan memandang keluar jendela.


"Pak... Aku sudah gak lewat depan rumah Bapak." sambung Lia pelan.


Adam masih diam dan memijat pangkal hidungnya.


"Pak... Aku sudah sebisa mungkin gak ketemu Bapak."


"Pak..."


Kelima jari Adam terbuka menyuruh Lia diam.


Lama mereka terdiam. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Tangan Lia terasa dingin. Dia terus meremas kedua tangannya agar


tidak bertambah dingin. Mobil itu masuk ke sebuah gerbang yang Lia kenal. Lia masuk ke sebuah rumah yang sejak beberapa bulan terakhir tidak pernah dia masuki. Rindu yang teramat sangat membuat sudut bibirnya melengkung. Rumah dengan gaya Eropa dengan dua pilar di depan.


Taman yang indah milik bundanya sedikit tidak terawat. Gadis itu agak menyayangkannya. Dulu taman itu kesayangan bundanya. Taman yang indah. Setiap pagi bundanya menggunting pucuk daun yang tumbuh tidak rapi. Lia senang menyiram tanaman pada weekend. Adiknya sering membawa camilan dan makan di taman. Ayahnya akan duduk di kursi taman setiap pagi dan meminum secangkir kopi. Lelaki tua itu akan tersenyum melihat kebersamaan keluarganya.


Lia merindukan kenangan itu. Air mata tampak menggenang di matanya dan secepatnya di seka. Sebelum Adam tambah mengoceh.


"Ayo!" Adam mengajak Lia turun dan masuk ke dalam rumah itu. Lia menghirup dalam-dalam aroma yang lama hilang dari indra penciumannya, aroma rumah.


"Kau sudah makan?" tanya Adam ramah.


Lia mengelengkan kepala pelan. Namun, sejurus kemudian dia menganggukkan kepalanya cepat.


"Duduk! mau makan apa?"


Lia menggelengkan kepalanya. Raut wajah Adam sekerika berubah masam.


"Penjaga bawa wanita ini ke kandang singa." teriak Adam.


Bibir Lia kelu tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya sudah pucat pasi dan seluruh badannya gemetar.


"Nasi goreng. saya mau makan nasi goreng." ucap Lia cepat menutupi rasa takutnya.


"Minumnya?"


"Air putih. Kalau bisa dingin."


Adam tersenyum puas. Dia mengayunkan satu tangannya menyuruh penjaga pergi.


Penjaga cukup paham jika bosnya menyuruh


membelikan mereka makanan.


"Siapa namamu?"


"Bukannya sudah baca name tagku kemarin."


batin Lia.


Adam mengetuk-ngetukan jarinya di meja. Ketukan terakhir membuat. Lia tersentak kaget.


"Lia."


"Nama panjang."


"Adelia."


"Itu saja."


"Adelia Wirawan."


"Kau masih kos?"


"Iya. Pak saya sudah tidak lewat sini pak. Motor saya tadi pinjam punya teman pak. Tolong jangan di apa-apain." pinta Lia dengan memelas.


Adam memiringkan sebelah alisnya karena perkataan Adelia.


"Bagaimana keadaan kosmu?"


Lia bingung bagaimana menjelaskan kondisi kosnya. Lia sibuk memikirkan definisi yang tepat tentang kosnya.


"Jawab!" bentak Adam


Lia bisa kena serangan jantung di bentak terus-menerus. Sebenarnya ada apa dengan lelaki ini. Kenapa sering marah-marah? Lia sudah sangat berusaha menjaga jarak dengannya.


"Seperti kos pada umumnya pak. Ada kasur, Almari, dan ruangannya kecil."


"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu, Adelia."


Lia mengernyitkan dahinya. memikirkan kemungkinan apapun yang akan Adam bicarakan. Apa arti dari menawarkan sesuatu.


"Apa itu?" tanya Lia penasaran.


****


Jangan lupa Fav ya!


**Please rate and like ya! Bagi yang mau vote di tunggu.


Thank you**!