Be My Home

Be My Home
Resonansi



"Apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Adam sesaat setelah seorang wanita mempersilakan duduk.


"Saya menyarankan hypnoterapy. Nona Lia harus bisa membuka diri. Dia harus bisa menceritakan apa yang dia alami dan ketakutan apa yang dia rasakan." ucap psikiater.


"Apa ini beresiko?" Adam khawatir mendengar rencana dokter Sherly tentang Hipnoterapi. Ada beberapa rumor tentang hipnotis. Rumor itu lebih ke arah negatif. Sebagian besar tentang tindakan kriminal. Adam tidak mau salah langkah.


"Semua tindakan mempunyai resiko." Psikiater itu memahami kecemasan Adam. Bagaimanapun ini masih baru di bidang kedokteran.


"Apa resikonya?" Lelaki itu serius bertanya. Dia tidak punya pengalaman berkaitan dengan hal ini.


"Jika kita salah memberi suggesti. Tanggapan dari nona Lia bisa lebih buruk."


" Lalu apa ada jalan lain?" tanya Adam mencari alternatif.


"Ada tapi kita harus sabar dan butuh waktu lumayan lama."


"Apa itu?"


"Kita harus membuat nona Lia percaya pada seseorang. Saat ini dia merasa insecure. Jika ada orang yang dia percayai dan dia merasa aman bersamanya. Kondisi mentalnya akan membaik. Nona Lia harus belajar menerima kenyataan."


"Bagaimana caranya?"


"Membuat suasana senyaman mungkin bagi dia. Tidak membuat dia merasa terancam. Dia butuh teman yang mau mendukungnya. Sementara ini dia tidak punya siapapun di sampingnya."


"Dia punya masalah keluarga." bohong Adam.


"Temannya juga menghianatinya." sambungnya penuh kebohongan. Adam tidak mau melibatkan banyak orang dengan masalah Lia reputasinya dipertaruhkan. Perusahaannya akan disorot media dan investasi yang sedang dia jalankan terancam jalan di tempat. Dia bahkan melarang Ratih menengok Lia dan berbohong Lia sudah membaik.


"Ini cukup sulit. Kalau hanya berkonsultasi denganku tidak akan banyak membantu. Dukungan orang dekat sangat penting." jelas dokter Sherly panjang lebar.


"Ini sudah 3 hari sejak kejadian itu. Dia selalu murung dan menolak bicara. Apa dia akan baik-baik saja?" Adam sebenarnya khawatir dengan Lia. Kekhawatirannya tidak cukup kuat untuk membuatnya merawat Lia dengan baik. Mengajak Lia mengobrol saja tidak pernah.


"Kita hanya bisa berusaha. Manusia hanya bisa berusaha dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan." pungkas dokter Sherly.


"Tuhan?" tanya Adam ragu. Kalau hanya diserahkan kenapa kita wajib berusaha? Baik berusaha atau diam toh hasilnya tetap sama. Lalu apa istimewanya berusaha?


"Ada cara lain. Ini cara yang paling sederhana. Kita harus bisa menciptakan resonansi positif." ungkap dokter Sherly membuka wawasan Adam.


"Resonansi positif?"


"Getaran bisa menggetarkan yang lain."


"Apa maksudnya?"


"Resonansi bunyi adalah ikut bergetar ya suatu benda karena benda lain yang bergetar dan mempunyai frekuensi yang sama."


"Aku masih tidak mengerti."


"Kita bisa mendengar bunyi gitar karena adanya resonansi bunyi. Dawai gitar akustik yang kita petik bergetar sehingga udara di kolom gitar juga ikut bergetar" terang si dokter.


"Jika kita memetik nada yang benar maka akan menghasilkan bunyi yang merdu dan enak didengar sebaliknya jika kita memetik bunyi asal maka suaranya pun akan asal." imbuh dokter itu.


"Bisa menjelaskan dengan lebih sederhana?" Adam terlihat kebingungan mendengar penjelasan panjang lebar yang tidak bisa nyantol di otaknya.


"Resonansi memberikan timbal balik. Saat ada sepeda di dekat kita kita akan merasakan getaran yang ringan. Bayangkan jika itu sebuah truk. Getarannya akan sangat kuat."


"Getaran ini getaran itu. Apa hubungannya?" Adam semakin kesal karena merasa dipermainkan.


" Saat ada orang yang tersenyum kita akan membalas senyum mereka. Saat ada orang yang menguap tanpa sadar kita akan ikut menguap. Saat bersama orang yang sedang marah kita juga bisa merasakan amarahnya."


"Aku harap pak Adam mengerti bahwa energi positif bisa menular. Pak Adam harus menjadi sumber resonansi positif dan memberikan energi yang positif bagi nona Lia." dokter Sherly tersenyum menanggapi kebingungan Adam.


"Akan aku usahakan." ucap Adam putus asa.


"Sebaiknya pak Adam juga bahagia agar resonansi itu bisa menular pada nona Lia." sindir dokter Sherly. Dia tahu Adam adalah orang yang tidak mau mengalah apalagi bersabar.


*****


"Halo, Aku ingin bilang salah satu karyawan magangmu tidak bisa masuk kerja."


"..."


"Dia sakit."


"..."


"Tidak usah dijenguk dia sakit biasa. Jangan mengganggunya dulu! Kalau sudah sehat dia akan masuk." Adam menutup teleponnya dengan kesal. Tadi dokter Sherly sekarang Marisa. Kaum wanita membuatnya semakin marah. Bahkan gadis yang diam saja bisa membuatnya bertambah marah.


*****


"Lia sakit. Sakit apa dia?"


"Aku harus menghubungi pak Wo sepertinya Adam menyembunyikan sesuatu."


*****


Adam POV


Aku memasuki kamar bernuansa hijau dengan banyak gambar dinosaurus. Di atas meja ada sebuah boneka. Itu boneka T-Rex. Hewan ini di sebut juga Raja. Dia hewan terbesar di zamannya. Dia penguasa terbesar.


Sekarang, ada seorang gadis yang tertidur di kamarnya. Aku merasa senang melihatnya tertidur. Wajahnya sangat damai. Selama beberapa hari gadis itu hanya termenung. Dia lebih banyak diam dan aku kehilangan mainanku. Tidak ada yang bisa aku bentak dan aku kerjai.


Psikiater bilang aku harus sering mengajaknya bicara. Bagaimana cara mengajaknya bicara jika aku tidak suka bicara?


Mengobrol adalah tanda tanya besar tentang bagaimana cara memulainya. Apa aku yang harus mulai membuka pembicaraan? Apa yang harus aku bicarakan? Aku malas jika tidak punya bahan pembicaraan atau orang yang aku ajak bicara kurang wawasan.


Aku mendesah panjang memandang gadis yang tertidur. Aku cukup putus asa. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya pulih dengan cepat. Semua saran psikiater terasa sangat sulit dilakukan.


Aku tersenyum saat memandangnya. Sebenarnya dia cantik dan imut. Hanya saja dia bukan tipeku. Tidak akan jadi tipeku.


"Lia, Bangun!" ucapku ketus.


Aku mengurai tanganku yang bersedekap. Aku mengusap wajahku dengan frustasi.


Terlintas begitu saja. Ucapan dokter Sherly. Resonansi yang diucapkan Psikiater membuatku bingung. Aku diam dan mengambil napas panjang. Harus sabar dan tulus. Ciptakan getaran positif.


Jika aku marah apa Lia juga akan merasakan. kemarahanku?


Resonansi positif.


Aku menarik napas panjang lagi. Aku berusaha menahan diriku untuk tidak membentak Lia. Rasanya sungguh tersiksa jika harus merendahkan suara.


"Lia!" panggilku dengan suara sepelan mungkin.


Semampuku aku mendekatinya. Aku duduk di tepi ranjang berharap Lia mendengar panggilanku.


Ini sangat sulit. Aku ingin berteriak dan memaki semua orang. Semua kekuatan aku gunakan untuk menahan diri untuk tidak membentak seseorang. Aku tersenyum sinis. Sejak kapan aku berubah menjadi malaikat baik hati?


Aku terus memanggil namanya di sela-sela usapanku pada tangannya yang mungil. Aku benar-benar ingin menyeretnya ke bawah. Jika setan dalam hatiku tidak di belenggu dengan ucapan psikiater.


"Jika tidak ditangani dengan serius dia bisa mengalami gangguan mental."


Tentu aku takut jika gadis yang bersamaku terkena gangguan mental. Bagaimana nasibku di mata rekan bisnis dan keluargaku?


Berat sekali hidupku.


Aku membayangkan jika aku harus bersama gadis dengan gangguan mental. Marisa akan membuat dimarahi nenek. Sejak pertemuan mereka nenek sangat suka pada Lia. Nenek dan kakek mengungkapkan keinginannya menjadikan Lia istriku. Jika Marisa tahu Lia sakit dia akan menekanmu agar segera menikahinya.


Lia menjadi begini bukan salahku dan memang aku tidak bersalah. Dia sendiri yang salah masuk mobil. Lagipula aku sudah menyelamatkannya dari penjahat.


Sejujurnya aku masih mengharapkan Davina yang menjadi istriku. Selama tiga tahun ini dia pergi tanpa kabar. Aku sulit melacak keberadaannya. Dia pergi sesaat setelah perceraian Marisa.


Saat aku membayangkan Davina tanpa sadar aku meremas tangan Lia dengan keras. Aku marah teringat Marisa menjelek-jelekkan Davina. Lia melenguh kesakitan.


"Apa sakit?" gadis itu mengerjap. Dia cantik sebenarnya.


Lia mendelik memandangku dengan takut. Dia menyilang kedua tangan di depan dadanya. Haruskah aku menenangkannya?


Ingin sekali aku menariknya turun untuk makan.


"Aku Adam. Aku bukan orang jahat." ucapku dengan lembut


"Ini waktu makan. Kau harus makan." bujukku. Lagi-lagi aku harus menahan diri tidak memarahinya. Ini sangat menyiksa.


"Kau lapar?" gadis itu menggeleng.


"Makan itu penting. Aku akan menyuapimu." gadis itu menggeleng.


Sebenarnya aku juga tidak mau menyuapimu.


Mbok Yem datang membawa sepiring nasi dan lauk. Aku mengambil piring itu dan mulai menyuapinya. Dia menutup mulutnya rapat dan menolak makan. Hampir saja dia akan membuat piring itu jatuh.


Cukup... aku benar-benar muak dengan semua ini. Aku tidak bisa bersamanya.Aku tidak mau mengurusinya. Tidak peduli apa kata orang-orang jika aku memasukan Lia ke rumah sakit jiwa. Biarkan mereka mencibirku atau mengataiku.


"Sabar, den. Biar mbok saja." Mbok Yem adalah pengasuhku. Dia wanita yang sabar. Dia sangat sabar dengan semua kenakalanku.


Dia bahkan terlalu sabar. Aku mengalah dan memberikan piring pada mbok Yem.


"Dhuk, Makan! Urip mung sadermo mampir ngombe. (Hidup hanya sebentar)." kata mbok Yem menenangkan.


"Sing ikhlas, sing sabar (yang ikhlas, yang sabar). Kabeh wis ginaris. (semua sudah ditakdirkan). Kabeh ana dalane (Pasti ada jalan)" lanjut mbok Yem.


Ucapan mbok Yem membuat hatiku bergetar. Ucapan sederhana yang sarat makna.


Dia wanita yang tidak banyak bicara. Meskipun demikian segala perkataannya seperti sihir yang harus dituruti. Wanita yang sudah uzur tapi masih memiliki semangat dedikasi yang tinggi.


Dialah satu-satunya wanita yang tidak pernah aku bantah.


Aku tercengang melihat Lia bereaksi. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan matanya berkaca-kaca. Butiran kristal bening mulai jatuh membasahi pipinya.


Apakah itu yang dikatakan dokter Sherly tentang resonansi? Getarannya bisa menggetarkan yang lain. Kesabaran dan ketulusan mbok Yem bisa membuat Lia berubah.


Mbok Yem menyuapi Lia dengan telaten. Mungkin jika aku yang menyuapinya aku akan memakai sekop dan bukan sendok. Akupun merasakan perasaan yang damai jika mbok Yem ada di dekatku.


Aku pergi meninggalkan mereka saat aku melihat kepala Lia berada di pangkuan mbok Yem. Dengan telaten wanita tua itu mengusap rambut Lia. Banyak hal yang dia ceritakan. Aku merindukan saat aku tidur di pangkuan mbok Yem waktu kecil sangat damai.


Aku merasa iri dengan Lia. Bagaimana aku bisa cemburu melihat Lia disayangi mbok Yem? Dia tidak mungkin mengambil pengasuhku. Aku hanya merasa tidak terima perhatian mbok Yem tercurah pada Lia. Dia benar-benar gadis yang merepotkan


Aku mengambil HPku dan menelepon pak Wo.


"Apa ada kabar? Baiklah aku mengerti."


Adam POV End


******


Hai...Hai


Tinggalkan jejak ya!