
Happy Reading!
Budayakan Like dan favoritkan ya!
********
Lia mendongakkan kepalanya ke atas mencari inspirasi isi dari perjanjian kontrak. Dia belum menemukan sejumput idepun.
Adam memandang Lia dengan tatapan bosan.
"Bos, Apa bos perlu sesuatu? Makan mungkin atau apa?" sapa Lia memecah kebosanan. Sudah bermenit-menit Adam duduk dengan tampang bosannya.
Adam mengubah posisi duduknya dan sedikit maju.
"Apa kau tidak punya otak untuk berfikir. Kenapa aku harus memperkerjakanmu?" bentak Adam.
Deg
Si jutek tetep aja nyebelin kalau dimasukkan ati bakalan makan ati tiap hari.
"Siap bos. Mau makan apa? Aku siapkan." jawab Lia halus.
"Hm..."
Lia menahan nafas dan membuangnya pelan untuk menenangkan hatinya yang benar-benar ingin mencabik-cabik dada si bos. Gadis itu ingin sekali memakan jantung bosnya kalau saja otaknya sudah hilang dari kepalanya.
Bertahan
Sabar
Lia tersenyum penuh paksaan dihadapan si bos.
"Aku pesankan makanan di restoran bos Yudha ya! Mau makan apa?" tanya Lia dengan wajah ceria.
Adam melirik Lia dan memasang wajah murkanya.
"Kwetia goreng dan jus alpukat ya bos. Aku pesankan sekarang." sambung Lia.
Cepat-cepat Lia mengetik sesuatu di Handphonenya. Memesan makanan secara online lebih memungkinkan dari pada kena tatapan sinis si bos. Apalagi harus mendengar cacian, makian dan hinaan manis dari si bos.
Menemani bos dalam kondisi genting seperti ini, sangat mengerikan. Lia merapikan semua kertas dan alat tulis yang berserakan di atas meja. Dia ingin mengungsi ke tempat aman. Jauh dari tatapan Si bos. Bos memincingkan matanya dan memandang setiap pergerakan Lia. Bos Adam tidak suka banyak bicara tapi ingin orang mengerti dia.
Author juga bingung bos Adam kalau cuma diam gimana bisa tahu isi dalam hatimu. Bukan isi dalam mangkuk lho ya! Skip iklan kita lanjut.
Ruang tamu adalah pilihan yang terbaik. Ruang ini tidak terlihat dari meja makan. Lia jadi bisa berfikir lebih fokus tanpa tekanan batin.
Poin
A.
B.
C.
Otak Lia tetap belum encer. Masih mendongakkan wajahnya memandang langit-langit mantan rumahnya. Mungkin ada yang bilang Dudanya Lia.
Ting...Tong...
Gadis itu terlonjak kaget saat bel berbunyi tiba-tiba.
Pesanan makanan datang. Dengan senyum ceria dia membayar makanan dan memberi tip. Biar senang yang Delivery.
Menuju meja makan dengan mententeng plastik berisi makanan, Lia tersenyum lebar hendak menemui si bos.
"Bos...."
Lia celingukan mencari si Bos. Bos hilang dari meja makan. Apa ada nenek lampir yang menculik si bos? Oh.... tidak bos hilang dimakan rayap.
Lia segera mencari si bos mulai dari lantai bawah. Dapur dan seisinya sudah dijelajahi bahkan di dalam kulkas pun sudah ditelisik. Lantai satu nihil. Gadis itu naik ke lantai dua mulai dari kamar bos. Kamar mandi maupun dalam lemari si bos sudah Lia obrak-abrik. hasilnya pun nihil.
Tidak mungkin bos pergi . Setidaknya untuk pergi ke luar bos harus melewati ruang tamu dan juga tidak ada suara mobil. Apa bos bisa terbang. Mungkinkan dia jelmaan Iron Man. Tony Stark kan juga rada jutek. Bos Adam Iron man?
Lia berjalan gontai menuruni tangga. Netranya menyapu seluruh sudut rumah yang pernah dia tinggali. Dulu dan sekarang rasanya berbeda.Dulu rumah ini hangat. Dia selalu rindu pulang. Lia selalu disambut senyuman oleh bundanya, sapaan halus ayahnya dan rengekan adiknya.
Rumah bukan hanya sebuah bangunan pikir Lia. Rumah tempat yang hangat, nyaman dan tenang. Rumah yang sekarang terasa asing. Tidak ada yang menyambut Lia pulang. Tidak ada yang menyapa dan tidak ada rengekan minta oleh-oleh dari adikknya.
Bukan
Ini bukan rumah Lia lagi. Apa yang harus di pertahankan dari sebuah bangunan jika jiwanya telah pergi. Keceriaan dan kehangatannya hilang menguap diterpa badai kebangkrutan.
Lia duduk di tangga memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepalanya di lututnya.
Dia ingin tinggal di sini. Lia ingin tinggal di rumahnya tapi sekarang beda. Tidak ada kehangatan di sini. Tidak ada keramahan dan kedamaian. Salahkah hati jika belum ikhlas melepas.
Mungkin rumah ini bukan lagi milik Lia. Dia hanya berharap bisa menempatinya dan merawatnya walau sekejap. Lia ingin menjaga harta yang pernah dia miliki. Rumah ini dibangun oleh ayahnya. Ayahnya sangat bangga ketika membangun rumah ini. Pernah ayahnya berkata bahwa beliau akan menghabiskan masa tua dari hasil jerih payahnya. Rumah ini adalah kebanggaan ayahnya. Rumah pertama yang dimiliki sang ayah setelah Lia lahir. Meskipun Lia harus merendahkan dirinya menjadi pelayan, dia ingin menjaga apa yang pernah dia punyai.
"Apa aku salah memilih ini semua?" guman Lia.
*Home is a place, when you go there, they to take you in.
Robert Frost*
Gadis itu menuruni tangga dan mencari bos Adam diluar rumah. Bos Adam duduk di taman tepi kolam renang. Dia memandang air kebiruan di kolam. Adam menatap nanar pada air kolam. Jiwanya pun terlihat rapuh. Dibalik sikapnya yang pemarah, Adam juga kesepian. Bedanya Adam punya kekayaan dan nama besar. Lia hanya gadis kecil yang miskin.
"Bos." sapa Lia saat sudah dekat dengan Adam.
Adam memutar kepalanya menghadap Lia.
"Makanan sudah siap. Mari makan!" ajak Lia dengan halus. Adam beranjak dari kursi dan berjalan.
Mereka berjalan menuju meja makan. Lia berjalan di belakang Adam. Memandang punggung tegap si bos. Lia menggelengkan kepalanya meratapi bosnya. Kaya, tampan dan pintar tapi juga kesepian.
Adam memilih nasi goreng. Lia meletakkan gelas berisi air putih di dekat Adam. Gadis itu berdiri satu meter di belakang Adam.
"Kau tidak makan?" tanya Adam.
"Saya akan makan setelah bos selesai makan."
"Duduk!"
"Setelah bos selesai." ucap Lia.
"Aku tidak ingin mengulangi Lia." kata Adam dengan suara tinggi.
Lia menarik kursi di hadapan Adam. Dia menunduk saat duduk berhadapan dengan Adam.
"Makanlah"
Lia mendongakkan kepalanya terkejut karena ucapan bos Adam yang dinilai terlalu lembut.
"Bos." ucap Lia tidak percaya Adam bisa berkata halus.
"Habiskan makananmu!" pinta Adam. Lagi-lagi Adam berkata dengan suara merendah.
Penuh kecanggungan mereka memakan makanannya. Sendok dan garpu memecah kesunyian.
Lia kadang mencuri pandang pada bosnya. Beberapa menit yang lalu bosnya dengan angkuhnya membentak Lia. Kini raut wajah kesedihan jelas terlihat di matanya.
"Apa bos baper?" batin Lia.
Adam meletakkan seluruh peralatan makannya menandakan dia telah selesai makan. Piring Lia masih penuh karena dia merasa tidak nafsu makan.
"Bos, sudah selesai?" Lia akan berdiri tapi tangan Adam mengode supaya duduk kembali.
"Habiskan makananmu!" titah Adam.
Penuh paksaan Lia menelan makanannya dan menggelontorkan dengan air. Ini membuat Lia kekenyangan.
Adam tersenyum simpul melihat tingkah Lia.
Setelah selesai makan Lia merapikan semua peralatan makan dan menyimpan sisa makanan di kulkas.
"Bagaimana sudah selesai kontraknya?" tanya Adam.
"Bos."
Lia menatap Adam dengan serius dan memainkan tangannya untuk mengurangi kegugupannya. Adam pun memandang Lia dengan serius. Dia menatap mata dan wajah Lia.
"Aku ingin resign bos." pinta Lia.
"Belum ada dua jam kau sudah ingin resign dua kali. Aku sudah bilangkan apa konsekuensimu?" gertak Adam.
"Saya merasa tidak kredibel bekerja bos. Mungkin ini bukan bidang saya."
"Jadi ini mental kerjamu. Mudah menyerah dan putus asa. Kau tahu Lia?"
"Apa?"
"Selama kau bermental lemah. Dimanapun kau berkerja kau tetap akan merasa tidak mampu. Be tough!"
"Bos."
"Berusahalah! Sekarang tunjukkan kemampuanmu! Aku menunggumu!"
"Kemampuan?"
"Kau sudah membuat laporan keuangan untuk minggu ini kan?"
"Sudah bos. Saya sudah menulisnya di buku berserta nota-nota dan bukti transfer. Semua sudah tercatat rapi."
"Aku ingin kau mengetiknya di komputer dan memberikan hardcopynya."
Lidah Lia tercekat, Mata Lia membelalak dan lehernya bagai terlilit tali tak kasat mata.
"Bos ini sudah jam 10 malam. Di sini tidak ada printer."
"Aku tidak suka dibantah. Berusahalah! Rapikan kamarku sebelum kau mengerjakan tugasmu!"
"Baik, bos!" jawab Lia terpaksa.
Adam tersenyum puas melihat ekspresi yang ditampakkan Lia.
Gadis itu merapikan kamar bos dan mengganti Sprei motif bunga dengan Sprei warna coklat. Lia segera bepamitan meminjam printer di rumah temannya. Tidak mungkin membeli printer jam segini. Semua toko sudah tutup.
Mungkin selama bekerja dengan bos Adam, Lia harus menambah porsi makannya. Dia butuh energi ekstra untuk mengimbangi pemikiran dan perintah bosnya.
"Bos, Saya keluar dulu. Apa bos mau titip sesuatu?" pamit Lia.
"Aku mau tidur. Bangunkan aku jika pekerjaanmu sudah selesai."
"Jadi aku harus lembur sementara bos tidur begitu. Ini hampir jam sebelas malam bos. Kira-kira dong bos kalau mau memberi perintah." batin Lia tak percaya.
******
**Terima kasih sudah mampir di cerita recehku.
Ditunggu Vote, like dan komennya!
Maaf bagi yang belum sempet feedback, Insya Allah segera feedback!
Semoga sehat selalu**!