
"Selamat pagi Adam, Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" ucap bu Risma dengan senyum ramahnya. Dia sedang menyiapkan beberapa bumbu untuk memasak.
"Iya Tante cukup nyenyak. Dimana Lia?" Adam celingukan menelisik rumah yang ditempati keluarga Lia. Dia mengabsen beberapa bagian rumah yang sudah rapuh. Jendela kayu sudah dimakan rayap. Tempat ini lama ditinggalkan. Baru beberapa bulan di tempati lagi.
"Adel? Dia memetik sayuran di kebun. Kopi?" tawar Bu Risma menenteng toples berisi serbuk kopi. Kopi itu sepertinya racikan sendiri. Serbuknya lebih kasar dari kopi yang dijual di toko.
"Iya. Terima kasih." ucap Adam dengan senyum manisnya.
"Jadi kalian temen kerja?" Bu Risma bertanya saat mengaduk kopi untuk Adam. Bau harum kopi menyeruak memenuhi ruangan. Hawa dingin ini memang cocok dengan segelas kopi.
"Sebenarnya Adel magang di perusahaan yang sama dengan saya." jelas Adam. Bau kopi yang dibuat Bu Risma menggoda Adam untuk mencicipinya.
"Kamu kuliah?"
"Iya Tante, Ambil S3. Rencananya mau penelitian tentang perkembangan ekonomi di pedesaan." bohong Adam. Tapi benar dia memang kuliah S3 hanya alasan datang ke desa Lia bukan untuk penelitian. Alasan sebenarnya juga masih rancu di hati Adam. Tidak tahu kenapa dia nekat mengantar Lia sampai rumah.
"O... bagus sekali idemu. Bagaimana keadaan Adel di sana? Apa dia baik-baik saja. Tante merasa bersalah meninggalkan dia sendirian."
"Dia baik tante. Jangan kuatir! Teman-teman Lia semuanya baik." Adam berusaha menenangkan Bu Risma yang sejak tadi terlihat gusar.
"Ehem." suara deheman seorang wanita membuat dua orang yang sedang berbincang menoleh.
"Bun, Sayurannya sudah Adel petik. Kita mau masak apa?" Lia membawa beberapa jenis sayuran yang di petik dari kebun.
"Kamu mau makan apa nak Adam?" tanya bu Risma yang diikuti senyuman kelegaan.
"Apa saja yang tante masak pasti enak."
"Assalamualaikum!" Seorang lelaki berusia lima puluh tahun datang dengan sepatu boot. Sepatu itu penuh lumpur. Jalanan di guyur hujan jadi tanah becek menambah buruk jalanan yang belum diaspal.
Seorang gadis berjalan mendekati lelaki tua yang baru datang dan terbenam diri dalam pelukan sang ayah.
"Ayah, Adel kangen sama ayah." Isak Lia menahan tangis.
"Kamu kapan pulang Adel?"
"Kemarin. April dimana?" gadis itu mendongak memandangi wajah sang ayah yang terlihat lebih tua. Guratan garis wajahnya menandakan dia bekerja dengan keras.
Pasti sulit bagi ayahnya setelah hidup bergelimang harta, kini beliau harus bekerja keras menggunakan seluruh tenaganya mengurus lahan peninggalan keluarga ibunya Lia.
Hidup berputar kadang di atas tapi kadang juga di bawah. Mata Lia terasa penuh. Butiran air matanya jatuh tak kuasa menahan gejolak di hatinya.
Maaf
Belum bisa menjadi anak yang membanggakan.
Maaf
Jika saat ini belum bisa membuat wajah orang tuanya tersenyum bahagia.
Banyak hal yang hanya bisa Lia simpan di dalam dada. Ini juga sangat sulit bagi Lia untuk mengatakan kejujuran.
Jujur jika dia tak mampu melanjutkan harapan kedua orang tuanya agar bergelar sarjana.
"April baru sekolah. Dia nginap di rumah uwa Aryan karena jarak sekolah cukup jauh dari sini. Nanti sore dia pulang." Ayah Burhan tersenyum mendapati putri sulungnya pulang setelah berbulan-bulan.
Lia mengurai pelukan sang ayah dan menatap Adam.
"Ini Adam, teman Adel. Dia nemenin Adel pulang." ucap Lia terisak.
"Perkenalkan Om saya Adam." Adam mengulurkan tangan beramah-tamah. Pak Burhan membalas uluran tangan itu. Mereka berjabat tangan denga erat.
"Terima kasih sudah menemani Adel pulang. Bagaimana kalau kita berbincang di teras depan."
Kedua pria berbeda generasi tersebut saling melempar senyum. Mereka berjalan ke depan setelah pak Burhan membersihkan diri.
"Del, kamu yakin nggak ada hubungan apa-apa sama Adam?" Ibu Risma tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada Adam. Ibu Risma merasa Adam adalah sosok pria yang bertanggung jawab.
"Bun, dia rekan kerja." desis Lia. Hatinya juga tertarik tapi dia berusaha menepis semua perasaannya. Dia dan Adam berbeda kasta. Lia masih ingat perlakuan orang tua Robert saat Lia bertamu ke rumahnya. Mereka menghina dan merendahkan Lia karena sekarang Lia jatuh miskin.
"Bunda kecewa nich. Gantengan Adam daripada Robert. Sepertinya Adam lebih dewasa ya!" ledek Bu Risma yang dibalas cibikan oleh Lia.
"Bunda jangan githu. Kami cuma temen." Lia merasa minder jika harus menyukai Adam. Bosnya terlalu kaya dan terlalu tinggi. Selain itu, kalau selalu bersama bosnya bisa-bisa dia mati kutu setiap hari dibentak.
*******
"Kita mau mandi dimana Lia?" Adam tidak sabar. Baginya perjalanan ini sangat jauh. Dia harus melewati jalan setapak dan ilalang demi untuk mandi.
"Ada sungai kecil di ujung rumah. kita mandi di sana." ajak Lia. Gadis itu menjinjing ember kecil. Ada pakaian bersih handuk dan peralatan mandi di dalamnya.
Mereka berdua tiba di sebuah sungai kecil. Sungai yang aliran airnya sangat kecil. Itulah tempat mereka untuk mandi.
Adam terperangah tidak percaya dengan tempat mandi yang ditunjukkan Lia. Sebuah sungai yang sangat kecil tanpa pembatas apapun untuk mandi. Masyarakat di sana akan membuat cekungan di dekat sungai agar ada air bersih yang mengalir masuk ke cekungan.
"Bagaimana cara mandinya kalau begini." ucap Adam kebingungan. Apa dia bisa melepas semua bajunya di tempat terbuka seperti ini? Bagaimana dia mandi jika masih memakai baju?
"Maaf Bos, selang yang mengalirkan air di bak rumah bergeser jadi airnya tidak keluar. Perlu waktu yang lumayan lama untuk naik ke atas mata air. Ayah terlihat lelah. Aku tidak tega meminta ayah membenarkannya." terang Lia sedikit takut dengan reaksi Adam setelahnya.
"Kalau bos tidak mau. Tidak usah mandi saja. Nanti tunggu air di bak mengalir." lanjut Lia berharap Adam tidak tersinggung.
"Apa kau mau mandi? Bagaimana cara mandimu kalau begitu." ucap Adam menyeringai. Dia benar-benar berniat memojokkan Lia.
"Kau duluan atau aku duluan?" lanjut Adam setengah menggoda. Lia menelan salivanya. Dengan baju tertutup saja Adam bisa membuat Lia gelagapan. Bagaimana nanti jika Adam melakukan sesuatu saat Lia saat sedang mandi.
"Saat mandi kita masih memakai baju bos." Adam mengernyit. Ada cara mandi seperti itu.
" Karena tempatnya terbuka. Bos harus memakai baju dan nanti jangan melihatku!" sambung Lia.
Lia kalang kabut. Gadis itu bingung. Apa benar dia harus mandi di hadapan Adam? Pilihan tidak mandi lebih baik.
"Apa perlu aku mandikan, Lia? Mungkin kau lupa cara mandi yang baik." Seringai Adam membuat Lia gemetaran.
"Kita pulang saja, Bos." ajak Lia ketakutan.
"Kita sudah berjalan sejauh ini dan kau bilang pulang." Adam mendekatkan wajahnya di ceruk leher Lia. Dia menghembuskan napasnya agar Lia merasakan hembusan napasnya. Lelaki itu ingin melihat reaksi gadis di dekatnya.
"Perasaanku tidak enak kalau mandi di ruangan terbuka seperti ini." ucap Lia. Gadis itu menggeser tubuhnya ke samping menjauhi Adam yang makin intens menggodanya.
"Apalagi jika di temani oleh dirimu." sahut Adam dengan senyum miring. Tatapannya seperti ingin memakan Lia.
"Aku mandi dulu kalau begitu. Kau jangan Lihat!" larang Adam dengan senyum geli.
Lia menggelengkan. Apa bosnya benar-benar serius akan mandi.
Gadis itu menyiapkan peralatan mandi dan baju bersih untuk Adam.
"Em... Aku akan tunggu di sana agar tidak ada orang yang datang ke sini. Bos bisa mandi dengan leluasa."
"Apa kau tidak ingin menemaniku?" bisik Adam di telinga Lia.
"Sebaiknya aku menjauh saja agar bos tidak kikuk." ucap Lia dengan wajah tertunduk.
"Kikuk? Sepertinya kau yang lebih kikuk dariku."
"Letakkan baju kotormu di ember biar nanti aku cuci!" Lia segera berlari menjauhi Adam stelah meletakkan ember. Lelaki itu tertawa geli melihat tingkah asistennya.
Lia menunggu cukup jauh dari Adam. Pikirannya menerawang membayangkan tubuh atletis Adam dengan otot bisepnya. Bentuk perut Adam yang seperti roti sobek.
"Hah.." desah Lia. Dia harus membersihan semua pikiran kotornya. Lia berdoa mengucap beberapa permintaan di dalam hatinya. Permintaan yang terbesarnya adalah agar keluarganya dilimpahkan Rahmat dan barokah.
Nama Adam juga tersemat di sela doanya.
"Giliranmu." ucap Adam membuat Lia berjingkat karena kaget.
"Sudah bos?" Adam mengkode kepalanya agar Lia segera mandi.
Gadis itu segera menjauh meninggalkan Adam sendirian. Selama beberapa waktu Adam menikmati suasana pedesaan yang asri. Handphonenya mati karena listrik mati. Entah pukul berapa listriknya akan hidup.
Lelaki itu menghirup dalam udara yang masih bersih. Suasana tenang tanpa beban pekerjaan. Sejenak dia merasa punya dunia baru.
Dia bahkan tidak tahu kabar apapun tentang perusahaannya ataupun Davina.
Adam merasa menghilang dari hiruk-pikuk keramaian. Sayangnya, Dia harus menghabiskan dua hari ini bersama orang yang tidak diharapkan.
"Lama bos?" Suara Lia memecah keheningan juga membuyarkan lamunan Adam.
Adam melirik Lia dengan ekor matanya. Lelaki itu mendesah kasar.
"Apa kau berniat menggodaku?" Adam lengkap berpakaian dengan kaos berkerah dan celana training.
Sedangkan Lia berpakaian lengkap dengan bathrob warna putihnya.
Bajunya terbuka menampakkan belahan dada. Lia berusaha memegangi baju depan yang terbuka. Rambut panjang basah yang terurai menambah daya tarik tersendiri bagi lelaki seperti Adam.
"Maaf." Lia tertunduk tidak bisa berkata apa-apa. Dia juga Mali berpakaian seperti ini di depan Adam. Lia tidak bisa berganti pakaian di tempat terbuka seperti ini. Ini sangat sulit melepas semua pakaiannya di tempat terbuka.
Gadis itu berjalan kesusahan karena membawa ember.
"Sini!" Adam mengambil ember itu dan menjinjingnya. Lia tersenyum bahagia mendapat perhatian kecil dari Adam.
"Setelah ini kita akan berziarah bos." ujar Lia membuat Adam terhenyak. Adam tidak punya keluarga di sini. Untuk apa dia harus berziarah?
"Aku tidak ikut." tolak Adam.
"Bos harus ikut. Ini aturan. Orang asing yang datang ke desa ini harus menziarahi makam leluhur untuk menghormatinya." jelas Lia sedikit dengan nada tinggi. Lia ingin Adam tahu beberapa adat yang berlaku di desa ini.
"Banyak sekali aturan di sini." kilah Adam heran.
"Aku mohon." desak Lia. Gadis itu memegang tangan Adam. Mata jelalatan Adam mengabsen setiap jengkal tubuh Lia yang terekspos.
Menyadari perubahan wajah Adam, Lia segera membenarkan pakaiannya.
"Aku punya syarat." pinta Adam
"Apa?" tanya Lia gemetaran.
"Cium aku." Adam menunjuk bibirnya.
"Tidak di sini."
"Kau yakin?" ucap Adam menyeringai. Lia menggangguk ragu. Gadis itu berdebar hebat dengan keputusannya.
**********
Hai...Hai....
Tinggalkan Jejak ya!
Dukungan mu sangat berarti. Membuat orang bahagia nggak rugi lho. Dapat pahala.
Tinggal klik jempol aku sudah seneng banget apalagi ditambah komentar, Vote atau tips.
Thank you!