
Happy Reading!
Klik Love!
********
"Ini calon tunangan Adam."
Demi apapun Lia tercekat. Dia tak mampu merespon ucapan bu Marisa. Lidahnya kelu dan tubuhnya seakan mematung.
Gadis itu bergeming menatap Adam dengan pandangan penuh pertanyaan. Apakah bosnya menjebaknya? Ini bukan pesta tapi pertemuan keluarga. Apakah hubungan bos Adam dan bu Marisa? Jika kemarin mereka berperang, saat ini mereka seperti keluarga yang hangat. Apa mereka sedang berekonsiliasi?
Apa yang direncanakan bu Marisa dan bos Adam? Jika ini sebuah perjanjian, Lia akan meratifikasi semua isinya.
"Kapan acara pertunangan kalian?" tanya kakek membuyarkan lamunan Lia.
"Kapan Adam?" tanya Marisa.
Lia duduk terpaku diantara dentingan sendok, garpu dan pisau.
Adam, bos Lia yang galak tiba-tiba berubah menjadi hangat dan ramah. Adam tersenyum. Senyum tipis yang bisa meluluhkan pertahanan Lia untuk meratifikasi semua perjanjian. Dia bahkan terpana pada senyuman Adam tanpa Adam harus melakukan apapun.
"Adam akan mengatur waktu yang longgar. Kita bisa bicarakan lain waktu." ucap Adam dengan senyum palsunya.
Fake
"Bagaimanapun seorang wanita butuh kepastian. Kalau kau sudah menjalin hubungan dengan kekasihmu tentu dia akan berharap. Jangan mengantungkan harapannya! Niat baik harus segera dilaksanakan." saran lembut dari nenek.
"Tidak nek. Lia tidak berharap." batin Lia.
" Kenalkan dirimu cantik!" ucap kakek membuat Lia bersemu merah dengan sapaan cantik.
Sepertinya sudah lama tidak ada orang yang menggodanya. Sejak putus dengan Robert. Sejak dia jatuh miskin. Sejak itulah tidak ada yang mau menggodanya. Hanya Ratih teman berbincang selama ini. Kalau Ratih yang bilang cantik itu bukan godaan tapi sindiran.
Mana ada gadis cantik bangun tidur dengan rambut awut-awut. Belum mandi ataupun gosok gigi. Jelas Ratih hanya basa-basi.
"Saya Adelia. Panggil saja Lia." Lia memperkenalkan diri. Perkenalan itu disambut senyuman oleh kakek dan nenek.
"Tinggal dimana?" tanya nenek.
"Sa...ya..." ucap Lia terbata-bata.
Lia menatap Adam berusaha meminta bantuan. Dia berharap Adam bisa menjawab pertanyaan maut dari nenek. Apa yang harus dijawab Lia? Tidak mungkin dia bilang tinggal bersama Adam. Walaupun kenyataanya benar, dia tinggal bersama Adam saat weekend.
Bagaimana menjawabnya?
"Mereka tinggal bersama." jawab Marisa. Kedua lelaki dan wanita berusia uzur itu terkejut. Mereka menatap Marisa dengan sikap yang dibuat tenang.
Apa sebenarnya tujuan Marisa? Dia benar tapi kenyataannya tidak seperti itu. Lia terus memandang Adam. Ia berharap Adam mau menghentikan tindakan Marisa. Bagaimanapun semua yang dikatakan Marisa tidak benar.
Adam memasang wajah tenang. Tak sedikitpun dia memandang Lia atau menatap Marisa. Lia berada dalam ambang batas kebingungannya. Hawa dingin yang menusuk tulangnya dan putaran pertanyaan di kepalanya membuat Lia ingin pingsan. Lia ingin terbangun dan segera berlari jika ini mimpi.
"Benarkah itu Adam?" tanya nenek memastikan.
"Iya."
Mata Lia terbelalak saat Adam mengamini tuduhan Marisa. Satu kata yang terdiri dari tiga huruf bisa membuat dunia Lia hancur berkeping-keping.
"Kalian harus segera menikah kalau begitu. Jangan membuat skandal yang tidak baik." ucap kakek.
"Baiklah."
Lia merasa hidupnya berakhir dengan jawaban Adam. Bosnya yang tukang marah-marah tidak punya suara untuk melawan atau memberi argumen. Kenapa Adam seperti itu? Dia tidak tahu dengan menghadiri sebuah pesta bisa merubah jalan hidupnya. Setelah kebangkrutan keluarganya. Dia harus bersikap seperti tuna wisma tanpa Rumah. Direndahkan Amel dan Robert seperti pelayan. Apa sekarang dia akan menjadi budak? Hidupnya berputar seperti roller coaster kadang di atas dan kadang di bawah. Entah esok nanti.
Hatinya galau, baru kemarin dia menangis darah karena putus dari Robert dan sekarang dia disandingkan dengan orang kaku yang baru dia kenal. Menikah?
Belum ada satu alasanpun yang membuat Lia ingin menikah. Dia berharap lulus kuliah, bekerja dan bisa mempunyai banyak uang. Lia ingin membahagiakan orang tua dan adiknya. Menikah bukan jalan keluar dari masalahnya. Apalagi menikahi orang yang tidak Lia cintai. Lupakan cinta. Adam saja tidak suka dengan Lia. Kalau tidak ada simpati apa mungkin akan timbul benih cinta. Apakah pernikahan Lia akan langgeng jika tidak ada cinta?
"Bagaimana Lia? Kami harus mengenal keluargamu. Dimana mereka sekarang?"
"Ini terlalu cepat. Lia masih kuliah dan Lia masih ingin bekerja."
"Menikah bukan halangan untuk kuliah atau bekerja. Niat baik harus segera dilaksanakan. Mumpung kakek dan nenek masih ada."
Sebuah getaran menusuk di hati Lia. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Dia teringat almarhum kakek dan neneknya yang ingin melihat pernikahan Lia.
Dulu kakek dan neneknya juga pernah bilang hal demikian. Mumpung masih ada. Kalimat sederhana dengan jutaan makna kias. Makna yang tidak sanggup diucapkan secara nyata. Nasib berkata lain. Saat Lia lulus SMA kakeknya dipanggil yang Maha Kuasa. Tiga bulan kemudian neneknya menyusul kakek. Dua orang yang penuh kasih pada Lia meninggalkan Lia dengan berjuta kenangan.
Umur tidak ada yang tahu sampai kapan. Detik saat dia berhenti. Tidak akan ada yang bisa menunda atau menahannya. Inikah perasaan Adam. Dia tidak kuasa mengecewakan kakek dan neneknya. Hati orang tua sangat rapuh. Adam yang keras dan dingin sekalipun tak berani melukai mereka.
"Adam akan mengaturnya segera. Kakek dan nenek jangan terlalu berfikir bisa berpengaruh pada kesehatan." ucap Adam menenangkan.
Makan malam hari ini penuh dengan tawa dan gurauan yang damai. Lia terkesima dengan sandiwara Adam dan Marisa. Kemarin, sehari sebelum hari ini. Mereka bersitegang dengan beberapa benda yang melayang dan hancur. Hari ini penuh canda tawa mereka bercakap.
Satu jam bersama kakek dan nenek membuat Lia merindu. Kangen dengan kebersamaan keluarga yang terjalin. Kangen dengan ayah dan bunda yang kini harus terpisah.
"Kami pamit pulang semua. Sampai jumpa!" pamit Adam yang diikuti anggukan kepala Lia.
Nenek memajukan tubuhnya dan memeluk Lia.
"Selamat datang, cucu mantu. Jaga Adam!" bisik nenek penuh arti.
"Bos Adam tidak perlu dijaga nek. Banyak Bodyguard di sampingnya." guman Lia dalam hati.
Adam membukakan pintu untuk Lia. Sangat romantis jika mereka sepasang kekasih. Marisa tersenyum melihat tingkah Adam.
"Bos..." ucap Lia memecah kesunyian di dalam mobil.
"Turuti saja wanita itu. Dia bisa melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya."
"SEGALA CARA .... YANG TIDAK MANUSIAWI SEKALIPUN." ucap Adam menegaskan
Keringat dingin mengalir di dahi Lia. Keringat ini karena takut dan lemas. Apa benar Marisa keluarga Velociraptor? Dia bahkan lebih mengerikan dari bos Adam. T-Rex hanya bermodal kekuatan tapi bangsa Velociraptor penuh strategi dalam membunuh mangsa.
"Aku ingin ke Klub. Kau bisa ikut atau tunggu di mobil. Jangan pulang sebelum aku pulang." titah Adam.
"Bos, Bisa pinjam jasmu. Aku tidak nyaman dengan baju ini. Hawanya sangat dingin. Boleh aku pulang duluan bos?" pinta Lia mengiba.
"Ini masih termasuk tugasmu."
"Aku akan pulang naik taksi." ancam Lia.
Pak sopir yang mengendarai kendaraan senyum-senyum sendiri. Perdebatan Adam dan Lia lebih mirip perdebatan sepasang kekasih daripada majikan dan pelayan.
Suasana tetap hening hingga tiba di sebuah klub malam. Ada pasangan muda-mudi yang bergandengan tangan masuk ke Klub.
"Jangan jauh-jauh dariku!"
Lia menelan salivanya. Sulit dipahami Lia apa yang akan terjadi dengan dirinya di dalam. Bersama bos Adam adalah satu-satunya pilihan yang paling aman.
"Ayo masuk!" ajak Adam.
Gadis itu bergidik ngeri. Dia belum pernah berada dalam situasi seperti ini. Apakah hari ini akan jadi akhir dari hidupnya. Dia berada di jalan buntu. It is the dead end.
****
Hai...Hai...
Jumpa lagi, Jaga kondisi ya!
Tinggalkan jejak, bahagia dan sehat selalu*!