
Adam berhenti di sebuah pohon. Dia mengamati pohon itu dengan seksama. Lia menyadari sepertinya tidak ada orang di belakangnya. Dia segera berbalik dan terkejut melihat Adam.
"Oh... tidak." Gadis itu menutup mulutnya dan ketakutan.
Lia segera berlari mendekati Adam. Tanpa pertimbangan apapun dia segera menarik pergelangan tangan Adam. Lia, gadis yang berusaha menjaga jarak dan takut setengah mati berhadapan dengan Adam, sekarang dengan berani memaksa Adam berlari menjauh dari pohon tersebut.
Ada apa dengan pohon itu?
Adam berusaha melawan dan mengibaskan tangan Lia. Gadis itu berhenti dan menatap Adam dengan tajam.
"Jangan main-main di sini bos. Tolong sekali ini menurutlah!" pungkas Lia dengan tekanan di setiap kata.
Lia masih menggenggam pergelangan tangan Adam. Cara bicara gadis itu terlihat tegas tapi sorot matanya dipenuhi ketakutan. Lia memang takut. Dia menarik tangan Adam agar berjalan menjauh.
"Itu pohon Angsana. Tidak ada orang yang boleh berhenti di situ atau melihat pohon itu." ucapnya di sela-sela mereka berjalan.
"Sekali ini turutilah aku!" lanjut Lia menatap Adam sungguh-sungguh. Kedua tangan Lia sudah penuh satu tangan menyeret koper besar Adam dan satu tangan memegang pergelangan tangan Adam.
Lelaki itu merasa ada hembusan angin di tengkuknya. Bulu kuduknya seketika berdiri. Apa maksud perkataan gadis itu? Adam terdiam dan berjalan menuruti Lia.
Setelah agak jauh dari pohon tersebut Adam menarik tangan Lia.
"Eh..." pekik gadis itu. Dia belum siap menopang tubuhnya. Lia hampir saja terjatuh kalau Adam tidak menangkapnya dengan pelukannya.
Lelaki itu mendekap Lia dengan erat. Tidak tahu apa maksudnya tapi Adam malah mengusap pipi Lia dengan punggung tangannya.
Lia sudah gemetar setengah mati. Misteri pohon saja belum berakhir Adam malam mau membuat ulah di hutan. Apa dia tidak tahu banyak mitos tentang hutan ini. Mitos yang mencekam. Keluarganya selalu berjalan dengan cepat dan tidak berhenti selama di hutan. Menoleh ke belakang juga tidak boleh.
Apa maksud Adam sebenarnya?
Pikiran Lia kemana-mana. Sungguh kemana -mana dalam artian yang sebenarnya. Dia ketakutan. Kalau saja Adam memegang tangannya pasti Adam akan mengira itu es batu dan bukan tangan Lia. Tangan Lia dingin kareana ketakutan.
"Bos, tolong jangan macam-macam!" pekik gadis itu mendorong dada bidang Adam. Tenaga Lia tak mampu menggeser tubuh lelaki yang memeluknya.
"Semacam saja kalau bisa. Bagaimana menurutmu? Tempat ini cukup sepi?" Lelaki itu memainkan kedua alisnya dan tersenyum miring.
"Bos!" Lia mendorong Adam sekuat tenaga agar menjauh. Adam masih bergeming dia malam mempererat pelukannya di pinggang Lia.
"Dengar bos! Kau tahu peribahasa dimana bumi di pijak di situ langit dijunjung. Desa ini punya adat istiadat dan tradisi. Aku harap kau bisa mematuhinya. Jangan salahkan aku kalau kau melanggarnya. Aku sudah memberi tahumu." Napas Lia naik turun mengatakannya. Adam mengernyitkan dahi. Dia tidak tahu maksud perkataan Lia. Dia masih bingung.
Waktu di rumah Uwanya Lia dia harus menghabiskan makanan di piring. Saat ini Adam harus berhadapan dengan masalah pohon. Pohon kan bukan benda bernyawa. Ya... pohon termasuk kategori makhluk hidup tapi pohon tidak bisa bergerak. Apa yang bisa dilakukan pohon?
Apa ada masalah lain selain dua hal itu?
"Apa masalahmu?" ucap Adam ketus.
"Bos ini bukan kota tempat bos tinggal dan di sini ada yang lain selain kita. Kalau bos tidak mau menurutiku..... Pulang saja!" usir Lia setengah mengancam.
"Pulang??" ulang Adam.
"Aku tidak bisa menjaga mu disini kalau kau terus membuat ulah. Banyak mitos di sini jadi jangan main-main! Atau... Bos bisa kena...tulah." terang Lia agar Adam mau mendengarkan.
"Kau ingin mendoakanku yang jelek?" pungkas Adam emosi.
"Jangan salah sangka bos! Aku tidak mau hal buruk menimpamu. Lihatlah aku! Aku sudah membawa kopermu yang besar dan kau membawa ranselku yang kecil. Aku sudah mengalah dari tadi tidak bisakah kau menurutiku." pinta gadis itu memelas. Adam melonggarkan pelukannya dan mundur satu langkah.
"Di sini saja. Cukup di desa ini! Kalau bos sudah pulang, Bos tidak perlu menurutiku." bujuk Lia pasrah.
" Maksudmu? Kau tidak akan kembali?" tanya Adam ragu.
"Mungkin. Aku rasa tempatku di sini bersama keluargaku."
"Kau masih kuliah. Tinggal satu semester. Cuma mengerjakan skripsi! Sampai di sini kemampuanmu? Menyedihkan!" Sindir Adam dengan nada tinggi.
Lia terdiam dengan wajah penuh putus asa. Apa yang bisa dia lakukan sekarang karena trauma pernah diculik dia terlalu takut bertemu banyak orang. Belum lagi masalah magangnya. Setiap dia menghubungi teman-temannya, mereka selalu menghindar. Sepertinya mereka tidak ingin mengenal Lia.
HRD dan Manager keuangan yang ditelpon semua mereject panggilan Lia. Chat Lia juga tidak ada yang di balas. Tidak mungkin dia bisa mendapat nilai magang. Kalau tidak dapat nilai bagaimana dia bisa melanjutkan menulis skripsi.
Apa Lia harus ke kantor dan menanyakan pada orang kantor? Apa mereka akan berbaik hati menerima Lia setelah berhari-hari Lia hilang tanpa kabar?
Apa Lia melakukan kesalahan fatal karena tidak masuk kerja? Itu kondisi terpaksa. Dia juga tidak mau mengalami trauma pernah di culik.
"Sudahlah bos. Mungkin takdirku sampai di sini." jawabnya lemah.
"Kau ini. Belajarlah lebih tegar dan hadapi masalahmu! Jangan lari atau menghindar!" nasehat Adam yang lebih mirip bentakan.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan bos. Jangan mempersulitku!"
Adam kehilangan kata-kata dihadapan gadis putus asa itu. Dia juga pernah mengalami kondisi seperti Lia. Adam merasa mereka pernah memiliki persamaan nasib. Itu dulu dan bukan sekarang.
"Berfikirlah sebelum memutuskan!
Adam berjalan maju dan menatap Lia. Dia sendiri merasa tidak tega melihat seseorang yang putus asa. Lelaki itu pun tidak bisa berbuat banyak. Ada sebuah peribahasa yang menyatakan kita bisa menarik seekor kuda ke sungai tapi kita tidak bisa memaksanya minum air sungai.
Jika kau terlalu memaksanya mungkin kuda itu lebih memilih tenggelam. Jika ingin mengubah nasib harus dari dirinya sendiri. Semua harus berasal dari keinginannya yang ingin berubah. Walaupun hidup itu tidak seperti apa yang kita harapkan tapi hidup harus terus berjalan sampai akhir.
"Kita jalan bos. Jangan berhenti atau menoleh kebelakang!" saran Lia yang membuat Adam makin bingung.
Seperti ketua regu Lia berjalan di depan Adam. Dia terus diam karena dia sulit mendeskripsikan perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Bagaimana dia akan bilang pada orang tuanya kalau dia tidak bisa melanjutkan kuliah lagi?
Apakah orang tuanya akan menerima keputusannya atau marah kepadanya?
Adam berjalan dengan perasaan jengkel. Bagaimana seseorang bisa putus asa dengan mudah? Apa dia tidak tahu kalau di luar sana banyak orang yang lebih menderita tapi mereka tetap berusaha?
Gadis itu benar-benar membuat Adam naik pitam. Ternyata ada gadis yang bahkan tidak punya usaha sedikit pun. Lia terlalu pesimis berbeda dengan Davina. Davina gadis mandiri dan selalu optimis. Entah mengapa tiba-tiba wajah Davina muncul dipikiran Adam. Adam merindukan Davina.
Alasan Davina menghilang pun juga tak diketahui Adam. Seluruh keluarganya menghilang. Adam menerawang kebersamaannya dengan Davina. Mereka pasangan yang melengkapi. Adam lelaki yang cerdas. Davina gadis yang kaya yang cantik.
Kenapa gadis yang selalu memberi semangat pada Adam harus pergi? Seharusnya Davina bisa melihat kesuksesan Adam sekarang.
Perjalanan hanya ditemani hembusan Angin. Tak ada suara dari dua orang yang berjalan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Adam merasa ada suara samar yang memanggilnya. Dia benar-benar ingin menoleh ke belakang. Apa yang terjadi kalau dia menoleh?
Pohon yang dibicarakan Lia selalu mengganggu pikirannya. Pohon itu sangat menarik perhatian Adam. Bunga berwarna kuning yang bertebaran menambah keindahan pohon Angsana. Bunga itu terbang di sekitar Adam.
Lelaki itu mulai tidak stabil dalam pikirannya. Sungguh sangat ingin menoleh. Sekali saja dia merasa penasaran dengan apa yang ada di belakangnya.
"Lia!" seru Adam agar gadis itu menoleh.
Berulang kali Adam memanggil Lia. Gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya. Dia malah mempercepat jalannya. Adam harus berlari mengejarnya.
"Heh..." tangan Adam mencengkeram pundak Lia. Gadis itu berhenti tapi tidak menoleh.
"Aku memanggilmu. Apa kau tidak dengar?"
"Aku tahu tapi aku tidak bisa menoleh. Ayo, kita harus cepat sebelum hujan turun! Kita harus menyeberangi sungai lagi. Di depan adalah desaku. Kita akan berjalan menanjak setelah sungai."
"Sebentar lagi kita sampai. Bersabarlah!" sambung Lia.
Lia kesulitan saat membawa koper Adam yang berat. Adam mengambil kopernya dan mengangkatnya di atas kepala. Hati Lia berdesir. Tidak tahu ada apa. Bosnya ternyata orang yang baik..
"Aku tidak mau pakaianku basah kena air." ucap Adam ketus. Seketika bibir Lia yang mengembang berubah menjadi bangun ruang kerucut.
"Dasar bos jutek." gerutu gadis itu dalam hati.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Mereka berdua tiba di sebuah rumah. Rumah itu cukup bagus. Karena itu adalah rumah yang paling bagus dari pada rumah di bawahnya atau di sampingnya.
Rumah Lia sudah beralaskan keramik dan berdinding tembok. Adam masih kebingungan bagaimana cara membawa keramik dan semen sampai ke desa Lia. Apa mereka menggotongnya manual? Mobil kan tidak bisa sampai sini.
Membawa badan sampai ke sini saja sudah membuat seluruh badan Adam pegal.
Mungkin orang desa memang kuat-kuat. Namun, gadis di samping Adam terlalu lemah dan mudah putus asa. Tidak mungkin dia punya tenaga yang kuat.
"Adel, kamu pulang? Bunda kangen banget sama kamu." Bunda Risma memeluk putri sulungnya. Dia terlalu merindukan Lia. Air matanya menetes membasahi pipi. Lia juga ikut terisak.
Bunda tidak tahu apa saja yang sudah Lia lewati. Lia merasa dia punya tempat bernaung sekarang. Tempat ternyaman dalam pelukan bundanya.
"Adel juga kangen bunda. Hiks...Hiks..." Adel adalah panggilan Lia karena namanya Adelia.
Adam menekuk mulutnya karena malas melihat drama tangisan di hadapannya.
Ayolah! Kenapa mereka harus menangis? Mereka sudah besar. Apa juga yang harus ditangisi? Tidak ada yang hilang.
Bunda Risma mengurai pelukan Lia. Kedua bola matanya beralih pada lelaki tinggi besar berkulit putih.
Lelaki itu tampan dan gagah. Bunda Risma mengurai senyum. Adam membalas senyuman wanita paruh baya yang mungkin berusia lebih muda dari mamanya.
"Dia siapa Adel?" tanya bunda Risma ingin tahu.
*******
Hayo Adel sekarang kamu mau jawab apa?
Deg deg an kan?
Reader jangan mikir ini cerita horor ya!
Walaupun rada nyempret-nyempet dikit, ini supaya nggak monoton aja.
Aku penakut jadi gak akan muncul mbak...
mas...atau adik....
Happy Reading!
Tinggalkan jejak ya!
Semoga bahagia dan sehat selalu!