Be My Home

Be My Home
Kontrak



H**appy reading!


Klik Love**!


*****


"Baiklah! Sampai jumpa, Nona...." Wanita manis yang duduk dengan anggun menggantungkan ucapannya.


"Lia. Sampai bertemu lagi Ibu Marisa. Lia saja. Saya pelayan di sini." jawab Lia merendah.


Wanita itu pergi setelah sebuah mobil lamborgini kuning menjemputnya.


Si Velo tajir euh...


Lia mengerjapkan mata mencari cara menemui bos T-Rex. Sebelum melangkahkan kaki ke atas Lia mampir ke meja makan. Dia meminum segelas susu yang dia buat untuk si bos dan makan roti bakar selai coklat.


"Nasib kaum elite memang beda. Berasa ratu sehari gak masalah." sambil komat-kamit.... eh bukan baca mantra. Makan sambil ngomong maksudnya. Padahal gak boleh lho Lia. Makan thu jangan banyak mangap-mangap nanti laler masuk.


Setelah menghabiskan semuanya Lia beranjak dari kursi. Menata kembali meja dan kursi di ruang makan. Kemudian, dia mencuci piring, garpu dan sendok.


Lia menyandarkan tubuh nya di tembok. Meratapi nasib yang menimpanya. Melihat ke atas tepatnya di kamar bos Adam. Seharusnya bos Adam merasa beruntung memiliki semua kekayaan ini. Memiliki wanita cantik yang menyukainya. Nyatanya si bos tidak menghargai apapun. Dia bahkan selalu marah-marah tidak jelas hanya karena masalah sepele.


"Huft.... Bos" guman Lia penuh keirian. Timbul banyak sekali rasa gething dan ra trimo atas kehidupan yang menimpanya.


Ting...


Notifikasi Lia berbunyi.


Raut wajah Lia berubah. Dia berlari bagai Si Hare. Lia menaiki tangga dan mengetuk kamar si bos. Tanpa ada rasa takut dan terancam.


Tok...Tok...


"Bos....Bos.... Buka pintunya Bos. Cepat!" teriak Lia tidak sabar.


Tidak ada tanggapan. Gadis cantik itu mengerucutkan bibirnya. Memutar bola matanya ke segala arah dan akhirnya berhenti pada satu titik.


Knop Pintu


Ceklek


Kepala Lia masuk. Badannya gak ikut. Bukan kuyang lho ya. Ngitip aja dulu. Lihat sikon, ngecek apa yang terjadi dengan si Bos. Apakah dia oke atau KO?


"Bos." Kamar sepi, baju berantakan, berserakan dan terlihat amburadul. Hati si bos pasti lagi amburadul. Sprei... Aduh! Lia menepuk jidatnya pelan.


Wajahnya masih celingukan mencari keberadaan si bos. Ke kiri kosong, ke kanan kosong, ke depan apa lagi sudah pasti kosong. Dengan putus asa Lia menundukkan kepalanya. Dia berbalik hendak keluar.


"Aaa...."


Tampak lelaki dengan wajah memerah menahan emosi berdiri di belakang Lia.


"Bos, Are you okay?" tanya Lia hati-hati.


Lia menelan salivanya dan mulai berjalan mundur menjauhi si bos.


Mundur


1 langkah


2 langkah


dan


Brukk...


Lia terjatuh tepat di atas tempat tidur si bos.


Bos Adam tambah maju mendekat dan memenjarakan Lia dengan tangan kekarnya.


Lia mengerjapkan mata beberapa kali memandang ketampanan bos Adam.


"Ganteng banget!" batin Lia.


dan


Bugh....


"Argh..."


Lia menendang perut bos Adam dengan Lututnya. Sekuat tenaga mendorong bosnya.


Hingga bos tersungkur ke bawah. Adam mengeluh kesakitan di perutnya. Dia memegangi perutnya dan merintih.


Mata kedua insan itu saling mengunci menatap tajam dan tidak terlepaskan.


"Hei... apa yang kau lakukan. Apa kau tahu aku siapa?" Adam mengeraskan rahangnya dan berdiri setelah jatuh terjerembab ke lantai.


Lia mengambil napas dalam. Gadis itu turun dari ranjang dan mendekati bos Adam.


Lia menatap tajam pada Adam. Walau Lia harus sedikit mendongak untuk menatap Adam.


"Aku tahu kau siapa? Mantan bosku."


"Aku resign." sambung Lia.


"Dengar, Kau tidak bisa resign begithu saja. Uang yang ku keluarkan untuk biaya renovasi rumah ini sudah banyak. Aku bisa membawamu ke kantor polisi karena kasus penipuan." ancam Adam.


"Penipuan? Apa kau pikir aku juga tidak bisa membawamu ke kantor polisi. Aku juga bisa membawamu karena kasus pelecehan."


"Aku lupa....kau tidak tertarik pada wanita, Tuan Adam." balas Lia.


Adam melirik sekilas pada Lia dan membuang mukanya.


Lia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Adam. Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Lia hingga si empu memekik keras.


"Aaaa.... sakit!"


"Kau tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Dan lagi mau bersembunyi kemana kalau kau pergi?" dengan senyum menyeringai menunjukkan kekuasaan.


"Aku sudah membuat wasiat. Aku tidak takut padamu."


Adam menaikan sebelah alisnya. Dia bingung dengan istilah WASIAT yang diucapkan Lia.


"Wasiat?"


"Iya, kau tidak bisa mengancamku. Kalau terjadi sesuatu padaku, kau juga akan terseret. Masuk penjara, Karirmu hancur. Mengerti!" ancam Lia.


"Kita coba saja kalau begitu. Seberapa beraninya dirimu dan seberapa kuatnya dirimu?


Berusaha tenang saat berhadapan face to face dengan bos Adam tetap saja membuat nyali Lia ciut.


Seberapa berani


0%


Seberapa kuat


0%


Kalau lagu Sheila on 7


Seberapa pantaskah


Lia berfikir dan mengatur siasat. Pasti bukan siasat perang karena kita tidak sedang berperang. Mungkin yang lagi happening perang melawan Corona.


Dengan wajah yang masih terlihat berani Lia mengajukan penawaran.


" Kita perlu bicara!"


Mereka duduk di meja makan saling berhadapan. Dengan beberapa kertas, bolpoin, pensil dan penghapus yang berserakan di atas meja. Kemudian Lia pun merapikannya agar pikirannya tidak ikut ruwet.


"Pak Adam." Gadis itu membuka pembicaraan dengan suara lembut. Adam yang sejak tadi bersedekap dan memiringkan wajah merubah posisinya.


"Kita sama-sama tahu. Saya Lia adalah pekerja di rumah ini. Bapak, Pak Adam adalah pemilik rumah ini."


"Lalu." sahut Adam masih bingung.


"Bagaimanapun kita harus mengatur apa yang menjadi job desk saya. Hak serta kewajiban saya sebagai pekerja dan Hak serta kewajiban bapak sebagai pemilik rumah."


"Apa kewajibanku? Aku tidak punya tugas apapun." ucap Adam denga gaya sok cool.


"Bapak tentu harus membayar gajiku kalau aku bekerja." sambung Lia.


"Sial aku benar-benar malas harus banyak bicara dengan gadis ini. Kemana perginya Eric? Menyusahkan sekali kehilangan satu asisten." guman Adam dalam hati.


"Apa maumu?"


"Setiap pekerja punya kontrak kerja. Apa tugasnya dan berapa lama dia harus bekerja. Karena pak Adam masih ingin aku bekerja jadi aku ingin kontrak kerja."


"Terserah apa maumu. Buatlah kotrak kerja itu?"


"Kontrak kerja biasanya dibuat oleh pihak pertama bukan pihak kedua." protes Lia.


"Dengar nona..." Adam memutar jari telunjuknya ke arah Lia.


"Lia."


"Nona Lia. Aku tidak suka mengurusi hal-hal receh seperti ini. Harusnya asistenku yang akan mengurusnya. Saat ini asistenku sedang ada urusan. Dan sayangnya kau harus tahu apa yang harus kau lakukan selama menjadi asisten daruratku. Aku tidak suka orang yang banyak tanya."


"Asisten darurat? Pak Adam aku bukan cenayang yang bisa mengerti isi hati seseorang. Aku juga bukan peramal yang bisa memprediksi sesuatu. Aku perlu pak Adam mengungkapkan apa yang pak Adam inginkan."


Deg....


Entah mengapa perkataan Lia membuat Adam tergetar.


"Mengungkapkan yang aku inginkan?"


Adam terdiam beberapa saat. Dia menatap Lia dan memastikan gadis itu mengerti konsekuensi dari ucapannya.


"Pak Adam. Ayolah jangan cuma diam. Katakan sesuatu."


Adam tertegun dengan keberanian Lia. Gadis pertama yang berani protes dan melawan perintahnya.


"Buatlah prioritas apa yang ingin kau bahas. Kita akan membahasnya."


Senyum kecil tersungging di bibir Lia. Walau Adam masih dengan wajah datarnya, Lia merasa ada jalan untuk keluar dari masalah ini.


****


**Maaf Tipis-tipis up nya!


Tinggalkan jejak ya**!