
Adam mondar mandir di kamarnya. Beberapa kali dia mendesah berat. Berat jika harus rindu. Makanya jangan rindu.
Hatinya berkecamuk tapi rasa gengsinya juga bergelombang. Menggelora bagai api yang memancarkan pelitanya.
Hangat dan memanas.
"Cukup." ucap Adam untuk dirinya sendiri.
Sudah tiga hari Lia tidak pulang dan selama tiga hari Adam tidak tahu harus apa. Sepertinya tidak ada semangat untuk melakukan sesuatu.
Hidup segan matipun tak mau. Orang yang dia usili menghilangkan. Sendiri itu menyakitkan. Sepi tanpa kawan bisa membuat sel otak menjadi menyempit tidak bisa berkembang. Kita bisa jadi linglung tanpa alasan.
Makan tak enak tidur pun tak nyenyak.
"Apa aku harus minta tolong padanya?" Adam menimang banyak hal. Namun, tak ada hal yang lebih tepat selain harus barter. Barter dengan rivalnya.
Adam bergegas meninggalkan rumah menemui seseorang.
Musuhnya.
*********
"Bagaimana rencana pembangunan Mall di Bandung?" tanya seorang wanita yang sedang menyesap teh hijau.
"Ada masalah Ibu Marisa." jelas seorang lelaki berkaca mata. Tubuhnya tinggi dan tegap.
"Kontraktor mengirimkan salinan faktur. Ada ketidak sesuaian barang pesanan dengan barang datang."
"Apa ini masalah besar?" Wanita itu mengernyit memastikan ucapan lawan bicaranya bukan bualan semata.
"Ada 7 kontraktor yang mempertanyakan kredibilitas kita. Kualitas barang yang dikirim lebih rendah dari pesanan mereka. Waktu kirim juga melebihi jadwal yang ditentukan." penuh kepastian lelaki itu menjelaskan. Dia juga menunjukkan salinan faktur yang dikirim.
"Jadi ini sangat serius. Kau menemukan suspect (tersangka)?" jawabnya berusaha tenang. Air yang tenang justru punya arus bawah yang kuat. Sekuat itu pengaruh wanita itu.
"Sepertinya ini terorganisir. Saya sedang menyelidiki. Mungkin kita perlu waktu lebih lama." Marisa manggut-manggut mendengar ucapan dari Roni. Dia adalah orang kepercayaannya. Roni lebih tua dari Marisa . Mereka masih saudara sepupu. Roni sudah berkeluarga dan mereka saling mengenal.
"Jadi kita butuh umpan." tebak Marisa menancapkan pulpen di tumpukan kertas.
Roni mengernyitkan dahi. Dia tidak tahu apa maksud dari bossnya. Yang jelas Marisa bukan orang yang tanpa perhitungan. Dia ahli mencari kebenaran dari sebuah masalah.
Tut...Tut...
Telepon kantor berdering. Marisa menyalakan pengeras.
"Ada apa, Yeslin?"
"Ibu Marisa, Bapak Adam ingin bertemu."
"Biarkan dia masuk!" titah Marisa dengan senyum kemenangan.
"Kau bisa keluar, Roni." Roni pamit undur diri meninggalkan ruangan Marisa.
"Bagus sekali umpanku sudah datang." kata Marisa dalam hati.
Marisa tersenyum menerima kedatangan Adam.
"Silahkan duduk!" ucap Marisa ramah.
"Aku tidak suka beramah-tamah. Suruh gadis itu kembali bekerja." ketus Adam tanpa memandang Marisa.
"Apa dia diusir? Kau sendiri yang bilang jangan mengganggunya. Aku sudah suruh semua orang untuk tidak meneleponnya atau menerima teleponnya." bela Marisa. Adam sesenaknya minta ijin saat Lia sakit. Dia bahkan melarang siapapun menghubunginya.
"Aku benar-benar tidak menggangunya." lanjut Marisa dengan senyum mengejek. Dia tahu Adam kesepian karena tidak ada teman. Adam merindukan Lia yang penurut karena Adam adalah anak yang selalu dididik dengan keras. Tanpa kesalahan. No Mercy. (Tanpa belas kasih).
Tentu Lia memiliki arti yang berbeda. Meskipun dia hanya asisten pribadi. Dia memberikan warna baru dalam kehidupan Adam. Hanya saja gadis itu bukan wanita yang kuat jika harus bersanding bersama Adam.
"Dia sudah sembuh. Sekarang biarkan dia bekerja lagi dan beri dia nilai magang." pinta Adam yang lebih mirip perintah.
"Baiklah sesuai keinginanmu."ucap Marisa menyetujui. Dia tidak ingin banyak berdebat dengan Adam.
Tidak ada alasan Marisa untuk menolak kedatangan Lia wanita itu juga membutuhkan Lia.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dua hari kemudian
Brakk....
"Marisa, apa maumu?" Seorang lelaki datang dengan paksa dia mengebrak meja Marisa. Lelaki itu marah dan kesal dengan ulah Marisa.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Lia?" sungut Adam tidak terima.
"Dia hanya dimintai keterangan dan harus wajib lapor." respon Marisa santai. Dia tanpa beban mengacuhkan Adam.
"Apa salahnya? Dia hanya anak magang. Kenapa dia bisa jadi terduga?"
"Biarkan polisi menyelidikinya! Tenang saja! Dia masih terduga belum tersangka, terdakwa atau terpidana." ucap Marisa datar.
Adam berang dan meninggalkan Marisa. Lelaki itu tahu siapa wanita itu dan apa yang bisa dia lakukan. Tidak akan mudah menghadapinya.
*******
"Sudah Lia. Tidak apa-apa." Adam mengusap punggung Lia dengan pelan.
"Bos." Hanya satu kata yang bisa Lia ucapkan. Seluruh tubuhnya tremor. Dia ketakutan. Baru kali ini dia mengalami kejadian seperti ini. Dia ada di sebuah ruangan dengan beberapa pria yang mengelilinginya.
Banyak pertanyaan yang menyudutkan Lia. Gadis itu bahkan tidak tahu apa masalah yang menimpanya. Kenapa dia bisa dibawa ke kantor polisi? Dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Lia masih gemetaran. Selama 10 jam Lia dicecar 30 pertanyaan. Gadis itu bahkan pingsan beberapa kali karena kelelahan dan kelaparan. Adam dengan sigap memeluknya. Adam merasakan tubuh Lia kedinginan. Lelaki itu menyuruh bodyguardnya menyiapkan mobil.
Adam melepas jasnya dan memakaikannya pada Lia.
"Kau akan baik-baik saja. Aku akan menyewa pengacara terkenal. Jangan kuatir!" tutur Adam menenangkan Lia.
Dokter Sherly harus datang untuk menenangkan Lia.
"Bagaimana?"
"Kondisinya kurang baik. Dia stress dan tertekan. Hal ini kurang baik bagi proses Trauma Healing."
"Apa yang harus aku lakukan dok?"
"Tetap dampingi dia. Dukungan orang terdekat sangat penting."
"Baiklah dokter!"
Adam mengantar dokter Sherly menuju pintu keluar.
"Bagaimana Mbok?" tanya Adam khawatir.
"Dia sudah makan dan ganti baju. Sekarang, Lia sedang tidur setelah minum obat."
"Mbok bisa istirahat."
"Den, besuk mbok mau pulang kampung." pamit mbok Yem membuat Adam terkejut.
"Kenapa mendadak Mbok?"
"Anak mbok mau lahiran. Ini sudah delapan bulan. Mbok ingin mendampinginya." ujar mbok Yem menjelaskan alasannya.
"Tapi..."
"Kamu sudah besar. Sudah saatnya membangun rumah tangga. Kamu akan punya istri dan punya anak. Kita mau cari apa di dunia ini kalau bukan ketenangan jiwa. Supaya sama seperti yang lainnya." ucap Mbok Yem menasehati Adam.
"Adam masih ingin sendiri. Kalau Adam sudah punya istri. Adam tidak akan bisa bebas." Lelaki itu berusaha meyakinkan mbok Yem kalau argumennya benar.
Mbok Yem hanya tersenyum menanggapi alasan Adam. Lelaki itu belum pernah melewati fase kehidupan seperti dirinya. Wajar jika Adam tidak tahu tentang pernikahan. Bagaimana dua orang disatukan dalam ikatan suci. Ikatan itu bukan untuk mengekang satu dengan lainnya tapi menguatkan satu dengan lainnya.
Seandainya, Adam tahu akan hal itu.
Kehidupan seseorang akan berjalan secara bertahap. Kita tidak akan tahu masa depan sampai kita melewatinya menjadi masa lalu.
"Pertimbangkan saja saran Mbok. Semoga segera menemukan pendampingku!" ucap tulus Mbok Yem untuk kehidupan Adam nanti.
Adam bergegas melangkahkan kaki menuju ke kamar Lia. Kamar Lia di lantai bawah. Ada bermacam jenis boneka Dino.
Senyum tersungging di bibir Adam. Sekarang kamar ini terisi.
Hati Adam menjadi damai. Hanya saja masalah belum selesai. Kasus Lia harus segera selesai.
******
Tinggalkan jejak.
Thank You