
Klik Favorit!
Happy reading!
******
Hati Lia gamang. Jika bisa memilih, ia akan memilih untuk pura-pura tidak kenal. Meskipun hal itu tidak mungkin.
"Selamat Malam! Ibu Marisa sudah membuat janji dengan bapak?" tanya Lia Ramah.
"Aku ingin berbincang denganmu." ucap Marisa.
Mata Lia terbelalak. Bu Marisa sukses membuat Lia menganga dan berdebar tak karuan. Apa yang ingin Marisa sampaikan? Apa Lia membuat kesalahan sehingga Marisa datang malam-malam?
"Maaf bu, bisa kita bicara di tempat lain. Bos sedang di rumah. Saya takut bos akan marah ketika melihat Ibu di sini." ungkap Lia.
"Ini kartu namaku. Telpon aku besok."
"Besok? Tidak bisa bu. Sabtu dan minggu saya harus jadi asisten bos 24 jam."
Marisa memandang Lia dari atas ke bawah. Dia memperhatikan Lia. Saat ini, baju Lia tipis dan sedikit terbuka. Apa maksud asisten 24 jam?
"Bukan Asisten seperti itu bu. Saya hanya mengurusi rumah dan harus siap 24 jam. Hari ini nanti saya ada janji bertemu desain interior jam 9 malam." Lia tidak ingin marisa salah paham terhadap dirinya. Dia berusaha menyangkal pikiran Marisa tentang dirinya.
"Dengan baju seperti itu?"
"Maaf bu. Tadi terburu-buru. Saya akan ganti baju."
"Apa kau pikir Adam tidak tertarik denganmu?" Pertanyaan Marisa jelas menuduh Lia mengoda Adam.
"Tertarik? Tidak mungkin. Bos kan...." Lia tidak berani melanjutkan ucapannya.
Marisa menatap Lia dengan tajam. Dia menunggu Lia melanjutkan perkataannya.
"Lanjutkan perkataanmu." sahut Marisa.
"Bos lebih tertarik dengan wanita seperti bu Marisa yang lembut dan dewasa. Saya tidak menarik di mata bos." sangkal Lia.
"Kau yakin? Dia pria dan kau wanita. Apa kau tahu. Selalu ada ketertarikan antara pria dan wanita terlebih mereka dalam satu rumah." Perkataan Marisa menohok Lia. Bagaimanapun Marisa memang perempuan dewasa yang pintar.
"Maaf bu. Saya akan lebih menjaga sikap!" cicit Lia.
"Panggilkan Adam!" titah Marisa.
"Saya tidak berani bu."
"Aku akan menunggu sampai Adam menemuiku."
"Silakan duduk bu! Saya akan mengganti baju saya." pamit Lia.
Dada Lia berdecak tidak karuan. Setelah ini akan ada perang dunia pastinya. Perang antara Adam dan Marisa. Lia ingin ngumpet ke banker. Jika keong bersedia meminjamkan rumahnya Lia ingin rental rumah keong barang sehari.
Sebelum Lia selesai ganti baju sudah ada suara gaduh dan teriakan-teriakan. Ingin sekali Lia ngungsi ke tempat yang aman. Suara itu sangat mengerikan. Ada suara barang pecah dan bentakkan yang menjadi-jadi.
Lia ketakutan. Dia segera keluar setelah mengganti bajunya.
Dihadapannya bos Adam memegang vas bunga yang hendak dia lemparkan ke arah bu Marisa. Wanita itu bersikap tenang dengan tatapan tajam Adam.
"Bos!" Kata Lia pelan.
Adam terlihat garang dengan mata yang memerah. Dia menatap Lia dan berjalan mendekatinya. Adam mengikis jarak diantara mereka. Dia mendekatkan wajahnya pada Lia. Penuh aura kemarahan yang bernaung di hatinya. Lia ketakutan dengan sorot mata Adam.
"Apa kau tuli. Sudah kubilang usir dia!" bentak Adam.
"Maaf bos!" cicit Lia. Dia memejamkan matanya menahan ketakutannya.
"Usir dia dengan cara apapun!" titah Adam.
"Ba...ik... Bos."
"Tidak perlu repot-repot Lia. Aku akan pulang. Ingatkan dia untuk datang ke pesta besuk malam. Kau juga diundang." Senyum Marisa menambah kemarahan Adam. Dia melempar vas bunga ke sembarang arah di sekitar Marisa. Wanita itu tak goyah sedikitpun. Dia masih bergeming dan menampakkan ketenangannya. Dia yakin Adam tidak akan melukainya.
"Sampai jumpa besuk malam!" ucap Marisa mengakhiri pembicaraan.
"Bos." Lia berusaha menenangkan Adam dengan sapaannya. Tidak tahu mengapa Adam sangat marah hanya karena melihat Marisa.
Marisa berjalan dengan Anggun menjauhi mereka. Lia terkesima dengan sikapnya yang tenang. Setelah badai yang dia buat, Marisa masih bersikap biasa.
Adam berusaha menahan kemarahannya. Dadanya naik turun mengatur napas.
Lia memegang tangan Adam yang kemerahan. Ada sedikit darah di punggung tangan Adam .
"Bos. Apa tanganmu sakit? Duduklah bos!" ucap Lia berusahan menenangkan Adam. Sorot wajah Adam berubah menjadi lebih tenang. Lia berharap Adam mengakhiri kemarahannya.
Adam menuruti Lia yang membawanya duduk di sofa. Lia pergi ke dapur dan mengambil air hangat serta kotak P3K.
Dengan telaten dia menyeka luka Adam dengan air hangat.
"Bos. Kita ke dokter ya! Aku takut ada serpihan kaca yang masih tertinggal. Ini bisa infeksi."
"Tidak usah. Obati saja di sini." ucap Adam dengan nada kesal.
Gadis itu memberikan obat merah dan memperban Luka Adam.
"Kalau sakit bilang bos. Saya akan lebih berhati-hati. Duduklah di sini! Aku akan membersihkan pecahan kacanya."
Keadaan benar-benar rusak parah. Pajangan yang pernah dibeli Bundanya Lia dipecahkan semua. Kemarahan Adam sangat mengerikan. Guci dan vas bunga antik milik bundanya sekarang tinggal puing berserakan. Lia meratapi kondisi dihadapanya yang luluh lantak.
Setelah selesai membersihkan semuan pecahan vas dan guci. Lia menata makanan yang tadi sudah diantar. Dia mempersilakan Adam menikmati makanannya.
"Makanan siap bos."
Adam berusaha menggunakan tangan kanannya untuk makan. Namun, usahanya sia-sia. Tangannya terasa sakit. Lia mengamati dan tak berani mendekati Adam. Meski ada rasa iba di hati Lia.
"Apa kau juga buta?" bentak Adam.
"Maaf bos?" Tanya Lia bingung.
"Singkirkan perban ini dari tanganku!" titah Adam.
Lia bergeming. Gadis itu merasa ragu dengan perintah Adam.
"Apa bos tidak bisa meminta tolong. Aku akan membatunya walau itu diucapkan dengan bentakkan." guman Lia dalam hati.
"Cepat." bentak Adam.
Lia mendekat dan mengambil kursi di dekat Adam.
"Bos mau minum?" tanya Lia halus. Adam mengangguk mengiyakan.
Gadis itu mendekat dan mengambil gelas berisi air. Dia membantu Adam meminum air. Dengan sangat
hati-hati dia meminumkan air. Lia takut air itu akan tumpah atau Adam akan tersedak.
"Apa bos ingin makan?"
Adam membuang mukanya. Dia lapar tapi terlalu gengsi.
Lia menyendokkan makanan dan menyuapi Adam.
"Makan bos?"
Adam masih merasa kesal dan malu jika dia harus membuka mulutnya dihadapan Lia.
"Bos." Lia berusaha membujuk Adam untuk mau makan. Dia menaruh sendok berisi makanan tepat di depan mulut Adam.
Adam merasa kikuk jika dia harus disuapi.
"Bos mau dengar cerita?"
"Cerita?" Adam mempehalus ucapannya.
"Makan dulu nanti akan ku ceritakan"
Adam pun makan nasi yang disuapi oleh Lia.
"Jadi bos, ada seorang anggota dewan. Dia dituduh menerima suap. "
"Lalu?" tanya Adam penasaran.
"Makan lagi bos!" Lia menyuapi Adam. Betapa senangnya hati Lia melihat Adam mau makan.
"Dia bersikeras tidak menerima suap. Diapun menyangkal semua tuduhan itu dan berupaya membersihkan namanya. Segala cara dia upayakan agar dia tidak terjerat kasus suap."
"Segala cara?"
"Hem em... Hingga suatu hari dia mengumpulkan seluruh anggota terdekatnya. Dia meminta konferensi pers dan memohon pada orang-orang terdekatnya agar mengatakan kebaikan yang sudah dia buat."
"Dia berhasil?"
"Dengarkan dulu ceritaku. Semua orang yang terdekat dengan anggota dewan menjelaskan kebaikan dari anggota dewan tersebut. Hingga tibalah giliran si ibu diwawancarai. Bos tahu apa yang dikatakan si Ibu?"
"Tidak tahu."
"Kalau begitu aku skip saja bos. Nasinya sudah habis. Mau tambah lagi?"
Tanpa sadar saat mendengarkan cerita Lia, Adam menghabiskan makanan dipiring. Adam merasa heran dengan dirinya sendiri. Kenapa Lia sangat pandai membujuknya?
"Lanjutkan ceritamu sampai selesai!" titah Adam.
"Ceritanya dilanjut besuk ya bos!"
"Apa maksudmu aku ingin tahu akhir ceritanya." bentak Adam.
"Kalau bos begini aku gagal dong jadi Shahrazad. Bisa dapat hukuman mati aku malam ini." batin Lia.
"Bos, Kita lanjut besuk. Ini sudah hampir jam 9. Nanti desain Interiornya segera datang."
"Dengar Lia malam ini kau tidak boleh tidur sampai kau selesaikan ceritamu. Apa kau ingin aku jadi Raja Shahryar yang membunuh perempuan tiap malam."
Lia menelan salivanya. Maksud hati ingin Adam tidak marah lagi tapi dia malah terjebak dalam rencananya sendiri.
"Iya bos. Akan aku lanjutkan. Tapi aku punya permintaan."
****
**Hai...Hai...
Ketemu lagi dengan cerita halu Lia dan Adam.
Semoga suka, Tinggalkan jejak ya! Biar semangat nulisnya**!