
"Bagaimana bos?" tanya Lia pada Adam yang memejamkan mata.
"Lumayan. Tenagamu kurang kuat. Agak ke kiri dikit!" titah Adam yang disambut helaan napas pendek dari Lia.
"Aku sudah melakukannya sekuat tenaga. Ini sudah maksimal."
"Mulai besuk porsi makanmu harus ditambah biar cepat besar." ledek Adam seraya memutar leher untuk peregangan.
"Ih..." Lia mendengus kesal.
"Aww... Apa kau mencubitku?" ucap Adam dengan nada naik satu tingkat. Lia tidak sengaja mencubit Adam. itu semata-mata refleks.
"Maaf." ucap Lia merasa bersalah dan sebal sekaligus. Dia mengusap-usap bekas cubitan yang tidak berbekas.
"Jangan berhenti! Pijit yang benar! Yang kuat pijit pundaknya. Sekalian kepalaku."
"Iya." Lia menurut perintah bos yang banyak tingkah.
"Kenapa Laptop dan HPmu bisa rusak? Eh.. Hancur maksudku." ucap Adam dengan wajah mengejek.
"Seorang menginjaknya." jawab Lia lirih.
"Sengaja atau tidak sengaja?"
Lia menunduk.
"Sengaja?"
"Lalu kenapa kau diam saja dan tidak melawan. Seharusnya kau bisa menahannya. Itu kan barang milikmu."
"Aku tidak berani. Dia temanku."
"Teman macam apa? Wanita?"
"He eh."
"Lia, kalau kau merasa dianiaya kau harus berjuang untuk bangkit. Berapa orang?" Adam mulai menyelidiki.
"Satu."
"Ya ampun. Duel saja kau tidak berani apa lagi keroyokan?" sahutnya meremehkan.
"Sebenarnya kau. manusia apa bukan? Mulai besuk kau harus makan baterai dan oli" sambung Adam dengan niat menggoda.
Lia membola. Gadis itu geram dengan tingkah bosnya yang selalu merendahkannya. Benar Lia memang lemah karena tidak berani melawan Amel. Gadis itu berharap dukungan bukan penghinaan. Seandainya Adam mas Lukman mungkin dia tidak akan meremehkan sikap Lia yang terlalu mudah dikalahan.
Gadis itu mendesah di sela-sela pijitan pada pundak bosnya.
"Yang benar saja bos. Aku manusia dan bukan robot." bela Lia yang pasti tidak akan mempan melawan Adam yang superior.
"Kalau manusia tentu kau harus bisa melawan. Kita akan belajar bela diri agar kau punya persiapan." ajak Adam spontan.
"Apa?" Persiapan untuk apa?" tanya Lia kaget.
"Kalau sewaktu-waktu kau dianiaya orang. Kau bisa melawannya. Harusnya tadi kau belajar dengan pak Wo. Kau kemana saja?" tanya Adam penuh selidik.
"Aku mencari tempat servis laptop."
"Yang terakhir."
"Oh Mas Lukman. Dia ternyata satu kerjaan. denganku. Dia baik, Ramah dan..."
"Cukup. Aku tidak butuh penjelasan tentang dia. Kenapa bisa bersamanya?." Sambar Adam.
"Sebenarnya dia orang yang melamarku waktu di desa. Aku pikir aku bisa minta tolong padanya." Adam menoleh seraya memincingkan mata. Dia melirik Lia dengan mata menyipit.
"Kau suka dengannya?" Lia mengarahkan bola mata ke atas. Telunjuknya dia tempelkan di dahinya seperti orang yang sedang berfikir.
"Dia terlalu baik. Aku merasa kurang pantas bersanding dengannya." ucap gadis itu merasa tidak setara dengan Lukman.
Adam tersenyum tipis saat Lia merasa minder bersama Lukman.
"Apa bagusnya dia?" sindir Adam.
"Dia belum pernah pacaran. Dia terlalu baik menurutku." Lia berhenti memijit Adam dan menggeser tubuhnya ke samping. Adam juga berganti posisi. Kini mereka berdua duduk berdampingan di tepi ranjang.
"Memang kalau orang belum pernah pacaran di sebut orang baik. Tommy dan Rendra yang kau temui di Club juga belum pernah pacaran tapi ceweknya banyak."
Lia mendengus tentu beda Lukman dengan teman-teman Adam. Lukman sosok yang alim sedangkan kedua teman bosnya adalah sosok bedigasan.
"Mas Lukman beda dengan mereka." nada bicara Lia naik. Tentu dia tidak terima Adam menyamakan Lukman dengan kedua temannya. Adam memutar badan menghadap Lia dalam posisi duduk.
"Beda seperti apa?" tekan Adam mengintimidasi.
"Dia tidak seperti kalian yang doyan cewek." desis Lia menundukkan kepalanya.
"Kalian?" Adam menekankan kata kalian. Berarti Lia menyamakan Adam seperti teman-temannya.
Lia beringsut mundur. Dia mengalihkan wajah dari pandangan menusuk Adam. Sepertinya gadis itu salah bicara. Berarti dia menyamakan Adam dengan teman-temannya. Lia hanya tahu satu wanita yang dekat dengan Adam, Ibu Marisa. Apa hubungan mereka berdua?
"Apa kau ada hubungan dengan Bu Marisa, Bos?" tanya Lia berharap Adam menjawab.
"Ada." jawab Adam singkat. Lia tercekat tidak percaya.
Lelaki itu termenung beberapa waktu. Sejurus kemudian dia mengulum senyum setelah melihat wajah Lia yang serius.
"Saatnya latihan. Berdiri yang benar!" Adam mendorong tubuh Lia agar berdiri dengan tegak. Dia kemudian berdiri berhadapan dengan Lia.
"Pasang kuda-kuda! Ada beberapa jenis kuda-kuda. Kita pakai teknik ini. Lebarkan kakimu selebar bahu! Tekuk kakimu ke bawah sekitar 20 cm! Badan tegap dan pandangan mata lurus ke depan!"
Lia mengikuti titah Adam karena Adam tidak hanya memerintah dengan mulut tapi juga dengan tangan dan kaki. Layaknya pelatih Adam menggunakan tangannya menekan bahu Lia agar menekuk kakinya ke bawah. Dia juga menyenggol kaki Lia agar melebar.
"Bisa tidak besuk saja. Ini waktunya tidur. Aku ngantuk bos." Lia merasa malas.
Hatinya tidak karuan setelah mengetahui bosnya punya hubungan dengan Marisa. Wanita itu sepertinya lebih tua dari Adam. Bukankah hubungan yang seperti itu sekarang wajar. Usia bukan masalah dalam menjalin sebuah hubungan. Namun, gadis itu masih merasa sesuatu yang aneh.
Kalau mereka berhubungan kenapa Lia dikenalkan sebagai tunangan Adam. Mengapa Marisa tidak cemburu dengan Lia? Marisa bahkan mendukung hubungan mereka.
"Jangan malas. Kau terlalu malas makanya tubuhmu lemah. FOKUS! Lihat depan!" gertak Adam.
Lia berjingkat tersadar dari lamunannya. Gadis itu tidak menampakkan minat yang serius terhadap latihan kali ini. Sebaliknya Adam sangat ingin Lia mandiri dan punya mental yang kuat.
"Perhatikan arah serangan! Jangan menyerang duluan! Lihat pergerakan lawanmu! Kunci pergerakannya! Kalau kau ingin melawan tangkis pukulan ke dalam jangan ke luar." jelas Adam penuh keseriusan bak pelatih yang melatih muridnya.
"Kenapa?" tanya Lia tidak paham dan tidak peduli dengan latihan ini.
"Kalau kau menangkis keluar, posisimu akan terbuka. Musuh akan mudah menyerangmu. Namun, dengan tangkisan ke dalam posisimu tertutup kau bisa membuatnya kehabisan langkah. Paham?" jelas Adam.
"Bos aku capai berdiri seperti ini." rengek Lia.
"Kita mulai! Aku akan menyerangmu."
Adam mulai memukul dengan tangan terkepal ke arah kepala, dan perut. Pukulan Adam tidak mengenai Lia tapi gadis itu malah menyilangkan kedua tangan ke depan kepalanya dan jongkok ke bawah. Gadis itu ketakutan dan tidak menangkis Adam.
"Aww... Jangan!"
Adam menggelengkan kepala dan mengubah posisi menjadi berdiri tegak.
"Ya ampun! Kau bisa membangunkan seluruh kompleks." guman Adam.
"Lia berdiri. Berdiri!" titah Adam.
Gadis itu membuka mata dan menurunkan tangannya. Dia mendongak mengawasi wajah Adam yang terlihat garang.
"Aku mau tidur, bos." cicit Lia mengiba.
"Sekarang kita mulai cara melepaskan diri dari posisi kuncian." Tangan Adam menarik satu tangan Lia agar gadis itu berdiri.
"Kuncian pintu?" Lia mengerjap tidak paham.
"Kuncian seperti ini."Adam memeluk Lia dari belakang. Kedua tangan Adam melingkar di perut Lia.
"Apa kau harus memelukku seperti ini bos?" Lia merasa canggung di peluk Adam dengan sangat erat. Kalau posisinya seperti ini bukannya ingin melepas Lia malah ingin semakin lama dipeluk Adam. Pelukan Adam sangat hangat. Aroma tubuhnya sangat menggoda. Hembusan napas aroma mint membuat Lia kalang kabut.
"Apa kau belum pernah melihat posisi mengunci. Sekarang coba lepaskan!" ucapan Adam membuyarkan lamunan Lia. Pun harapan Lia.
" Bagaimana caranya?" tanya Lia tidak tahu.
"Berfikirlah! Pengetahuanmu sangat rendah." ejek Adam.
"Ini terlalu kuat. Mana bisa aku melepaskan diri." Kedua tangan Lia berusaha mengurai pelukan Adam. Sekuat apapun tenaga Lia hal ini dirasa mustahil. Lengan Adam yang kekar membuat Lia tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Eh.. mau kemana?" Adam mengangkat Lia
"Ke kasur. Berusahalah melepaskannya! Kalau kau tidak bisa melepaskannya, kita akan tertidur dengan posisi seperti ini." Mata Lia membola mendengar penuturan Adam yang frontal.
"Bos. Lepas!" Lia terus meronta meminta dilepaskan. Adam masih bergeming berusaha mencerna sejauh mana kekuatan Lia. Gadis itu ternyata tidak bisa melepaskan.
"Apa sampai di sini kekuatan mu? Sekarang kita coba posisi lain." Adam membawa Lia ke ranjang dan mendekapnya erat.
"Apa? Posisi?"
Posisi seperti apa maksud Adam?
"Posisi kuncian yang lainnya." jelas Adam singkat.
"Kuncian apa lagi?" Gadis itu keheranan dengan polah bosnya yang absurb.
Adam mengurai pelukannya. Sekarang posisi Adam ada di atas Lia dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya. Lia berada di bawah kungkungan Adam.
"Apa yang kau lakukan bos?" Lia gemetaran. Baru kali ini gadis itu berada dalam posisi sangat intim. Apa Adam tidak waras melakukan hal ini?
"Ini posisi mengunci lawan. Sekarang, Bagaimana caramu melepaskan diri?"
"Ini terlalu berlebihan. Aku..." Gadis itu memalingkan wajah berusaha mengalihkan pandangan dari tatapan Adam. Jantung Lia bertalu. Berdetak sangat kencang. Bagaimana jika Adam mendengarnya? Lia menekuk bibir dan masih memiringkan kepalanya.
"Tatap aku Lia. Kau harus selalu dalam kondisi siaga."
Lia memutar kepala. Dia menatap Adam yang bertumpu pada kedua tangannya. Gadis itu hampir tidak bisa mengendalikan diri. Wajah tampan Adam terlihat sangat jelas dari jarak sedekat ini. Hembusan napasnya dan Aroma tubuh Adam sungguh membuat Lia terlena.
"Sekarang aku akan memberimu situasi tambahan."
"Situasi tambahan?" ulang Lia makin tidak mengerti kelakuan Adam.
"Seperti ini." Lelaki itu memegang kedua pergelangan Lia. Entah mengapa Lia menyukainya. Berada sangat dekat dengan Adam. Kedua manik mata itu bisa saling menyelami.
Lia memejamkan mata. Adam mendekatkan kepalanya ke telinga Lia.
"Cobalah untuk melarikan diri!" ucap Adam dengan lembut mirip sebuah rayuan. Tubuh Lia meremang. Seperti apa geleyar sengatan listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya.
Adam tersenyum melihat Lia mulai gelisah. Gadis itu terlihat tidak tenang.
"Buka matamu dan tatap aku!" titah Adam dengan suara yang lirih tapi menggoda.
Lia membuka mata pelan-pelan. Dia membalas tatapan Adam yang tersenyum ladanya. Sungguh makhluk Tuhan yang sangat sempurna.
"Aku memintamu melepaskan diri bukan menikmatinya." Kata-kata Adam membuat Lia sangat gugup. Jantung Lia berdetak lebih cepat karena sindiran Adam. Apa dia ketahuan kalau menikmati posisi sedekat ini dengan Adam?
"Aku..."
Adam tersenyum senang sudah bisa menggoda Lia. Terlebih membuat Lia gelagapan memberikan sesansi kesenangan tersendiri bagi Adam. Wajah gugup Lia terlihat sangat menggemaskan.
Lelaki itu melepaskan kuncian di pergelangan tangan Lia. Dia mulai menjauhkan diri dari Lia dan berdiri dengan tangan bersedekap.
"Latihan kali ini kau gagal. Kita akan coba lagi besuk."
"Hah." Lia tak mampu berfikir jernih. Besuk dia akan latihan seperti ini lagi. Apa Lia akan mampu mengendalikan diri kalau digoda terus menerus? Hari ini saja jantungnya sudah mau copot. Bagaimana kalau imannya tidak kuat?
"Aku permisi." Gadis itu buru-buru merapikan baju dan pamit keluar.
"Tunggu!"
Adam berdiri berhadapan dengan Lia.
Cup
"Apa yang kau lakukan?" ucap Lia sembari menyentuh bibirnya. Setelah satu kecupan mendarat tanpa permisi.
"Aku beri kau pinjaman karena kau berhutang ciuman padaku." Lia mengernyitkan dahi. Adam bilang pinjaman. Ini seperti mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Ini bukan pinjaman. Dulu kan cuma bercanda. Jangan dianggap serius!" desis Lia membela diri.
"Sekarang kau hutang dua ciuman padaku." Lontar Adam mengulum senyum.
#######
Hai...Hai...
Happy Reading!
Selamat berbuka puasa!