Be My Home

Be My Home
Laptop



"Map? Apa isinya bos?" tanya Lia penasaran.


"Buka aja!" Adam tersenyum tipis.


"Aaarg... Nilai magangku. Jadi aku bisa lanjut nulis Skripsi. Makasih bos." Lia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Senyum terus terkembang di bibirnya.


"Ada lagi." Adam menyerahkan amplop coklat.


"Uang lelah untukmu."


"Aku digaji bos?" ucap Lia tak percaya. Dia sekarang yakin kalau buku karangan RA Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang ternyata benar. Setelah kegelapan pasti akan ada cahaya terang.


"Uang lelah katanya." Adam tersenyum simpul melihat Lia yang hampir bersorak hanya karena nilai magang. Sesederhana itukah sebuah kebahagiaan.


"Trima kasih. CEOnya siapa? Kenapa dia menuduhku dan memberiku uang." Lia mengernyitkan dahi berusaha berfikir alasan yang tepat.


"Kau akan terkejut kalau mengetahui siapa dia." ucap Adam datar.


"Memang siapa dia?" Adam hanya tersenyum menatap Lia.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Ibu Marisa, Ini data kompetitor."


"Namanya...." ucap Marisa tercekat.


"Iya Ibu Marisa. Dia ingin berekspansi di kota ini. Sebagian besar harga jual yang mereka tawarkan di bawah harga jual kita." ucap Roni menjelaskan.


"Ini bisa jadi ancaman." guman Marisa pelan.


Marisa mendesah pasrah. Ada rasa gamang di hatinya. Kenapa harus orang itu yang menjadi kompetitor perusahaannya.


Masalah perusahaan harus segera selesai untuk menentukan langkah selanjutnya.


"Cepat cari orang yang bermain di perusahaan ini. Aku beri waktu 3 hari."


"Ibu Marisa ini sangat sulit." Roni skeptis bisa mencari dalangnya dalam waktu singkat.


"Curigai semua orang. Jangan lepaskan siapapun. Pastikan kasus ini selesai!" gertak Marisa.


"Baik Ibu Marisa."


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Bos, tidak usah mengantar sampai kampus. Aku bisa sendiri." tolak Lia. Wajahnya malu-malu takut kalau ada yang memergokinya bersama lelaki tampan dengan mobil mewah.


"Ini sekalian jalan. Nanti pulang, telpon pak Wo! Dia akan menjemputmu." ucap Adam mengingatkan.


"Aku..." masih merasa takut jika bertemu banyak orang. Juga merasa sungkan harus merepotkan bosnya.


"Pak Wo akan melatih cara mempertahankan diri nanti. Persiapkan dirimu!" Lia yang tertunduk mengangkat wajahnya memandang lelaki di sampingnya yang tengah menyetir. Sampai sejauh ini Adam membantunya lepas dari trauma penculikannya. Lia terharu dengan kesungguhan Adam.


"Lia, ketakutan harus dihadapi bukan dihindari. Kau akan tahu sejauh mana kau bisa mengendalikannya." tutur Adam menasehati.


Lia bergeming tidak tahu harus menolak atau berterima kasih. Ketakutan itu sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Dia hadir dan membelenggu. Bagaimana melepaskan ikatan yang tak kasat mata tersebut? Tidak alasan kenapa seseorang bisa takut pada sesuatu. Kadang sebuah kejadian bisa membekas terlalu dalam. Hinggap ke alam bawah sadar dan menetap di sana.


Perasaan itu hadir dan nyata. Kedua tangan Lia menggenggam melihat banyak orang berlalu lalang. Apa bisa dia menghadapi orang asing?


"Aku janjian dengan Ratih. Bisakah kau menunggu sebentar!" pinta Lia.


"Tidak." jawab Adam sambil tertawa geli.


Lia mengerucutkan bibirnya. Kesal karena Adam menggodanya.


Setelah sepuluh menit yang cukup hening. Ratih menelepon. Dia sudah ada di kampus. Tak selang berapa lama Ratih sudah berada dekat mobil Adam setelah Lia memberi tahu keberadaannya.


Kedua gadis itu pergi berboncengan dengan motor matic Ratih. Adam melambai melihat kepergian kedua gadis itu.


Senyum terkembang di kedua sudut bibirnya. Entah karena sebab apa.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Alhamdulillah, Tih. Aku bisa konsultasi. Sekarang tinggal merevisi beberapa bagian."


"Kamu cepet banget sih Ya udah bab 4. Nanti belajar bareng. Aku ajarin dong." rengek Ratih yang ingin segera kelar skripsinya.


"Oke. Aku kangen banget sama kamu Tih. Pengen banyak cerita."


"Kita ke kantin ya!" Kedua gadis itu berjalan diselingi canda tawa.


"Aku kabari si Bos jutek dulu. Biar dia nggak nyariin." ucap Lia merasa lega. Setelah beberapa masalah yang mendera akhirnya tahap demi tahap bisa dilewati Lia.


"Banyak hal yang udah terjadi sama aku." ucap Lia menerawang. Ada wajah lega setelah semua berakhir.


"Aku mau cerita. Jangan di kampus! Aku takut ada yang denger." ucap Lia penuh pertimbangan. Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala arah takut bertemu dengan Robert.


Kedua gadis itu berjalan dengan riang. Saling melepas rindu. Mereka bercerita banyak hal ketika magang. Rasanya tidak percaya masih bisa bertemu lagi.


"Hei!" Sorak seorang dari belakang. Lia dan Ratih menoleh mencari sumber suara tersebut. Kedua pasang mata itu mengedarkan pandangan mencari siapa yang berteriak.


Plakk


Sebuah tamparan mengenai pipi Lia. Ada bekas merah yang tercetak di sana. Ratih menganga melihat kejadian di hadapannya. Lia meringis menahan sakit.


"Apa hubunganmu dengannya?" ucap gadis yang menampar Lia dengan sarkas.


Lia berkerut. Dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan Amel.


"Apa maksudmu, Mel? Hubungan dengan siapa?" Lia kebingungan dengan pertanyaan Amel. Lia tidak punya hubungan dengan siapapun.


"Orang yang mengantarmu." Lia tercekat tak mampu berkata-kata. Apa Amel salah melihat? Lia berfikir tidak mungkin Amel mengenal Adam. Apa Amel berfikir Robert yang mengantar Lia?


Wajah Amel terlihat merah padam menahan amarah. Amel menarik tas Lia dan membuangnya sembarangan.


"Lia laptopmu!" pekik Ratih. Lia tersadar dengan pekikan Ratih. Matanya berkaca menahan tangis. Hatinya teriris. Bagaimana nasib laptopnya?


Tidak hanya melempar Amel juga menginjak laptop Lia tanpa ampun. Sudah pasti laptopnya rusak. Itu nyata. Amel sangat beringas. Dia menginjak tas Lia berulang kali. Gadis itu bergeming. Saat ini koridor kampus sepi. Melawan Amel tidak akan menghasilkan apa-apa. Tas Lia sudah terkoyak.


"Dengar, Jauhi Adam! Kau harus menjaga jarak dengannya. Dia milikku." ancam Amel.


Amel mengenal Adam. Bagaimana bisa? Lia menggeleng tak percaya. Amel berfikir Lia tidak ingin menjauhi Adam. Gadis itu menarik rambut Lia ke belakang.


"Jauhi dia!" gertak Amel memastikan Lia paham maksudnya. Lia menggangguk pasrah.


Amel menyenggol bahu Lia sehingga gadis itu terjerembab jatuh ke lantai.


Ratih membatu Amel berdiri. Dia juga mengambil tas Lia dan memeriksa isinya.


Ratih tercekat tidak percaya. Laptop Amel hampir dipastikan tidak bisa di selamatkan. Begitu pula handphone Lia. Monitor handphone Lia rusak parah begitu pun monitor Laptop Lia.


" Kamu punya cadangan data skripsi, Lia?" tanya Ratih khawatir.


Lia menggeleng dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Gimana mas? Nanti bisa jadi?" Lia bertanya penih dengan rasa takut.


"Ini rusak parah mbak. Bisa mengambil data dari Hardisk tapi kalau harus hari ini saya nggak bisa mbak. Servisannya banyak." ucap Mas penjaga servis. Dia berusaha tidak mengecewakan calon pelanggannya.


Lia mendesah pasrah. Dia tidak akan bisa merevisi skripsinya. Kalau tidak besuk dia harus menunggu 2 minggu lagi untuk ketemu dosen pembimbing. Dosennya sangat sibuk dia sering pergi ke luar negri. Kalau dalam dua bulan ke depan Lia belum selesai bisa jadi dia harus membayar uang kuliah untuk semester depan.


Rasanya berat jika harus keluar uang sebanyak itu. Lia ingin bisa selesai tepat waktu. Jadi dia akan menghemat banyak uang dan waktu.


Dengan berat hati Lia meninggalkan tempat servisan laptop dekat kampus. Ini sudah lima tempat yang dia datangi dan semua tidak bisa selesai hari ini.


"Gimana Tih?" tanya Lia dengan wajah putus asa.


"Tanya bos Adam dia pasti punya Ahli di bidang komputer. Dia kan bos besar." saran Ratih spontan.


Lia termenung. Dia selalu merepotkan bos Adam. Apa untuk masalah seperti ini Lia juga harus meminta bantuan Adam?


"Anterin aku pulang ya Tih!" pinta Lia lemah.


Ratih mengantar Lia sampai ke gerbang rumahnya. Dia tidak berani masuk karena penjagaan yang cukup ketat.


"Ati-ati ya Ya! Kabari aku kalau kamu butuh bantuan." Lia mengangguk. Walaupun dia bersedih, Lia cukup senang memiliki teman yang sangat perhatian seperti Ratih.


"Nona Lia apa anda sakit? Wajah Nona terlihat pucat." tanya pak Wo khawatir.


"Aku harus gimana pak Wo?" Lia terisak. Sudah tak mampu menahan sesak di dada. Dia hanya ingin melupakan perasaan dalam hati.


******


Hai...Hai...


Tinggalkan Jejak!


Thank You!