Be My Home

Be My Home
Usapan Lembut



Happy Reading!


********


"Jangan keras-keras, sakit."


"Aku juga sudah melakukannya sepelan mungkin."


"Au... Sakit."


"Apa yang harus kulakukan sekarang."


"Tarik pelan-pelan jangan kasar."


"Ini juga sudah pelan."


"Bos, nariknya pelan-pelan saja!"


"Sudahlah. Pakai gunting saja."


"Apa maksudmu?"


"Potong saja rambutmu! Nanti pasti bisa lepas!"


"Apa? Aku sudah merawat rambutku dengan baik. Bagaimana jadinya kalau dipotong? Bentuk bisa jelek." hardik Lia tidak terima dengan usul Adam.


"Lalu bagaimana melepaskan rambutmu dari kemejaku. Kenapa juga rambutmu harus panjang?"


"Eh... kau mau kemana bos? Rambutku ikut tertarik."


Adam berjalan mendekati ranjang kayu. Dia sudah lelah terlalu lama berdiri.


"Aku mau tidur. Lepaskan sendiri rambutmu!"


"Kalau bos tidur aku harus gimana?" tanya Lia ketakutan. Tentu gadis itu harus berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Adam.


Adam menyadarkan punggungnya pada dipan ranjang. Lia harus mengikuti kemana Adam pergi karena rambutnya tersangkut pada kancing baju Adam. Tidak sengaja tapi sudah terlanjur.


"Bos, aku gimana?" ucap Lia bingung.


"Aku tidak tahu Lia. Urus rambutmu sendiri!" bentak Adam jengah.


Lia berjarak sangat dekat dengan Adam dengan posisi Adam yang tiduran Lia harus menempelkan kepalanya ke dada Adam agar rambutnya tidak tertarik terlalu jauh.


Gadis itu berusaha keras memisahkan rambutnya yang tersangkut pada kancing kemeja Adam. Kedua tangannya sibuk memisahkan surainya.


"Lia!"


"Ya!"


"Kenapa kau tidak mau pulang."


"Ini rumahku, bos."


"Kenapa kau tidak mau kembali?"


"Aku tidak punya alasan kembali."


"Apa maksudmu?"


"Kantor tempatku magang tidak bisa dikonfirmasi. Teman-teman, manager serta HRD tidak ada yang mengangkat teleponku atau membalas pesanku." ucap Lia putus asa.


Adam tersenyum lega. Ternyata hanya karena alasan yang terlalu sepele.


"Cuma itu?" Lia terhenyak. Itu adalah masalah yang sangat besar bagi Lia.


"Kalau tidak dapat nilai aku tidak bisa melanjutkan menulis skripsinya." Jelas Lia masih mencoba melepaskan surainya yang tersangkut.


"Makanya kalau ada masalah ngomong. Itu masalah gampang. Aku bisa bilang sama CEOnya."


"Bos kenal sama CEOnya?"


"Semua orang penting aku kenal. Aku hanya heran kenapa aku bisa kenal dengan orang tidak penting sepertimu." ejek Adam membuat telinga Lia panas.


Songong banget bos Lia yang satu ini. Tenang Lia di atas langit masih ada langit.


"Besuk, bisa kita pulang?" ajak Adam penuh harap.


"Aku masih ingin di sini bos. Aku masih kangen sama ayah dan bunda. Aku juga belum bertemu April."


"Tawaranku hanya berlaku sampai besuk. Lusa sudah tidak berlaku."


Lia sudah bisa mengurai semua surai yang tersangkut di kancing kemeja Adam. Dia menjauhkan diri dari dada Adam tapi tangan lelaki itu menahan tubuh Lia agar tidak menjauh. Tangan Adam menyentuh punggung Lia. Pandangan mereka saling beradu. Baru kali ini Lia bisa memandang manik mata Adam.


Retina mata yang berwarna coklat terang. Tatapan mata yang sangat kuat tapi teduh. Keduanya saling menyelami arti dari tatapan yang terpaut. Gadis itu tersihir dengan sorot mata Adam dan membawanya terhanyut.


Adam memandang kedua bola mata Lia penuh arti menunggu jawaban gadis mungil di hadapannya.


"Bagaimana?" Kalimat tanya yang Adam ucapkan membuat Lia tersadar. Gadis itu benar-benar terbuai dalam lamunan bersama bosnya.


"Untuk apa aku lanjutkan kuliahku?" ucapnya serak.


Kesabaran Adam sampai pada batasnya. Tercipta dari apa sebenarnya gadis di hadapannya? Dia sangat lemah dan tidak punya semangat. Lia sangat berbeda dengan Davina yang kuat dan pantang menyerah. Lia gadis yang pesimis sedangkan Davina gadis yang selalu optimis. Kedua orang itu sangat bertolak belakang.


Adam bangkit menyentuh kedua pundak Lia. Dia mencengkram begitu kuat hingga empunya meringis menahan sakit.


"Bos." seru gadis itu sambil meringis.


"Bisakah kau lebih berusaha! Semua orang pasti akan menghadapi masalah. Semua masalah akan ada jalan keluarnya. Kau hanya harus berusaha lebih giat lagi." tutur Adam penuh semangat.


Lia terkejut dengan ucapan Adam. Lelaki dihadapannya adalah orang yang sangat optimis dan pemberani. Berbeda dengan Lia yang pesimis dan cepat menyerah.


"Kenapa kau sangat ingin aku menyelesaikan skripsiku?" pertanyaan Lia membuat Adam tercekat. Lelaki itu diam seribu bahasa tapi tatapan Lia membuatnya harus mengucapkan sesuatu.


******


"Bagaimana, Pak Wo?"


"Saya sudah menemukan alamat nona Lia. Tempatnya cukup terpencil dan susah sinyal." terang pak Wo dwngan singkat.


Marisa memincingkan mata. Dia memejamkan matanya beberapa saat. Wanita itu menjadi gamang akan pilihannya.


"Selama yang kau tahu. Apa ada gadis lain yang dekat dengan Adam?" tanya Marisa penuh harap.


"Ada. Dia adalah anak dari salah satu partner kerja Pak Adam. Namanya nona Amel."


"Apa dia gadis yang baik?"


"Dia teman nona Lia. Mereka satu kampus "


"Menarik." guman Marisa dalam hati.


*****


"Mau pergi kemana?" Adam menarik tangan Lia yang akan meninggalkan kamarnya.


"Ke kamarku bos. Mau kemana lagi?"


"Tidur di sini saja." bujuk Adam dengan wajah memelas.


"Apa maksudmu?"


"Ini tempat baru. Aku sulit tidur di tempat asing." jelas Adam memberikan alasan.


"Kemarin waktu di hotel kau tidur nyenyak."


"Karena ada yang menemaniku. Aku bisa tidur dengan nyenyak."


"Aku janji tidur dengan bunda nanti. Ayah masih di desa sebrang. Sepertinya besuk baru pulang. Sungainya meluap." ucap Lia berusaha menolak.


Adam memandang Lia dengan tatapan memohon. Lia merasa tidak tega melihat Adam. Segalak apapun bosnya. Dia orang yang telah banyak membantunya.


..."Akan kulihat bunda dulu." pamit gadis itu.ythu...


Adam mengganggukkan kepalanya. Menyetujui usul Lia. Entah bagaimana cara melukiskan kebahagian Adam. Sepertinya ada banyak kupu-kupu di sekitarnya. Dia tersenyum penuh arti.


Lia meninggalkan Adam sendirian di dalam kamarnya. Lelaki itu memandang langit-langit rumah Lia yang sangat sederhana. Atapnya dari genting dengan penyangga dari bambu. Rumah ini sangat sederhana tapi ada kehangatan di dalamnya. Adam mengingat bagaimana ibu Risma menyambutnya.


Wanita itu menyiapkan masakan dengan penuh kasih sayang. Dia bahkan bertanya makanan apa yang disukai Adam. Sama seperti Lia, Adam juga merasa pulang ke rumah. Tempat dimana dia selalu di sambut dengan senyuman.


Dulu dia selalu diajarkan agar mandiri. Adam harus bisa berdiri di kakinya sendiri. Setiap pulang ke rumah dia harus mematuhi aturan keluarga masuk ke kamar, ganti baju dan makan siang menjadi rutinitasnya. Tidak ada senyuman seorang ibu yang menyambutnya.


Hanya pengasuhnya yang selalu merindukan kepulangannya. Mbok Yem yang selalu bertanya kabarnya setiap hari. Pengasuhnya juga yang selalu membuatkan makanan kesukaannya. Ayah dan Ibu Adam sibuk bekerja. Mereka hanya mencari uang tapi tidak mencari anaknya.


Tok...Tok...


Suara ketukan pintu membuat Adam terlonjak kaget.


"Masuk."


Lia membuka pintu dengan senyuman manis di sudut bibirnya. Adam selalu rindu senyumnya.


"Bunda sudah tidur. Sepertinya beliau sangat Lelah." jelas gadis itu dengan tangan yang penuh dengan barang-barang.


Lia menempatkan karpet dan bantal di lantai. Gadis itu bersiap merebahkan tubuhnya yang sudah penat di atas karpet yang sudah tergelar di lantai.


Adam memiringkan tubuhnya sehingga dia bisa melihat Lia yang berbaring di lantai.


Gadis itu menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover yang dia bawa. Lia malu jika Adam akan menatapnya saat tidur.


Jantung Lia berdegup kencang. Gadis itu merasa atmosfer yang dia rasakan berbeda dengan kondisi saat di hotel.


Walaupun mereka berdua dalam kamar yang sama. Saat ini, Lia merasa ada sesuatu yang beda.


Sesuatu yang akan terjadi.


Lia menepis semua prasangka yang dia sangka. Lebih baik tidur. Malam semakin larut. Dia harus bangun lebih dulu dari bundanya. Gadis itu berharap Adam akan cepat tidur dan dia bisa segera pergi dari kamar ini.


Mata Lia sudah berat. Matanya sudah tak mampu terbuka. Dia merelakan mata itu terpejam karena memang sangat mengantuk dan lelah.


"Lia." seruan itu membuat Lia terjaga. Panggilan dari Adam.


Gadis itu membuka selimut yang menutupi kepalanya.


"Aku mengantuk bos."


"Sini!" bujuk Adam sambil mengkode dengan ayunan tangan agar mendekat.


Lia berdiri mendekati Adam. Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan kedua mata yang terpejam.


Adam tertawa cekikikan melihat Lia. Gadis itu pasti sangat lelah karena dia tidak bisa tidur waktu di hotel. Dalam hatinya, Adam merasa tidak tega. Namun, jiwa usilnya sangat meronta ingin dilepaskan.


"Usap rambutku!" titah Adam penuh kelembutan. Antara sadar atau tidak Lia menuruti perintah bosnya.


Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan kaki yang diluruskan.


Punggungnya bersandar pada dipan. Kedua matanya terpejam. Satu tangan Lia mengusap rambut Adam dengan pelan. Sesekali usapannya berhenti karena dia tertidur. Saat kesadarannya pulih dia akan mengusap rambut Adam lagi.


Adam menikmati usapan tangan Lia. Walaupun sesekali gadis itu berhenti karena tertidur.


******


Hai tinggalkan Jejak!


Thank you.