
Lia membolak-balik buku yang dia baca di perpustakaan kampus. Wajahnya sangat serius memahami isi dari buku tersebut. Ratih menggaruk pelipisnya karena mulai bosan melihat ribuan buku yang tertata sangat rapi. Beberapa mahasiswa tengah asyik melihat katalog digital. Ratih mengedarkan pandangan mencari-cari hal yang membuatnya tertarik.
"Aku lapar Ya. Makan yuk!" ajak Ratih seraya mengelus perutnya.
"Bentar. Aku masih bingung sama pembahasan bagian ini. Kira-kira aku bisa lulus cepat nggak ya!" ucap Lia sambil mengamati langit--langit.
"Kamu dah mau selesai. Tinggal pembahasan aja kan? Lihat aku! Bab dua aja belum kelar-kelar. Kalau kebanyakan mikir jadi pusing." keluh Ratih merasa buntu menghadapi skripsinya.
"Jangan dipikir jalani aja! Maju terus pantang mundur." Lia mengepalkan tangan memberi semangat
"Sok tahu kamu." gerutu Ratih.
Drtt...Drtt....
"Amel telepon." Lia merasa gamang antara mengangkat telepon atau mematikannya. Saat ini dia tidak punya senjata apapun untuk melawan Amel. Akan jadi berabe kalau Amel tahu Lia hanya mengertaknya saja.
"Jangan diangkat Ya! Ini perpus bakalan dilihatin banyak orang." saran Ratih yang diiyakan oleh Lia. Kedua gadis itu sama takutnya dengan Amel. Amel kenal dengan rektor kampus walaupun masih keluarga jauh yang jelas Amel tetap jadi ancaman.
Beruntungnya Amel tidak terlalu pintar jadi gampang dibohongi. Apalagi teman-teman Amel yang cuma hobi mejeng aja. Ngakunya punya barang mentereng faktanya barang pinjeman.
"Nggak usah berarti. Aku juga males. Kita juga belum dapat rekaman CCTV." bisik Lia.
Lia mengacuhkan telepon Amel. Pikirannya melayang memikirkan masa datang. Bagaimana jika Amel tahu dia berbohong? Keinginan Lia hanya satu lulus dengan cepat dan pergi dengan cepat.
Di tempat yang lain Amel menggerutu. Maksud hati ingin menjebak Lia apa daya yang mau dijebak tidak mau menggubrisnya. Gadis itu kebakaran jenggot walaupun gak punya jenggot ini kan cuma istilah.
"Ayah, aku tidak bisa membuatnya menemuiku. Bagaimana?"
"...."
"Baik!"
Panggilan berakhir.
Amel mondar-mandir di kamar Tiara. Tiara adalah teman Amel dan Lia dahulu. Tiara masih sepupu dengan Amel.
"Ada masalah apa Mel?" tanya Tiara seraya membalik halaman majalah.
"Lia mengancamku akan menyebar rekaman CCTV saat aku merusak laptop dan Handphonenya."
"Kenapa kau merusaknya laptopnya. Kau bisa dituntut." ucap Tiara khawatir.
"Dia yang mulai. Aku tidak sengaja menarik tasnya. Laptop dan Handphonenya jatuh." bohong Amel.
Tiara mengernyitkan dahi. Dia tahu sepupunya bukan orang yang baik. Namun demikian Tiara tidak suka ikut campur urusan Amel. Dia pernah membantu Amel sekali dan berakibat fatal. Gadis itu pikir-pikir jika ingin berurusan lagi dengan Amel. Lebih baik menyingkir.
"Bagaimana kalau Lia menyebarkannya?" Amel menautkan kedua tangannya. Raut wajah bingung membayanginya.
"Kau kan tidak salah jadi tidak usah takut." sindir Tiara.
"Tidak salah. Aku kan tidak sengaja tapi bagaimana kalau dia melakukannya." Amel terlihat bingung hal itu membuat Tiara makin curiga. Terlebih dia tahu Lia gadis lemah lembut dan baik. Rasanya tidak mungkin kalau Lia yang memulai semuanya.
"Sudah cek kalau dia punya rekamannya? celetuk Tiara berusaha membuat Amel terbuka.
Amel terdiam dengan bibir ditekuk ke dalam.
"Tidak." Tiara menepuk dahinya pelan. Dia cukup heran memiliki sahabat yang tidak pintar.
"Lalu apa yang kau takutkan. Bisa jadi ini cuma gertakan. Lia juga tidak mungkin memperpanjang masalah denganmu. Dia kan gadis yang baik." puji Tiara pada Lia. Amel memincingkan matanya menekan Tiara.
"Baik. Dia sekarang jadi ayam kampus." lontar Amel tidak setuju Tiara memuji musuhnya.
Tiara menutup majalah yang dibacanya dengan kasar. Matanya membelalak seolah bola matanya ingin keluar.
"Ayam kampus? Apa kau yakin? Lia bukan gadis seperti itu." ucap Tiara tidak percaya. Lia adalah gadis yang mendapat pelajaran agama yang baik dari keluarganya. Dia sangat berhati-hati dalam bertindak. Tidak mungkin dia melakukan kesalahan yang fatal seperti itu.
"Aku tidak percaya, Mel."
"Silakan saja. Aku juga tidak memaksamu percaya."
"Mel, aku peringatkan. Ini diantara kita saja. Jangan menyebar gosip yang akan menyudutkanmu." nasihat Tiara.
"Aku tidak tertarik bergosip. Semua akan tahu pada waktunya. Just wait and see! Tunggu dan lihat dengan matamu sendiri." terang Amel penuh percaya diri.
Tiara mulai khawatir Amel akan salah langkah. Gadis itu tidak punya pola pikir jangka panjang. Benar-benar ceroboh dan tidak bisa diatur.
Sayangnya Tiara tidak satu kampus dengan Amel dan Lia. Dia teman SMA Lia. Mereka teman dekat. Hanya karena Amel, Tiara sedikit menjauhi Lia. Bagaimanapun Amel yang licik memaksa Tiara menjauhi Lia atau dia akan membocorkan rahasia Tiara. Tiara tak berdaya dan hanya bisa pasrah menerima syarat Amel.
"Bab yang kau minta sudah jadi. Aku sudah kirim di emailmu. Sebaiknya kau membacanya atau saat sidang kau tidak bisa menjawab apa-apa."
"Aku percaya padamu, sepupuku yang pintar. Pekerjaanmu pasti bisa diandalkan."
"Amel kau harus belajar. Tidak mungkin kau akan terus bersandar orang lain."
"Akan kupikirkan nanti. Tugasmu hanya menurutiku."
Tiara bergeming. Dia sungguh bodoh dulu mau diajak Amel merokok dan minum alkohol. Sesal datang belakangan. Bodohnya, Amel merekam semua itu. Jika ayah dan ibunya Tiara tahu kelakuan Tiara maka mereka akan sedih. Ayah Tiara adalah rektor di kampus Amel.
Jika Video itu tersebar elektabilitas ayahnya dalam pemilihan rektor mendatang akan terganggu. Nama baik keluarganya juga akan tercemar. Tiara masih memikirkan cara tepat mengelabui Amel agar mendapat rekaman itu. Dia juga tidak ingin terus terjebak dalam persahabatan yang Toxid seperti ini.
Perlu sebuah taktik agar Amel masuk dalam jebakannya.
******
Di sebuah balkon apartemen, seorang wanita menatap nanar pada bayangan senja di langit. Dulu senja adalah masa paling dia tunggu. Dia balkon ini, dia akan menunggu suaminya pulang kerja, membawakan tasnya dan menanyakan keadaannya.
Perasaan itu sangat damai. Walaupun pernikahan mereka karena perjodohan, Marisa tetap menerimanya. Setiap hari dia mengurus suaminya dan rumahnya. Menjadi seorang istri yang penurut dan berbakti pada suaminya. Kehidupan pernikahan mereka sangat hangat dan romantis. Tidak ada percekcokan yang berarti.
Prahara datang saat usia pernikahan yang ke-3. Saat Marisa belum dikaruniai momongan ada ular berbisa yang masuk ke rumahnya. Dia membawa pergi suaminya. Tahun-tahun berlalu dengan sangat buruk setelahnya. Baru dua tahun terakhir ini Marisa mulai bangkit dengan dukungan dari sahabatnya Zahra.
Setelah tiga tahun kepergian Satya. Mantan suaminya datang lagig dan meminta rujuk. Marisa tidak berharap kembali pada Satya. Sekarang tidak hanya waktu yang berubah. Keadaan dan tanggung jawab ikut berubah. Ada hal yang harus Marisa urus dan Satya tidak ada dalam prioritasnya.
Drtt...Drtt...
"Hallo!"
"..."
"Aku akan ke sana bersama nenek dan kakek. Urus dengan baik!"
"..."
Senyum getir tersungging di bibir Marisa. Walaupun terdengar sangat pelik. Marisa hanya berharap satu kebahagian. Hidupnya saat ini hanya untuk melihat orang itu bahagia.
Wanita itu bergegas menjemput dua orang yang sangat berjasa dalam kehidupannya. Mereka berdua bukan kakek dan nenek Marisa. Mereka adalah kakek dan nenek Satya.
Sangat ironi bahwa Marisalah yang merawat mereka berdua dan bukan Satya. Bahkan Marisa menyayangi mereka berdua selayaknya keluarga sendiri.
Saat ini, jika Satya harus hadir lagi di kehidupan Marisa. Bagaimana dia akan menjelaskan perpisahannya dengan Satya?
Tidak ada satu hari pun yang ingin Marisa bagi dengan Satya.
******
Hai...Hai...
Happy Reading!
Terima kasih sudah tinggalkan jejak!